Friday, June 2, 2017

Analogi Intuisi VS Insting




I
Api


Intuisi

Begini…
Agni belum mengetahui, bahwa api itu panas. Kemudian, Agni menyentuh api. Agni menjerit karena telapak tangannya terbakar. Semenjak saat itu, Agni mengetahui bahwa api itu panas dan tidak layak dipegang secara langsung dengan telapak tangan. Agni tidak lagi mau menyentuh api dengan telapak tangannya.
Ketika ada orang lain, hendak menyentuh api dengan telapak tangannya, Agni berkata,”Jangan! Tanganku pernah terbakar oleh api itu!”
Dan orang lain yang dilarang Agni menyentuh api, menyahut,”Oke, aku tidak akan menyentuh api itu. Semua karena tanganmu terbukti pernah terbakar olehnya.”

Insting

Begini…
Agni tiba-tiba tahu, bahwa api itu panas. Padahal, dirinya tidak pernah menyentuh api. Ketika ada orang lain hendak menyentuh api dengan telapak tangan, Agni berkata,”Jangan! Api itu bisa membakar tanganmu!”
Orang yang dilarang Agni menyentuh api itu menjawab,”Bagaimana kamu tahu api bisa membakar tanganku? Toh, tanganmu belum pernah terbakar olehnya, bukan?”
Selanjutnya, orang tersebut betul-betul menyentuh api dengan telapak tangannya. Kemudian, telapak tangannya itu terbakar. Semenjak saat itu, Agni makin yakin bahwa api memang panas.


II
Sekam dan Api


Intuisi

Begini…
Agni belum mengetahui, bahwa dalam sekam bisa jadi ada api. Sepanjang pengetahuannya, hanya api yang bisa membakar tangannya, bukan sekam. Kemudian, Agni menimbun tangannya dalam sekam. Agni menjerit, telapak tangannya terbakar. Semenjak saat itu, Agni mengetahui bahwa di dalam sekam ternyata ada api dan sekam tidak layak dipegang secara langsung dengan telapak tangan. Agni tidak lagi mau menyentuh sekam dengan telapak tangannya.
Ketika ada orang lain, hendak menyentuh sekam dengan telapak tangannya, Agni berkata,”Jangan! Dalam sekam itu ada api dan tanganku pernah terbakar olehnya!”
Dan orang lain yang dilarang Agni menyentuh api, menyahut,”Oke, aku tidak akan menyentuh sekam itu, bisa jadi di dalamnya memang ada api. Semua karena tanganmu terbukti pernah terbakar olehnya.”

Insting

Begini…
Agni tiba-tiba tahu, bahwa di dalam sekam ternyata ada api yang bisa membakar telapak tangannya. Padahal, dirinya tidak pernah menyentuh sekam. Ketika ada orang lain hendak menyentuh sekam dengan telapak tangan, Agni berkata,”Jangan! Dalam sekam itu bisa jadi ada api. Itu bisa membakar tanganmu!”
Orang yang dilarang Agni menyentuh sekam itu menjawab,”Bagaimana kamu tahu ada api dalam sekam, yang bisa membakar tanganku? Toh, tanganmu belum pernah terbakar olehnya, bukan?”
Selanjutnya, orang tersebut betul-betul menyentuh sekam dengan telapak tangannya. Kemudian, telapak tangannya itu terbakar oleh api. Semenjak saat itu, Agni makin yakin bahwa dalam sekam memang ada api yang bisa membakar telapak tangan.

Friday, May 26, 2017

Rumusan Pesan Singkat, Buat Mematahkan Hati Seorang Perempuan



Gadis itu jauh lebih muda dari saya. Kami beberapa kali bekerjasama dalam sebuah pertunjukan teater. Saya pemeran utama yang selalu ditunggu penonton, sedang gadis itu penjual tiket yang luar biasa gesit dan tekun. Namanya Andana.
Meski tidak terlalu cantik, Andana punya mata bulat yang menarik dan kulit coklat yang manis. Cara pandangnya jujur, sering mirip dengan sinis. Dan cara pandang itu yang agaknya menarik Wijaya, pacar saya pada gadis itu.
Wijaya punya cara pandang serupa Andana, beda betul dengan saya yang terkesan takut berpandangan jujur. Semua hal saya tutupi, dengan menyarankan semua orang berpikir positif. Pada bagian ini, saya dan Wijaya berseberangan, namun saling melengkapi.
Saya kagum pada Andana yang optimis dan seperti tidak menyimpan kesedihan. Kami gemar bercakap-cakap sambil minum teh. Semua orang tahu itu, saya senang mengobrol dengan gadis yang tingginya sebahu saya itu. Kami bahkan lebih sering terlihat bersama dan dekat, ketimbang kebersamaan dan kedekatan saya dengan Wijaya di depan umum. Saya dan Wijaya sudah bersama selama delapan tahun, namun kami berusaha betul menyembunyikan hubungan kami.
Wijaya adalah sutradara teater yang jenius. Tubuhnya tinggi, tegap dengan kulit coklat dan wajah yang manis. Banyak perempuan mengaku naksir berat padanya. Namun, agaknya dari semua perempuan itu, Andana yang paling beruntung. Andana berhasil mendapat perhatian dari Wijaya. Saat saya tampil di panggung, saya selalu lihat bagaimana Wijaya menghampiri Andana terlebih dahulu di meja tiket. Dada saya terasa panas… cuma itu.
Dalam tim teater, Andana adalah tim penjualan andalan kami. Tenaganya seperti tidak habis-habis. Dia gadis baik, yang terbuka sekaligus berhati-hati dengan banyak lelaki. Dengan mata secantik itu, Andana pasti bisa menarik banyak lelaki buat berciuman dengannya. Namun, dia memilih tidak. Dia bilang pada saya,”Saya nggak mau sembarangan, Mas Gilang. Ada hati pada bibir perempuan. Sekalipun ciumannya main-main, hati itu pasti akan jatuh juga tanpa diduga.”
Maka pada suatu sore, saya beli sebuah kartu perdana. Saya aktifkan kartu itu dan mulai saya ketik sebuah pesan pada Andana, tanpa nama.

Andana… Wijaya dan Gilang, sebenarnya sudah delapan tahun berpacaran. Berita ini sudah rahasia umum. Tapi, saya nggak tahu apa kamu sudah tahu lebih dulu?

Tidak ada pesan balik dari Andana. Saya berulang mengecek nomornya, barangkali ada digit yang tertinggal. Tapi tidak, nomor Andana memang betul. Tiga hari kemudian, baru Andana membalas pesan singkat saya. Saya harap dia nerocos panjang memertanyakan isi pesan singkat itu atau menyatakan rasa tidak percayanya. Yang demikian ini, agaknya sejurus dengan binar mata Andana saat mendapat perhatian dari Wijaya selama ini.
Di luar dugaan, Andana hanya membalas…

Ini siapa ya?

Sudah pasti Andana tahu, pertanyaan demikian tidak bakal saya balas. Saya hanya melongo menatap layar ponsel. Santai sekali dia? Dan apa yang sebenarnya sudah saya lakukan? Apa saya mengirim pesan itu buat melindungi Andana, si gadis baik yang saya kagumi dari Wijaya? Atau saya hanya ingin mereka berdua saling menjauh, karena dada saya yang terasa panas?

Thursday, May 25, 2017

Berkat Bu Irma, Si Nakal Ismail Jadi Pahlawan Puisi Di Sekolah



Sejak Ismail pindah ke sekolah, kalau tidak salah saat kelas 3, saya tidak pernah mengobrol dengannya. Ismail tidak pernah mengganggu saya, sebaliknya saya juga tidak pernah tahu bagaimana nyambung mengobrol dengan dia. Berkat obrolan saya dengan Desi dan Putri, adik perempun Desi di rumah mereka semalam, ada satu nama yang saya ingat selain Ismail, yaitu bu Irma.
Saat SD, saya ingat bagaimana saya menceritakan Ismail dan bu Irma dengan gaya paling semangat saat di rumah. Saya tidak ingat bagaimana tanggapan ibu saya, namun saya terus menceritakannya.
Ismail terkenal senang membuat perkara sejak awal kedatangannya. Cap nakal menyebar luas dari semua orang di sekolah, hingga wali murid. Mr. A menghabisi karakter Ismail tiap saat. Saya saja, yang tidak pernah bermasalah di sekolah dan hanya mengalami masalah belajar yang tidak bisa saya selesaikan sebagai anak-anak pun, oleh Mr. A juga dihabisi secara karakter, apalagi yang seperti Ismail.
Saya ingat bu Nurul pernah betul-betul marah pada Ismail sekali, saat dirinya kelewatan menggoda Icha, teman sekelas kami yang memang lebih istimewa. Icha saat itu sampai kalap dan tangannya terkena cutter. Itu kasus terbesar Ismail di sekolah. Dengan keadaan Icha yang istimewa, tentu gangguan dari orang lain bisa jadi masalah besar. Entah bagaimana ceritanya, sekolah sepakat tidak menaikkan Ismail satu tahun. Jadilah Ismail lulus satu tingkat di bawah saya.
Setelah Ismail tidak naik kelas, saya justru melihatnya berlatih puisi dengan bu Irma di sekolah. Bu Irma merupakan koreografer tim bendera drum band sekolah. Beliau juga pembina teater, selain juga sebagai guru bahasa Indonesia di sekolah.
Ismail memiliki suara lantang dan rasa percaya diri yang luar biasa. Tenaganya juga seperti tidak kunjung habis. Entah bagaimana, Ismail yang katanya nakal itu, kelihatan selalu mendengarkan arahan dari bu Irma. Selanjutnya, saya mengetahui Ismail berulangkali dikirim lomba membaca puisi mewakili sekolah. Saya tidak begitu merekam apa dia berhasil membawa kemenangan. Namun, bagaimana bu Irma mengarahkan tenaga Ismail yang sangat besar itu, selalu terekam dalam ingatan saya.
Hingga bu Irma akhirnya tidak lagi mengajar di sekolah kami, Ismail terus mengikuti berbagai acara puisi mewakili sekolah. Dirinya semakin percaya diri. Cap Ismail yang nakal tetap ada, namun saat itu juga berbarengan dengan cap dirinya, sebagai pembaca puisi ulung. Hukuman hingga dirinya tidak naik kelas, atas kesalahannya dan pengakuan dari bu Irma, agaknya membuat Ismail jadi lebih seimbang.
Semenjak saat itu, saya makin memahami jadi guru pasti sangat berat. Saya belum tentu bisa jadi seperti bu Irma, apalagi lebih baik ketimbang beliau. Pengakuan diri Ismail dari bu Irma, semoga terekam selamanya pada diri Ismail. Hal ini mengingatkan saya dengan Tetsuko Kuroyanagi, dalam bukunya yang berjudul Totto Chan Gadis Cilik Di Jendela. Baginya, Mr. Kobayashi yang selalu meyakinkannya sebagai anak baik dan memercainya, menjadikannya gagal menjadi penjahat.
Sayangnya, untuk mencari kontak bu Irma di sosial media, saya betul-betul lupa siapa nama lengkap beliau. Semoga pada waktu yang tepat, tulisan ini sampai pada njenengan, Bu…

Friday, May 19, 2017

Kecacatan Afi Nihaya Faradisa



Sumber: Gugel

*Dibuat dan diposting sebelum heboh kasus plagiasi. Yang bersangkutan mengakui satu tulisan plagiat dari sekitar tiga temuan warganet.

Kebetulan, awal tahun ini saya membaca postingan Afi Nihaya Faradisa alias Asa Firda Inayah di grup Komunitas Bisa Menulis (KBM). Dalam grup tersebut, Afi memerkenalkan diri sebagai anggota tim penguak berita hoax. Masih dalam perkenalan tersebut, Afi juga menyebut soal tulisannya yang viral dan jumlah followernya yang ribuan. Perkenalan tersebut membuat saya tertarik melihat profil facebook Afi. Dan benar followernya memang aduhai. Namun, saya justru sengaja tidak mengikuti akun facebooknya si Afi ini. Saya lebih memilih melihat status-statusnya secara manual, alias ketik dulu namanya, klik profilnya, baru baca statusnya. Toh sesungguhnya, postingan teman-teman di beranda facebook saya sudah sangat bermacam-macam dan mewakili tulisan si Afi ini. Dan lagi, saya memang mengenal langsung teman-teman ini. Lebih baik saya sumbang like dan komentar, pada status milik teman sendiri biar mereka bahagia.
Barangkali, ada banyak sebab mengapa Afi kedatangannya jadi dirindukan. Pertama, Afi masih berstatus sebagai pelajar SMA dengan tahun kelahirannya yang 1998. Kita sebagai pribadi yang masih kagetan, melihat anak SMA yang rajin membaca, berpikiran dan menulis serapi Afi adalah hal waow. Padahal, yang sejenis Afi, lebih tajam dan lebih muda barangkali tentu ada. Bedanya, kebetulan mereka tidak mengungkap pemikirannya dengan jalur seperti Afi, atau kalaupun sejalur, kebetulan mereka tidak beruntung jadi viral.
Kedua, Afi memerlihatkan identitas keislamannya. Kebetulan, islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Tulisan soal perdamaian dan toleransi dari yang mayoritas, tentu dirindukan baik dari minoritas maupun dari mayoritas itu sendiri.
Betapa di hari-hari sebelumnya, Tere Liye yang jelas memiliki identitas islam, dibully luar biasa karena dinggap mengecewakan. Tere Liye sempat terpeleset jari ketika menulis soal sejarah dan menyerempet pada SARA. Kutipan bijak soal cinta dan kehidupan yang jauh lebih banyak jumlahnya dari satu kesalahan itu, agaknya tidak membuatnya bebas dari cacat. Ada lagi Felix Siauw yang buku merah jambunya sempat hits luar biasa. Twitnya soal bela negara dibanding khilafah, banyak dipermasalahkan. Rasa kebangsaan Felix dipertanyakan di sana, apalagi dengan identitas islam yang dirinya bawa.
Ketiga, Afi datang di saat yang tepat. Media massa yang tengah getol memberitakan Indonesia sebagai negara darurat toleransi, membuat kita berebut jadi paling responsif di media sosial. Meski Afi mengaku tulisan pertamanya yang viral adalah soal pendidikan, agaknya cap dirinya sebagai penulis toleransi dan perdamaian lebih kuat, karena momen yang tepat.
Terus terang, saya justru merasa ngeri dan justru kasihan pada Afi, melihat begitu banyak orang membanjiri statusnya dengan like dan komentar yang menyetujui isi statusnya. Saya sendiri dua kali membagikan status Afi, soal hoax dan satu lagi status singkat dengan gaya guyonan berkelas darinya. Afi juga manusia biasa yang kadang terpeleset jari, hingga suatu saat dianggap cacat dengan satu kali terpeleset tadi. Banyak orang seolah membebankan harapan yang kelewat-lewat pada diri Afi.
Kelak, meski saya juga tidak berdoa atau berharap. Hendaknya, kita sebagai pribadi kagetan ini, juga tidak kecewa dan kelewat mengamini kecacatan Afi, apabila suatu saat dirinya betul terpeleset jari. Jangan lupakan hal baik yang lebih banyak dia tulis sebelumnya. Mari, pelan-pelan kendalikan diri masing-masing yang masih kagetan ini. Gembira boleh, berharap boleh, tapi mbok ya… jangan kelewat-lewat…