Friday, February 27, 2015

Sepikan Bau Triller Racikan Mas Kakak


Mas Kakak sering berlaku sok manis di hadapanku. Aku suka curiga, jangan- jangan dia bagian marketing dari satu perusahaan asuransi. Jangan- jangan dia bersikap sok manis karena berharap aku jadi kliennya. Jangan- jangan… jangan- jangan…
Sayang, intelegensiku tidak terlalu tinggi untuk bisa mendeteksi latar belakang Mas Kakak berlaku sok manis pada aku. Jadilah Mas Kakak tetap begitu, sok manis di hadapanku. Sampai sekarang…
Semalam, Mas Kakak telepon aku. Dia menyebut namaku berkali- kali,” Sehila Ki Jawani… Sheila Ki Jawani…
Aku tanya pada Mas Kakak, kenapa dia sebut namaku berulang macam begitu? Di kuping empunya nama pula.
“Biar namamu menyatu dengan badanku,” aku merasa, jawaban Mas Kakak yang satu ini memang sudah di persiapkan. Berapa kali napasnya dia hembus waktu menjawab pertanyaan ini pun, rasanya memang sudah di persiapkan.
“Menyatu? Buat apa?”
“Kamu pernah dengar orang sebut nama orang lain secara nggak sadar?”
Aku mengangguk. Eh, aku mengangguk? Memang iya. Aku terbiasa berekspresi, bahkan dalam komunikasi via telepon pun aku bisa mengangguk atau cemberut. Tekanan suaraku bakal selalu selalu sesuai dengan ekspresi yang aku lakukan di balik telepon.
“Pernah. Aku begitu. Waktu demam tinggi, aku sebut- sebut Ayahku. Aku dekat sama Ayah, jadi waktu nggak sadar, aku bisa sebut- sebut Ayah,”
“Nah…”
“Kenapa namaku?”
“Aku maunya nama kamu,”
“Kenapa maunya namaku?”
“Biar nanti, kalau aku tiba- tiba ditemukan hampir mati, aku bisa sebut nama kamu,”
“Oh iya. Aku ngerti. Orang- orang yang ada di tempat itu bakal dengar kamu sebut namaku. Terus mereka cari ponsel kamu dan cari nomorku, nomor Sheila Ki Jawani. Mereka hubungi aku untuk kabari kalau kamu hampir mati,”
Mas Kakak tertawa tipis. Barangkali ponselnya dijauhkan dari bibirnya. Atau… dia memang benar tertawa setipis itu. Intelegensiku tidak pernah terlalu tinggi, untuk paham latar belakang apa yang dilakukan oleh Mas Kakak.
Aku dan Mas Kakak diam beberapa detik berikutnya.
“Halo?” aku membuka suara lagi.
“Iya aku dengar. Aku lagi mikir,”
Mikir apa?”
Gimana cara kamu memiliki kamu buat diriku sendiri,”
“Eh?”
“Aku mau culik kamu. Aku ikat kamu. Kamu aku larang komunikasi sama orang lain,”
“Mustahil. Banyak orang bakal cari aku. Where is Sheila Ki Jawani?”
Mas Kakak diam.
“Mereka cinta sama aku. Mereka bakal cari aku ketika aku hilang,” aku melanjut ucapanku. Mengisi jatah bicara Mas Kakak yang malah dipakai untuk diam.
“Kalau begitu, aku mau bikin kamu kecelakaan. Tapi, kecelakaan itu kelihatan tidak sengaja. Biar kamu buta…”
Aku memotong ucapan Mas Kakak,”Akan ada banyak orang yang datang mengunjungi aku. Mencari aku,”
“Itu bakal terjadi cuma sebulan . Setelahnya, mereka bakal lupa dengan kamu. Mereka akan sibuk dengan aktivitas masing- masing. Mereka akan jengah waktu tahu kamu tidak akan bisa sembuh, kamu akan terus begitu- begitu saja, mereka akan bosan dengan kamu. Setelah itu, aku bisa memiliki kamu buat diriku sendiri.
Aku diam. Tidak menelan ludah. Tidak kaget. Tidak sedih. Tidak senang.
Mas Kakak pernah baca cerpenku yang kebetulan genrenya triller. Cerpen yang dia baca memang memuat adegan kematian karena konsleting listrik yang tidak di sengaja. Ada yang bilang, tulisan seseorang adalah cerminan dirinya.
Barangkali, Mas Kakak juga berpikir begitu. Tulisanku dia anggap adalah bagian diriku. Jadi, dia nyepik aku dengan racikan yang mirip dengan tulisanku. Tulisan bau triller
Aku menelan ludah dua kali.
“Aku sepertinya ingin ganti genre romance saja setelah ini,” aku berbisik dalam hati tanpa pernah bisa dia dengar.

4 comments:

Hilda Khairunnisa said...

Ini serius kah? Siapa mas kakak? Dia ada di dunia nyatanya... eh aku pertamax :3

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

sudah aku jawab di wasap. semoga dy tersinggung baca ini. hobinya bercanda mulu sama aku kwkwkwkw

Muhajjah Saratini said...

Wah, menarik... :D

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Huwaaa... mbak Ajjah komeeen >_< masternya ngelola bahan beginian nih... *kabuuuuur*