Wednesday, August 5, 2020

Untuk Hidupmu yang Baru; Panduan Hijrah Milenial Karya Rully Nur Rahim

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sampul depan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Untuk Hidupmu yang Baru (selanjutnya disebut UHB), menyambut saya dengan kutipan di lembar kedua. Sedikit Berbagi Untuk Pengingat Diri, demikian isinya. Oke, satu kutipan sebelum isi buku tentu saja manis. Buku-buku sejenis banyak pula membawa formula demikian. Lembar berikutnya pun disambung dengan pengantar dan sayangnya, lagi-lagi ada kutipan. Serupa kutipan di lembar kedua, kutipan-kutipan ini dicetak di tengah halaman. Total ada enam kutipan dalam tiga lembar, beruntun! Baru setelahnya daftar isi menyambut.

Sayang sekali kutipannya ditumpuk di awal buku ya? Benar. Padahal kutipan-kutipan ini bisa diletakkan berselang-seling ketika pergantian bab di awal dan akhir. Ada tiga bab dan jumlahnya pas jika disebar enam kutipan. Dengan demikian proporsi buku menjadi lebih seimbang dan manis.

Barangkali penulis meletakkan kutipan-kutipan tadi menumpuk di depan karena tidak nyambung dengan isi tulisan per bab? Tidak juga. Karena ternyata sub bab dalam tiga bab yang disajikan pun tidak terlalu memiliki keterkaitan. Jadi sub bab-sub bab ini sekalipun ditukar posisinya dalam bab lain, tidak ada perbedaannya juga. Bab I misalnya, terdiri dari sub bab yang berjumlah sembilan. Isinya antara lain; 1) Menggapai Rida Allah, 2) Menjadi Pribadi Berkarakter, 3) Bertahan dalam Kerasnya Pergaulan, 4) Bukan Pacaran, 5) Bersaing dalam Kebaikan, 6) Mudah Menyelesaikan Masalah, 7) Tidak Mudah Tertempel Dampak Negatif Masa Kini, 8) Tetap Bermanfaat, dan 9) Menebar Kasih Sayang.

Namun ternyata, bab II juga memiliki sub bab mengenai karakter dan pacaran antara lain; Karakter, Karakter dalam Al-Qur’an, Untuk yang Pacaran, Cara berhenti Pacaran, termasuk soal perokok, pecandu dan hal-hal yang dalam praktik menyalahi penjelasan bagaimana menjadi pribadi berkarakter. Jadi sub bab 2) Menjadi Pribadi Berkarakter dan 4) Bukan Pacaran dalam bab I, sebenarnya ada sub bab lain yang lebih terkait di bab yang lain pula. Juga bab II yang membahas orang tua dan pola asuh, dalam bab III ada sub bab sejenis dengan bahasan berbeda. Agaknya, penulis dalam buku berikutnya harus betul-betul memiliki penggolongan bab dan sub bab yang runut. Jika tidak, sekalian saja penggolongan bab dihilangkan karena ya… tidak fungsi-fungsi amat.

Bagaimana dengan isi buku? Bab I diawali penyebutan berbagai sosial media. Ada Instagram, Facebook, dan Twitter disebutkan bersama peminat yang menurut penulis paling banyak dimiliki Instagram dan paling sedikit dimiliki Twitter. Padahal ya, Twitter tiga tahun belakangan ini kembali ramai hingga tercipta olokan anak Twitter lama vs anak Twitter baru. Dilansir dari Detik, 2019 bahkan disebut tahunnya Twitter di Indonesia. Tapi tidak tahu juga jika penulis menggarap buku ini jauh sebelum Twitter kembali naik.

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Twitter apa kabar? Wah, sepertinya sudah tidak banyak berseliweran (kelihatan) apalagi Path yang kini sudah di-close karena dampak para remaja yang sudah tidak eksis di akunnya… (hal 2).

Agaknya, pendapat mengenai Instagram lebih unggul, memang sengaja dijadikan penulis sebagai landasan perumpamaan dalam sub bab Menggapai Rida Allah. Jadilah narasi Instagram sebagai media sosial paling populer berusaha betul direka-reka penulis. Penulis lantas memberikan perumpamaan follow, DM hingga followback dalam hubungan manusia dengan Tuhannya.

Jika dipikir-pikir, di-folback sama Bias saja senang, bagaimana di-folback sama Allah? (hal2).

Pendekatan penulis membahas hubungan dengan Tuhan melalui analogi penggunaan Instagram, memang cukup apik jika segmen pembaca menyasar milenial. Meski argumen mengenai popularitas media sosial satu dengan lainnya, jadi dibuat unggul dan rendah atas pendapat penulis sendiri demi mencapai analogi tadi.

Usaha penulis mendekat dengan bahasan milenial terjadi juga dalam kalimat berikut ‘terkadang aku berdoa di kala ingin sesuatu atau lagi ada masalah saja, pantas aku melakukan sesuatu tidak selalu tenang’ coba bandingkan dengan ‘kita sebagai manusia semestinya senantiasa istiqamah’. Dengan nilai setara, lebih membumi mana? Kalimat pertama atau kedua? Benar, kalimat pertama. Penulis telah mengonversi istilah istiqamah menjadi lebih mudah dimengerti.

Cara-cara mendekatkan diri kepada Tuhan, yang disajikan penulis dalam sub bab pertama ini juga cukup aplikatif. Beberapa di antaranya;

Direct message Allah dengan cara berdoa (hal 4).

Kebahagiaanmu pun perlu diDM ke Allah, salah satunya cara mudahnya ikut membahagiakan Allah dengan cara berzikir dan bertilawah menyuarakan kalam-Nya (hal 4).

Pergantian antar sub bab memang cukup singkat. Tiap sub bab paling banyak memuat tiga lembar dan di dalamnya ada beberapa kalimat sengaja dibuat menyerupai font seukuran kutipan di halaman depan.

Hampir setiap bab menyelipkan hadist. Meski hadis-hadist yang dikutip sepertinya akan familiar bagi teman-teman dengan pengetahuan agama level menengah atau pembaca yang sudah melahap buku Felix Siauw hingga Quraish Shihab, apalagi lulusan madrasah dan pondok. Hadist-hadist itu di antaranya ‘permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seseorang penjual minyak wangi akan memberimu minyak wangi…' yang dalam UHB jadi bagian dari pembahasan memilih pergaulan.

Jadi jika ditanya apa UHB membawa kebaruan? Relatif. Jika segmentasinya betul teman-teman yang masih mula-mula mendalami ilmu agama dan minimal jarang membaca konten dari akun hijrah, buku ini bisa jadi membawa kebaruan. Semestinya saya menyebut lugas akun hijrah mana yang saya maksud sebagai pembanding, namun karena butuh waktu untuk kembali menemukan konten-konten yang saya maksud, jadilah saya hanya mampu bercerita semacam ini.

Jika ditanya lagi, mana bab atau sub bab yang pembahasannya cukup apik, jawabannya ada di bab II sub bab Jika Kehilangan Kasih Sayang Orang Tua. Penulis di sini menunjukkan peran ibu dan ayah yang semestinya saling bekerja sama. Pembahasan lain yang berpotensi digarap lebih apik pada berikutnya adalah cerita penulis soal dirinya yang dulunya fangirl dan cerita temannya yang narapidana narkoba. Menceritakan diri sendiri dan teman bisa membuat sebuah tulisan menyentuh pembaca dengan lebih personal. Meski sayangnya, penulis di sini masih membuat persoalan fangirling menjadi hitam putih.

Saya buta k-pop, namun ketika membaca sub bab satu ini, saya jadi merasa dunia fangirling kotor sekali dan tidak ada sisi positifnya. Padahal saya yang non k-popers sekalipun, memahami kerja keras Lalisa Manoban misalnya, apik juga dijadikan inspirasi. Beribadah jalan terus, meniru kerja keras bias juga harus. Penceritaan soal teman narapidana penulis pun hanya sampai pada; dia pernah melakukan apa hingga masuk penjara, sesatnya kehidupan penjara, lalu sekeluarnya dari sana ia sholat lima waktu dan menjauhi zina. Tidak ada penjelasan transisi perubahan teman penulis yang lebih personal, entah karena keterbatasan halaman atau di waktu lain penulis bakal membahasnya lebih detail.  

Isi buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ada beberapa buku sejenis yang semestinya pula saya jadikan pembanding di sini. Sayangnya, saya hanya pernah membaca ulasan orang lain atau mencuri baca ketika berada di toko buku. Jadi jika pengamatan saya ada kurang tepatnya silakan ditegur ya, Rek. Buku-buku tersebut antara lain Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar! (Kalis Mardiasih, 2018), Wanita yang Merindukan Surga (Esty Dyah Imaniar, 2019), Udah, Putusin Aja! (Felix Siauw, 2013), Santri Nikah Jomblo Punah (Anifah Hambali, 2019).

Bagi yang terbiasa membaca tulisan-tulisan Kalis Mardiasih dan Esti Dyah Imaniar yang tersebar di berbagai media, pasti mengetahui formula keduanya yang sekali atau dua kali mengutip teori hingga hadist lantas menyatukannya dengan keadaan terkini. Keadaan terkini tersebut bisa berupa isu nasional maupun kejadian yang dialami penulis sendiri maupun orang sekitar mereka. Demikian membuat orang-orang yang familiar atau bahkan bahkan lebih ahli mengenai teori hingga hadist yang disebutkan, tetap mendapat kebaruan.

Bagaimana dengan Felix Siauw dan Anifah Hambali? Felix Siauw membawa satu pesan saja yaitu jangan pacaran. Satu buku mengupas satu tema dengan gaya bahasa sehari-hari, warna, bagan, dan gambar yang atraktif. Pembahasan jangan pacaran kala itu betul-betul bisa dibilang baru jika menilik cara pembahasan Felix Siauw. Sedang Anifah Hambali, dalam bukunya lebih banyak menulis kegiatan positif yang bisa dilakukan sebelum bertemu jodoh. Felix maupun Anifah berani berfokus pada satu bahasan, sesuatu yang belum saya temukan dalam UHB.

UHB sendiri masih lebih mirip catatan acak dari kegelisahan penulis yang kalimat-kalimatnya terkadang seolah menganggap pembaca serba tidak tahu. Kalimat semacam ‘remaja jaman sekarang’ dan ‘jika Anda sebagai orang tua merasa terlalu menekan anak’ membuat penulis seolah bukan bagian dari seseorang yang pernah remaja atau calon orang tua. Dengan kalimat demikian, penulis seolah pula telah menjadi sosok tanpa celah semenjak lahir.

Meski terkadang menggunakan kalimat yang membuat pembaca seolah serba tidak tahu, sesungguhnya penulis juga telah berusaha menggunakan bahasa prokem alias bahasa gaul dalam keseluruhan UHB. Sayangnya, penggunaan bahasa prokem ini masih terlihat canggung. Kalimat berikut misalnya,’barusan adalah secuil karakter yang bertempat di era digital’ coba bandingkan apabila dikonversi menjadi ‘sub bab sebelumnya menjelaskan gimana karakter yang blablabla di era digital sehingga…’. Apakah penulis terbiasa menulis Karya Tulis Ilmiah alias KTI sehingga penggunaan bahasa prokemnya menjadi canggung? Bisa jadi. Salah satunya ditunjukkan dalam paragraf berikut,’Menurut KBBI, karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst’ KTI sekali bukan? Tapi bisakah tetap menyertakan kutipan demikian namun memergunakan bahasa prokem? Bisa. Coba bandingkan dengan,’Karakter sendiri memiliki arti sifat-sifat kejiwaan… dst, nah yang ini menurut KBBI guys’.

 Sampul belakang. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tentu saja, kurang mapannya penulis ketika memergunakan bahasa prokem dalam UHB bukannya mutlak buruk. UHB sendiri cukup nyaman dibaca dan usaha mengonversi persoalan gaya bahasa ini masih punya banyak ruang untuk penulis menyempurnakannya pada buku atau tulisan-tulisannya berikutnya. Bahasa prokem ini pula yang seperti satu paket dengan usaha penulis memakai anologi Instagram dalam hubungan ketuhanan, sesuatu yang memang dekat dengan milenial. Dengan demikian, agama bisa terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari dan pembaca serasa sedang bicara dengan rekan sebaya, bukannya digurui. Ah, satu lagi. Buku ini hanya menyertakan terjemahan dalam bahasa Indonesia dalam mengutip hadist, jadi untuk siapapun yang bacaan Al-Qur’annya masih berproses, tidak perlu merasa insecure.

Ya… semoga saja UHB bukan finalnya kegelisahan penulis. Sehingga pada berikutnya, muncul adik-adik dari UHB dengan inovasi anyar dalam bahasan maupun gaya bahasa.


Judul buku                 : Untuk Hidupmu yang Baru

Penulis                       : Rully Nur Rahim

Tahun terbit                : 2019

Penerbit                      : Raditeens

ISBN                          : 978-623-7456+40-7

Tuesday, July 14, 2020

Di Antara Kedua Mata

Sumber: Gugel

Ada darah yang pelan-pelan merekah tepat di antara kedua mata saya. Rekahnya tentu karena perempuan muda di hadapan saya itu, membaca asma-asma gusti pengeran. Sebentar kemudian, perempuan itu mendekat beberapa senti dari wajah saya dan dia tanya,”Seandainya saya sengsara, kamu sedih atau bahagia?”
Belakang leher saya meremang, dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Ada tubuh lain yang melesak masuk, membikin saya ingin menjawab, senang saja tuh kalau kamu sengsara...
Sekali lagi, perempuan itu menyebut asma-asmanya gusti. Allah hyang maha agung... Allah hyang maha rohim... Allah hyang maha adil...
Ganti jantung saya yang meremang. Dingin berganti panas dan panas berganti dingin. Hingga debaran berdetak kian kencang dan yakin saya, perempuan itu pula mendengarnya. Ada sesuatu yang jauh lebih kecil dan letaknya juga dalam dada, berdenyut nyeri. Belakangan saya mengenalinya sebagai nurani. Di dalam sana, ada sesuatu yang menjerit dan berkata, saya tentu sedih ketika kamu sengsara...
Perempuan itu lama-lama menatap kedua mata saya, cukup dekat andai saya bisa menyambar bibirnya. Namun badan ini justru gemetaran dan ada kaca tebal tidak terlihat yang membuat mata begitu pedih ketika menatap wajahnya. Jadilah saya bicara sambil menunduk dan menoleh ke arah lain ketika perempuan itu terus memandangi muka saya. Dan lagi, si tubuh lain suaranya jauh lebih keras ketimbang sesuatu yang sangat kecil dan namanya nurani itu.
Maka lusa atau keesokan harinya, saya berencana mencegat perempuan itu dan menjagalnya hingga mati...

Monday, July 6, 2020

Loyalitas


Saya memiliki buku catatan kebaikan orang lain yang saat ini hilang dan sengaja tidak dicari. Lembarannya sangat tebal dan sudah terisi seperempat. Alasan tidak perlu mencarinya adalah, ada catatan kebaikan seorang teman yang saya juluki mbak Freu. Mbak Freu bersama beberapa teman yang lain, memang mengisi porsi cukup banyak dalam buku catatan itu dan pada 2017, sebenarnya ketika membaca buku itu kembali, saya jadi bertanya,”Kenapa kebaikan dia padaku begini, ya? Apa ada tendensinya?”
Anehnya, dalam satu buku itu, saya hanya memertanyakan mbak Freu. Kenapa saya tidak memertanyakan mas-mas teknik yang membantu parkir di Universitas Brawijaya? Kenapa saya tidak memertanyakan Fasta yang memberi pembatas buku bikinan sendiri? Kenapa saya tidak memertanyakan bapak-bapak tuna wicara yang membantu ketika motor mendadak mogok? Kenapa saya tidak memertanyakan Wiwin yang menraktir makan?
Kecurigaan ini saya tepis berkali-kali, bahkan ketika saya mengalami masalah di pertengahan 2017 dan mbak Freu mengabaikannya ketika tahu. Mbak Freu adalah mbak Freu, yang meminjami buku dengan memelajari kebutuhan saya terlebih dahulu, yang menraktir makan, membonceng, memberi anting dan lipstik yang tidak murah harganya. Pikir saya kala itu, isi pikiran sendiri yang negatif, padahal dia hanya seorang kakak yang mau memberi macam hal pada adiknya tanpa diminta. Kebaikan serupa juga diberikan teman-teman saya yang lain kok, namun kenapa hanya mbak Freu yang semakin lama membuat gelisah?
2016, mbak Freu berusaha mendekatkan saya dengan teman-teman di salah satu komunitas. Saya mengikutinya karena teman-teman yang ada di sana sebagian besar baik. Secara rutin, saya hadir dalam acara komunitas tersebut dan berkontribusi menulis. Mbak Freu kala itu masih menulis dan bertugas jadi kurator juga di sana. Meski pada akhirnya, dia bermasalah dengan salah seorang pentolan komunitas tersebut dan pelan-pelan menghilang. Tidak hanya itu, ia juga memengaruhi saya agar tidak lagi berkontribusi. Permasalahan mbak Freu dengan si pentolan ini saya lihat sebagai persoalan pribadi, yang mana kedua belah pihak sama-sama saling melukai. Jadi mengapa harus saya berpihak pada salah satunya? Dan 2017 mbak Freu mendirikan komunitas lain dan ganti berusaha menarik saya kesana.
Saya memutuskan mengikuti saja segala pola dalam pertemanan mbak Freu sejak 2015 memang. Membiarkannya mengunjungi rumah, mengenal keluarga dan kucing saya, sekaligus memberinya balik ketika memang ada rejeki. Dalam ingatan saya, mbak Freu hanya pernah saya beri pembatas buku bergambar kucing. Sesekali saya juga mengantar buku-buku penulis asal Malang yang saya miliki ketika pergi ke pusat kota dan melintasi rumahnya.
Yang saya berikan padanya, tidak ada apa-apanya memang. Ayolah, tanyakan pada teman-teman saya yang lain pernah diberi apa oleh saya. Jawabannya hanya benda-benda kecil lagi remeh. Bolpoin? Pembatas buku? Paling mahal nasi padang. Sesuatu yang tentu saja bukan diinginkan mbak Freu…
2018 awal, mbak Freu mulai berubah. Dia bukan lagi seorang kakak yang bisa main bareng saya dan saling bercerita. Dia beda dan mengabaikan saya. Sedih dan patah hati, berusaha saya mencari kesalahan. Coba bertanya pada mbak Freu? Perempuan ini punya kemampuan manipulasi agar seseorang di hadapannya merasa bermasalah sendiri. Lebih patah ketika mbak Freu berkali berpapasan dengan saya dan pura-pura tidak mengenal. Pernah juga saya coba mengajaknya mengobrol di sebuah acara yang mana kami duduk berdua saja di barisan paling belakang dan balasannya? Ucapannya pedas. Dan lagi, pada tahun itu juga seorang teman bilang, ia dibela ketika ada masalah. Tunggu, 2017 saya juga memiliki masalah dan kepada mbak Freu saya mohon dukungannya, namun bagaimana bisa beda perlakuan? Ia tidak mendukung, apalagi membantu. Meski ternyata, pembelaan mbak Freu pada si itu hanya untuk menarik si teman tadi mau bekerja lebih banyak untuknya dan saya jadi bersyukur tidak perlu ditanam budi dengan cara demikian.
Seorang teman lelaki menerima pinjaman ponsel dari mbak Freu. Katanya, ponsel itu dipinjamkan karena ponsel si teman ini rusak. Tapi bagaimana bisa mbak Freu yang tidak mau terlibat urusan orang lain sampai mau sebegitu loyal dengan si teman ini? Ternyata, teman lelaki ini bekerja banyak untuk komunitas mbak Freu. Meski menurut bisik-bisik teman-teman yang lain, manusia satu ini tidak perlu dikhawatirkan karena ia juga cerdik. Ia tahu mbak Freu loyal padanya dengan perhitungan benefit yang rinci, sebaliknya ia pun sama.
Ada juga satu teman perempuan yang dulunya kami dekat. Ia akhirnya bergabung dalam komunitas mbak Freu. Gara-gara melihatnya seperti jadi anak emas mbak Freu, saya menjauhi si teman ini karena merasa waspada. Apalagi ketika teman ini terus dilibatkan dalam acara komunitasnya mbak Freu dan juga berkontribusi menjadi penerjemah. Padahal ketika sudah saling terbuka dengan si teman ini, saya jadi sadar langkah mbak Freu membuang seseorang dan seolah merangkul yang lain, adalah racikannya biar kami semua tidak ada yang bersatu dan malah saling curiga. Sialnya, saya juga baru ingat bahwa dulu yang membanggakan kemampuan penerjemahan si teman ini, ya diri ini sendiri. Sebenarnya saya membanggakannya bukan hanya di depan mbak Freu, namun ya… mbak Freu yang gesit menangkap peluang.
Teman-teman potensial yang saya banggakan dan lantas diberdayakan bukan hanya si teman ini tentu saja. Padahal ya, saya screening begitu hanya karena turut senang melihat ada teman potensial, syukur-syukur waktu promosi ke teman lain, para potensial ini diajak kolaborasi entah sosial atau profesional. Beberapa kali terjadi begitu soalnya meski ya… beda lagu jika yang mendapat cerita para potensial ini adalah mbak Freu.
Teman penerjemah ini pada akhirnya menyadari dia hanya dimanfaatkan dan saya dengan tetap merutuk diri sendiri meminta maaf padanya, karena gara-gara saya membanggakan kemampuannya, dia jadi direkrut. Bagaimana akhirnya teman ini tahu hanya dimanfaatkan? Salah satunya ketika ia sudah bekerja di luar kota, mbak Freu tidak lagi getol menghubunginya. Lagipula, jika persoalannya hanya penerjemah, ternyata ada stok anak-anak lain di komunitas mbak Freu sepeninggal si teman ini.
2019, seorang teman perempuan yang lain lagi menghubungi saya. Dia bilang ada satu orang yang patah hati dan bahkan depresi atas petemanannya dengan mbak Freu. Teman yang depresi ini bisa kita sebut Wiwik. Teman perempuan yang menghubungi tadi, memang pernah mendapat perlambang dari perkataan saya soal keajaiban mbak Freu. Perlambang ini ditangkapnya setahun kemudian ketika Wiwik datang dengan sedih luar biasa. Si teman ini menyarankan, saya dan Wiwik harus bertemu. Karena dengan manipulasi canggih mbak Freu, Wiwik ternyata merasa bersalah sendiri hingga depresi.
Ketika saya dan Wiwik akhirnya bertemu, pertanyaan-petanyaan mengapa mbak Freu mendiamkan saya mulai tahun 2018 terjawab pelan-pelan. Jadi di tahun itu, Wiwik mulai masuk dalam komunitas bentukan mbak Freu dan mereka menjadi dekat. Beda imej yang dibangun mbak Freu di depan saya dan Wiwik. Di depan saya, mbak Freu berlaku seperti seorang alpha girl yang tidak butuh laki-laki dan berkarakter kuat. Ia rupanya membaca keinginan diam-diam saya memiliki kakak perempuan yang alpha girl. Sedang dengan Wiwik, mbak Freu mengobral cerita dirinya yang jadi korban laki-laki berkali-kali. Pada Wiwik juga, mbak Freu menunjukkan sisi aslinya yang rapuh, kerap dilukai dan tidak bisa hidup tanpa pacar lelaki.
Dengan imej alpha girlnya, mbak Freu menarik saya yang kagum dan dengan imej korban laki-lakinya, mbak Freu menarik Wiwik yang berempati. Jika dengan saya, mbak Freu seolah melindungi, dengan Wiwik ia beda lagi. Salah satunya soal pergi bareng. Mbak Freu tidak pernah mau saya jemput dan bonceng. Alasannya? Dia bisa bareng teman yang lain atau berangkat sendiri. Padahal, soal membonceng teman begini saya sudah biasa pada teman lelaki maupun perempuan. Sedang dengan Wiwik? Mbak Freu malah menyuruh-nyuruh.
Motor Wiwik dan bensinnya juga, semua dialokasikan. Tidak peduli lokasi Wiwik dengan mbak Freu sedang berjauhan, belum lagi jarak menuju lokasi acara. Tidak hanya bensin dan motor, tenaga Wiwik juga dipergunakan dengan maksimal dalam hal ini.
Jika Wiwik malah meminjamkan bukunya pada mbak Freu tanpa tahu kapan berang-barangnya itu dikembalikan, saya malah diberikan pinjaman buku olehnya dengan jangka waktu pengembalian tidak terbatas dan lagi, tanpa minta. Mbak Freu dengan gayanya sebagai orang yang dibutuhkan, sempat terasa keren di mata saya. Dan mbak Freu dengan gayanya yang membutuhkan, sempat terasa menarik empati di mata Wiwik.
Mbak Freu pun menerapkan ilmu psikologi dari buku yang dibacanya dalam hubungan personal dengan Wiwik. Serupa kepada saya, perempuan itu gemar pergi ke rumah Wiwik dan berkenalan dengan keluarganya. Dengan demikian, ikrar menjadi saudara seolah ditancapkan oleh mbak Freu kepada kami berdua.
Hingga pada akhirnya, kami ditinggalkan perempuan super pintar dan pembaca berat buku ini dengan alasan yang ternyata sama. Meski tidak pernah dikatakannya, kami ternyata ditinggalkan karena tidak bisa berkontribusi apapun terhadap komunitas bentukannya. Kontribusi yang dimaksud adalah kami turut menulis untuk komunitas. Bagaimana saya bisa berkontribusi? Jika tema menulis di sana memang bukan kapasitas. Memang semasa hubungan kami masih baik, mbak Freu pernah bilang,”Kalau kamu bedah buku Anu di komunitas gimana, Py? Mau?” dan saya entah bagaimana tidak menolak tapi juga tidak mengiyakan. Insting saya menuntun untuk memberi jawaban yang mengalir-mengalir saja.
    Dan siapapun yang mengetahui masalah Wiwik dengan mbak Freu pasti bisa menilai, ada yang ganjil soal perhitungan mbak Freu. Wiwik mudah menjalin hubungan personal dengan orang lain, ia pula yang kerap tampil di luar sana dengan bendera komunitas yang sama dengan mbak Freu. Seorang teman bahkan menyatakan, mestinya mbak Freu mendapat untung dari komunikasi personal Wiwik hingga mudah mendapat jejaring dan tampilnya ia di luaran sana membawa bendera komunitas. Ya... tapi perhitungan mbak Freu memang unik sih, karena menurut saya pun sosok Wiwik strategis soal ketokohan. Semacam... ini orang potensial dapat panggung dan jejaring banyak. Jadi tidak heran, Wiwik yang biasa mengantar mbak Freu ke banyak tempat, beberapa kali justru ditinggalkan ketika ada sebuah acara yang isinya para tokoh. Sudah begitu salah satu tokohnya punya hubungan personal baik pula dengan Wiwik.
    Wiwik juga heran soal bagaimana mbak Freu memberi saya makanan dan barang-barang juga meminjami buku. Keheranan Wiwik serupa saya ketika melihat anak lain bisa dibela mbak Freu sampai dipinjami ponsel ketika kesulitan. Pola hubungan mbak Freu serupa pada setiap orang sebenarnya, hanya saja ia melakukan investasi berbeda. Jika apa yang didapat ternyata tidak sesuai investasi yang telah dikeluarkan, mesti siap ditendang.
    Pada saya, mbak Freu menginvestasikan makanan dan barang, sedang pada Wiwik ia menginvestasikan cerita nelangsa. Kami juga sama-sama dibuat percaya bakal jadi saudara seterusnya alias investasi perasaan.
Agaknya, saya cukupkan dulu tulisan ini karena cukup menguras memori buruk ketika menuliskannya. Karena ternyata, pola mbak Freu yang demikian ini, dilakukan tidak hanya pada saya dan Wiwik. Tidak hanya pada perempuan, namun juga laki-laki. Kemudian bagaimana sikap mbak Freu kepada saya dan Wiwik saat ini? Seolah tidak terjadi apa-apa dan tiap saya ingin membahas ini langsung di hadapannya, dia membuat seolah saya yang gila dan semua ganjalan itu hanya halusinasi. Padahal pertemanan yang tanpa mau membahas ganjalan terdahulu, hanya akan jadi tumpukan racun pada berikutnya.
Lantas untuk mbak Freu, jika kelak kamu membaca tulisan ini dan menuduh semua orang yang ada di dalam sini playing victim, segeralah pergi ke pofesional. Masih mengingkari dan ogah pergi ke profesional? Coba periksa lagi folder-folder di otakmu yang isinya buku-buku berat dan tanyakan dinamakan apa dirimu itu. Tanyakan pada buku-buku yang pernah kamu baca, dari IQ tinggi, fisik standar industri, keluarga menengah-atas dan multitalentanya dirimu itu, ada luka apa yang menyertai dan tidak teratasi hingga kini.
Dan ya, pak Habibie benar ketika mengatakan kecerdasan tanpa cinta adalah hal berbahaya… 

Catatan:
"Tulis tanpo papan gumantung tanpo cantelan." ketika membaca kalimat ini, apa kamu ingat sesuatu dari banyak hal yang pernah kamu pelajari selama ini, Mbak Freu?

Friday, July 3, 2020

Friday, June 26, 2020

Dear, Maling

Sumber: Dokumentasi pribadi yang berlokasi di Lawang, Kabupaten Malang

Jakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota yang semestinya saya tinggali jika saja tidak membukakan pintu buatmu dan membiarkanmu menjagal semaunya.

Namun di waktu-waktu yang semestinya dan semestinya tadi, saya justru menyelam dalam laut, menggali dalam tanah dan naik ke langit tanpa raga. Sesuatu yang mesti kamu pelajari sepanjang hidupmu dengan berpuasa sementara, dengan menyebut nama Tuhan yang berpura-pura.

Ada perjalanan yang lebih besar ketimbang kota-kota yang kamu curi awalannya...

Catatan: ini keluaranku setelah baca teenlit

Friday, June 19, 2020

Juni

Bulan Juni, tanggalnya lima. Saya berhenti mengirimimu parsel kebenaran.

Saturday, June 13, 2020

Buku Adalah Jendela Dunia, Tapi Ya... Jendelanya Saja

Sumber: Gugel

"Kamu bicara tentang literasi yang bisa mengubah dunia
Tapi besok, kamu mengeksploitasi temanmu
Kamu sadar perihal era post human
Tapi kamu melucuti manusia dengan cara yang tepat, membuatnya cacat mental dan meragukan kepantasannya tinggal di dunia."

Tulis teman saya, Firdausya Lana di story Instagramnya. Tulisan tersebut bagi saya, membahas orang-orang yang melek literasi pada pengertian, 'saya baca dan hafal buku' dan bukannya 'saya melek isu tertentu dan bisa menyelesaikannya'.

Maka tidak heran, seseorang yang menurut kesaksian teman-teman yang lain pembaca berat buku soal feminisme, justru melakukan body shaming pada orang lain. Padahal, isi tulisan miliknya di sosial media justru soal imej tubuh positif. Ia mengetahui teori imej tubuh dari buku-buku feminisme yang dibacanya, sekaligus memahami, demikian adalah senjata besar. Sehingga siapapun, yang dianggapnya mengganggu, diserangnya menggunakan hal satu itu.

Hal seperti ini, tidak terjadi pada mereka yang melalap buku-buku feminisme saja. Namun juga pada mereka yang melalap buku-buku pada bidang lain. Demikian seperti menjawab, bagaimana seseorang yang menghafal teori-teori seputar inklusif bergama dan keadilan misalnya, bisa menjadi pelaku pelecehan dan bahkan perkosaan.

Maka ketika mengikuti KPG 2017 di Batu, saya setuju sekali soal membaca buku dan kenyataan. Pada teman-teman yang sebaya maupun lebih muda, saya selalu sarankan, jangan lupa baca kenyataan dan jika memang membaca buku hari ini bagi mereka keren sekali, silakan dijalani sepuasnya hingga kelak patah hati.

Si feminis yang saya sebut dalam paragraf terdahulu tadi, bisa dianggap melek literasi jika pengertiannya terbatas dalam buku. Tapi ia, tidak melek literasi jika pengertiannya soal pemahaman masalah nyata dan bagaimana menyelesaikannya.

Belum lagi, teman-teman yang punya pengalaman berpasangan dengan pembaca buku berat. Pasangan teman-teman ini memakai buku bacaan mereka sebagai alat menguasai pasangannya dan pembenaran tindakan salah maupun benar.

Ini sebab, ketika mengajak bicara anak-anak, saya lebih suka menanyakan siapa teman baik mereka, bagaimana sikap guru, juga bagaimana teman yang menurut standar mereka nakal dan caranya mengatasi. Sesekali saja saya betul-betul menghadiahi buku atau mengajak membaca buku. Saya tidak ingin anak-anak kelak, jago menghafal isi buku namun justru menjadikannya senjata buat menguasai dan melukai.

Jika ada kalimat legendaris 'buku adalah jendela dunia', itu memang benar. Buku memang jendela dunia, namun ya... jendelanya saja. Dari jendela itu, kita bisa melihat bentuk kucing dan macan dengan mutlak mengatakan ciri bulu kucing itu lembut dan macan itu kasar. Tapi beda soal ketika kita mulai keluar dari jendela itu dan menjejak di luarnya. Kita bisa menyentuh kucing dan macan sehingga tahu, kucing bisa juga berbulu kasar jika jarang mandi, sedang di bulu macan terdapat minyak sehingga kasar dan bisa dipakai berenang.

Terakhir, hati-hati diterkam macan.

Wednesday, June 3, 2020

Buku-buku

Sumber: Gugel

Usianya tujuh tahun dan itu kali pertama ia membaca tanpa mengeja. Sialnya, rasa kantuk membuatnya tertidur di atas buku bahasa daerah yang esok bakal dibahas di hari pertamanya sekolah. Esoknya, ketika masuk dalam kelas, semua ocehan bu guru seperti bisa ia tebak. Ya, ocehan itu ternyata persis isi buku yang gagal dibacanya semalam. Dia terhenyak. Bagaimana bisa?
Esoknya, ia coba berhadapan dengan buku yang berbeda. Ditempelkannya pipi kiri di atas buku matematika itu, namun tidak ada perubahan berarti ia rasakan dalam tubuh atau perubahan pengetahuannya. Lantas ia coba menyentuh buku itu dengan tangan, layaknya kemarin bersama buku bahasa daerah yang gagal dibacanya. Tiga detik... Lima detik... Lima belas detik... Ada sengatan listrik yang mendedas halus dalam darah dan nadinya. Lantas coba ia kerjakan soal-soal yang ada di halaman belakang tanpa menyontek materi yang ada di depan. Ia bisa...
Hingga tahun-tahun berikutnya, ia isi dengan hanya menyentuh buku-buku. Orang-orang mengatainya jenius buku. Namun lama-lama, limpahan informasi dari sekali ia menyentuh buku, seperti menjejal keterlaluan dalam kepalanya. Otaknya sering berbisik-bisik sendiri dan matanya susah sekali terpejam. Bahkan dalam pejam matanya pun, otaknya itu tetap berbisik-bisik. Lantas di usianya yang belum genap 12, ia berhenti menyentuh buku-buku. Sarung tangan menjadi perantaranya menyentuh mereka semua. Dengan demikian, informasi-informasi itu bisa ditolaknya masuk dan ia bisa membaca mana saja yang betul ia ingin.
Ada debaran yang belum pernah ia rasakan kemudian. Debaran dari rasa penasaran, soal isi halaman berikutnya dari buku-buku yang tengah dibacanya itu...

Monday, May 18, 2020

Merayakan Renyahnya Jadi Mahasiswa dalam Idealisme Telur Setengah Matang, Karya Dani Alifian

Kaver depan dan belakang. Sumber: e-book ITSM

Idealisme Telur Setengah Matang (selanjutnya disebut ITSM). terdiri dari dua puluh tujuh esai. Delapan di antaranya pernah dimuat di berbagai media sedang sisanya, barangkali tidak akan pembaca temukan selain ketika membaca buku ini.

Dani memiliki format tetap dalam dua puluh tujuh esainya. Ada pembuka, isi dan penutup. Tidak lupa, kutipan buku dan wawancara dari tokoh pula disertakan, bahkan bisa terdapat lebih dari dua kutipan dalam satu tulisan. Tapi tenang saja, tulisan-tulisan dalam ITSM ternyata jauh dari guyonan garing yang biasanya diupayakan Dani ketika menjadi kontributor Terminal Mojok. Namun ternyata, tulisan yang jauh dari upaya me-Mojok-kan diri ini justru membuat gagasan Dani lebih mengena dan runtut. Dari segi teknik menulis, sebagai awalan Dani telah mapan.

Meski sayangnya, untuk mencapai esai pertama, pembaca mesti melihat pembukaan buku yang cukup panjang. Di dalam pembukaan ITSM, ada ucapan terimakasih, pengantar para tokoh, testimoni, hingga kesan dari rekan dan ya, semuanya bertumpuk di bagian awal. Dalam buku-buku selanjutnya, agaknya penulis mesti membagi tumpukan kata pengantar dan lain sebagainya tadi di awal dan akhir buku. Penumpukan ini pun sesungguhnya wajar. karena barangkali penulis ingin memerkenalkan dirinya kepada pembaca yang berujung proporsi buku menjadi kurang seimbang.

Kemudian bagaimana dengan isi? Mari kita mulai dengan esai pertama berjudul Kesadaran Sosial Vis A Vis Media Sosial. Esai ini diawali dengan kutipan yang merupakan salah satu inti dari apa yang hendak disampaikan Dani. Begini isinya,’Manakah yang lebih esensial, antara hijrah lewat media sosial dan kesadaran sosial? Banyak yang beranggapan menjadi manusia seutuhnya dengan hijrah, tanpa sadar peran dan manfaatnya bagi manusia lainnya (sadar sosial). Sudah benarkah, atau justru kesadaran sosial lebih utama ketimbang hijrah yang setengah-setengah.’ Dilanjutkan dengan kutipan wawancara tokoh, isi, kutipan Al-Qur’an, isi, kutipan tokoh dan terakhir penutup. Demikianlah lebih jelasnya, gambaran format tetap Dani dalam hampir seluruh ITSM.


Isi buku. Sumber: e-book ITSM

Soal gagasannya apa ITSM membawa kebaruan? Hal ini relatif ternyata. Semua tergantung siapa yang membaca tulisan ini termasuk latar belakang pendidikan, buku bacaan dan pergaulan. Para dosen yang mengapresiasi ISTM melalui pengantar dan testimoni misalnya, belum tentu menganggap kumpulan esai ini membawa kebaruan. Hal ini menjadi terang karena Dani masih menulis menggunakan tumpukan teori dan analisa-analisa tekstual yang telah jamak dibahas. Dan dosen-dosen ini bisa jadi telah mengakses bahasan serupa sebelumnya, bahkan lebih dalam.

Pola memberi kutipan setelah judul pun diulang dalam dua puluh enam esai ITSM selanjutnya. Dani kadang meletakkan salah satu inti tulisannya sebagai kutipan, kadang juga ujaran para ahli yang ia letakkan di sana. Dani agaknya berusaha betul merekam hasil belajarnya dari membaca sehingga tidak segan, dalam satu tulisan terdapat lebih dari dua kutipan tokoh.

Terlepas dari banyaknya kutipan tokoh dan analisa penulis yang tekstual dan telah banyak dibahas, apakah ITSM lantas menjadi buruk? Jawabannya tidak. Ini justru adalah awalan Dani berani menulis. Ia mau membaca, menganalisa dan menuliskan semua dalam gaya bahasanya sendiri. Kelak, Dani dalam prosesnya pasti akan menemukan jati diri hendak membahas apa dan dengan gaya bagaimana. Kelak pula, ia mesti akan menemukan cara bagaimana menulis analisa tekstual yang bukan pengulangan. Barangkali, ia bahkan bisa memadukan analisa tekstual dan kontekstual, memadukan hasil bacaan dengan kenyataan.

Terlepas pula dari beberapa salah ketik dan kalimat kurang efektif, ada pula esai-esai ITSM yang sebenarnya berpotensi membawa kebaruan. Empat di antara tulisan-tulisan tersebut antara lain; Antara Humas Kampus dan Pers Mahasiswa, Sastra: Meretas Hati Nurani, Realita Anak Semester Empat dan Merawat Toleransi. Mari kita bedah satu per satu…

Antara Humas Kampus dan Pers Mahasiswa, esai ini menjadi menarik karena sekalipun tanpa menyertakan kutipan tokoh, Dani ternyata menceritakan perjuangannya membentuk UKM menulis di kampus. Pengalaman demikian barangkali dialami pula oleh orang lain, tapi bagaimana juga apa yang betul-betul dihadapi dan dirasakan seseorang dengan pengalaman serupa? Hal ini yang membuat tulisan-tulisan satu ini menjadi lebih mahal.

Sastra: Meretas Nurani, kali ini Dani membawa kutipan tokoh dan meski demikian, upayanya merenungkan kutipan tadi terhadap dirinya sendiri justru menjadikan tulisan ini punya daya tarik. Dani telah berupaya menyatukan kutipan tokoh dengan kenyataan yang dekat dengan dirinya.


Isi buku. Sumber: e-book ITSM

Realita Anak Semester Empat, lagi-lagi di sini Dani tidak menyertakan kutipan tokoh. Ia pun menyertakan humor dalam porsi yang tidak berlebihan atau paksa me-Mojok-kan diri, ya mesti cara bercandanya tetap berbau Mojok juga sih. Namun guyonan undangan pernikahan mantan di tengah bahasan beban tugas tugas kuliah dan kenyataan lainnya, sekali lagi diletakkan tidak berlebihan. Letak guyonan yang pas ini justru bisa memantik tawa pembaca di tengah perenungan. Pengalaman nyata yang dekat dengan sekitar dipotret dengan luwes pula dalam tulisan ini. Keluwesan ini barangkali karena penulis sendiri masih menjalani semester empat.

Merawat Toleransi, tulisan ini dibuka dengan pengalaman nyata Dani mengikuti kegiatan lintas iman di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Sayangnya, Dani tidak menyertakan kepanjangan YIPC dan pada paragraf selanjutnya, analisa tekstual yang sudah berulang dibahas dalam banyak tulisan sejenis malah ditonjolkan. Pengalaman nyata yang justru berpotensi menjadi kebaruan justru hanya menjadi pemanis di awal tulisan. Masalah ini tidak hanya terjadi dalam tulisan ini, tiga tulisan yang saya sebut di atas pun memiliki pola serupa.

Dani sebetulnya telah memotret isu-isu yang dekat dengan dirinya. Sebagai mahasiswa yang ternyata juga santri, ia telah mengalami fase-fase seputar merasa wajib membahas HAM, mengritik otoritas kampus hingga membahas sarung Ma’ruf Amin. Tulisan-tulisan dalam buku ini memang layak dikumpulkan menjadi buku untuk menandai fase yang dapat disebut sebagai renyahnya jadi mahasiswa. Agaknya, pasar tulisan dalam ITSM adalah mereka yang menjalani fase serupa Dani. Namun tidak menutup kemungkinan, Dani bisa memerluas pasar tulisannya seiring dirinya menjalani fase-fase baru kelak. Akses pengetahuan dan pergaulan yang berkembang, tentu akan memengaruhi bahasan-bahasan selanjutnya dari seorang Dani Alifian. Ya, kita nanti saja…

Judul : Idealisme Telur Setengah Matang
Penulis : Dani Alifian
Editor : Izza Rahmatika
Desain Cover : Derry Prastyawan
Cetakan pertama : Mei, 2020
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Tebal : xxviii + 186
ISBN : 9786239299255
Penerbit              : Kali Pustaka

Tuesday, May 12, 2020

Mati Jalur Indie

Sumber: Gugel

Dari sekian cara mati, melalui tanganmu tidak masuk dalam hitungannya. Serupa dalam penerbitan mayor, mati di tanganmu juga melalui seleksi dan mesti juga melalui standar-standar yang kamu buat. Maka mati melalui jalur independen, indie, menjadi pilihan mutlak buatnya meski di tanganmu ia lolos seleksi.

Setidaknya, memilih racun serangga atau menyayat nadi, menjadi penuh atas kesadarannya dan bukannya upakara darimu sama sekali. Demikian, ia merasa terhormat lagi merdeka.