Monday, December 5, 2022

Tak Melulu Nestapa: 5 FTV dengan Cerita Perempuan Berdaya

Sumber: Magdalene.co


Dapat pula dibaca di Magdalene.co

Film Televisi (FTV) dianggap dekat dengan ibu rumah tangga sebagai konsumennya, sehingga lebih menceritakan perempuan sebagai poros cerita. Salah satu penyedia FTV adalah stasiun televisi Indosiar dengan jam sangat padat.

Pada jam-jam utama di pagi hingga sore hari, FTV di Indosiar tayang dengan sejumlah topik: Pintu Berkah, Azab, Kisah Nyata, hingga Suara Hati Istri. Topik-topik ini menjadi penanda perbedaan jalan cerita. Pintu Berkah biasanya menayangkan kisah orang zalim yang kembali pada agama; Kisah Nyata tentang kehidupan sehari-hari seperti kehidupan rumah tangga dengan laki-laki yang bisa juga menjadi korban; Azab menayangkan orang-orang zalim yang mengingkari agama; sementara Suara Hati Istri, dapat ditebak, adalah tentang kehidupan berumah tangga dengan perempuan sebagai korban.

Sebuah artikel di Magdalene, “Sinema Indosiar, Perempuan Durhaka dan Derita Nestapa”, menunjukkan bagaimana FTV adalah tayangan patriarkal. Itu tidak dapat disangkal, tapi saya tidak sepenuhnya mendapat pengalaman menonton serupa. Dengan tim penulis yang semestinya terdiri dari banyak orang, tidak sedikit pula FTV yang menggambarkan perempuan dengan berbagai perlawanan dan pilihan hidupnya.
Dengan segala kekurangannya, berikut lima rekomendasi FTV yang menampilkan perempuan-perempuan berdaya.

1. Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku

Astrid (Gita Sinaga) bersuamikan pengusaha sukses, dan keduanya dianugerahi seorang putri remaja. Masalah timbul saat Astrid memulai bisnis dari hobinya mendesain pakaian. Suaminya yang super sukses itu ternyata memiliki maskulinitas rapuh. Ia tidak ingin putri mereka menjadikan Astrid sebagai idola selain dirinya dan ia menganggap istrinya sendiri sebagai pesaing.

Kekerasan psikis pun mulai gencar dilakukan suami Astrid. Dalil agama seperti “kedudukan suami yang lebih tinggi”’, ejekan di depan putri mereka dengan kalimat “ibumu enggak bisa apa-apa”, hingga upaya selingkuh dengan alasan pelampiasan karena kesibukan istri, dilancarkan sang suami hingga Astrid sempat goyah dan melepas usahanya.

Namun berbagai teror dan usaha menjatuhkan dari sang suami masih terus diterima Astrid. Selingkuhan suaminya pun ternyata juga diperlakukan serupa Astrid ketika coba mengaktualisasikan diri lewat hobi memasak yang mulai menjadi bisnis.

Di akhir cerita, Astrid justru bangkit. Ia bangkit bukan dengan menikahi lelaki lain yang jadi penyelamat, namun justru dari bisnis dan kemandirian. Putrinya pun diajarkan untuk jangan pernah merasa saling mengalahkan dalam berumah tangga.

2. Saat Aku Miskin Suamiku Pergi Ketika Aku Kaya Suamiku Kembali

Penyanyi Dewi Perssik dan Dirly Idol berperan sebagai pasangan suami istri. Dewi digambarkan sebagai seorang istri yang sangat domestik, dengan seluruh kebutuhan ekonomi dipenuhi sang suami. Sebagai istri, Dewi pun sangat maksimal dalam mengurus rumah dan kebutuhan suami. Namun hal itu tidak mencegah suaminya untuk selingkuh.

Demi putri mereka satu-satunya, Dewi pun berusaha mempertahankan pernikahan. Tapi sang suami mengabaikan mereka berdua dan keduanya terlunta-lunta. Dewi mulai bangkit dengan membuka usaha kuliner. Ia mampu membuka lapangan kerja, menghidupi diri, juga putri semata wayangnya. Sang suami, yang bisnisnya jatuh, hadir kembali dan meminta maaf. Namun ia kemudian malah menjadi benalu. Pada akhirnya, Dewi menyadari ia mesti tegas memilih atau selamanya terluka.  

3. Kenapa Laki-laki Bebas Berkhianat dan Istri Harus Menerima?

Lagi-lagi cerita tentang perselingkuhan suami terhadap istri. Aktris Della Puspita berperan sebagai Diana, perempuan bekerja, yang difitnah suaminya berselingkuh untuk menutupi kebrengsekannya sendiri. Apakah Diana berbesar hati dan pasrah? Tidak, ia dengan penuh keberanian berpisah dari suami yang beracun.

4. Kesuksesanku Dijadikan Alasan Pengkhianatan Suamiku

Sama dengan “Ego Tinggi yang Akhirnya Menghancurkan Pernikahanku”, FTV ini juga mengusung tema suami yang memiliki maskulinitas rapuh. Suami tokoh utama, Astrid, menghadang keinginannya untuk berperan di ranah publik lewat pameran desain, dengan dalih “istri wajib melayani suami.” Sang suami kerap mengejeknya karena

Suami Astrid begitu tersinggung ketika mendapati undangan yang datang ke rumah mereka ditujukan “Kepada Astrid dan Suami’. Undangan-undangan tersebut memang datang dari relasi bisnis dan teman-teman Astrid. Sang suami menganggap namanya yang tidak disebut dalam undangan sebagai penghinaan.
Astrid kemudian dihadapkan pada perjuangan panjang ketika sang suami berselingkuh dengan dalih diabaikan istri yang sukses.

5. Penyesalanku Akibat Memilih Suami yang Salah

Berbeda dengan judul-judul sebelumnya, FTV ini bukan menceritakan suami sebagai sumber masalah. Cerita dimulai dengan Tania yang dianggap telat menikah oleh lingkungannya. Ia sebetulnya memiliki trauma akibat perselingkuhan ayahnya. Kecurigaannya pada laki-laki diperkuat dengan lingkaran pertemanan, yang terdiri dari perempuan mandiri secara finansial, yang selalu membisikkan kecemasan soal rumah tangga kepada Tania.

Saat menikah, Tania dan suaminya yang sebetulnya setia kemudian berpisah akibat pertengkaran dan rasa curiga terus menerus hadir. Takut dengan stigma janda, Tania kemudian menikah dengan suami kedua yang ternyata benalu. Ketika mengadu pada teman-teman, justru dia yang disalahkan.

Tania akhirnya memilih tegas mengakhiri hubungan dengan geng pertemanan dan suami keduanya yang beracun. Ia kembali kepada mantan suami pertama, dengan mengakui trauma masa lalu masing-masing. Tania telah berubah menjadi lebih kuat, mandiri, dan tidak ambil pusing dengan stigma masyarakat.

Sebetulnya masih ada judul-judul FTV lain yang tidak mengandung nilai patriarkal. Hal ini positif, menurut saya, karena tidak semua perempuan memiliki akses lingkungan dan pengetahuan untuk membaca Magdalene atau buku-buku pemikir feminis.

Barangkali nilai-nilai mengenai perempuan yang mendukung sesama perempuan, melawan lingkaran kekerasan, hingga kemandirian bisa teman-teman sekalian dapat dari bacaan dan tontonan yang jauh dari FTV, tapi bagaimana dengan perempuan lain? Belum tentu. FTV di sini justru bisa menjadi media yang lebih membumi dalam menyebarkan nilai-nilai tadi.

Jalan cerita dari judul-judul FTV di atas pun tidak hendak membandingkan mana yang lebih baik antara perempuan yang berperan di ranah domestik maupun publik. Perempuan dari kedua ranah tersebut masih juga bisa menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan, selagi para pelakunya memang memiliki itikad buruk. Perempuan yang memilih berperan di ranah domestik bukan berarti tidak berdaya, sedang yang memilih berperan di ranah publik pun bukan bertujuan untuk bersaing dengan para lelaki. Para perempuan ini memiliki pertimbangan yang sesuai dengan keadaan diri dan lingkungan yang melatarbelakangi hendak berperan di ranah mana. Berperan di ranah domestik maupun publik, keduanya sama mulia lagi progresif.

Monday, November 21, 2022

Bilang Cinta

Yeonhee dan Han Sinwoo Lookism. Sumber: Webtoon


Semua orang mampu bilang cinta dan memerlakukan orang lain seperti sedang dicintai.

Buku-buku bilang, orang mencintai dengan memberi kembang.

Film-film bilang, orang mencintai dengan mengelus rambut atau berciuman.

Para tetangga bilang, orang mencintai dengan membawa mahar.

Kamu mampu bilang cinta? 

Thursday, November 3, 2022

Totto Chan; Jumpa Jati Diri di Blog

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Main blog dari SMP dan baru 2015 betulan tahu apa yang mau ditulis di sana. Jadi seorang teman yang jadi salah satu guru menulis saya itu merekomendasikan harus baca Totto Chan. Si teman ini dah jam terbang tinggi begitu, jadi satu atau dua kali baca karya tulismu apapun itu, dia bisa bagi saran butuhmu apa bahkan lebih jauh bisa gali masa lalumu gimana.

Dan betul, butuhnya saya memang baca Totto Chan karena setelahnya saya jadi makin mantap menulis kenangan-kenangan masa kecil yang sebelumnya memang sudah dimulai sedikit di blog. Bedanya, format menulis saya itu kenangan masa kecil ditambah pemahaman ketika dewasa ditambah ilmu pola asuh.

Jadi ketika kamu baca tulisan saya yang jenis ini, bisa sekaligus ditemui tuh Poppy anak-anak dan Poppy dewasa. Kapan lagi kan dalam satu tulisan ada satu orang beda jaman, sedang bapak atau ibu kita sendiri banyak yang tumbuh dewasa dengan ingatan sebagai anak-anak yang terputus.

Salah satunya saya pernah menulis perbedaan pola asuh ibu dan nenek. Banyak dari kita pasti mengalami ini juga. Jadi ibu saya tuh super disiplin, rapi dan anti kotor, sedang nenek jauh lebih lunak, tidak teratur dan bukan masalah jadi kotor. Kalau dengan ibu, main air bersih saja saya betulan tidak berani, sebaliknya nenek yang justru santai saja menunjukkan serangga kepada saya dan bahkan membantu mengoleksi tutup botol.

Nah, setelah cerita ingatan ketika anak-anak begitu, saya tambah apa yang dicerna ketika dewasa plus ilmu pola asuh. Bahwa ibu punya maksud sendiri dengan kedisiplinannya, pula nenek dengan sikap santainya. Pola asuh keduanya sama-sama punya nilai kurang dan lebih. Sangat manusiawi ketika pola asuh memang tidak ada yang sempurna.

Upaya saya menulis macam begitu pun sebagai kartasis yang ampuh sekali sih ternyata. Karena memori saya terlalu detail sejak usia satu setengah tahun dan sempat bikin stress karena tidak terkendali.

Pengalaman personal setiap orang soal pola asuh tuh, dijamin tidak ada yang sama persis dan cerita model di atas adanya di rumah dijitel saya https://semangkaaaaa.blogspot.com dengan label ‘ngoceh pendidikan’.

Sunday, October 30, 2022

Potret Tanpa Kamera

 

Sumber: 30 Hari Bercerita

Tulisan ini adalah upaya mengurai ingatan yang terlalu detail sampai pernah bikin depresi di usia 21 tahun. Ya, bayangkan saja, saya dulunya nggak bisa memilih ingatan apa yang mesti tinggal dalam kepala. Sudah begitu, ingatan ini dimulai di usia satu setengah tahun.

Ini adalah denah kelas semasa saya Taman Kanak-kanak. Ada dua pintu yang kini saya kenali sebagai utara dan selatan. Pintu selatan menghadap ke halaman belakang yang isinya mainan semacam perahu perahu besar dan pintu utara menghadap ke halaman depan yang isinya mainan semacam perosotan.

Ada empat bangku yang terdiri dari dua persegi panjang dan dua persegi. Bangku persegi panjang diisi sepuluh anak, sedang bangku persegi diisi empat anak. Kalau kamu lihat lingkaran kuning itu, di situ saya duduk sampai lulus Taman Kanak-kanak.

Semalam, saya ingat Romadhon, teman yang SJW itu duduknya di mana. Tapi ternyata, pagi ini ingatan itu sudah lepas. Iya, Romadhon ini pembela kebenaran. Pernah saya ceritakan di blog bagaimana dia di antara perebutan kursi merah yang jumlahnya tidak banyak. Dia tidak mau kursi merah, tapi selalu mengembalikan kursi merah yang direbut pada pemiliknya.

Sedang di meja empat yang dekat pintu utara itu, ada... Sebut saja dia Mikasa begitu ya. Mikasa ini duduk tepat di kiri saya dan sama kuat dengan Romadhon. Anak ini bisa mempimpin, banyak bossynya juga dan budak cinta dengan teman sebangkunya bernama Eki.

Jadi tiap pagi, si Mikasa berburu kursi merah dengan merebut milik siapa saja untuk dirinya dan Eki. Nggak jarang, anak ini bertengkar juga dengan si SJW Romadhon, sudah begitu hampir selalu depan bangku saya pula.

Tentu saja semasa Taman Kanak-kanak, saya bukan tokoh utama seperti Romadhon, bukan juga Mikasa apalagi Eki. Sejak kecil saya memang sudah jahanam, suka nonton pertikaian, mengamati dan next levelnya... Hari ini dibuat bahan ghibah ketika dewasa. Bisa jadi jika di dunia shinobi, saya ini tipe ninja sensor macam Karin.

Akhir sembilan puluhan, kamera tentu saja mewah. Sekolah pun terlihat pegang kamera hanya ketika kegiatan besar saja. Dan ternyata, punya memori kegedean begini ada asyiknya juga.

Thursday, October 13, 2022

Tipu

Sumber: dokumentasi pribadi, pinjam properti Rifana


Siapa-siapa saja bisa dengan mudah mengaku cinta. Tapi siapa-siapa saja bakal pula sulit menipu ingatannya sendiri.

Seperti bagaimana sebuah kembang ungu keheranan pagi itu dipotret oleh seseorang. Kembang itu tahu banyak kelopak serupa dirinya dan orang-orang bahkan tidak menamai dia.

Selanjutnya ia melihat seseorang itu memencet-mencet tombol ponselnya, seperti mengirim foto dirinya pada yang lain.

Gunung terasa lebih dingin. Serupa bagaimana orang itu sekadar ingat pada yang lain.

Seperti bagaimana sebuah kembang putih keheranan pagi itu dipetik oleh seseorang. Kembang itu tahu tidak banyak kelopak serupa dirinya dan orang-orang menamai dia keabadian.

Selanjutnya ia melihat seseorang itu bergumam, bertekad bakal mengirim kembang itu ke rumah yang lain.

Gunung terasa lebih hangat. Serupa bagaimana orang itu betul-betul ingat pada yang lain.

Wednesday, September 28, 2022

Anak-anak itu yang layak dipilih... (Pengalaman Nonton Curahan Hati Perempuan TRANS TV)

 

Sumber: Gugel

2015 lalu, Maudy Koesnaedy sempat memandu acara yang cukup apik di Trans TV, Curahan Hati Perempuan. Salah satu episode yang paling saya ingat, seorang perempuan datang membawa putranya yang punya kelainan penyakit dalam. Putranya itu dia adopsi dari panti asuhan setelah menahun ia kesulitan punya anak.

Para pengurus panti sudah mengingatkan bahwa anak ini sakit, toh biasanya seseorang bisa dipastikan mengadopsi anak-anak yang sehat sebagai jaminan masa tua. Tapi perempuan ini malah menangis dan kembali ke kamar calon putranya itu tidur, memandanginya dari jauh. Namun dengan berbagai pertimbangan, ia pulang tanpa membawa si bayi.

Sesampainya di rumah, ia menceritakan pada ibunya bagaimana ikatan bisa tercipta antara hatinya dengan si bayi sakit. Hatinya menginginkan bayi itu, tapi apakah benar ia akan mengambil seorang bayi yang sakit? Hingga ibunya pun bertanya,”Apa niat kamu sebetulnya mengadopsi anak?”

Perempuan itu lagi-lagi menangis dan bertanya pada dirinya sendiri apa sesungguhnya niat dia memiliki anak? Apa sesungguhnya yang ia cari dari mengadopsi anak? Mengapa anak-anak sakit selalu jadi yang tidak terpilih?

Pada akhirnya, perempuan itu pun kembali ke panti. Si bayi sakit dibawa pulang, ia rawat dan biayai bersama suami hingga hari itu duduk dengan mata cerah di hadapan Maudy Koesnaedy, menyapa pemirsa Curahan Hati Perempuan. Saya menangis dan lagu Nobody’s Child seolah terdengar...

People come for children 

And take them for their own

But they all seem to pass me by 

And I am left alone

I know they'd like to take me 

But when they see I'm blind

They always take some other child 

And I am left behind

Saturday, September 17, 2022

Kereta (6)

Sumber: Dokumentasi Pribadi


Bau shamponya seolah menusuki hidungmu, meski ajaibnya air malah mengucur dari celah matamu.

Kereta terus berjalan. Sepatu bootsmu yang baru dibeli tiga minggu lalu menarik perhatian seorang balita di hadapan.

Dengan sungkan ibu balita itu menanyakan beli di mana, harga berapa, apa ada ukuran dua puluh empat juga pernyataan ia pernah juga patah hati.

Kamu terbahak dan bau shampo itu makin menusuki hidungmu.

“Nomor dua puluh empat ada, Mbak. Tunggu Tiktok mereka live saja biar dapat potongan harga.”


Monday, August 29, 2022

Istikharah, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -4-)

Sumber: Seni Mencintai halaman 91

Ia ada bahkan jauh sebelum kulit dan daging dilekatkan pada tubuhmu. Jadi kamu tidak sendiri ketika merasa takut bertemu dengannya, sengaja menemui apalagi.

Sebagian orang sengaja bersekutu dengan jin demi bisa mencuri informasi, menjualnya lewat kodi-kodi dan diberi tepuk tangan oleh sesamanya. Sebagian lagi sengaja menjemput dengan sholat hajat, lainnya dengan istikharah. Tapi jika kamu percaya, ada juga para aulia yang bisa memasukinya karena diri mereka sememangnya dipilih.

Sayangnya ketika masing-masing dari kita lahir, ada ego kepemilikan yang disertakan. Ego itu menyatu dalam setiap darah dan nadi, sakit luar biasa apabila terpaksa diamputasi. Sebagian orang membiarkannya mengering lalu copot sendiri, sebagian lain terpaksa membawanya sampai mati. Sebagian melihatnya sebagi media mengenal Tuhan, sedang sebagiannya lagi malah terlilit habis-habisan.

Kamu barangkali bisa mencintai orang tuamu, ada lara ketika membayangkan mereka pergi darimu karena sakit, jadi kamu mengusahakan kesembuhan bagaimanapun caranya, entah dengan menyebar kembang atau pergi ke tabib yang katanya bisa memindah rasa sakit pada binatang. Lantas muncul pertanyaan, yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai anakmu, kemudian dengan berbagai lobi, membiarkannya tidak bertanggungjawab atas kecelakaan yang menewaskan beberapa orang. Kamu takut anakmu kedinginan di lantai penjara, lantas muncul pertanyaan yang demikian dinamakan kepedulian atau ego kepemilikan?

Kamu barangkali bisa mencintai seseorang. Kemudian kamu katakan padanya bahwa kalian tidak cocok dan tidak perlu lagi menjemput jawaban. Sungguhkah kamu merasa kalian tidak cocok atau takut jika jawaban yang dicari-cari ternyata membikinmu tidak bisa memilikinya?

Bibirmu pun berbisik,” Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Alloh.”

Saturday, August 13, 2022

Karnaval

Sumber: Gugel

Saya ketemu Mila lagi, sekitar semester empat atau lima. Dari FB mula-mula, lalu kopi darat di rumah dia.

Dulunya, Mila ini pulang pergi bareng saya semasa Taman Kanak-kanak, jalan kaki. Rumah keluarga kami sempat satu RT dan sesungguhnya ada satu anak laki-laki yang melengkapi geng pulang pergi ini.

Dengan mata terkesan, Mila bilang kami dulu pernah ingin memakai baju karnaval serupa, betul-betul tidak mau pisah. Sayangnya, di persewaan hanya ada satu baju merah dan satu baju ungu. Baju merah pada akhirnya saya pakai dan baju ungu, Mila yang pakai.

Mila ingat, kami dulu sama-sama merengek karena tidak jadi memakai baju yang sama persis. Kemudian ibu bilang, baju saya sesungguhnya sama ungunya dengan punya Mila, hanya saja kena setrika hingga jadi merah begitu. Mila tenang, pula saya. Kami berangkat karnaval dengan Mila yang terus mengingat kejadian itu dan baru bisa mencernanya ketika dewasa kemudian.

“Kita dibohongi...” pungkas Mila sambil tergelak. 

Thursday, July 14, 2022

Ketakutan, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -3-

Sumber: Seni Mencintai halaman 30-31


Pernah saya punya seorang sahabat perempuan. Kalau ditebak sih, kira-kira IQnya superior. Pintarnya pun rata begitu. Dia bisa eksak, kerajinan tangan, bahasa asing, sampai menulis. Dia bahkan dapat nilai sempurna di salah satu mata kuliah dosen yang terkenal sulit karena mengunggulkan analisa. Namun dia selalu takut berkonflik dengan orang lain. Semua permintaan orang dia iyakan.

Sepulang kuliah dengan mata cemas dia pernah bilang,”Soal pilihan jurusan waktu kuliah, kalau aku pasti pilih maunya orang tua. Karena kalau kita ada salah milihnya, kita masih bisa kembali ke orang tua. Beda kalau kita pilih jurusan sendiri, kalau ada salah pilihnya nggak bisa kembali ke orang tua.”

Pernah juga saya punya seorang sahabat laki-laki. Dia senang sekali dengan bidang bahasa namun malah pilih jurusan ekonomi. Saking jagonya, cara bicara dia mirip dengan native padahal tidak pernah ke luar negeri. Kesehariannya yang kerap berbahasa asing pun berdampak baik buat saya semasa sekolah. Bahasa asing saya jadi ikut meningkat.

“Kata abang sama si mamah, aku mau masuk Sastra Inggris ngapain? Mau jadi guru? Ekonomi lebih banyak prospeknya.” begitu katanya ketika kami berkomunikasi lagi setelah lulus kuliah.

Dia pun bercerita bagaimana upaya kerasnya lulus kuliah, bahkan hampir menyerah. Abangnya sempat menawarkan dia pindah jurusan saja, tapi ditolak, dia pilih bertahan meski lulus dengan IP kepala 2.

Bagaimana dengan kecerdasan dan pengetahuan suka di bidang apa, kedua teman saya ini tidak memperjuangkan apa yang mereka ingin? Berdialog dengan kedua orang tua agar menemukan titik tengah pun tidak.

Namun setelah membaca Seni Mencintainya Erich Fromm saya jadi paham, inilah penyatuan simbiotik masokisme. Orang tipe ini bukannya tidak mau mengambil keputusan karena tidak tahu apa yang mereka suka, bukan juga karena tidak cerdas. Namun orang jenis ini karena berbagai latar belakang, jadi takut risiko dari mengambil keputusan. Jadilah mereka memilih menimpakan risiko tadi pada orang lain  karena mereka takut terpisah dari yang mengarahkan, memandu dan melindungi; dalam cerita ini orang tua.