Sunday, March 16, 2014

Aspal Merah


Motor biru melaju. Muka si pengemudi merah, berpeluh, kosong matanya. Laju motornya lambat makin melambat. Dua detik kemudian, motor biru itu melintas samping gadis dengan rok panjang hitam dan motor merahnya.
Gadis itu menoleh. Matanya tertuju antara roda depan dan belakang motor biru yang ada di sampingnya. Standar motor itu setengah berdiri, hampir menyentuh aspal. Lama. Motor merah dan biru itu berjalan beriringan. Mata si gads makin lebar mengamati standar motor biru yang makin dekat dengan aspal.
Pikiran si gadis jadi macam- macam. Ia bayangkan standar motor itu benar menyentuh aspal. Pastilah motor sekalian pengemudinya berguling hebat di aspal. Pikiran- pikiran buruk gadis itu terus berguling dalam otaknya. Tapi, tangan kanannya malah memutar gas kearah belakang. Motornya bergerak maju, meninggalkan motor biru dan pengemudinya yang makin jauh tertinggal di belakang punggungnya. 
Motor merah sekalian si gadis hampir menghilang dari garis jalan yang di kiri kanannya berjajar rumah toko. Jauh dari garis jalan itu bukannya membikin pikiran buruk si gadis beranjak pergi. Makin riuh pikirannya dengan bayangan manakala standar motor biru pemuda tadi menggaruk aspal. Pastilah pengemudinya jatuh, terseret, berputar dan terlempar.
Suara klakson motor lain tepat di belakang si gadis memecah lamunannya. Kemudi di tangan kiri dan kanannya mulai meliuk tajam tanpa tentu arah berbarengan dengan
senggolan keras benda berat dari belakang motor sebanyak dua kali. Tubuh dan motor si gadis makin miring ke kanan. Menyentuh aspal. Berputar dua kali. Terlempar kedepan. Kaca helm si gadis terbuka. Matanya terpejam. Dua tanganya masih menempel pada kemudi.
Gelap. Tusukan jarum infus membuat nyeri lengan gadis pengemudi motor merah yang menggaruk aspal siang tadi. Ia membuka mata kirinya pelan- pelan.
“Kamu di Rumah Sakit Umum Mbak... ,” perawat muda menyambut mata si gadis yang baru terbuka. Belum usai perawat bicara, suara kaki yang menerobos selambu hijau penyekat ruangan sudah memecah heningnya suasana.
“Selamat sore. Saya dari Koran X Post. Benar anda saudari Erma? ,” Pria usia 37 tahunan dengan tanda pengenal pers di dadanya terus mengeluarkan kata- kata tanpa perduli napasnya yang tersengal akibat langkahnya yang buru- buru tadi.
Mengangguk sopan. Tak ingin mengganggu, perawat muda keluar dari ruangan bersekat kelambu hijau.
“ Ya. Saya Erma ,” gadis itu mengangguk lemah sambil menahan nyeri pangkal lengannya.
“Boleh saya mengobrol sebentar? ,”
“Oh tentu ,” Erma berusaha menegakkan kepalanya.
“Usia anda? ,”
“19 ,”
“Kuliah? ,”
Ya. Semester 4 pak ,”
“Di? ,”
“Universitas Y ,”
“Bagaimana kejadian yang Mbak alami hingga akhirnya berada disini? ,”
“Ada suara klakson yang sangat memekakan telinga dari belakang motor saya. Agaknya pengemudi yang membunyikan klakson itu hendak beri peringatan pada saya agar segera menghindar oleh karena sesuatu, tapi terlambat. Benda keras menghantam belakang motor saya. Saya miring kekanan dan berputar dua kali kemudian terlempar ,”
Pria itu mengucap terimakasih. Tangan kanannya menyalami Erma. Ia pergi bersama tanda pengenal persnya. Erma memejamkan mata lagi.
Sisi kiri ruangan bersekat itu mendadak riuh. Erma membuka sedikit mata kirinya.
“Motor biru pemuda itu hancur setelah menabrak motor lain yang ada di depannya.
Si pemuda tewas di tempat ,” wanita dengan suara berat menguasai awalan percakapan. Gemerincing mangkuk perak wadah air bersahutan.
“Ya. Motor yang di tabrak pemuda itu langsung rubuh dan menabrak motor lain yang ada di depannya. Begitulah seterusnya. Untunglah korban tewas hanya pemuda itu seorang ,” suara wanita lain menyusul.
“Standar motor biru milik pemuda yang tewas itu belum di lipat waktu kecelakaan beruntun ini terjadi kata polisi ,”
“Mahasiswi yang ada di kamar sebelah itu adalah korban terakhir dari kecelakaan beruntun itu bukan?. Beruntung motor gadis itu tidak menggaruk pengguna jalan lain yang ada di depannya ,” jari si penutur menunjuk kamar bersekat tempat Erma terbaring.
“Ya. Beruntung.. ,”
Erma diam. Dua matanya sekarang melotot. Pemuda yang lupa melipat standar motor birunya itu, sempat melintas samping motor Erma. Tapi dia diam.
“Pembunuh.. ,” bisiknya pelan diikuti teriakan yang tidak jelas apa maknanya hingga mengundang orang di sekitar ruang bersekat itu berdatangan.


TAMAT 

Thursday, February 20, 2014

Manuk Sakti


Karina pulang larut hari ini. Di antar pria yang kiranya seusia dia, sembilan belas tahun. Ia tiba depan rumah dengan jaket sangat tebal. Di lambaikan tangan kanan Karina manakala pria itu beranjak menjauh bersama motornya dari tempat Karina berdiri.
Sesegera mungkin Karina merogohi saku jaket tebalnya untuk mencari kunci dengan helm hitam yang tetap menggagah di kepalanya. Bertemu kunci yang ia cari, Karina memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu ruang tamu, ia masuk ke dalam rumah.
Tak tahu Karina, dua pasang mata intai dia dari rumah di ujung gang. Dua pasang mata itulah yang saling berbisik, membekap mulutku, menarik tubuhku kemudian memasukkan aku di antara ketiak mereka biar berhenti aku meronta.
Pagi hari, di keluarkannya aku dari ketiak mereka. Tubuhku sudah lemas. Aku di dudukkan di pinggiran kasur. Mereka menjambaki rambutku, mengaitkan pita- pita kawat di seluruh kepalaku. Di bedaki mukaku dengan bedak sangat putih hingga tak tampak muka asliku. Tak lupa, mereka oles perona bibir merah darah bersamaan pula dengan perona pipi warna oranye menyala. Mereka tersenyum- senyum tak tahan rasanya mereka mengarak aku keliling kampung depan orang- orang.
Berdua mereka meninggalkan aku di pinggiran kasur. Tak lama, mereka kembali lagi. Di copotinya seluruh pakaianku. Telanjang aku dengan riasan tebal di muka. Aku diam di
pinggiran kasur. Ingin menangis. Tapi sayang aku seperti tak punya anugrah bisa keluarkan air mata.
Mataku yang terasa tebal akibat bedak yang menindih seluruh mukaku membuatku baru sadar bahwa dua orang itu adalah dua wanita bertubuh tambun dengan baju terusan panjang sekenanya. Satu seperti ibu muda, satu lagi nenek tua.
Ibu muda keluar dengan menggelung rambut panjang berminyaknya ke belakang. Kasar ia gesekkan anak kunci pada lubang kunci ruang depan. Ia keluar sambil menenteng dompet yang besarnya tiga kepalan tangannya.
Tangan keriput nenek tua mendorong tubuh kurusku menyusul langkah si ibu muda. Aku besusaha meraih tangan ibu tua kemudian menggigitnya, tapi jitakan berkali- kali di kepalaku bikin aku menyerah juga.
Riuh suara terkikik sejumlah ibu yang mengerumuni gerobak sayur depan rumah para penyiksaku. Badan kecilku yang sawo matang, di bawa ibu tua ke atas gerobak sayur. Tak indah muka dan badanku di pandang barangkali waktu itu. Kulit tubuhku yang warna sawo matang mesti di adu dengan riasan warna putih di mukaku.
“Karina pulang larut sekali semalam. Dia di antar pria ,” ibu muda mengawali percakapan.
“Ah masa?. Aku kira dia gadis pendiam yang tidak neko- neko ,” ibu berambut sebahu menyahut sambil jari- jarinya memasukkan kepingan kerupuk ke dalam kantong kresek.
“Ah, bu RT ini. Saya dan anak saya lihat sendiri malam itu lewat jendela kamar ,” ibu tua mencubit pahaku manakala aku hendak buka mulut. Aku diam menahan sesak di dada.
“Diam- diam bikin hanyut itu si Karina ,” ibu berkerudung merah jambu seperti mengamini arah pembicaraan ibu tua dan putrinya.
“Sopan sih. Tapi ya, luarnya saja tuh sepertinya. Hahaha ,” Ibu berambut keriting panjang menambahkan pewarna kelopak mata warna hijau tua di mukaku.
“Ah, saya sih belum percaya. Bisa saja Karina pulang malam karena suatu alasan, bukan karena dia macam- macam ,” wanita yang di panggil- panggil bu RT menghapus perona mata itu di mukaku. Aku tersenyum padanya. Dia penyelamat atas rasa maluku.
“Yah. Ada benarnya juga. Karina begitu sopan, dia jarang keluar rumah kecuali keperluan mendesak ,” ibu kerudung merah jambu melepas satu kawat di rambutku.
“Mereka kelihatan mesra sekali malam itu. Apa itu bukan tanda? ,” ibu tua mengoles perona kelopak mata warna oranye kali ini. Aku menjerit. Di jitaknya kepalaku dua kali.
Sibuk ibu muda, ibu tua dan ibu- ibu lainnya memilah ikan dan sayur yang bakal di bayar. Aku kedinginan dan telanjang, di lupakan begitu saja di atas gerobak.
Lama. Para ibu itu melenggang pergi satu- satu termasuk dua penyiksaku itu. Kakiku hendak turun dari gerobak. Belum sampai, tangan bu RT menyambar lenganku. Lembut, dia gandeng aku sambil tangannya yang lain menenteng belanjaan.
Sampai di rumah. Aku di dudukkan bu RT di kursi ruang tamu. Ia meninggalkan aku agak lama di ruang tamu. Bau masakan tercium dari tempatku duduk. Bau masakan itu tetap mengepul ketika bu RT membawa kapas dan air di tangannya menuju ruang tamu.
“Tega sekali mereka ngomong macam- macam soal Karina. Benar atau tidak asal Karina tak sampai racuni otak anak- anak mereka, apa urusan mereka? ,” ucapnya sambil mengusapkan kapas basah di pipiku yang penuh riasan.
Separuh mukaku terbebas dari riasan tapi bu RT buru- buru pergi ke pintu depan untuk menyahuti tamu yang datang. Siapa yang datang? Nyoya Laras yang datang.
“Kurang berapa kali cicilan baju muslim saya bu? ,” Nyonya Laras duduk di kursi ruang tamu tanpa di persilahkan.
“Kurang dua kali bu ,” bu RT buru- buru menyusul Nyoya Laras yang duduk.
Nyonya laras mengeluarkan lembaran- lembaran uang kemudian segera pamit dan keluar rumah. Ia membawa aku. Lenganku di cengkeram kasar.
Baru tiga langkah meninggalkan pintu, Nyonya Laras mengoles bedak putih tebal lagi di separuh wajahku yang tadinya sudah di bersihkan oleh bu RT. Nyonya Laras juga balik badan menghampiri bu RT yang baru saja hendak menutup pintu.
“Bu, benar ya?. Si Karina anak bu Joko itu sekarang mulai neko- neko? ,”.
“Ah. Saya tidak berani komentar Bu Laras ,” bu RT tersenyum lembut di sambut raut sebal dari Nyonya Laras. Nyonya Laras menarik aku. Ini awal siksaan berat yang baru.
Nyonya Laras membawa aku ke sebuah warung. Di dudukkannya aku di etalase toko.
“Beli apa Nyah? ,” sapa pria paruh baya dari balik etalase.
“Telur seperempat kilo Mas Kri ,”
“Eh, Nyah. Sudah dengar soal Karina?. Anak bu Joko yang kuliah di kampus X itu loh.. ,” laki- laki yang namanya mas Kri itu mulai mengambil satu telur dari bawah meja.
“Dia mesra sekali dengan pria yang mengantar pulang larut malam itu ,”
“Hah? Mesra bagaimana toh Nyah? ”
Nyonya Laras menebalkan perona oranye di pipi kananku.
“Tahulah anak muda sekarang, gandeng tangan sudah jadi hal biasa ,”
“Wah, hati- hati kebablasan tuh. Malah waktu berboncengan, si Karina juga mrangkul perut pemuda itu erat- erat ,” yang di balik etalase mengambil pemberat untuk menimbang telur. Setelahnya, dia oleskan perona oranye di pipi kiriku.
Aku ingin teriak sekerasnya, tapi serak suaraku. Tidaaaaak! Tidaaaaak! Bukan begitu! Bukan begitu Karina! Yang kalian ceritakan itu bukan Karina. Mereka terkekeh- kekeh seperti telinga mereka sudah di sumpali kain- kain beludru biar  tak dengar apa ucapku.
Di bawanya kantong kresek isi telur itu oleh Nyonya Laras. Aku di campakkan bersama pria paruh baya di balik etalase.
Badanku di junjung tinggi- tinggi. Mas Kri pria itu di panggil. Ia begitu senang melihat tubuhku di genggamnya.
“Telur seperempat kilo Mas Kri ,” suara nenek berambut tipis membuyarkan rasa senang Mas Kri.
“Iya Mbah.. ,” Mas Kri dengan senyum terlebar mulai memindahakan telur ke timbangan.
“Mbah sudah dengar kalau Karina sekarang neko- neko? ,” Mas Kri tangannya tetap sibuk memindahkan telur ke timbangan.
“Tahu dari mana Mas? ,”
“Dari orang- orang. Siang malam, tidak kenal waktu, Karina berbocengan dengan seorang pemuda. Di rangkul mesra perut pemuda itu tiap mereka berboncengan ,” mas Kri menebalkan perona bibirku dengan warna merah.
Nenek yang ada di depan mas Kri cuma tersenyum tipis.
“Berapa mas Kri? ,”
“Biasanya lah.. ,” Mas Kri ketus.
Nenek itu mengeluarkan lembaran uang di dompetnya. Di hapusnya sedikit perona di pipi kiriku. Ia pergi dengan menenteng kantong kresek isi telur.
Aku bersorak. Tak ada cerita lagi soal Karina. Cerita itu berhenti pada Mas Kri yang mendengus sebal memandang Nenek pembeli telurnya barusan mulai berjalan meninggalkan halaman warung. Aku terbahak keras. Mas Kri menjitaki kepalaku.
Di campakkannya aku di atas etalase toko. Nelangsa aku sendirian disana, mau turun pun tempat ini tingginya minta ampun buatku. Tubuhku yang telanjang aku rapatkan dengan tangan. Tak tahu aku apa yang hendak terjadi setelah ini. Tebal tipisnya riasanku pun aku tak tahu bakal kapan terjadi. Yang aku tahu, Karina bukan apa yang mereka kata.
Karina pulang di antar Aji, teman sekampusnya. Karina menunggui teman perempuannya yang jatuh dari tangga hingga hilang kesadaran mulai sore hari sepulangnya dari kampus. Temannya itu tak kunjung bangun sampai dini hari, hingga akhirnya Aji, teman laki- laki yang turut menunggui menawarkan Karina untuk di antar pulang karena hari sudah terlalu larut dan teman yang lain pun sanggup menunggui.
Lalu aku?. Aku lah kabar burung yang dirias tebal biar Karina tampak menarik diceritakan. Punya daya apa aku?.

TAMAT

Saturday, January 4, 2014

Kultus


Oleh- oleh dari makam seorang penggede..

Liburan semester 2..


           Berguling aku di lantai hingga air mataku mengalir saking kerasanya aku terbahak. Sayang sungguh mereka tidak dengar bahana tawaku, kalaupun mereka sanggup dengar, pastilah robek gendang telinga mereka sedari awal.
Makin banyak mereka yang lalu lalang disini, makin banyak laku mereka yang aku rekam. Lebih cepat lagi tubuhku berguling, lebih banyak lagi air mata yang mengalir di pipi akibat tawaku yang kian kuat.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Kilat kamera berulangkali menusuki mata mereka yang ada di sekitaran nisan. Sekalipun berulang mata mereka tertusuk kilat kamera, mereka terus berebut memeluk nisan sambil menyembul gigi berharap wajah dan tubuh mereka tersambar kilat kamera seutuhnya dengan rasa bangga.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Seorang perempuan usia lima puluhan dengan bedak sangat tebal membisikkan sesuatu di kuping perempuan muda berambut panjang yang ada di sampaing kiri tubuhnya. Perempuan muda itu mengangguk pelan dengan tatapan waspada. Bola matanya bergulir ke kiri dan ke kanan, tangan kirinya mengambil sebuah kantong plastik kecil warna hitam di dalam tas kecil bertahta mutiara imitasi kemudian tangan kanannya buru- buru mengambil beberapa kembang di tanah kuburan.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Asma Tuhan ramai mereka sebut, asma nabi ramai mereka sebut. Mereka yang pakai jubah putih- putih, kerudung rapat, bibir hikmat. Tujuan ada di kepala, mengambang mereka sebut asma Tuhan. Bola mata mereka merapat pada nisan, dalam kepala dan hati ada bayangan si penghuni gundukan tanah yang di tancapi nisan itu semasa hidup. Hingga di akhir doa- doa mereka, bayangan si penghuni gundukan tanah yang di tancapi nisan itulah yang bikin mereka yakin doa mereka bakal di ijabah karena si penghuni gundukan tanah itu pasti jadi perpanjangan tangan Tuhan soal doa- doa mereka.
Sesekali aku menyaru muka si penghuni gundukan tanah itu jelang petang. Ramai mereka kata sosok itu nyata si penghuni gundukan tanah yang makin dekat kabul doa mereka.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
Kultus..
Ya..
Iyakan saja aku yang menyaru sosok dalam gundukan tanah itu sebagai nyata si penghuni gundukan tanah yang makin dekat kabul doa. Iyakan saja..iayakan saja.. hahahahaha kultus.. kultus..kultus..

SELESAI

Wednesday, January 1, 2014

Hadiah Buat Pak Menteri


Cerpen jaman SMK..

Dibikin tahun 2011..

Yang tersisa dari berantakannya data- data lama..

Aku sendiri ingat- ingat lupa apa ceritanya..

Dan lagi..

Ini tanpa editing alias asli ketikan pada tahun tersebut..

      Rumahku sederhana. Rumah peninggalan orang tua dengan tiga kamar didalamnya. Rumahku sederhana tapi ada surga didalamnya. Suamiku yang baik,sabar dan pengertian juga tidak romantis tapi ekspresive..tiga anakku dengan warna warni karakter mereka. Ini rumahku, rumahku yang indah, rumahku yang hangat.
***
Yan, panggilan akrab buat anak lelaki pertamaku. Dia memiliki otak brilian hingga dapat masuk Sekolah Menengah Pertama unggulan dikota kami tanpa harus membayar sepeser pun..
Hari ini aku pergi kesekolah Yan untuk mengambil laporan belajar milik Yan (rapor). Yan datang dua jam sebelum acara dimulai,sedang aku memilih datang tepat waktu.
***
Kunaiki motor sederhana hasil keringat ku dan suamiku tercinta memasuki gerbang sekolah Yan. Aku turun dari motor dan segera masuk kedalam gedung. Kulihat Yan berceloteh riang bersama teman- temannya di depan sebuah kelas. Yan berteriak memanggilku kemudian mengahampiriku untuk mengantarku ke tempat yang dituju.
Ketika aku berjalan bersama Yan melewati koridor sekolah, terdengar arakan mobil mewah berhenti di lapangan bagian tengah sekolah. Seseorang keluar dari sana,aku mengenalnya??ah tidak. Kami semua yang ada disini mengenalnya bukan cuma aku.
Yang keluar dari mobil adalah laki- laki dengan wajah tampan oriental dan kulit kuning bersih juga tubuh proporsionalnya yang tinggi besar.
Semua orang disekitar ku merangsek maju menghampiri lelaki itu. Semua berjabat tangan karena dia..seorang menteri dan aku mengenalnya melalui televisi.
Semua orang merangsek maju kecuali aku dan putraku.
“Bunda..anak pak menteri sekelas dengan Yan. Anak pak menteri sangat cantik hehe..,” Yan tiba- tiba berkata dengan wajah tersipu.
Aku terdiam tak menyahut ucapan putraku. Jantungku berdegup. Lelaki itu, ah...pak menteri maksudku..dia memandangku dengan tatapan hangat. Aku merasakan kehangatan diseluruh ragaku.
Tanpa terasa lelaki yang memang pak menteri itu mendekati tempatku berdiri bersama anakku.
Tangannya menepuk lembut kepalaku himngga semua orang termasuk putraku terhenyak. Mendadak sisi humanisme pak menteri keluar mengalir melalui sikap hangatnya. Dengan ramah ia berucap.
“Ndak nyangka kita ketemu disini. Kowe lali tah karo aku??’miracle girl’??
Miracle Girl??itukan sebuatanku dari...
“Sodara- sodara..ini Farah, sahabat baik saya semasa SMP. Saya tidak menyangka bisa bertemu dia disini. Dia termasuk jajaran orang yang membuat saya jadi sebesar ini,” kata pak menteri.
“Pak menteri..,”sergahku
“Ini saya Farah..ini saya si rapuh,” kata pak menteri ah...maksudku orang ini..dia sahabat baikku!dia Cantal Arion. Cantal?!!
“Cantal??saya kira hanya namamu yang mirip dengan sahabat yang ku kenang dan hilang ditelan bumi selama bertahun- tahun lamanya,” ucapanku mengahangat.
Cantal mengangkat tangan kanan ku ke udara sembari berucap lantang.
“Ini Farah,sahabatku. Cahayaku, yang menguatkan ku hingga sanggup berdiri sebesar ini,”
Aku tersipu. Semua bertepuk tangan riuh.
***
Suasana sekolah sepi. Cantal berpamitan untuk pergi namun kami masih harus menunggu anak kami berdua yang pergi berdua untuk membeli sesuatu. Beberapa menit tersisa, aku dan Cantal akhirnya sempat mengobrol setelah 15 tahun hilang kontak.
“Far??kamu masih nulis??,”tanya Cantal memulai pembicaraan. Kami berdua berdiri didepan mobil yang terparkir.
“Iya. Belum besar tapi saya cukup diakui khalayak lokal,”kataku agak kikuk.
“Jangan kikuk dong. Aku masih Cantal yang dulu Far..terus menulis ya..suatu hari orang akan memahami hasil pemikiranmu,”Cantal menghentikan ucapannya karena tatapan hangat mataku makin dalam dimatanya.
Tanganku menyentuh pipinya. Dengan hangat ia kucubit sekeras- kerasnya. Cantal terhenyak.
Air mata mengalir lembut disudut mataku.
“Farah kenapa??,”tanya Cantal padaku dengan nada khawatir.
Aku rindu kamu sahabatku!!tapi aku tidak mungkin mengatakan itu didepanmu. Aku sudah bersuami,itu bukan hal etis buat dikatakan.
“Kita sodara. Mulai sekarang kita bisa menyambung kekerabatan kita yang terputus waktu itu,”kataku pada Cantal yang dengan tangan kirinya mengelus pipinya sendiri yang merah akibat cubitan ku.
“O..oke Farah..,”balas Cantal.
***
Aku mencubit pipi pak menteri...hahahahah siapa orang di Indonesia yang berani mencubit pipi pak menteri kecuali aku??hahahaha..aku patut tertawa bangga.

 SELESAI















Tuesday, December 31, 2013

Ibu Dan Sepuluh Telur Bijaksana

Cerpen jaman SMK..

Dibikin tahun 2011..

Yang tersisa dari berantakannya data- data lama..

Aku sendiri ingat- ingat lupa apa ceritanya..

Dan lagi..

Ini tanpa editing alias asli ketikan pada tahun tersebut..


Saya dan debat kusir manusia..
Saya lebih suka diam daripada bicara didepan tatapan penuh khalayak ramai yang masing- masing dari mereka alisnya mengernyit tanda siap menantang siapa yang paling lantang bicara.
Saya lebih suka memejamkan mata kemudian beranjak dari atas kursi dan pergi keluar ruangan daripada terlibat adu mulut dalam suatu forum diskusi yang isinya hanya ada orang- orang aneh dengan mata melotot juga gigi runcing yang berkilat kilat seolah siap menerjang siapapun penghadang jalan mereka.
Hmm..
Tapi tak seorang pun akan menggoyahkan idealisme saya..
Tak seorang pun kecuali orang yang memang benar saya jadikan panutan.
“Tahukan kamu??dada ku bergemuruh tiap berada diantara alunan sebuah perdebatan tempat perang argumentasi antara manusia- manusia teori yang di ujungnya aku sudah tahu bahwa takkan terjadi perubahan apa- apa kecuali mata yang tadinya putih dengan kornea hitam menjadi merah dengan kornea mengkerut kecil”
Nyatanya, saat saya bicara, semua mata terpana. Mata- mata yang awalnya menganggap saya anjing rendahan tiba- tiba berubah menjadi mata- mata yang memandang saya sebagai malaikat langit yang membawa serpihan cahaya kecil kedunia..
Saya..
Hebat !
***
Today..arghhhh...aku..
Kubuka tudung saji diatas meja makan. Hanya ada periuk nasi yang telah berkurang sepertiga isinya,semangkuk sayur lodeh dan sepiring tempe goreng tepung favoritku khas bikinan Ibu. Rangkaian menu seperti ini biasanya menggugah selera makan ku tapi tidak hari ini.
“Buuuuuu…aku butuh pelukan,” teriakku sembari meletakkan kepala diatas meja makan.
Ibu datang dari arah belakang kemudian membelai kepala dan wajahku dengan tangan paruh bayanya yang kasar akibat terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi sejujurnya itu tak menjadi masalah buatku karena Ibu…sang penyejuk!
“Presentasinya gagal total?,” Tanya ibu.
“Sepertiganya berhasil Bu selebihnya gagal..,” jawabku.
“Mr. Arogant..,”panggil Ibu. Mr. Arogant adalah panggilan akrab ibu semenjak aku jadi penggila teori dan suka terlibat dalam perdebatan meski hanya diam dan kemudian menjadi dewa pengkoreksi atas orang- orang yang berdebat.
“Ya, bu..,” sahutku sembari mengangat kepala dan memandang ibu.
“Tole..tole..” ibu mengambil wadah telur dalam kulkas.
Aku melongo, aku tidak paham dengan apa yang ibu lakukan saat ini dan tidak bisa menebak apa yang akan ibu lakukan selanjutnya.
“Ini berisi 10 butir telur, anggap saja ini sebuah presentase,” ibu mulai menjeaskan dan aku hanya mangut- mangut sejujurnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ibu.
Ibu selanjutnya memvahkan tujuh telur diatas lantai dengan sangat berhati- hati hingga kuning telur tidak sampai hancur. Aku semakin melongo sekaligus tertarik dengan lanjutan dari keterangan ibu.
“Apa yang kamu lihat?,” Tanya ibu.
“Ibu siakan telur- telur itu,’ jawabku ngasal.
“Asal- asalan, pikir dulu..,”
“Nyerah ma’am..,” ejekku genit.
“Dasar males,” sahut ibu sabar.
“Apa maksud ini semua Bu?,” tanyaku dengan raut penasaran.
“Langsung saja ya?demi anak ibu yang paling males ini??,” ibu balik mengejek.
“Bu…,”rengekku.
“Saat kamu melihat telur, kamu tidak akan tahu seberapa besar volume kuning telur yang ada didalamnya kecuali kamu membuka kulitnya dan mengeluarkan isinya,” jelas Ibu.
“lalu..,” desakku semakin penasaran.
“Itulah rahasia, seperti rahasia Tuhan. Telur yang ibu pecahkan ini sama dengan kegagalanmu yang sudah ketahuan dan lihat tiga telur yang belum ibu pecahkan..kamu maupun Ibu tidak akan tahu isinya kecuali kita berdua membuka dan mengeluarkan isinya,” lanjut ibu.
“Aku tidak paham,” ketusku.
“Kita tidak akan pernah tahu kenapa Tuhan memberimu keberhasilan hanya sepertiga dari keseluruhan. Tapi karena Tuhan saying padamu, Tuhan pasti menyiapkan hadiah yang gurih buatmu segurih tiga telur yang masih utuh ini apalagi kalau ibu memasukkannya kedalam mangkuk kemudian memberinya sedikit garam kemudian menggorengnya,” Ibu mengelus lembut kepalaku sembari meraih mangkuk kaca yang kemudian digunakannya untuk mengocok tiga telur yang tadinya utuh dan masih berada diatas meja. Setelah ditaburi sedikit garam, ibu menggoreng adonan telur tersebut dan segera menyajikannya buatku.
Aku melahapnya dengan rakus. Ibu beranjak pergi dari tempatku duduk. Aku memandang ibu dengan senyum terkembang.
“Emak..you are the best!makasih Bu..,” ucapku sepenuh hati.
“Bu..,” kalimatku ternyata berlanjut sebelum Ibu beranjak.
“Apa tole?,” sahut Ibu.
“kenapa hanya untuk hal sesederhana ini ibu menjelaskannya dengan panjang dan rumit?,” tanyaku.
“kamu kan mr. arrogant Ibu tersayang, kamu yang sejak kecil hingga sekarang gandrung teori- teori rumit tapi malah tidak paham dengan hal- hal sederhana. Makanya Ibu pakai enjelasan macam tadi,” jawab ibu.
Ibu kemudian hanya tersenyum kemudian benar- benar beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian aku memandangi lantai ruang makan yang berlendir terkena telur- telur yang tadinya dipecahkan ibu secara ngawur.
“Ma’am sapaaaa yang mau bersihin ini,” tunjukku jijik melihat kearah lantai.
“Itu tanggung jawabmu tole…,” ejek Ibu dari arah ruang depan.
“Bu..
Aku memang masih membutuhkan pelukanmu..
Terimakasih..” bisikku.
Aku terseyum lebar..

TAMAT

Tuesday, September 17, 2013

Palang

“ Wah.. kamu patah lagi ya.. benderamu juga sobek lagi ,” kata seorang pria empat puluh tahunan sembari mengangkat sebuah palang kayu yang tingginya hanya selutut patah jadi dua dengan bendera kain warna hijau muda yang sobek.
“ Memang waktunya pensiun.. ,” pria itu memasang sebuah palang kayu lain yang utuh kemudia ia juga memasang sebuah bendera warna hijau muda di pucuk tertingginya.
***
          “ Untung saja aku kemarin menabrak palang kecil tepat di pinggir cekungan jalan itu. Kalau tidak.. ,” ujar seorang pemuda dengan nada berapi- api di depan beberapa kawannya.
          “ Kalau tidak ada palang itu, kamu pasti sudah nyemplung ke lubang itu Has.. ,” sahut seorang teman yang tubuhnya paling tambun.
          “ Kamu juga tidak hafal daerah situ sih Has.. itu lubang cukup dalam.. kamu pakai motor juga kencang ,” sahut temannya yang lain.
          “Yah.. untung saja aku nggak kenapa- kenapa kan? Palang kayu itu, aku tabrak sampai patah jadi dua saking kencangnya motorku ,” timpal pemuda yang membuka awalan cerita tadi.
***
          “ BRAAAAAAAK! ,” dua remaja perempuan terguling di pinggiran jalan bersama motor yang mereka tumpangi.
          Beberapa orang yang tengah makan di warung soto pinggiran sawah tepat di depan lokasi kejadian langsung berhamburan keluar menghampiri dua remaja itu. Aku Cuma melongok dari kaca kecil di dalam warung sambil tanganku terus berkutat dengan piring, gelas dan sabun.
          Ramai- ramai kulihat beberapa orang dari kampung yang agak jauh lokasinya dari warung, juga turut mengahampiri dua remaja itu. Dua remaja itu dibantu untuk bangkit, mereka di papah menuju warung. Agaknya, mereka cuma mengalami luka lecet.
“ Sil.. samean buatkan dua teh hangat ya untuk mbak- mabak itu.. ,” teriak Bu Luluk, si empunya warung ini dari kejauhan sambil mengelap dua tangannya yang penuh noda minyak dan kuah soto pada daster hijaunya yang lusuh.
“ Ngge bu.. ,” sahutku. Sesegera mungkin aku mencuci dua tanganku kemudian aku mengambil dua buah gelas untuk wadah teh. Sambil menunggu air teh mendidih, aku cuma memandang dari jauh riuhnya suara banyak orang di dalam warung. Percakapan mereka tidak dapat aku tangkap. Setelah menyerah karena tidak dapat menangkap percakapan meraka, aku kembali melongok pada jendela kecil depan tempat mencuci piring. Aku melihat palang itu patah lagi menjadi dua sedang benderanya hilang entah kemana.
***
Pria usia empat puluhan itu datang setelah subuh. Aku melihat dia membawa palang kayu yang bar berikut sebuah bendera hijau yang dikaitkan di ujung tertinggi palang itu. Setelahnya, pria itu pergi sambil membawa palang yang patah.
Siang hari, pengunjung warung sibuk membicarakan kecelakaan kemarin. Tidak ada yang sadar bahwa palang yang patah kemarin sekarang kembali utuh.
Memanglah sering terjadi kecelakaan tunggal depan warung soto ini. Ini terjadi karena ada sebuah cekungan dalam yang hampir menguasai seperempat jalan utama. Bagi yang tidak mengenal jalan setapak disini, pastilah tidak bakal melihat cekungan itu. Dulu sering ada orang terperosok kedalam cekungan, namun semenjak ada palang yang di pasang pria usia empat puluhan itu, tidak ada lagi yang terperosok. Bukan sekali dua kali, pengendara motor yang hampir terperosok ke dalam cekungan itu menabrak palng kayu hingga gagal masuk ke dalam cekungan tersebut.
***
“ Sil.. buatkan teh satu aja.. ,” teriak Bu Luluk dari kejauhan, tangannya sibuk mengoles obat merah di tangan seorang ibu usia tiga puluhan.
“ Ngge Bu.. ,” sahutku. Aku segera membersihkan tanganku dari ceceran sabun. Sekilas aku melongok ke luar jendela. Aku melihat palang itu patah lagi, benderanya pun sobek. Mungkin pria itu akan datang buat mengganti palang yang rusak besok setelah subuh.
***
“ Oh.. terimaksih neng.. ,” kata pria usia empat puluhan itu kepadaku.
“ Iya Pak sama- sama.. ,” sahutku sambil semakin memantapkan dua telapak tanganku untuk menyangga palang kayu yang menancap di cekungan jalan sedang pria empat puluhan itu memasang bendera hijau di pucuk tertingginya.
“ Kenapa Bapak selalu mengganti palang ini tiap kayu atau kainnya rusak? ,” tanyaku.
“ Ini ada gunanya tidak neng? ,” pria itu balik bertanya.
“ Iya Pak. Sejak ada palang ini, tidak ada lagi orang yang terperosok di cekungan jalan ini ,” jawabku.
“ Neng sudah tahu jawabannya, harusnya neng tidak usah tanya ,” pria itu terbahak.
“ Tidak ada orang yang sadar soal Bapak dan palang ini ,” sahutku.
“ Saya tidak rugi sekalipun tidak ada orang yang tahu. Saya sudah cukup senang ini bisa berguna untuk orang lain neng.. ,”
“ Apa agama Bapak? ,”
“ Agama? Hahaha saya cuma percaya bahwa perbuatan baik pasti juga berbalas kebaikan untuk hidup saya neng. Sudah ya, saya mau lanjut kerja ,” pria itu mengangguk sopan kemudian ia segera naik ke atas sepda motor miliknya yang di belakangnya terdapat keranjang penuh dengan ayam mentah.
Aku masih tertegun di pinggiran jalan. Aku membuka dompet, meraih KTPku kemudian melihat kolom bertulis ‘agama’. Saking tertegunnya, mukenah yang aku bawa sehabis dari mushola tercecer di jalanan karena terlepas dari tanganku. Aku melihat arah pria tadi berlalu. Ternyata pria tadi berhenti tak jauh dari tempatku, agaknya motornya mogok. Aku sesegera mungkin memungut mukenahku yang tercecer kemudian berlari ke arah pria itu sambil menangis.
“ Bapak.. Bapak.. apa yang mesti saya lakukan..? saya juga ingin berguna.. ,” kataku dengan napas tersengal- sengal.
“ Berguna? Untuk sesamamu? ,” pria itu sibuk mengutak atik motornya yang mogok tanpa melihatku.
“ Iya Pak.. saya cuma lulusan SMA. Untuk kuliah, pikiran saya sudah tidak sanggup.. saya tidak kuliah Pak, jadi orang gedhe apalagi kaya cuma mimpi, padahal saya punya cita- cita memenuhi kotak amal mushola kampung ini. Saya cuma tukang cuci piring di warung soto itu pak ,” tunjukku ke arah warung soto tempatku bekerja.
“ Hahahaha, kamu di ajari siapa? Di ajari siapa kalau berbuat baik itu mesti jadi orang gedhe dulu, mesti jadi orang kaya dulu, mesti memenuhi kotak amal mushola pakai uang kamu ,” pria itu tetap sibuk mengutak atik motornya tanpa memandang wajahku.
“ Saya.. ,”
“ Kamu kalau cuci piring yang benar, yang bersih.. piring itu di pakai sesamamu. Mau berguna? Bantu mereka hidup sehat, jangan bikin mereka perutnya mulas karena piring- piring yang kamu cuci tidak terlalu bersih. Cuci piring pakai hati biar hati lapang, biar kamu cucinya juga rasanya ringan ,” lanjut pria itu.
“ Hah.. sudah benar ,” pria itu naik ke atas motor tanpa memperhatikan rautku yang tertegun.
SELESAI


Tuesday, August 27, 2013

Sebaris "Kawaii" Bikin Semangat Hati

Lihat berantakannya isi almariku yang di isi buku- buku selama dua semester ini, tiba- tiba aku malah ingat soal penghuni almari ini tepat setahun yang lalu. Setahun lalu? Iya setahun lalu.. itu jaman aku masih pakai baju putih abu- abu. Sekalipun semua isi almari ini setahun lalu sudah melayang ke atas timbangan besi punya tukang loak, masih banyak kenangan yang aku simpan dari semua isi almari itu.
Salah satu kenangan yang aku ingat, soal buku tulis bersampul hijau yang di sisi luarnya bertuliskan “Bahasa Jepang”. Memang sih, mata pelajaran satu ini sering bikin aku pusing karena terasa asing. Nah, tapi di dalam buku tulis bersampul hijau itu ada tiga halaman penuh yang bikin bertambah pandanganku soal sosok guru yang dalam istilah bahasa jawa mesti di gugu lan di tiru.
Ceritanya nih, tepat setahun lalu, guru “Bahasa Jepang” memberi tugas di kelas. Tugas itu di ambil dari buku cetak yang kebetulan sebagian besar penghuni kelas belum pegang hak milik termasuk aku hehehee. Iseng- iseng, karena waktu pengerjaannya juga panjang, aku kerjakan semua soal di tambah aku gambar semua ilustrasi yang ada di buku itu. Gambarku sih sederhana asal jelas waktu di pandang pikirku waktu itu, kebetulan soal yang di bahas mengenai nama- nama penyakit jadi gambar yang di tampilkan agak- agak abnormal gitu lah di dalam buku cetak itu. Tanpa pikiran macam- macam, setelah selesai penugasan itu, aku mengumpulkan tugas itu sama seperti penghuni kelas yang lain.
Seminggu kemudian, buku “Bahasa Jepang” yang aku kumpulkan bersama penghuni kelasku yang lain akhirnya di bagikan juga. Sebagai anak sekolahan yang baik dan normal, aku juga sama seperti penghuni kelas yang lain, begitu buku di bagikan, aku langsung buka halaman tugas seminggu lalu karena penasaran berapa nilai yang aku dapat. Memang sih, dapat nilai A minus tapi.. ada satu hal yang kelihatannya kecil bikin aku tersenyum lebar. Dengan tinta hijau, guru “Bahasa jepangku” itu memberi tanda panah kecil ke arah salah satu gambar di buku tulisku yang posisinya paling bawah, kemudian disana ada dua tanda petik yang isi tulisannya aku sedikit lupa, bahasa jepang semua sih hehehe tapi yang jelas ada kata “Kawaii” yang artinya lucu dalam bahasa indonesia. Mendadak hari itu aku berbunga-bunga mirip anak taman kanak kanak yang di beri bintang empat waktu pelajaran menggambar. Dari situ, pikiranku meluber kemana- mana soal sosok guru satu ini yang mengapresiasi hal yang kelihatan remeh dan kecil yang di lakukan anak didiknya sekalipun seluruh anak didik yang di hadapi merupakan para pemakai seragam abu- abu putih. Dari perlakuan seperti ini, nyatanya aku jadi makin semangat mengikuti pelajaran “Bahasa Jepang”, aku semakin semangat merapikan tulisanku, aku juga makin semangat belajar menghapal materi yang memang mesti di hapal padahal sebelumnya itu cukup berat buat aku yang merasa mata pelajaran ini asing.
Dari pengalaman yang kurasa menarik ini juga, aku jadi ingat masa- masa SD. Di masa SD, sebagian guru bukan cuma bikin apresiasi soal kognitif alias pengetahuan siswanya tapi juga apresiasi terhadap pola sikap sekalipun bukan selalu di persatukan dengan angka- angka nilai kognitif. Pola sikap salah satunya meliputi kerapihan, bisa soal kerapihan sampul buku, bisa juga soal kerapihan tulisan. Aku dulunya merasa, jenis apresiasi seperti ini cuma mempan memotivasi buat anak Taman Kanak- kanak atau SD. Eh.. tapi ternyata mempan juga buat anak kelas 3 SMK supaya lebih dan lebih semangat lagi mengikuti mata pelajaran yang di maksut. Hohohoo.. ternyata satu hal kecil yang kelihatannya sepele seperti bentuk apresiasi guru “Bahasa Jepangku” ini bisa memotivasi juga ya hehehe.

SELESAI

Wednesday, August 21, 2013

Hole Inside Si Tigabelas Tahun Bagian 1

Ceritanya nih waktu aku naik kelas 8, aku masuk di sebuah kelas baru dengan sebagian penghuni orang- orang asing yang jelas aku beum kenal sama sekali sedang sebagian lagi aku kenal karena mereka pernah sekelas sama aku di kelas 7.
Waktu SMP, aku sering di lupakan orang kaitannya dengan keberadaan. Maklum lah aku tertutup dan kelihatan nggak bisa apa- apa, nggak ‘pedean’ pula. Beberapa teman yang mau bersikap baik palingan juga iba aja, senyum sekali dua kali terus lupa lagi sama keberadaanku. Beberepa teman lain yang nggak bisa bersikap baik jadikan aku objek ejekan, di tambah penampilanku yang kata orang di pilem- pilem tuh ‘culun’, enak kali ya mereka pikir kalau kaya aku di pakai hiburan dengan ejekan- ejekan itu.
Fokus lagi ke cerita di kelas 8. Beberapa bulan aku berada di sana, aku ketemu dua orang cewek yang termasuk terkenal nih di sekolah. Panggil aja mereka Si Maru sama Si Chi. Si Maru ini anak guru di SMP itu, tapi ibunya nih udah pindah ke sekolah lain, soal ilmu ‘pasti’ ini anak emang jago, soal tari tradisional dia punya bakat, tangannya juga kreatif bikin barang- barang hand made, secara fisik Si Maru juga mukanya polos dan manis. Sedang Si Chi, mukanya biasa aja.. tapi sebenarnya dia jauh lebih banyak punya kelebihan dari pada Si Maru. Si Chi bisa nulis bebas, soal ilmu ‘pasti’ juga jago, seni apa aja dia termasuk bisa. Nah, mereka berdua ini udah akrab dan sekelas dari jaman kelas 7. Dulu di kelas 7, mereka punya dua lagi teman akrab yang bisa dianggap teman satu geng gitu lah.. tapi wktu kelas 8 mereka berempat jadi pisah kelas.
Aku lupa dari mana awalnya bisa akrab dengan dua orang ini. Tahu- tahu yang aku inget, mereka ngerti aja kalau aku cukup bisa nulis. Mereka juga tahu, aku bukan cuma bisa nulis cerita fiksi aja tapi juga bisa nulis opini, tulisan bertema khusus dan naskah drama. Sejak saat itu kami bertiga jadi dekat. Aku yang sama sekali nggak menonjol, aku yang selalu menyendiri sama mini novel bikinan pribadi dan buku gambar (dulu hobi banget gambar manga) di gandeng sama mereka yang terkenal di sekolah jadinya mukaku cukup di ingat sama orang- orang waktu itu. Aku sering kog di bilang, oh.. kamu yang sering sama Si Maru ya? Oh.. kamu yang sering sama Si Chi kan ya?.
Aku sadar sih, antara Si Maru dan Si Chi, leadernya emang Si Maru. Si Maru kemana.. Si Chi ngikut aja.. begitu pun waktu kami lagi bertiga. Kami dulu satu eskul, kadang bolos bareng juga dari eskul. Kami palingan juga kerumah Si Maru kalau bolos eskul. Dari kedekatan ini, aku waktu itu ngerasa seneng karena dapet temen yang aku kira mengakui aku itu ada, soalnya mereka selalu ajak aku satu kelompok dalam tugas apa pun termasuk tugas yang kaitannya sama ilmu ‘pasti’ yang aku nggak menguasai sama sekali. Di pikir- pikir sih.. tugas ilmu ‘pasti’ sebenernya jarang, yang sering itu tugas yang berkaitan sama tulisan dan opini, nah.. di situ aku secara nggak sadar dimanfaatkan selama setahun penuh di kelas 8.
Mereka aktif ngajakin aku jalan, ngajakin satu kelompok, bantuin aku perkara ilmu ‘pasti’, dan mereka sering penuh percaya ke aku soal tugas kelompok yang berkaitan sama tulisan dan opini sampai aku ngerasa bangga berlebihan, maklum ya.. namanya juga anak kecil usia 13 tahun yang belum pernah dapat pengakuan soal keberadaan sebelumnya jadinya ya berlebihan gitu dah begitu merasa ideku di dengar dan aku di percaya bertindak karena di anggap mampu.
Waktu aku ulang tahun, mereka berdua kasih aku kado. Aku inget kog, isinya buku gambar ukuran A3 sama satu pack wafer coklat plus kertas isi ucapan mereka yang masih aku simpen sampai hari ini. Aku seneng bangeeeeet.. aku nggak mimpi bakalan ada yang sepenuhnya perhatian sama aku kaya gitu. Di kartu ucapan itu tertulis, mereka tahu aku hobi gambar manga, jadinya mereka kasih buku gambar dan mereka juga tahu aku suka banget makan jadinya aku di kasih satu pack wafer coklat. Waktu itu aku merasa mereka emang menerima aku di dalam kelompok mereka, aku pikir nggak mungkin mereka sampai memenuhi apa yang aku suka di hari istimewa yang namanya ulang tahun itu kalau mereka nggak bener- bener suka sama aku. Karena sikap mereka berdua yang selalu baik dan manis saban hari, aku jadi cukup semangat berangkat ke sekolah nggak kaya dulu yang selalu ogah- ogahan, aku seneng ketemu sama mereka itu sebabnya aku semangat.
Suatu hari, ada tugas bikin naskah drama. Seperti biasa, Si Maru yang ambil inisiatif buat ajakin aku satu tim. Naskah drama dan ide- ide properti yang sederhana waktu itu aku semua yang bikin. Tapi bu guru Bahasa Indonesia yang kagum sama Maru yang nggak neko- neko dan punya prestasi bagus terutama di bidang akademis ngiranya aku sama Maru yang bikin naskah itu. Walaupun mata kagum bu guru kelihatan penuh buat naskah itu, tapi sayang mata kagumnya mesti di bagi dua, antara aku dan Si Maru yang nggak ngapa- ngapain. Naskah yang berupa coretan tangan asliku di atas kertas itu emang aku yang dominasi pegang waktu di tanya- tanya sama guru dan Si Maru ikut- ikutan juga dominasi pegang naskah.. jadilah bu guru makin simpatik sama Maru, temen lain di tim malah sedikit di cecar karena di anggap nggak punya andil dalam penulisan naskah drama.
Bu guru waku itu lama banget ngobrol sama tim kami sampai jadi pusat perhatian di kelas, temen- temen yang lain ikutan baca naskah itu dan mereka bilang naskahnya lucu, menghibur, tapi nggak tahu deh ya mereka anggep naskah itu bikinan siapa. Tahu nggak? Aku pengen banget teriak di depan bu guru Bahasa Indonesia itu kalau yang bikin naskah itu sepenuhnya aku, selain karena aku suka guru itu, aku butuh pengakuan.. banyak guru yang anggep aku itu nol, bukan nol sih.. tapi nol yang di potong jadi dua!. Aku pengen banget denger pujian bu guru itu soal naskah drama bikinanku di depan temen- temen lain biar mereka juga tahu aku mampu melakukan sesuatu, aku bukan anak pasif yang kosong ide!. Yah.. tapi lagi- lagi itu cuma salah satu imajinasi kosong bikinanku.. soal aku yang dapat pengakuan di depan orang lain apalagi dengan prestasi akademisku yang nggak terlalu bagus dan gayaku yang punya nol percaya diri dan cenderung menarik diri.
Pernah juga, waktu main ke rumah Maru, aku lihat di leptop Maru ada tulisan soal cerita persahabatan hasil tulisan dia, Si Chi dan temen satu geng mereka jaman kelas 7 yang mau di kirim buat sayembara majalah remaja. Tulisan itu di buat baru- baru aja, aku nggak sadar kalau mataku panas lihat itu, aku lihat cerita itu.. aku lihat foto- foto mereka dan Maru sadar rona mataku beda, jadi dengan nada basa- basi Maru bilang, “Wah.. Poppy harusnya di ajak ya.. hehehe ,”. Aku saat itu ngerasa, ya.. ngga apa- apa deh.. toh tiap main kesitu, aku selalu di ajakin foto bertiga sama Maru dan Chi seolah kami emang lekat sebagai sahabat baik.
Eh, setahun berlalu. Waktu naik kelas 9 dan mereka berdua kumpul sekelas sama gengnya semasa kelas 7 lagi, sedang aku sendiri pisah kelas dari mereka, aku jarang banget bisa kontak dua arah sama mereka semenjak pisah kelas. Ketemu di sekolah pun kaya orang ngga pernah dekat. Tapi kadang Si Chi ngajakin aku jalan, ujung- ujungnya sih minta bantuan ngasih opini sama cari tugas artikel soal berita- berita yang lagi update saat itu. Aku terima aja, dengan harapan itu jalan kembali akrab sama Chi dan Maru. Lama- lama aku sadar juga kalau mereka punya kehidupan sendiri dari dulu. Mereka nggak pernah bener- bener anggep aku itu seseorang yang istimewa, semuanya soal pemanfaatan yang sangaaaaaat maksimal selama setahun penuh di kelas 8. Bahkan aku nggak sadar kalau tiap jalan bareng, Maru dan Chi gandengan erat- erat sedang aku jalan agak jauh dari posisi mereka jalan dan selalu begitu.. tapi dulu saking senengnya dapet temen yang mengakui aku ada dan aku bisa, aku nggak perduli sama semua itu.
 Aku kecewa berat sampai nangis segala, aku ngerasa sendirian lagi.. pemanfaatan Maru dan Chi selama setahun penuh di kelas 8 waktu itu belum bikin aku sadar kalau aku sebenarnya punya daya tawar, aku tetep ngerasa aku itu nggak bisa apa- apa.. nggak berbakat.. nggak cantik.. nggak pede.. nggak jago di bidang akademis.. , padahal terutama mulai kelas 8, guru seni suka puji gambar yang aku bikin bahkan gambar itu di simpen, kadang di kasih kritik dan saran, dari situ temen- temen banyak yang suka reparasi dan minta saran tugas seni yang terkait sama gambar ke aku. Tapi ya.. lagi- lagi waktu itu aku tetep ngerasa sebagai mahluk terendah gitu deh.. yang nggak punya daya tawar sama sekali..
Loh? pasti banyak yang bertanya- tanya deh kok bisa aku jadi over pede kaya sekarang.. banyak hal bikin aku sadar dan bangkit tapi kapan- kapan aja ya di sambung lagi.. Semangat pagi!

::yang ini foto abnormal waktu diklat alam ukm ngga jelas semester 1::

                  

::yang ini foto di depan mobil dosen yang entah dosen siapa, kan aku mimpi punya mobil. foto bisa jadi sugesti meraih sesuatu loh::


..SELESAI..

Catatan: Desember 2019, saya membaca tulisan ini kembali dan menyadari, bahkan dalam narasi, dulu saya terpapar standar fisik industri banget ketika memandang orang apalagi diri sendiri.

September 2020, jadi ingat saya dulu kontradiktif. Cuma yang kenal banget yang tau kalau pas kelas 9 saya suka banget sama Vidi Aldiano. Vidi suaranya bagus dan sawo matang. Di satu sisi, jaman itu saya terpapar keyakinan kalau sawo matang dan kulit gelap itu hanya layak dideskripsikan sebagai biasa aja baik lelaki maupun perempuan. Tapi di sisi lain aslinya saya menganggap cantik atau ganteng ya yang kulitnya demikian. Dulu kok bisa ya, nggak berani terus terang menunjukkan standar sendiri. Baru di SMK itu mulai berani terang-terangan jadi fangirl Kamga. Rekam jejak digital di Facebook nggak perlu ditanya dan bahkan Kamga abadi jadi salah satu identitas di internet.