1. Like
2. Share
3. Komen yang menunjukkan rasa setuju atau pujian
4. Dengan demikian, orang tersebut akan terus berpegang teguh atas yang dirinya bagikan di media sosial, sekalipun itu sesat pikir
Percayalah, setiap orang pasti melakukan konfirmasi atas kebenaran yang dirinya lakukan. Konfirmasi itu dirinya lakukan pada orang lain yang tentu membentuk nilai. Like, share dan komen adalah bentuk dari konfirmasi tersebut.
Berbahagialah ketika orang yang kamu benci menerus dalam nilai yang sesat pikir.
Kemudian, tiriskan dan beri taburan bawang goreng sebagai pemanis.
Wednesday, May 23, 2018
Saturday, May 5, 2018
Keadilan yang Dijual dalam Kaleng
![]() |
| Coreted by: @unartifisial |
Belakangan kamu mulai memertimbangkan untuk membeliku. Tiga bulan belakangan kamu mengetahui jika aku memang ada, diproduksi dalam pabrik, dikemas dalam kaleng dan diberi nama Keadilan.
Dengan
meminum aku sebelum bunuh diri, ada jaminan bahwa setiap orang bakal
bergentayangan setelah mati, membunuhi satu per satu yang membikin dendam.
Pikirmu semua gelap yang kamu rasa tidak bakal sia-sia saat ini. Tinggal beli
aku dari mini market, meminumku lalu bunuh diri.
Satu
setengah tahun lalu pihak berwenang mengatakan semuanya salahmu. Bahwa penutup
kepalamu tidak menutup sepanjang dada, bahwa celanamu itu mencetak paha,
intinya kamu membuka kesempatan bagi para pemerkosa.
Hari-harimu
berikutnya dipenuhi perasaan ingin mati. Tapi sialnya, doktrin soal surga dan
neraka terlalu menakutkan bagimu. Bahwa kamu bakal mati sia-sia, usai menahan
lara setelah mati paksa, kamu masih juga mesti masuk neraka.
Tapi
kedatanganku melalui iklan di televisi memberimu harapan. Bahwa sekalipun kamu
mati paksa dan setelahnya masuk neraka, dendammu itu bisa terbalas segera.
Dari
bawah kasur kamu mengorek sisa uang koin seadanya. Setelah satu setengah tahun
kamu memutuskan tidak menatap matahari sama sekali, pesan makan dan pembalut
hanya lewat aplikasi, tapi hari ini kamu putuskan untuk mengantre sendiri demi
membeli aku. Tidak lupa kamu juga berencana membeli sebotol soda dan tujuh buah
obat flu dosis tinggi, alatmu mati paksa setelah ini.
Cepat-cepat
kamu datang dan bawa aku pulang dari mini market, mati paksa segera dan aku
akan membantumu… membalas dendam, membawa yang paling adil; sesuai komposisiku
ketika diracik dalam pabrik.
*Hatur
doa kita untuk para penyintas, apapun jenis kelaminnya
Friday, April 27, 2018
Omam dan Gigi-Gigi yang Tanggal
![]() |
| Sumber: Gugel |
Jika kamu tidak mau gosok gigi,
maka gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
Ucapan
Mommy terus berkelebat di kepala Omam. Namun, rasa pasta gigi yang menurutnya
pedas dan pahit, melulu membuat dia kabur ketika Mommy menyuruhnya gosok gigi.
Pikir Omam, Mommy tidak pernah mengerti betapa dia benci rasa pasta gigi. Jika
sudah begitu, Mommy mulai menjerit kemudian menarik kupingnya keras-keras
hingga terasa panas dan kemerahan.
Maka gigi-gigimu akan tanggal,
Omam…
Lagi-lagi
ucapan Mommy berkelebat. Lidah Omam mulai merabai salah satu gigi bagian
atasnya dan gigi itu bergoyang-goyang seperti sebuah tanda bakal lepas dari
gusi. Maka Omam gelisah.
“Jangan-jangan,
ini karena Omam tidak mau gosok gigi.” Bisik Omam sambil menenggelamkan wajahnya
ke dalam bantal yang dipeluknya erat.
Omam
gemeteran. Jika betul giginya bakal tanggal, Mommy mestinya akan menarik
kupingnya lebih keras dari biasanya.
***
Omam bergelayut manja sepanjang
perjalanan pulang sekolah pada gadis berkulit sawo matang itu. Omam
memanggilnya Nanny. Dia pikir, itu memang nama gadis dua puluh tahunan yang
sejak tiga tahun belakangan mulai menggantikan posisi Mommy menyuapi, mengantar
dan menjemput sekolah, menggantikannya baju hingga menemaninya tidur itu.
Tidak seperti Mommy, Omam pikir
nanny lebih mengerti. Di laci kamarnya, Nanny menyimpan sebuah pasta gigi warna
merah jambu yang rasanya manis, mirip permen-permen kesukaannya. Mommy selalu
bilang, Nanny cuma bersikap memanjakan Omam dengan pasta gigi semanis itu
untuknya gosok gigi. Namun, Nanny tetap menggunakan pasta gigi itu buat
mengajaknya gosok gigi ketika Mommy tidak sedang berada di rumah.
Pada
kenyataannya, Mommy memang lebih sering berada di luar rumah, mengendarai mobil
hitamnya yang mengilat. Dulu, Omam sering bertanya kemana Mommy pergi, namun jika
sudah begitu, Mommy pasti menjerit dan membentaknya, menolak menjelaskan.
Rekaman jeritan dan bentakan Mommy membuat Omam mudah tergagap, berkeringat dan
menggigil ketika menghafal huruf, atau pada hal lain yang baginya sebuah
ketegangan.
“Mommy
pergi untuk bekerja, Sayang. Untuk membayar uang sekolahmu, juga untuk memberi
uang pada Nanny.” Lagi-lagi berbeda dengan Mommy, Nanny menjelaskan pertanyaan
yang sama dengan lebih lembut. Ini sama seperti ketika dia mengganti pasta gigi
yang pedas dan pahit itu dengan pasta gigi manis yang membuat Omam lebih ingin
sering gosok gigi, sambil sesekali menelan air bekas pasta gigi manis itu dalam
kerongkongannya, meski Nanny sudah berkata ‘jangan’ berulangkali.
Ketika
Omam menolak memberesi mainan, jeritan dan bentakan Mommy pasti mampir lagi di
kupingnya. Sedangkan Nanny, dia selalu mengiming-imingi Omam dengan permen dan
coklat jika dia mau memberesi mainan. Permen dan coklat, semuanya Nanny
keluarkan dari dalam lacinya. Lagi-lagi, menurut Mommy, yang dilakukan nanny
kelewat memanjakan Omam.
Salah
satu jeritan Mommy, sering berisi soal makanan manis yang bisa merusak gigi
Omam satu waktu nanti. Nanny hanya ingin membuatnya bersemangat memberesi
mainan dengan permen-permen itu, setidaknya itu menurut Omam. Jelas beda dengan
Mommy yang hanya bisa membuatnya gemetaran dengan jeritan dan bentakan.
Andai saja mommy bisa seperti nanny.
Pikir Omam. Mommy tidak pernah mengerti!
***
Seperti
hari-hari sebelumnya, jelang makan malam, Mommy belum juga pulang. Omam
mengunyah makanan lambat-lambat. Dia merasakan nyeri pada gigi bagian atasnya
yang sekarang terasa bergoyang lebih sering.
Nanny
meliriknya curiga. Namun Omam malah cepat-cepat berlari menuju kamar mandi dan
menyambar sikat gigi, padahal nasi di piringnya baru tersentuh beberapa sendok.
Terburu-buru dia mengoleskan pasta gigi yang biasa disodorkan Mommy dan
membuatnya kabur biasanya.
Gigi-gigimu akan tanggal, Omam…
“Omam…” panggil Nanny lembut sambil
menepuk pundaknya dari belakang, hingga tubuhnya berjingkat karena kaget.
Nanny memandang heran kali ini.
Mulut Omam penuh dengan busa, sedang pasta gigi yang habis dia gunakan juga
tergeletak di lantai. Pasta gigi yang biasanya dia benci. Nanny menyuruhnya
berkumur kemudian kembali ke meja makan.
Bola mata Omam mulai berair. Ini pasti karena Omam menolak pasta gigi
dari mommy. Pikirnya.
“Pasta gigi Nanny yang merusak gigi
Omam. Kata Mommy, makanan manis tidak baik buat gigi Omam. Pasta gigi itu manis
seperti permen.”
Nanny menggeleng pelan, mungkin
nyaris tidak kelihatan oleh Omam.
“Coba buka mulutmu…” ucap Nanny
lembut. Dia kemudian mengamati tiap sudut gigi-gigi Omam. Satu gigi bagian
atasnya kelihatan miring, mungkin nyaris lepas. Itu biasa terjadi pada seorang
anak yang hendak berganti gigi.
“Besok kita ke dokter gigi, oke?”
Omam menggeleng keras-keras.
“Hmm… kalau begitu biarkan dia lepas
sendiri.”
“Kalau Mommy tahu?”
“Serahkan pada Nanny. Nanny punya
laci ajaib yang bisa mengubah gigimu menjadi benda lain.”
Omam mengangguk. Pada Nanny, dia
percaya.
***
Omam tergugu sambil menyerahkan
giginya yang tanggal pada Nanny. Nanny mengelus kepalanya pelan sambil
berkata,”Kamu tahu, Omam? Gigi yang tanggal ini, bisa berubah menjadi uang. Dia
tanggal untuk berubah menjadi uang dan gigimu tanggal memang sudah semestinya,
bukan karena pasta gigi yang Nanny berikan padamu, Sayang.”
Pelan-pelan Omam berhenti tergugu.
“Itu artinya, Mommy tidak akan
marah?”
“Tentu tidak, Sayang.” Nanny
membungkus gigi Omam dengan kertas tisu kemudian meletakkan gigi itu di
atasnya. Dia selanjutnya membungkus dan meletakkan gigi itu ke dalam laci.
“Apa gigi itu akan berubah menjadi
uang?”
“Kita lihat besok, oke?” Ucap Nanny
sambil tangannya menggandeng Omam keluar dari kamarnya.
***
Mata Omam berbinar ketika mendapati
gigi yang semalam ada dalam balutan tisu itu berubah menjadi uang koin.
“Laci ajaibnya bekerja bukan?” Tanya
Nanny.
Kepala Omam mengangguk kencang. Laci
milik nannynya itu memang selalu menyimpan banyak benda menyenangkan. Seperti
halnya pasta gigi manis, permen dan coklat.
“Laci Nanny benar-benar ajaib!”
“Dan untuk membukanya, kamu juga
memerlukan kunci ajaib ini,” Nanny mengeluarkan sebuah kunci dengan butiran
keemasan dari dalam saku bajunya.
Mata Omam berkilat, dia hendak
meraih kunci itu dari telapak tangan Nanny. Namun, Nanny buru-buru menutup
telapak tangannya hingga membuat Omam merengek.
“Kunci ini hanya Nanny yang bisa
menggunakannya. Jika orang lain memaksa menggunaknnya, dia akan tersambar
petir.”
Omam mundur beberapa langkah dari
tempatnya berdiri. Dia sekarang mengerti, bahwa kunci itu memang tidak boleh
dia sentuh.
***
Dari
jendela kamarnya, Omam melihat Mommy keluar dari dalam mobil sebelum makan
malam. Buru-buru Omam berlari menghampiri Mommy sambil tangannya menggenggam
koin yang dia pikir benar berasal dari giginya. Omam mulai berpikir, jika saja
Mommy mau menimbun gigi-giginya di dalam laci Nanny, tentu dia tidak perlu
pergi keluar rumah sepanjang hari buat mencari uang sekolahnya dan uang untuk
diberikan pada Nanny.
“Mommy
lihat, uang ini berasal dari gigiku!” jerit Omam sambil berjingkat-jingkat.
Mommy
hanya diam. Bola mata Mommy kelihatan merah. Dia terus melangkah menuju ruang
tengah. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam
mobil dan menyusul langkah Mommy. Lelaki berjenggot tipis yang sangat asing
bagi Omam itu, mengekor Mommy pergi ke ruang tengah dan melewati Omam begitu
saja.
Mommy
berteriak memanggil nanny supaya membawa Omam masuk dalam kamar. Nanny kemudian
menarik tubuh Omam yang mulai meronta untuk masuk ke dalam kamar.
Tubuh
Omam tersasa makin menggigil ketika berada di dalam kamar bersama Nanny. Nanny
berusaha menutup kuping Omam dengan dua tangannya, namun dia tetap mendengar Mommy
yang saling berbalas bentakan dengan lelaki asing yang baru datang tadi.
“Apa
dalam laci nanny tidak ada benda ajaib untuk membuat laki-laki tadi berhenti
membentak Mommy?” tanya Omam sambil berusaha meredam tubuhnya yang menggigil.
Nanny
hanya menggeleng sambil terus menutup dua kuping Omam dengan telapak tangannya.
“Aku
mohon pada kamu, Maria. Kita bercerai saja, oke? Aku harus kembali pada anak
dan istriku,” suara lelaki itu mulai lebih pelan. “Soal putramu itu, aku tidak
pernah menyuruhmu membiarkan dia lahir, bukan?” kemudian terdengar suara
langkah kaki yang tergesa dan pintu yang dibanting.
Tangisan
Mommy mulai kedengaran, makin jelas dan makin keras.
***
Omam mendapati satu gigi bagian
bawahnya bergoyang pagi ini. Dia berjalan berjingkat-jingkat mendatangi kamar Nanny,
hendak mengabarkan soal giginya yang akan tanggal dan keinginannya meminjam
laci Nanny setelah giginya itu benar-benar tanggal.
Dia cukup senang, karena selama
beberapa hari belakangan, Mommy sepanjang hari hanya berada di rumah. Selama
beberapa hari itu pula, dia selalu berjalan berjingkat-jingkat karena senang.
Namun ternyata, Nanny tidak
didapatinya di kamar. Dia kemudian melanjutkan pencariannya ke dapur, ruang
tengah, ruang tamu, kamarnya sendiri hingga kembali ke kamar nanny. Tidak ada
Nanny di mana pun…
“Mommy!” jerit Omam.
Mommy berlarian dengan kaki yang
basah bekas dari kamar mandi.
“Di mana Nanny, Mommy? Di mana Nanny?”
“Dia pergi. Mommy tidak bisa lagi
memberinya uang, jadi dia pergi.”
Omam mulai berguling-guling di
lantai sambil menjerit dan menangis. Mommy melenggang meninggalkannya, dengan
bola mata yang terlihat lebih merah daripada kemarin.
Kemudian, Omam ingat pada laci ajaib
milik nanny. Dia bangkit dan berusaha mencari kunci laci itu, dia harus membuka
laci itu tidak peduli dirinya akan disambar petir.
Sambil menahan dadanya yang masih
pengap. Omam memandangi laci milik Nanny. Tidak ada lubang kunci pada laci itu
dan memang tidak pernah ada. Nanny hanya ingin Omam tidak sewaktu-waktu bisa
membuka laci itu untuk menghabiskan semua coklat dan permen dalam sekali
santap. Dia juga tidak ingin Omam tahu, bahwa dirinya yang menukar gigi Omam
dengan uang koin.
Tangan Omam menarik laci hingga
semua permen, coklat dan kotak-kotak pasta gigi berserakan di lantai.
Omam meraup semua permen dan coklat
itu, dia berusaha melahapnya sekali santap. Dia berharap gigi-giginya akan
segera tanggal, kemudian laci itu akan mengubahnya menjadi uang yang dapat
membuat Nanny kembali…
Catatan: 2016 lalu, saya menantang
diri saya sendiri untuk menulis sesuai tema lomba dan cerpen ini jadinya wkwk.
Tentu sudah saya perbaiki perkara ejaan dan lain-lain ketika hari ini saya
unggah.
Monday, April 2, 2018
Ngapain Nyapa? Buka Saja Sosmednya
![]() |
| Rombongan free pass (ndak pakai registrasi) Mata Najwa. Ada pegiat literasi, penulis dan teman-teman taman baca di Malang. Kalau saya sih selundupan wk. |
Satu malam, saya makan bareng teman baik saya dari Gusdurian Malang, Monika. Ngobrol sana dan sini, sampai kemudian Monika cerita nasib dia yang ndak bisa masuk Graha Cakrawala, padahal punya tiket. Waktu itu acaranya Mata Najwa dan yang senasib dengan Monika ternyata banyak sekali.
Yang saya sosoan kaget, waktu Monika tahu saya juga pergi ke Graha Cakrawala untuk nonton Mata Najwa. Lha… padahal waktu ketemu saya juga niatnya mau cerita, kok ya Monika ternyata justru tahu lebih dahulu. Tapi sengaja saya ndak tanya dia tahu dari mana. Bahkan dia tahu, saya dan satu teman Gusdurian Malang, namanya mas Ilmi Najib itu dapat free pass dari mas Eko Cahyono, perpustakaan Anak Bangsa. Ya… meski saya bukan dikasih sih, tapi saya lebih tepatnya minta wk.
Waktu Monika cerita seberapa jauh dia tahu, saya coba ingat-ingat, apa saya barangkali yang unggah kegiatan saya hari itu di sosmed? Eh, ternyata juga ndak. Saya sama sekali ndak bikin boomerang di lokasi acara atau foto-foto tiketnya, apalagi unggah foto bareng.
Baru sehari kemudian, beranda saya penuh dengan kiriman enam hari yang lalu. Lha… Instagram saya ini agaknya punya masalah kok ya kiriman enam hari lalu baru bermunculan. Di beranda itu juga muncul foto unggahan mas Ilmi Najib, isinya ya rombongan free pass Mata Najwa sekitar seminggu lalu dengan keterangan foto yang menceritakan kegiatan kami hari itu.
Lha… ini apa. Maha tahu sosial media sebabnya. Tentu mas Ilmi tidak bermaksud apa-apa ketika mengunggah foto di media sosial. Posisinya di Gusdurian Malang yang menuntutnya terus berjejaring, tentu bakal terbantu dengan unggahan-unggahan kegiatannya. Pun Monika yang tentu tidak sengaja melihat unggahannya mas Ilmi yang lewat di berandanya.
Tapi dari sini saya jadi berpikir-pikir, jelas begini ini toh kerja media sosial. Nggegirisi juga ketika orang-orang ndak perlu saling sapa untuk tahu satu sama lain tengah melakukan apa.
Ada teman saya namanya Zainul Ridwan pernah bilang soal media sosial, kalau unggah ya unggah saja, selama ndak merugikan orang lain bukan masalah. Tapi rumusan rugi dan tidak bagi tiap orang ternyata beda juga. Bagi saya, jika unggahan tersebut ndak ada sangkutannya dengan branding, saya bakal banyak berpikir-pikir mau diunggah atau tidak. Saya tidak ingin merugi dengan melebur jarak dari mereka yang betul berteman dan berkomunikasi dengan saya, dibanding mereka yang hanya tahu saya sebatas sosial media.
Maha tahu sosial media atas segala yang terjadi di jagat raya…
Catatan: Saya sudah cukup lama mengalihkan unggahan di media sosial semacam Facebook, Instagram dan lainnya pada blog. Ndak mau rugi saya. Biar mereka yang sekadar ingin tahu tanpa menyapa, masih bisa kasih timbal balik traffic pada saya wk.
Tuesday, March 20, 2018
Seorang Lelaki yang Jatuh Cinta Pada Buku-buku yang Dibacanya
![]() |
| Sumber: Gugel |
Tidak ada pujian soal kecantikanku, saat dia menyatakan permintaanya buat menikahi aku. Dia hanya menyodorkan sebuah buku dengan salah satu halaman yang ditandainya dengan spidol warna biru.
Bukan kecantikan, yang jadi investasi sepanjang hayat dari seorang perempuan. Tapi, kecerdasan…
“Maka, saya memilihmu…” katanya mantap setelah aku selesai membaca sebaris kalimat yang ditandainya biru.
Pipiku terasa panas. Aku yakin, detik itu ada merah yang menyembur pada dua belahan pipiku.
Kecerdasan…
Itulah alasannya memilih aku. Sungguh beda dengan lelaki lain yang ragu mengajakku menikah, karena ukuran tubuhku yang tidak menarik dan kelewat besar. Setidaknya, memang begitu menurutku, saat itu…
***
Maka, kami pun menikah. Sehari-hari, aku hanya mendapatinya membaca sedemikian banyak buku-buku. Dia bisa menggerakkan dua bola matanya pada dua halaman buku sekaligus. Para mahasiswa banyak datang bertamu, memintanya berceloteh soal buku-buku yang begitu mudah dia ingat.
Saban hari, aku sendiri bekerja di kantor pemerintah sejak pagi hingga jelang petang. Namun, dia tetap berkutat dengan buku-bukunya atau sibuk mengoceh dengan para mahasiswa yang nampak betul memuja dirinya. Sering dengan senyum puas dan bangga, dia sebut dirinya mewarisi apa yang dimiliki ayahnya, dapat membaca dua halaman buku sekaligus.
Makanan yang aku masak selalu dilahapnya dengan rakus. Akan tetapi, tidak pernah ada pertanyaan kapan aku memasaknya atau kenapa, kadang aku menghilangkan menu cabai. Ya… aku terkadang menghilangkan menu cabai karena harganya yang kelewat tinggi di satu waktu tertentu. Ah… dia mana pernah mau tahu sih?
“Saya tidak menyajikan cabai hari ini…” ucapku, coba memancingnya bercakap-cakap.
“Oh… tentu. Bukan masalah.” Sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
“Kamu tidak coba tanya kenapa?” desakku dengan sedikit penekanan pada kata ‘kenapa’.
“Seperti tadi saya bilang, itu bukan masalah.” Balasnya dingin.
Aku mendekati meja tempatnya makan dan menggebrak dengan dua tangan sekuat mungkin. Mataku mendelik dengan bibir yang aku gigit kuat-kuat menahan tangis dan marah.
“Ini bukan masalah, oke?” sahutnya tanpa berhenti mengunyah makanan.
Kemudian disodorkannya sebuah buku dengan salah satu halamannya yang terbuka. Ada sebuah kalimat yang ditandainya dengan tinta biru.
…bagaimana semua orang bisa berpikir pragmatis?
***
Dia menatapku kelewat tajam saat aku menghempas tubuh di atas sofa bersama beberapa tas belanjaan. Tas belanjaan itu bertulis salah satu mall terbesar di kota. Keparatnya, tatapan itu diamini para mahasiswa pemujanya itu padaku.
Salah seorang mahasiswa berbisik pada mahasiswa lain di sebelahnya. Kemudian, bisikan mereka berlanjut menjadi saling bisik, hingga dia membuka sebuah halaman buku, ditandainya sebuah halaman dengan spidol warna biru. Diserahkannya kemudian buku itu, pada salah seorang mahasiswa yang duduk tepat di samping tumit kakinya. Dia berbisik sejenak sebelum membiarkan mahasiswa itu menyodorkan bukunya padaku.
Bab V. Borjuis dan Hedonis. Sebuah Bab Penjelas.
Keparat! Aku berdiri tanpa memerhatikan sorot mata semua orang yang menancap padaku, juga pada tas-tas belanjaan yang aku bawa. Apa mereka tidak paham? Mencari penjahit baju terpercaya sangat susah di jaman sekarang. Tubuhku sendiri sangat besar bahkan jauh sebelum aku menikah. Cuma mall terbesar di kota yang menyediakan baju-baju seukuran tubuhku. Meski harga yang aku tebus tidak murah mengingat ukuran tubuhku memang membutuhkan banyak bahan. Namun, setidaknya aku masih bisa berbaju dengan sejumlah uang dari gajiku sendiri! Bukan hasil nyolong!
***
Dia semakin hemat bicara pada aku. Cukup melegakan karena dia masih begitu rakus melahap semua yang aku masak.
Para mahasiswa yang datang mengerubunginya kian hari makin banyak. Ketika aku melakukan sesuatu yang kurang berkenan baginya, dia hanya menyodoriku sebuah buku yang salah satu halamannya ditandai warna biru. Hanya itu dan seterusnya begitu.
Sempat di satu malam di awal pernikahan kami, dia menceritakan bagaimana ayahnya terus-menerus membaca, meski berkali ibunya menggerutu soal harga cabai yang membengkak. Kemudian, didapatinya ayah dan ibunya yang tidak pernah lagi saling berbicara. Ayahnya hanya menandai sebuah halaman buku dengan tinta biru, jika ingin menegur ibunya, persis yang dirinya lakukan padaku. Setelahnya, ayahnya itu mulai mengemasi buku-buku, sedikit baju dan tidak lagi terlihat mengedar di sekeliling mereka. Hingga satu waktu, aku juga mendapati dirinya mengemas barang dari dalam almari baju kami, seperti ayahnya.
“Kamu mau kemana, Mas?” tanyaku.
Dia hanya diam, sambil terus mengemas baju.
“Mas…” panggilku.
Senyumnya terkembang tipis. Dia kemudian melewati aku begitu saja yang tengah berdiri di bibir pintu. Buru-buru dia meraup belasan bukunya yang ada di atas rak dekat ruang makan. Buku-buku itu selanjutnya dimasukkannya dalam koper, bercampur dengan beberapa helai pakaian yang tidak sebanyak buku yang dia bawa.
“Mas!” aku akhrinya membentak saat dia berlalu begitu saja, melenggang menuju ruang tamu sambil membawa koper.
Dilemparnya sebuah buku padaku kemudian. Seperti biasa, ada tinta biru sebagai penanda bagian mana yang semestinya aku baca.
Menghayati hidup, meski tidur tidak beralas keramik.
Tanganku gemetar. Dia menghilang dari balik pintu. Buku yang aku genggam terjatuh ke lantai. Lantai keramik yang aku bangun dengan gaji yang aku kumpulkan, hanya karena alasan sederhana, keramik membikin rumah menjadi mudah dibersihkan.
Namun, sebentar kemudian tanganku berhenti gemetar. Aku mendekat menuju jendela dan melihatnya yang kesusahan menenteng sebuah koper besar. Senyumku terkembang lebar. Aku penasaran, buku apa yang nanti jadi alasannya buat kembali pulang?
Thursday, March 1, 2018
Penyakit Kronis Itu Bernama Publikasi
Publikasi itu bukan penyakit. Yang menjadi penyakit adalah ketika kita merasa paling tahu atas yang kita publikasikan melebihi orang lainnya.
Hingga kita lupa di luar diri kita, banyak sekali orang yang sesungguhnya jauh lebih tahu soal apa yang kita publikasikan itu.
Mereka-mereka ini yang lebih tahu, namun justru jarang publikasi bahkan barangkali tidak pernah.
Mereka-mereka ini juga yang tersenyum geli melihat kita. Kita yang tahunya sedikit, tapi sudah keburu bangga publikasi.
Hingga kita lupa di luar diri kita, banyak sekali orang yang sesungguhnya jauh lebih tahu soal apa yang kita publikasikan itu.
Mereka-mereka ini yang lebih tahu, namun justru jarang publikasi bahkan barangkali tidak pernah.
Mereka-mereka ini juga yang tersenyum geli melihat kita. Kita yang tahunya sedikit, tapi sudah keburu bangga publikasi.
Thursday, February 22, 2018
Komoditi Maaf
Sunday, February 11, 2018
Pernah Kena Modus ‘Content Writer’ MLM Asuransi? Mari Bercerita
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi. Saya dan Luvi di lokasi penjebakan. Luvi sekarang tidak pernah lagi unggah foto dengan wajahnya yang nampak dan saya coba ikutan di sini. |
Beberapa
bulan yang lalu, saya dihubungi mas M melalui blog yang saya kelola ini. Mas M
mulanya saya berikan akun Instagram saya yang memang sering online, agar dapat bercakap-cakap. Sejak
semula menghubungi saya melalui blog, mas M mengatakan bahwa dirinya
membutuhkan jasa content writer.
Setelah
berkomunikasi via instagram, mas M mengaku berasal dari perusahaan asuransi dan
meminta lagi kontak saya, nomor WA. Kemudian saya berikan nomor WA saya padanya
dan kami kembali berkomunikasi.
Saya
merasakan kecurigaan ketika mas M agaknya kurang menguasai terkait content writer. Saya tipe orang yang
menulis penuh tendensi. Saya tidak perlu sok-sokan menulis dengan hati dan
ikhlas. Jika tulisan saya dipergunakan untuk bisnis, sepenuhnya saya akan
berbisnis dan jika tulisan saya dipergunakan untuk sosial, sepenuhnya saya akan
kerja sosial. Tidak ada posisi di tengah bagi saya soal yang satu ini dan saya
rasa banyak orang pun demikian.
Berhubung
sejak semula mas M mengajak saya berbisnis tulisan, maka saya langsung tembak
soal tarif. Apalagi ketika mas M pada waktu itu mengiyatakan bahwa tidak bisa
dirinya jelaskan apa pekerjaan saya via WA. Kami harus jumpa tapi syaratnya,
saya harus bawa sebanyak-banyaknya teman yang juga menulis. Domisili mas M di
Surabaya, katanya waktu itu. Ketika saya tembak soal tarif, mas M anehnya
mengatakan tarifnya sama dengan biasanya saya memberi jasa sejenis alias
terserah saya. Intinya apapun deh, pokoknya saya mau bertemu dulu.
Dalam
keraguan, saya masih sempat mengajak tiga teman saya; Windy, Dinda dan Nilam.
Saat itu posisi kampus kami masih liburan dan saya tidak hendak memaksa mereka
balik Malang untuk sesuatu yang tidak pasti. Apapun yang kami dapati ketika
bertemu mas M, saya inginnya sih waktu itu menunggu teman-teman saya yang
sedang pulang kampung ini selesai liburan dahulu. Windy, teman saya yang
biasanya kritisnya itu langsung tembak, langsung menyatakan keraguannya atas
tawaran mas M. Pun saya juga menyatakan keraguan pada Windy.
Hingga
beberapa lama mas M terus menanti kepastian kapan bisa bertemu dan di akhir
januari, mas M akhirnya mau berjumpa dengan saya meski saya bilang tidak bisa
membawa teman. Ya… saya akhirnya memutuskan untuk jumpa mas M sendiri saja, toh
semua belum pasti.
Tapi
kemudian, teman saya Luvia Irmadiana mengabari jika dirinya ada di Malang, maka
sekalian saja saya mengajaknya jalan dan bertemu mas M. Toh, lokasinya juga di
salah satu mall besar di Malang, sekalian saja barangkali kami bisa bertemu
baju-baju lucu dan murah.
Saya
menduga-duga jangan-jangan mas M ini sesungguhnya hanya mengajak ber-Multi Level
Marketing-ria, tapi toh semua belum terbukti dan saya juga tidak menceritakan
apapun pada Luvi. Insting saya berkata, setidaknya kami bakal dapat jajan
gratis dan kalau ya, ini rejekinya Luvi yang sudah dua hari mengirit, tidak
makan nasi di kos.
Benar
saja, saya dan Luvi diajak ke salah satu restoran Jepang dalam mall tersebut. Insting saya makin terasa
tidak enak sih. Pekerjaan mana yang berani beri fasilitas sebelum kita bekerja?
Kecuali ya… ini pancingan untuk sesuatu yang lebih besar.
Kami
pun menerima pesanan masing-masing; teh hijau, nasi dan ikan berbumbu, serta
belakangan ada tambahan semacam ayam krispi, mayones dan irisan wortel yang
apapun itu namanya. Obrolan basa-basi pun dimulai, seputar letak rumah, jurusan
di kampus dan lain-lain. Luvi selama obrolan saya dengan mas M berlangsung,
berkonsentrasi pada makanan dan ponselnya, tapi saya tahu dirinya pun
sesungguhnya turut mendengarkan.
Saya
sama sekali tidak tertarik mendebat, ketika mas M pada intinya mengajak saya membuat
blog yang isinya mengenai asuransi. Nah, blog ini hanya dapat dibuat ketika
saya memiliki surat ijin. Ya… kata mas M, tidak semua orang bisa menawarkan
jasa asuransi, harus ada surat ijin resmi dan saya harus mengikuti ujian
berbayar untuk mendapatkan surat ijin tersebut. Blog yang saya buat pun, tidak
perlu bercampur dengan blog pribadi.
“Jadi,
mbak nanti dapat dua keuntungan. Pertama, mbak dapat uang dari iklan google di blog dan kedua, mbak dapat
komisi jika ada orang beli produk ke mbak lewat blog tersebut.”
Dengan
penjelasannya yang berkali-kali soal dua keuntungan tersebut, saya akhirnya
tidak tega. Saya kemudian menjelaskan padanya bahwa memasang iklan di blog,
kemudian mendapatkan penghasilan tidak semudah itu. Saya pernah mencobanya dan
gagal. Pikiran bahwa main blog dapat duwit mudah bukan hanya pada diri mas M.
Beberapa
teman saya pun punya pikiran mendapat uang dari blog itu mudah. Bahkan ada yang
dengan lugas menyatakan
ketidakpercayaannya bahwa saya tidak dapat uang dari blog. Barangkali,
dipikirnya orang gila mana yang mau gratisan ngeblog hampir lima tahun pula.
Tapi sungguhan, banyak teman-teman saya yang bahkan jauh lebih lama ngeblog
karena hobi. Orang-orang macam teman-teman yang tidak percaya ini, sudah barang
tentu tidak pernah mampir sungguhan di blog saya yang di sudut mana saja bersih
dari iklan. Jadi, mau dapat uang dari mana coba?
Dengan
cara tidak mendebat tadi dan menyetujui semua ucapan mas M, saya akhirnya
mendapat kejelasan darinya begini,”Jadi, ini bukan mbak nulis untuk saya lalu
saya bayar mbak…”
Batin
saya,”Ini sih jelas bukan content writer,
Mas. Mas hanya peduli saya masuk training dan bayar. Tidak lulus ujian masih
disuruh bayar separuh harga lagi pula. Mas tidak peduli saya survive setelah ikut training atau
tidak. Ini semua fokusnya; mendapatkan orang sebanyak mungkin. Jika saya berhasil
dapat klien, mas untung dapat komisi dan jika saya tidak dapat klien, mas masih
dapat tulisan gratis di google soal
produk yang mas jual.”
Dalam
usaha tidak mendebat sama sekali, saya bahkan mau mengisi formulir surat ijin.
Hanya saja, saya menyatakan tidak membawa KTP saat itu. Mas M matanya nampak
curiga dan agak sebal, ketika saya katakan tidak bawa KTP. Padahal, sejak
semula dia kelihatan hanya mengajak ber-MLM-ria, saya sesungguhnya juga sangat
sebal padanya, hanya saja muka saya yang bego dan polos dan datar ini tidak menunjukkannya.
Saya
bukannya alergi MLM. Saya hanya alergi pada mereka yang menyakiti diri sendiri
dan orang lain demi tujuan. Saya tidak mau dilukai, jadi saya berusaha tidak
melukai orang terlebih dahulu. Saya bukannya baik, sehingga tidak mau melukai
orang terlebih dahulu, tapi saya sangat percaya timbal balik sehingga sungguh
takut melakukan itu.
Yakin
saya, tidak semua pelaku MLM semacam mas M yang menghalalkan segala cara,
sampai menawarkan pekerjaan semu. Banyak juga teman-teman saya yang berbisnis
MLM kosmetik atau lainnya yang terang-terangan dalam bisnisnya.
Luvi
bahkan nyaris percaya jika saya mau bekerja dengan mas M. Hingga saya beri dia
kode. Sekeluarnya dari restoran, Luvi malah bilang,”Kok mas e tadi nggak ngajak
ke ***** (tempat yang lebih mahal) aja, ya?”
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi. Lokasi di mana kami ditraktir makanan oleh si oknum. |
Jika
teringat mangkuk-mangkuk kosong makanan yang ada di hadapan saya itu, saya
menyesal tidak jadi mengajak Dinda, Windy dan Nilam. Bagi anak kos, makanan
bergizi lagi enak begitu kan rejeki luar biasa. Tentu sebanding dengan satu jam
dianggap bodoh.
Kepada
mas M, yang kelak pasti membaca tulisan ini, Anda berhak ‘berbisnis’ dan saya
pun berhak menolak. Kita sama punya hak dan mohon jangan saling langgar hak.
Semoga dengan membaca tulisan ini, mas akan lebih halus lagi jika kelak
memergunakan modus serupa; content writer
tanda kutip.
Subscribe to:
Posts (Atom)






