Sunday, April 25, 2021

Semua Bisa Jualan Body Positivity dan Mental Health Awareness, Termasuk Si Pembully

Sumber: Gugel

Ramah dan bersahabat, itulah kesan pertama yang saya dapat ketika 2016 kali pertama bersalaman dengan si pembully itu. Dia sudah lulus kuliah sedang saya baru selesai seminar proposal, kami seangkatan, hanya saja saya yang telat lulus karena masalah kesehatan. Jika fisik kami digambarkan dalam pertemuan hari itu, ia memiliki berat 10 kilo di bawah indeks massa tubuh, sebaliknya saya yang 10 kilo di atas indeks massa tubuh. Sedang kulit kami sama terang.

Di hari-hari berikutnya, kami masih sering bertemu di warung kopi yang sama bahkan tergabung dalam komunitas serupa. Ia aktif datang sebagai moderator maupun audien, sedang saya yang menjadi audien dan kontributor tulisan.

“Aku tuh pengin punya lengan kayak kamu, seger gitu...” katanya ramah, sambil memegang lengan saya yang gemuk dan segera setelahnya, ganti memegang lengannya.

Ucapannya kali itu lebih terasa sebagai upaya membesarkan hati, tidak ada body shaming sama sekali. Pancaran mata si pembully itu pun hangat, selaras dengan kampanye body positivity yang kerap ia gencarkan di media sosialnya. Bahwa ia, betulan menganggap gemuk bukan masalah jika diterima.

Dari satu komunitas, kami selanjutnya masuk dalam komunitas yang satu lagi. Kali ini bukan lagi komunitas literasi, namun komunitas feminis. Dua komunitas ini masih satu atap dan yang membuat saya masuk adalah si pembully ini, mempertemukan pula dengan banyak teman lainnya, lintas kampus.

Di hari-hari berikutnya, si pembully ini tetap hangat, bahkan pernah punya rencana mengunjungi rumah saya. Ia bahkan membagikan tulisan saya di grup. Sebuah tulisan yang dimuat di website feminis yang hari itu dianggap prestisius. Meski lupa persisnya, ia jelas menyertakan kalimat kebanggan terhadap saya. Ia melakukan hal serupa pula di story WAnya.

Beberapa teman menyahut, mengucap selamat dan kalimat berbau kebanggaan sejenis. Dari semua itu, semestinya cukup untuk meyakini si pembully itu teman yang baik. Ia seorang feminis yang betul menerapkan women support women. Hingga saya mulai dekat dengan lebih banyak teman dalam komunitas tersebut dan mendapati konflik antara si pembully ini dengan satu teman fakultasnya sebut saja Maia.

Maia ini dua tingkat lebih muda dari si pembully di kampus. Diakui Maia, orang yang mengenalkannya pada feminisme adalah si pembully, bahkan mengajarinya metode penelitian. Seolah, Maia ini ‘dipungut’ lalu dididik si pembully ini. Jika digambarkan secara fisik, Maia memiliki berat badan pas dengan indeks massa tubuh, wajahnya pula standar industri, sedang si pembully wajahnya standar industri ketika menggunakan make up.

Keganjilan mulai terasa ketika di grup WA, adik tingkat Maia membagikan sebuah acara gerakan perempuan. Ada foto di mana ia dan Maia berada di sana. Kalimat yang menyertai foto pun berupa ajakan jika teman-teman di grup ingin bergabung, maka dipersilakan. Sayangnya, sekutu si pembully sebut saja mbak Anggun, justru memojokkan adik tingkat Maia. Meski tidak dapat mengetik ulang bagaimana persisnya kalimat mereka karena kejadiannya sudah 2017, siapapun jelas bisa menangkap si adik tingkat ini dipojokkan sesungguhnya karena ia dianggap sekutu Maia dan bukannya karena si adik ini dianggap mengunggah kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan komunitas.

Melihat si adik tingkat dipojokkan dan makin mundur agaknya karena bingung dan merasa sungkan soal usia, saya pun akhirnya turut berkomentar. Saya menyatakan bahwa, kalimat yang dipermasalahkan justru ajakan yang terkait dengan pengembangan komunitas. Tidak layak si adik tingkat dirisak sedemikian rupa untuk hal yang salah saja tidak.

Hingga mbak Anggun berhenti menyalahkan si adik tingkat di grup WA, konflik ternyata tidak tuntas. Si adik tingkat mengirim pesan pribadi kepada saya, menyatakan sangsi atas tindakannya sendiri. Jangan-jangan betul ia salah seperti kata mbak Anggun, namun saya yakinkan ia tidak salah dan mbak Anggun sedang gaslighting saja.

Setelahnya, barulah masalah Maia dan si pembully mulai terungkap. Si pembully ternyata kerap merisak Maia setelah ia mengetahui, jejaring Maia di dunia feminisme jauh lebih banyak dan cepat. Masih Maia yang bahkan menjadi pendamping penyintas di sebuah LSM yang tidak dijangkau si pembully. Dua di antara bentuk perisakan itu antara lain, meninggalkan Maia ketika hendak pergi ke Jakarta. Padahal proposal hingga mendapat pendanaan sebelum acara, semua Maia yang mencari. Ia betul-betul tidak diberitahu kapan kereta berangkat dan setelah diprotes, si pembully sambil menangis berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan menyatakan sangat menyesal. Tentu kalimat barusan terus diulang ketika ia melakukan hal serupa dan Maia melakukan protes yang sama.

Sebelum Maia betul-betul pergi, hasil kerjanya pernah juga diakui si pembully dan mbak Anggun, sekutunya. Jadi komunitas membuat acara dengan tema penelitian dan feminisme. Konsep acara, semua Maia yang membuatnya sedang ketika hari H, ia ditinggalkan. Bahkan yang masuk media dan diwawancara, justru si pembully dan mbak Anggun. Pada berikutnya, Maia keluar dari grup WA dan betul keluar dari komunitas. Praktik penyingkiran oleh si pembully dan para sekutunya berhasil.

Awal 2018, seorang teman menyatakan si pembully, mbak Anggun dan satu lagi sekutunya yang seorang lelaki, membicarakan Maia. Sambil tertawa-tawa, mereka katakan Maia layaknya dibikinkan pangggung membaca tulisan secara erotis sampai orgasme. Si lelaki itu sendiri ada di komunitas literasi dan feminis yang sama dengan si pembully dan mbak Anggun. Serupa dengan mereka berdua, si lelaki ini gemar berdagang isu kemanusiaan ketika tampil di panggung.

Masih di awal tahun 2018, saya berjumpa dengan si pembully dan mbak Anggun ketika Haul Gus Dur di gedung kesenian. Dengan senyum mengejek, si pembully memanggil saya dan di hadapan mbak Anggun ia katakan,”Sorry, ya. Bukannya aku body shaming, tapi kamu emang makin gemuk.” Disusul tatapan puas dan tawa keduanya.

Dari situ saya memahami, kebaikan si pembully terhadap saya sebelum 2018 ternyata grooming saja alias kedok dari kejahatannya. Bagaimana ia mendukung saya menulis, mendukung penerimaan tubuh hingga merangkul dengan ramah ketika 2017 berjumpa di sebuah acara buku, ternyata kedok, semuanya kedok. Yang bisa jadi ketika tidak pernah terang-terangan memihak Maia dan siapapun yang dianggap temannya, saya tidak akan percaya bagaimana ia dirisak sedemikian rupa. Semacam, nggak mungkin deh dia gitu. Ke aku aja baik kok...

Toh, kita memang kerap tidak percaya seseorang melakukan kejahatan ketika pelakunya tidak melakukan serupa terhadap kita. Kita kerap melakukan negasi atas pengalaman orang lain jika tidak mengalami yang serupa. Dan selamat, di situlah kita menjadi alat grooming bagi para pelaku kejahatan, entah itu seorang tukang merisak maupun predator seksual.

Namun semenjak kejadian adik tingkat Maia yang dirisak di grup hingga meragukan dirinya sendiri, saya memang melihat kejadian itu sebagai sebuah data. Sekalipun tidak mengalaminya sendiri, jika ada fakta di depan mata kenapa harus membuat negasi? Apalagi jelas si adik tingkat ini tidak melakukan kesalahan.

Data itu ternyata bertambah ketika Maia dijadikan guyonan seksual dan saya sebagai yang nampak keberpihakannya kena body shaming. Jadi si pembully tidak bisa menemukan argumen yang masuk akal untuk melawan keberpihakan saya terhadap ‘musuhnya’, satu-satunya hal yang dianggap kekurangan hanya berat badan, apalagi dia tahu saya tidak bisa disentuh soal itu. Bagi yang kerap membaca tulisan saya soal persepsi tubuh di blog, tentu tahu apa sebabnya.

Keterbukaan saya soal kasus Maia, adik tingkatnya dan diri saya sendiri ternyata membawa pada data yang lain. Pertengahan 2018, adik tingkat saya di UKM akhirnya bercerita bahwa selama SMA, ia ternyata dirisak oleh si pembully! Saya tentu kaget dan menyesal. Menahun saya bareng si adik ini, bahkan pernah di tahun 2017 di sebuah acara buku, kami satu meja dengan si pembully dan ia belakangan baru mengaku takut sekali hari itu. Sayangnya, saya betul tidak mendeteksi semuanya. Adik tingkat ini tidak berani bercerita karena takut hubungan saya dengan si pembully rusak dan lagi, ia sering sangsi soal pengalamannya. Apalagi, si pembully tiba-tiba bersikap ramah terhadapnya dan di media sosial, ia kerap berbagi seputar feminisme.

“Aku kira dia udah berubah, Mbak. Dia positif banget di Instagramnya, suka berbagi soal feminisme juga.” Ucap adik UKM.

Jadi jika Maia dianggap mengungguli si pembully dalam karir aktivisme, adik tingkat saya itu dianggap merebut laki-laki yang disukainya selama SMA. Bentuk perisakan itu salah satunya menyoraki si adik tingkat yang tengah berolahraga di lapangan sekolah. Hanya karena tubuhnya dianggap sedikit berisi, meski jauh untuk dikatakan gemuk, dijadikannya itu bahan merisak oleh si pembully. Bersama teman-temannya, ia mengomentari tubuh adik tingkat tadi beramai-ramai.

Jika digambarkan secara fisik, adik tingkat ini berat badannya pas dengan indeks massa tubuh dan wajahnya standar industri. Semasa sekolah, akademisnya juga sangat baik. Jadi selain tubuh yang dianggap tidak sekurus si pembully, ia tidak punya bahan merisak lain. Apalagi lelaki yang disukainya itu ternyata memilih si adik tingkat.

Data masih terus bertambah, ketika seorang teman lelaki yang semasa SMA ternyata satu angkatan dengan si pembully, ternyata pernah dimusuhi teman-temannya sendiri. Si pembully menebar cerita bahwa pacar-pacar standar industri yang didapat teman kami ini hasil dari pelet. Semua hanya karena teman kami ini dianggap wajahnya tidak standar industri, jadi mustahil mendapat pacar yang dianggap unggul secara fisik. Padahal siapapun yang mengenalnya di komunitas tahu, bagaimana ia jago membikin puisi, musikalisasi hingga menggombal. Ia juga kreatif dan pintar, nyambung diajak mengobrol. Perempuan menyenanginya? Tidak heran. Ia juga teman yang bisa diajak saling dukung. Apa benar nilai teman kami ini sekadar kulit dan dagingnya?

Entah berapa banyak lagi korban dari si pembully ini sebetulnya. Korban yang sangsi hendak bicara karena imej yang ia bangun. Bahkan pernah, saya satu panggung dengan teman satu jurusannya di kampus dan si teman ini nampak kagum sekali dengannya. Saya pilih pura-pura tidak mengenal si pembully, ketimbang fakta-fakta yang penggemarnya belum perlu tahu itu bocor. Kalaupun kelak ia mengetahui fakta-fakta tersebut, biarlah dengan tangannya sendiri.

Si penggemar ini pintar dan fisiknya standar industri. Tapi bagaimana bisa ia diperlakukan baik oleh si pembully bahkan seolah dibimbing? Semua ternyata karena ia bergerak di bidang public speaking, bidang yang tidak serupa dengan si pembully. Jadi sekalipun ia pintar dan standar industri, tidak bakal tuh dianggap ancaman. Sebaliknya saya yang bukan ancaman di dunia aktivismenya, akibat berat badan juga tidak dianggap punya fisik standar industri, namun berpihak pada yang dianggapnya ‘musuh’, jadilah bagi si pembully, saya layak balas diusik.

Hari ini, si pembully tetap berjualan konsep persepsi tubuh positif di depan orang-orang, ini masih ditambah berdagang konsep psikologi klinis sesuai jurusannya di S2. Dengan getol ia juga menyuarakan pentingnya pola asuh yang baik.

Pernah seorang teman bertemu dengannya di MATOS tahun 2018 dan ia tanyakan kabar Maia. Teman kami menjawab, Maia masih berkonsentrasi dengan anaknya yang masih bayi. Disaksikan si teman tadi, si pembully mengangkat sebelah bibirnya, spontan tersenyum puas mendengar ‘musuhnya’ dianggap hidup tidak lebih baik darinya yang sudah mendapat beasiswa S2.

Si pembully sendiri sempat terusir dari komunitas karena disingkirkan teman perempuan lain yang sama-sama-sama sindrom ratu lebah dengannya. Bahkan si penyingkir ini dengan bangga menyatakan, si pembully ketakutan waktu jumpa dengannya. Ini belum lagi masalah dengan mbak Anggun dan sekutu lelakinya itu. Setelah terlempar dari lingkaran lamanya, si pembully pun kemudian mengambil psikologi klinis di provinsi lain ketika lolos beasiswa S2, dengan tetap berusaha meninggalkan komentar mendukung di sosial media Maia maupun adik UKM saya.

Ini semua bukan FTV sinema pintu taubat di mana pembully hidupnya blangsak dalam waktu singkat. Pada nyatanya, si pembully tetap melanjutkan hidupnya, menjadi pembicara di mana-mana dengan tema kesehatan mental. Sedang Maia melanjutkan studinya ke benua lain tahun 2019 dan adik UKM menikah dengan lelaki yang ia cintai tahun 2020.

Ada kemungkinan ketika ganti kejahatan teman perempuan yang menyingkirkannya terungkap dan sisi-sisi si pembully sebagai korban diangkat, ia akan kembali lagi ke Malang lantas mendapat panggung lebih luas dan korban perisakannya makin tidak berani berbicara. Entahlah... Tunggu saja yang lebih jahat dari si penyingkir itu bertindak dan baku hantam dengan si pembully atau tunggu ia terjerat jati diri aslinya sendiri. Kita tinggal tonton sambil menyiapkan banyak camilan, karena bukankah semua kejahatan itu berpola?

Friday, April 16, 2021

Gelisah

Beritahu aku, bagaimana caranya agar bisa berpihak tanpa mengisolasi diri...

Dunia ini abu-abu, pula aku. Namun pada kasus tertentu, hitam dan putihku jelas.

Jika aku tidak berbaur, mereka yang butuh ditarik tangannya bakal makin amblas. Mereka mengira yang berbaur, yang abu-abu, tandanya tidak berpihak.

Jika aku mengisolasi diri, mereka yang butuh ditarik tangannya tidak akan tahu mesti pergi kemana. Mereka mengira yang mengisolasi diri, yang hitam dan putihnya jelas meski tanpa diketahui, tandanya tidak pernah ada.

Di sini, pemahaman soal sangkan paraning dumadi diasah.

Friday, April 9, 2021

Validasi Maskulinitas dan Upaya Perempuan Menyatakan Perasaan

 

Sumber: Gugel


Ketika mahasiswa baru, sempat saya sering jalan bareng dan berdiskusi dengan seorang sahabat lelaki yang juga satu offering. Ia di masa itu pernah menceritakan bagaimana semasa MAN ada kakak kelasnya menyatakan perasaan terlebih dahulu hingga akhirnya mereka berpacaran. Masih kakak kelas itu juga yang memberi hadiah kitab suci ketika si sahabat ini berulang tahun. Dari mata si sahabat ini, ada sinar kebanggaan dan kepuasan yang berbeda meski ketika bercerita, status dengan kakak kelasnya itu sudah menjadi mantan. Batin saya waktu itu,"Ini ada yang ganjil, tapi apa ya?"

Perasaan ganjil yang belum mampu saya ungkap kala itu ternyata, soal perempuan yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Sinar mata sejenis itu belum pernah saya temukan dari teman perempuan yang mendapat pernyataan perasaan terlebih dahulu dari lelaki. Tapi mengapa demikian?

Di akhir kuliah, pernah juga saya mengobrol dengan teman lelaki yang ternyata satu SMP dengan yang namanya Andin. Saya, Andin dan lelaki ini pernah satu TK dan beda satu tingkat saja. Di antara obrolan kami, ia kemudian mengatakan bahwa Andin pernah suka dengannya semasa SMP. Lagi-lagi ada sinar mata penuh kebanggaan. Sinar mata itu, sama persis dengan sahabat lelaki yang saya ceritakan di awal tadi.

Sebaliknya, Andin justru sama sekali tidak pernah menyinggung soal menyukai kakak kelasnya di SMP. Kali terakhir kami berjumpa ketika pertengahan kuliah, ia justru menceritakan laki-laki lain yang tengah dekat dengannya. Saya menengarai, teman lelaki kami itu menganggap kejadian Andin yang suka dengannya sebagai kejadian monumental. Monumental karena baginya, perasaan Andin yang seorang perempuan ternyata bisa sangat kentara hingga banyak orang di SMP tahu. Sebaliknya Andin yang ternyata menganggap kisah demikian hanya soal hari yang telah lalu, hingga bahkan tidak menarik lagi diceritakan. Tapi bagaimana bisa?

Saya pun mundur pada waktu yang lebih panjang lagi, ketika SMK. Ibu pernah mengatakan perempuan tidak boleh menyatakan perasaan lebih dahulu. Hal yang tidak pernah saya amini ini bukan dilatarbelakangi cara ibu membedakan tugas lelaki dan perempuan. Semua ternyata bersumber dari kisah teman perempuannya sendiri semasa sekolah dulu. Teman ibu menyatakan cinta terlebih dahulu pada lelaki dan ditolak. Sayangnya, lelaki tadi malah mengumumkan nama teman ibu ke seantero sekolah sehingga temannya tadi kerap diejek beramai-ramai. Jika memang tidak menyukai seorang gadis dan merasa berhak menolak, mengapa ia merasa menang dan lagi merasa layak membikin malu? Teman ibu tidak mencuri kas kelas apalagi korupsi uang negara. Jadi bagaimana bisa?

Semakin bertambah usia, saya akhirnya pun memahami. Pengalaman buruk teman ibu ketika menyatakan perasaan terlebih dahulu bukan salahnya. Kesalahan juga bukan milik si lelaki dan anak-anak lain di sekolah yang merasa berhak menertawakan keputusan teman ibu. Keputusan yang barangkali jauh melebihi jamannya. Keputusan yang barangkali mudah dicap sebagai murahan. Tugas perempuan adalah menunggu dan tugas lelaki adalah memilih. Ah, ini dia. Ini dia konsep yang mencuci pemahaman dalam kepala hampir semua dari kita selama ini.

Konsep ini pula yang agaknya diwariskan generasi terdahulu dari sahabat hingga teman lelaki saya itu. Mereka pada akhirnya meyakini pesona mereka tentu luar biasa, hingga perempuan yang mereka yakini memiliki kodrat menunggu, sampai menunjukkan perasaannya terlebih dahulu. Ada piala yang seolah mereka dapat dari ini semua. Piala yang memberi validasi maskulinitas mereka, kelelakian mereka.

Meski sebetulnya, lelaki maupun perempuan, salah satunya juga tidak perlu diberi tepuk tangan berlebih apabila berani menyatakan perasaan lebih dahulu. Tidak perlu merendahkan, namun juga tidak perlu mengunggulkan berlebihan. Prosesi merendahkan atau memuji berlebihan bagi perempuan yang mengungkap perasaannya lebih dahulu misalnya, hanya akan membuat kukuh konsep soal perempuan menyatakan perasaannya lebih dahulu adalah eksklusif.

Dan benar, teman dan sahabat lelaki yang saya ceritakan di atas tadi pun sama-sama korban. Korban dari konsep turun temurun bahwa lelaki semestinya begini dan perempuan semestinya begitu. Upaya para lelaki ini untuk mencari validasi maskulinitas dengan perasaan menang dan mempermalukan, tidak begitu saja hadir dengan tiba-tiba...

Sunday, March 21, 2021

Masih hidup, oy...

Tenang, yang punya blog ini masih hidup.

Hanya saja... lagi masa transisi atas hal-hal yang nggak pernah dipelajari apalagi dihafal dari buku sebelumnya yaitu... Sangkan paraning dumadi.

Jadi...

Sampai jumpa lagi ya, setelah masa transisi ini selesai, setelah semua selubung ini purna pupaknya.

Sayang kalian!

Baik-baik...

Thursday, March 11, 2021

Malam Minggu Monster (MMM)


Sekali memejamkan mata, ia bisa mengeluarkan asap dari ubun-ubunnya. Tipis mula-mula, menebal pada berikutnya, membumbung ke langit-langit kos dan lama-lama membentuk tubuh, punggung, tangan, kaki dan wajah serupa dirinya, hanya saja lebih besar tiga kali lipat.

Jika sudah demikian, ia utus makhluk yang ia namai serupa nama bikinan ibu buat dirinya itu melayang keluar kamar. Makhluk itu menembus cucian-cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang berkibar di tiang jemuran malam-malam. Ia akan terus melayang melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portalnya lebih dahulu.

Jika sudah demikian, bisa dipastikan itu malam minggu. Malam di mana kembaran yang tiga kali lebih kecil darinya itu sebagian besar menolak ajakan kencan dari pacarnya yang satu kampus di pascasarsajana. Ada apel lain yang mesti kembarannya itu rutin lakukan, apel yang jauh lebih membikin panas dada, memercepat detak jantung dan bikin merinding permukaan kulit jika dibanding ketika kembarannya itu disodori susu lembut milik pacarnya.

Sudah 134 kilo meter makhluk itu terus melayang. Sesekali menembus badan-badan truk dengan plat B. Jika bosan, ia pula sengaja menggulung tubuh menjadi 160 cm, menumbuhkan susu dan rambut panjang lalu melipir ke pinggir jalan dengan rok kuning menyala yang sekadarnya menutupi paha.

Para sopir truk terang saja meleng. Mereka meleng bukannya karena tergoda paha terang si makhluk, namun mereka buru-buru teringat cerita antar sopir soal perempuan macam demikian yang muncul malam-malam dan ketika ditoleh sekali lagi malah menunjukkan mukanya yang hancur separuh juga taringnya yang besar-besar.

“Allah hyang maha agung!” jerit salah seorang dari sopir dengan plat B ketika melihat si makhluk. Berkali ia hanya menyebut nama Allahnya tanpa berani menoleh kembali ke arah si perempuan.

Dengan dengus kecewa, si makhluk kembali merenggangkan tubuhnya. Kembali ia jadi tiga kali lebih besar dari kembarannya yang tengah rebah di atas kasur kos. Perjalanan dilanjutkan hingga ia sampai di sebuah kecamatan berpenduduk padat di tengah kota itu. Satu-satunya rumah dengan atap bertuliskan PKK yang pudar itulah tujuannya. Ada seorang gadis yang tengah lelap di sana...

Dicekalnya tulang kaki gadis itu sesudah ia melayang dan menembus kamarnya. Gadis itu menjerit seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Jika sudah begitu, para tetangga mulai bergunjing, kakek dan neneknya mengeluh, juga ibu dan bapaknya yang berbisik ia hanya cari perhatian supaya tidak disuruh cari kerja selepas lulus. Hanya ada sesak di dada dan tulang yang dirasai gadis itu seolah remuk.

Berkali ia pingsan, berkali pula ia bangun. Matanya pun makin membengkak akibat air mata yang tidak lagi ia tahan-tahan. Napasnya hampir berhenti dan barulah rasa remuk di kakinya itu mereda. Makhluk itu melepas tulang kaki gadis itu begitu saja, melayang menembus dinding kamarnya menuju luar rumah, kembali menempuh jarak 134 kilo meter, melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portal. Tidak lupa ia menggulung diri, menyaru sebagai perempuan dengan rok kuning menyala dan menunjukkan wajah separuh rusak pada para sopir truk.

Kemudian makhluk itu merenggangkan tubuhnya, kembali melayang hingga atap kos kembarannya itu terlihat. Ia pun masuk halaman, menembus cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang kembali basah terkena embun malam lantas menemukan kembarannya tengah terlentang di kasur. Kembali masuk dalam ubun-ubun, ia tiga kali lipat mengecil. Tubuh, punggung, kaki dan wajah itu pun mengempis, asapnya juga makin menipis.

Perlahan, kembarannya itu membuka mata dan ia pun berbisik,”Aku sayang kamu. Malam minggu esok kita kencan lagi ya...”

nan eodum sogui Dancer
Aku adalah seorang penari dalam kegelapan

onmom ttukttuk kkeokkeo
Aku akan meregangkan seluruh tubuhku

chimdae gakkai galge
Aku akan pergi mendekati tempat tidurmu

musimusihage
Dengan begitu mengerikan

ne simjangeul humchyeo jibaehae
Aku akan mencuri hatimu dan mengendalikannya

hanaui jomyeong wae geurimjaneun duriya?
Hanya ada satu cahaya, tapi mengapa bayangannya ada dua?

nae soge dareun ge nuneul tteun geot gata
Aku merasa sesuatu yang lain di dalam diriku telah membuka matanya

I'm a little monster** nal geomnae

I’m a little monster, takutlah padaku


**Little Monster, Irene feat Seulgi

Tuesday, February 23, 2021

Hopeless Romantic VS Platonic

Sumber: Gugel

Tahun lalu, saya menerima sebuah kesadaran baru. Bahwa ternyata spektrum orientasi seksual saya hetero, namun ada  namun ada demiseksualnya** juga. Salah satu indikasinya, tanpa sadar saya menerapkan hubungan platonis pada siapa saja dan inilah sumber masalahnya...

Mula-mula sebuah email saya kirimkan pada yu Siti akhir tahun lalu. Saya jabarkan pemahaman-pemahaman baru ini. Saya tarik pula limpahan kekesalahan pada teman lawan jenis yang kerap tiba-tiba pergi tanpa sebab jelas. Ya, dulunya saya menggerutu soal mereka itu begini, kenapa berteman saja susah sekali sih mereka ini? Kalau memang ada rasa sekalipun, berteman aja terus tetap saling dukung. Susahnya di mana sih?

“Bukannya biasanya ada bedanya ya? Antara teman dan bukan?” salah satu balasan yu Siti lewat email.

Tidak. Nyatanya tidak ada beda sikap saya dengan siapa saja. Cinta saya adalah cinta pertemanan yang celakanya, saya betul tidak paham bagi mayoritas orang ini ganjil. Bagi orang-orang dominan hetero, tanpa status milik ternyata hal menyakitkan.

Hingga dalam kesadaran baru itu, saya menemukan jalan tengah. Saya tidak mungkin memaksa diri menerima ikatan-ikatan ala dominan hetero, pun mereka tidak mungkin memaksa diri menerima hubungan platonis ala aseksual. Jalan tengah ini hendak saya terapkan ketika kelak bertemu entah siapa lagi di depan sana.

Ternyata tanggal 10 Februari 2021, teman lama saya menelepon malam-malam. Kami terakhir berkirim WA 2019...

“Harapannya, kita pacaran serius...” ucapnya di tengah percakapan.

Teman saya ini mengakui, ia dulunya pergi karena merasa tidak mendapat apa yang dia mau. Kami sepakat saling membuka pintu dan berdecak, ini kenapa bisa waktunya pas?

Dia tetap seseorang yang saklek, apa-apa diekspresikan langsung, tidak takut dengan penolakan juga. Lebih jauh, benar dia seorang hopeless romantic, selama hampir sembilan tahun berjalan masing-masing dan makin tambah parah saja. Sedang saya pun tetap pla...

Kemudian tanggal 12 Februari 2021, saya ajukan sebuah proposal jalan tengah. Pernikahan adalah satu-satunya hubungan romantis yang terpikir mampu saya jalani, tidak dengan pacaran. Maka kami pun sepakat, tiga bulan komunikasi lalu istikharah adalah jalan paling adil.

Pada hari-hari berikutnya, saya mengenalinya sebagai seseorang yang penuh kata cinta, hangat dan bisa diandalkan. Dan pada hari-hari berikutnya ia mengenali saya yang ikatan-less.

“Aku pulang...” begitu kata si hopeless romantic ini beberapa kali.

Dia memang selalu begitu, menjelma jadi tokoh utama, mempercayai alam semesta sengaja memberikan pertemuan-pertemuan ajaib dalam sebuah kisah cinta. Mengibaratkan saya sebagai rumahnya secara sepihak yang ternyata berbalas...

“Seandainya aku katolik, aku mau jadi biarawati dan seandainya aku budha, aku mau jadi bikkuni.”

Menariknya, kami yang sekarang sama-sama mampu saling memahami. Saya yang tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia hopeless romantic dan dia tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia plantonic.

Kami pun bersepakat, kelak jika jawaban dari semua proses ini ternyata tidak; selanjutnya persaudaraan mesti terus dijalin. Sebaliknya jika jawabannya iya; kami ingin saling dukung, membina diri masing-masing meski sama tidak ingin menikah dalam waktu dekat.

Jadi... Makan es krim pinggir minimarket lagi yuk... Dan selamat 27 ya.


**Catatan:

Untuk spektrum orientasi seksual, masih dalam proses saya pelajari termasuk dengan melibatkan profesional. Hasil akurat belum didapatkan. 


Sabtu, 08 Mei 2021.

Ego kepemilikan memang bikin sulit untuk saling bertemu.

Wednesday, February 17, 2021

Patah Hati di Hadapan Seorang Nihilis

Sumber: Gugel


Saya selalu benci ketika dulu, ibu kerap membuat negasi ketika saya nampak sedih dan luka. Kata ibu, banyak di luar sana yang masalahnya lebih parah dan mestinya dan mestinya saya bersyukur.

Jadilah saya terbentuk tidak gemar bercerita pada ibu. Apapun saya cerna, atasi dan simpan sendiri. Butuh waktu lama hingga saya betulan bisa berkata pada ibu kalau ucapan demikian hanya menambah luka dan kalau orang yang ada di hadapan sedang depresi, dia bisa langsung berangkat bunuh diri.

Tapi toh ibu jelas bukan satu-satunya orang yang gemar melakukan negasi demikian. Bab ibu ini saya pungkasi dengan; orang-orang jenis ini tidak paham rentang waktu. Bahwa tidak ada masalah lebih berat atau lebih ringan bagi seseorang. Yang beda hanya soal waktu. Ketika si A mendapat beban luka 10 kg di usia 13 tahun, bisa jadi si B mendapat beban luka 23 kg di usia yang sama. Tapi lain waktu, bisa jadi beban yang 23 kg itu dialami juga oleh A kelak di usia 30 tahun.

Memahami ini bakal membuat kita tidak bakal terlalu percaya diri bicara,”Oh, kalau aku sudah ngalamin sih masalah kayak gitu jaman SMA...”

Lain ibu, lain pula abangnya seorang teman. Waktu si teman ini patah hati, abangnya itu berkata,”Maaf bilang gini ya. Berdasar dari pengalamanmu, kamu tuh nggak spesial. Bahkan orang lain di dunia ini bisa jadi masalahnya lebih buruk.”

Bau-bau nihilis...

Ya, dia emang

Aku dulu iya

Aku pikir dia nihilis, tapi percaya Tuhan

Meski hampir mengeluarkan kalimat nyaris serupa, ibu saya memang mengeluarkan kalimat itu karena sekali lagi, tidak memahami rentang waktu, sedang kakak si teman itu memang seorang nihilis yang semacam yawis manusia emang ya gitu-gitu aja. Kedua orang ini juga punya latar belakang perjalanan hidup yang berbeda meski mengeluarkan kalimat hampir serupa.

Meski saya dulunya sempat jadi nihilis dan hanya kesampaian berpikir manusia hidup atau tidak ya begitu saja, saya jadi membayangkan ucapan ibu saya dan abangnya si teman diterapkan pada penyintas kekerasan...

Oh, kamu kena sampai petting doang. Aku nih sampai fingering.

Ealah, kamu kena sama dijebak doang. Dia tuh sampai nggak bisa kabur.

Merinding.

Yang jelas, justru ketika berkali hampir mati saya malah melihat dengan terang... Kita, manusia berhak merasa punya rasa sakit yang paling berat pada satu waktu. Perasaan demikian tentu saja valid dan memang harus diakui. Namun pada waktu-waktu yang yang lain, setelah kita berhasil mengatasi rasa sakitnya... Bahkan dalam hati pun kita tidak berhak merasa lebih berjuang ketimbang orang lain. Hingga sebagai orang yang tidak paham rentang waktu, tidak akan ada ucapan macam ibu saya dan sebagai nihilis macam kakaknya si teman itu... Ya, tapi kalau nihilis memang gitu lah ya wqwq.

Bagian ini klise tapi percayalah, ceritamu berharga. Tidak ada pengalaman personal manusia yang sama persis satu sama lain...

Dah yes, yang berusaha sok berbeda dan rebel, dengan menegasikan pengalaman orang lain, melipir dulu setelah baca paragraf barusan. Karena kita yang menuduh orang lain membahas hal seragam, lebih jauh tanpa beda dengan yang lain, sesungguhnya akeh pisan kok tunggalanmu.


Sunday, February 14, 2021

Pertalian

Sumber: Nyolong foto Mavalda Junia Sahanah

Orang-orang barangkali heran soal bagaimana pola pikir Umbu Landu Paranggi yang berjalan belasan kilo demi melihat gadis yang ia suka naik bus Jogja-Malang. Umbu bahkan naik bus buat mengintil gadis itu, memastikannya selamat sampai Malang. Umbu tidak pernah melakukan pendekatan berarti hingga kelak gadis itu disaksikannya menikah dengan lelaki lain.

Kamu membaca kisah itu berkali-kali dan tetap tidak memahami bagaimana ada cinta yang rupanya demikian? Bukankah Umbu tidak betul berjuang? Sampah betul konsep mencintai dalam diam. Tapi apakah yang sebetulnya dinamai mencintai dalam diam? Hingga sebuah telepon masuk, dari pacar barumu. Kamu menutup browser yang berisi kisah Umbu, lantas memasang headset dan menekan tombol terima.

Pacarmu itu kelewat cerdas dan memiliki mata sipit yang manis. Inilah pacar yang kamu berhasil perjuangkan, begitu pikirmu. Meski seseorang seolah sedang tajam mengawasimu jauh di belakang pagar kampus. Hingga kamu pun menoleh ke arah belakang, mencari-cari asal tatapan itu dan kembali berkonsentrasi pada telepon ketika hanya mendapati kerumunan mahasiswa yang kamu tidak kenal-kenal amat berseliweran di sana.

Ia ada di sana sebetulnya, menyaru di antara keramaian. Ia yang bersamamu jauh sebelum kuliah, ia yang ucapan cintanya hanya pernah kamu perkirakan sebagai candaan. Selalu kamu ingat ia pula yang temannya sangat banyak dan ekspresi cintanya memang demikian, bukan pada kamu saja.

Tapi hari itu, ia gadis itu...

“Pacar dia baru lagi...” bisiknya sambil menyulut sebatang rokok dari saku almamater.

Siang itu sesungguhnya, si gadis hendak menyapamu dan menggandengmu ke kantin fakultas sastra. Namun ketika melihatmu menelepon seseorang dengan muka merah dan dialog-dialog manis, ia urung mengajakmu makan dan bahkan menyapa saja segan.

Sambil menghembus asap rokoknya ke udara, gadis itu melihat ke arah langit. Ia meraba ubun-ubunnya dan memandangimu yang tengah tertawa-tawa masih dengan headset terpasang di kuping. Mata gadis itu pun menyipit, dilihatnya sebuah tali kuning terhubung horizontal antara ubun-ubunnya dengan ubun-ubunmu.

Tali itu warnanya kian terang hari demi hari, semakin kalian bersama. Namun untuk menjadikan warna tali itu kuning cerah, gadis itu tahu akan butuh waktu lebih dari belasan tahun bersama. Sekali lagi, mata gadis itu menyipit, namun kini ganti memandang langit. Tali berwarna serupa berdiri vertikal di masing-masing kepala kalian, bedanya ia memiliki warna kuning cerah, warna masa depan yang kelak akan kalian raih pula di antara garis horizontal.

Gadis itu mengelus tengkuknya, melempar rokok yang tinggal separuh ke tanah lantas menginjaknya dengan sepatu baletnya yang berwarna coklat.

“Kalau memang menikah dengan yang lain dahulu lalu bercerai adalah jalanmu, baiklah.”

Sekali lagi, gadis itu merogoh rokok dari saku almamaternya. Ia pun kembali menyulutnya dan berjalan menjauhi lokasimu terbahak sambil menelepon.

Ada tali-tali beda warna dan saling terhubung di antara orang-orang yang melintas di sekitar gadis itu. Tali-tali itu saling bertindih hingga seperti jalinan benang tidak berarti yang rumit minta ampun. Namun si gadis selalu tahu, tali-tali yang saling terhubung itu tidak bisa dianggap sekadarnya saja.

Maka esok hari, ketika kamu tidak sedang menelepon pacarmu, gadis itu mendatangimu dan mengajakmu ke kantin fakultas sastra. Seperti biasa, ia rutin menawarimu rokok meski basa-basi saja dan selalu kamu menolaknya. Dan bagaimanapun kamu bertanya kemana kemarin ia pergi hingga tidak mengajakmu makan di kantin, gadis itu hanya tersenyum. Katanya sahabat baik selama belasan tahun, tapi bisa tega begitu tidak mengajak pergi ke kantin, demikian candamu.

“Pacarmu kabarnya gimana?” tanya gadis itu tiba-tiba, disusul wajahmu yang kini berubah menjadi merah.

Sepulang kuliah, kamu berencana mengajak sahabat baikmu itu mampir ke toko perhiasan, membeli cincin dari hasil kerjamu selama dua tahun.


Catatan:

15 Februari 2021

Akhir-akhir ini, saya bukannya mengalami kebuntuan menulis tapi justru mengalami kebuntuan bikin judul. Ya sudah, pokoknya ada judulnya aja begitu...

Ini nyolong foto Valda karena dia fans berat Umbu Landu.

***

Umbu Landu meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021.

***

Ketika awal ditulis, fiksi mini ini berjudul Enaknya Dikasih Judul Apa Hyunk?

Jumat, 17 Juni 2022 baru nemu judul Pertalian.

Monday, February 8, 2021

Ada Kasus Kekerasan Seksual, Aku Harus Apa?

 


Ada kasus kekerasan seksual...

Aku nggak ngerti psikologi...

Nggak ngerti hukum...

Bukan aktivis...

Nggak punya akses membantu...

Lalu aku harus gimana?

1.   Nggak usah menegasikan kasus



Kita nulis di media sosial isinya,’Kalau aku nggak ikut bahas yang lagi ramai ya.’

Kalau nggak mau ikut bahas, diam. Penyintas ada di sekitar kita dan cara menulis macam demikian hanya membuat mereka merasa kejadiannya nggak valid. Ada perasaan,’Temanku menganggap ini nggak penting, berarti akunya aja yang bawa perasaan.’

Yakinlah di sekitar kita ada penyintas. Penyintas ini bahkan bisa dari teman terdekat kita sendiri atau orang yang nggak kita duga-duga. Mereka sedang melihat keberpihakan kita dan berani bersuara tergantung dari itu semua.



2.   Kita berhubungan baik dengan pelaku? Rem dulu



Selagi belum ada kejelasan nasib penyintas, nggak usah tunjukkan kedekatan dengan pelaku. Misalnya habis ngopi bareng lalu bikin story atau membagika  karya tulis pelaku di media sosial kita.

Ingat, para penyintas ada di sekitar. Bisa jadi itu teman terdekat kita sendiri ataupun orang yang nggak diduga-duga.

Menunjukkan hubungan baik dengan pelaku sangat tidak strategis bagi kondisi psikologis penyintas. Penyintas akan berpikir,’Temanku berteman baik dengan pelaku, jadi aku nggak boleh ngomong daripada merusak pertemanan mereka.’ Atau,’Temanku ngopi dan promo karya pelaku, berarti dia ada di pihak pelaku.’



3.   Punya cukup keberanian? Mari, tunjukkan sikap...



Yang berat ini sih. Apalagi kalau pelaku punya hubungan baik dengan kita, lebih-lebih yang selama ini hubungannya merasa pakai simbiose. Jadi ini hanya bisa dilakukan untuk kita yang cukup punya keberanian, yaitu dengan membagikan kasus pelaku di media sosial.

Mau kasih caption atau pernyataan sikap tapi berat? Nggak usah pakai pun nggak mengapa, cukup bagikan. Demikian membuat penyintas percaya diri untuk bersuara semacam,’Oh, temanku membagikan kasus ini. Berarti dia percaya denganku.’

Mengutip Anindya Restuviani Holaback Jakarta via Asumsi.co...

“Percaya pada korban sebelum terbukti sebaliknya adalah kunci utama, bukan malah menuduh aduan tidak berdasar. Butuh waktu dan kekuatan yang besar bagi korban  untik mengungkap kejadian yang mereka alami.”



4.   Nggak punya kapasitas tapi kepo? Rem dulu...



Berapa banyak dari kita yang ketika kasus naik, malah kepo siapa yang menaikkan kasusnya dan siapa penyintasnya? Kalau ada perasaan seperti ini, tahan dulu. Apalagi tujuannya hanya kepo, tanpa kapasitas mendampingi secara psikologis maupun hukum.

Memangnya selain memenuhi rasa penasaran kita, hal apa sih yang dicari dari kepo-kepo begini? Kalau sudah tahu siapa yang menaikkan kasusnya lalu apa? Kalau sudah tahu profil penyintasnya lalu apa? Dijadikan bahan obrolan di tempat kita nongkrong supaya terlihat,’Aku lho yang paling tahu banyak informasi.’ Begitu?

Jadi hal apapun yang kita rasa nggak menyumbang pemulihan penyintas, baiknya direm dulu.


Catatan: Pernah diunggah di Instagram story dan feed, pertengahan 2020.

Wednesday, February 3, 2021

Perayaan Moral

 

Sumber: Gugel


Teman saya satu fakultas, Indri Winegal, dua hari lalu menceritakan pengalaman buruknya dengan seorang teman kos. Si teman ini menegur siapa saja anak kos yang keluar tanpa jilbab, di depan umum. Lebih jauh ia memarahi, bukan hanya menegur.

Indri tentu saja pernah kena. Ia kala itu membeli gorengan di depan kos, tanpa jilbab. Meski sekali lagi, dia bukan satu-satunya. Hingga entah bagaimana warga satu kos akhirnya tahu si ia ini punya foto ciuman dengan pacarnya, juga foto tidak berjilbab di tempat umum. Semua heboh dan hilang respek.

Kehebohan dan hilang respek itu berakhir dengan kalimat,”Kenapa sebagai sesama pendosa saling menghakimi?”

Namun saya justru menggarisbawahi bahwa teman Indri sesungguhnya adalah korban. Tapi bagaimana bisa?

2019 lalu, Celine mengobrol dengan saya soal temannya yang suka sekali berkomentar bahwa baju teman kami yang lain tidak sopan. Si teman lain ini adalah mbak-mbak berusia lebih tua, sama pintar dan produktif juga seperti yang berkomentar itu.

Sempat membatin sih saya, ini jangan-jangan yang memang nggak bermoral saya dan Celine. Jadinya waktu mbak tersebut pakai rok selutut dan baju tanpa lengan, ya menurut kami biasa saja. Meski teman-teman lain ternyata juga berpendapat sejenis tentang mbak tersebut. T... Tunggu, jangan-jangan moral kami yang bobrok berjamaah?

Padahal, Celine bilang banyak saksi soal temannya itu bertukar lidah dan permen dengan laki-laki di sembarang tempat tanpa peduli kenyamanan orang yang tidak punya kaitan dan ada di sekitarnya. Siapapun yang membaca tulisan ini barangkali akan membatin, dia aja begitu, terus kenapa pakai ngomen pakaian perempuan lain?

Komentar soal baju teman lain yang tidak sopan itu terus didengar Celine selagi masih diberi keakraban palsu dan dieksploitasi sepanjang 2018. Sedang setahun sebelumnya, teman Celine itu masih getol mendekati dan hendak mengeksploitasi saya. Ia saya ingat, sepanjang 2017 juga memberi komentar yang bertema moral tentang teman perempuan kami yang namanya Tiara...

Di depan saya, teman Celine kala itu mengomentari Tiara yang punya hubungan terbuka dengan pacarnya. Artinya, mereka berpacaran namun sama bebas berhubungan seksual dengan orang lain.

Mundur lagi setahun sebelumnya, 2016, si Tiara ini pernah juga mengomentari teman kami yang suka menulis fiksi bertema keperawanan. Ia terang-terangan penasaran apa si penulis betul mengalami yang katanya kehilangan keperawanan. Masih dengan terang-terangan, ia mengaku sedang mencari tahu. Ini belum soal si penulis itu ia katakan suntik putih setelah putus dengan pacarnya dan berubah jadi stylish sekali.

Tiara agaknya curiga, si penulis kehilangan sesuatu setelah berpacaran dengan lelaki yang waktu itu. Jadi setelahnya, si penulis dinilai Tiara move up habis-habisan.

Oh, tidak. Teman Celine dan Tiara bukan orang-orang tanpa akses belajar. Mereka justru kenal feminisme jauh sebelum saya. Malah temannya Celine yang meminjamkan buku soal feminisme dan Tiara yang memperkenalkan komunitas feminis kepada saya.

Tapi bagaimana bisa orang-orang yang memiliki akses pengetahuan soal feminisme justru menggunakan isu ketubuhan sesamanya untuk menjatuhkan?

Diakui atau tidak, teman Celine maupun Tiara adalah korban sekaligus pelaku patriarki. Secara teori mereka paham bahwa cara berpakaian, pula keperawanan dalam artian ‘utuhnya’ selaput dara, tidak boleh jadi indikator menilai moral seorang perempuan.

Kalau kamu tanya mereka tentang dua teori tadi, mereka akan menjawab lebih dari jelas soal kebiasaan menilai moral perempuan dari pakaian, bisa berujung kekerasan. Juga tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara...

Baik temannya Celine maupun Tiara, sesungguhnya kecewa dan tidak siap akan pilihan tentang ketubuhan mereka. Tubuh mereka menyenangi pilihan itu namun mental mereka sanksi. Meski mengetahui teorinya, mental mereka masih meyakini perempuan yang kontak fisik sebelum menikah artinya sudah tidak utuh sebagai manusia. Sebetulnya narasi ini jelas kita semua terima sepanjang hidup, semenjak kali pertama bisa mendengar. Bertebaran pula di keluarga, kerabat hingga masyarakat.

Teman Celine maupun Tiara, adalah korban narasi demikian hingga setelah keputusan atas ketubuhannya, mereka merasa tidak lagi utuh sebagai manusia meski sayangnya... Mereka pun kemudian menjadi pelaku. Kedua perempuan ini menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Yang demikian tentu tidak mengobati, meredam sementara saja iya.

Jadi apakah teman satu kosnya Indri mengalami hal serupa? Bisa jadi. Selama itu, ia menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Dan ya... Mereka semua yang ada di kos itu menjadi korbannya.

Sekarang pertanyaan kembali kepada kita. Jika menyoal ketubuhan kita semua ternyata korban patriarki, akankah kita juga menjadi pelaku? Keputusan apa yang akan kita ambil terhadap tubuh masing-masing? Dan kesiapan seperti apa yang menyertai?

Catatan tambahan 2025: salah satu nama yang ada dalam tulisan ini sengaja menghindari percakapan soal senior organisasinya yang pelaku KS. Penyebutan namanya bisa menjadi ofensif bagi korban. Namu tulisan ini tidak akan dihapus sebagai pengingat.