

![]() |
| Sumber: basabasi.co |
Dimuat di basabasi.co 14 Desember 2019
Judul : SILSILAH DUKA
Penulis : Dwi Ratih Ramadhany
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 134 hal
ISBN : 978-623-7290-21-6
Dibuka dengan adegan mengerikan Ramlah yang bunuh diri disaksikan putri pertamanya, Silsilah Duka seperti menagih untuk terus dibaca tanpa jeda. Meski tetap dengan gaya bahasa Ratih yang khas, novela ini tidak menyajikan tata bahasa yang berbunga-bunga dengan diksi-diksi cukup berat layaknya dalam buku keduanya, Pemilin Kematian (PSM, 2015).
Pemilin Kematian sendiri terdiri dari cerita pendek yang telah dimuat di koran nasional dan memenangkan perlombaan. Memang gaya menulis yang disajikan Ratih di sana bisa dibilang pekat beraroma cerpen koran atau cerpen ala kompetisi. Dan langkah Ratih yang tidak menghilangkan gaya bahasanya, namun memangkas diksi-diksi sukar seperti biasa ia menulis di media nasional, memberi dampak novela ini tetap berbobot namun tidak membuat pembaca terengah-engah.
Novela ini bisa juga dikatakan membawa pemahaman mengenai depresi pasca melahirkan yang tidak tekstual. Tokoh Mbuk Jatim misalnya, menjadi gambaran bahwa masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tidak primitif juga. Mbuk Jatim si dukun pijat bayi, mengerti psikologi dalam hal praktik. Ia memahami bagaimana seseorang mengalami depresi dan bagaimana sebab juga akibatnya, hanya saja ia kalah dalam penggunaan istilah sukar. Terlihat dari bagaimana Mbuk Jatim meyakinkan Farid yang sarjana dan pegawai, bahwa istrinya diliputi ketakutan hingga tekanan mental dan bukannya kesurupan apalagi kurang iman.
Lain dari Mbuk Jatim, tokoh Ebo’ yang juga tumbuh dalam tradisi masih dihinggapi mitos bahwa ciri-ciri seseorang yang histeris dan menangis adalah kesurupan dan bukannya gangguan kesehatan mental. Berbagai sebab di masa lalu, membuatnya terobsesi mengatur hidup orang lain, termasuk hidup anak-anak dan menantunya yang sudah masuk usia dewasa. Luka akibat kegagalan menata hidupnya sendiri, membuat Ebo’ tidak kunjung sembuh bahkan hingga memiliki cucu. Meski sebenarnya perempuan yang telah lama kehilangan suaminya itu tengah membuat mekanisme pertahanan hidup dengan berupaya ingin dianggap ada dan mampu menata hal-hal yang seharusnya. Lantas masih ia pula yang lari dari lukanya yang tidak kunjung sembuh, dengan membuat hidup orang lain terasa selalu salah. Jika hidup orang lain selalu salah, maka menjadi benarlah hidupnya. Tokoh mertua Ramlah dan ibu kandung Farid ini terasa sukses membuat pembaca ingin menjambak habis rambutnya tepat pada omelannya yang ketiga kali.
Salah satu omelan Ebo’ ketika memaksa menantunya pijat tradisional meski kesakitan, begini isinya,“Ramlah nggak akan mati karena dipijat begitu. Kamu berani bilang Ebo’ serakah? Lupa kamu keluarnya dari tampuk siapa? Ini lagi menantu suka ngadu. Masih untung Farid nggak saya suruh kawin lagi.” (hal 20)
Farid sebagai seorang suami juga sebenarnya sudah memegang prinsip “hamil berdua”. Istilah ini belakangan populer untuk menyebut suami yang turut andil ketika istrinya hamil hingga merawat anak. Berasal dari masyarakat yang penuh tradisi, tidak membuat Farid membedakan “pekerjaan lelaki” dan “pekerjaan perempuan”. Hal ini seperti menggugat anggapan sebagian orang bahwa pria lokal tidak berpikiran terbuka sehingga enggan melakukan pekerjaan rumah juga punya andil mengurus dan mendidik anak-anak. Masih Farid pula, yang melakukan prinsip “hamil berdua” tanpa teori yang melangit. Dia mencintai Ramlah, istrinya itu, dan melakukan segala hal yang sepakat mereka sebut sebagai sama-sama nyaman.
Lingkungan Ramlah pun sesungguhnya sudah sangat ideal, ya jika saja Ebo’ tidak bersikap sedemikian ajaib begitu. Selain suaminya yang menerapkan “hamil berdua”, masih ada Kholila, iparnya yang lajang dan mahasiswi tingkat akhir, mendukung kehamilannya dengan cara mengirim tips-tips selagi hamil dan melahirkan dari YouTube. Diam-diam melalui novela ini, kita juga bisa belajar sikap mana yang tepat dan tidak tepat ketika menghadapi orang hamil, lagi-lagi tidak secara tekstual dan di luar teori-teori berat. Pula bagaimana kita turut andil menciptakan lingkungan yang positif bagi seseorang yang tengah hamil.
Selain menunjukkan penguasaan yang cukup baik mengenai isu depresi setelah melahirkan, Ratih juga ternyata menguasai psikologi anak. Persoalan psikologi anak dilebur secara apik dalam dialog dan gaya penceritaan. Bahaya pelabelan bagi anak menjadi salah satu yang paling menonjol dalam cerita. Ratih tidak mendikte pembaca dengan kalimat teoretis semacam, bahaya pelabelan bagi anak adalah dan contoh-contohnya adalah. Dalam perkara pelabelan ini, Ratih justru menceritakannya melalui Mangsen yang entah bagaimana berkulit jelaga dan beda sekali dengan anggota keluarga lainnya.
Secara apik Ratih menggambarkan anak-anak sebaya yang enggan bermain dengan Mangsen karena dianggap aneh. Konsep aneh ini ternyata tidak didapat sendiri oleh anak-anak tersebut. Mereka mendapatkannya dari orang dewasa di sekitar. Figur orang dewasa yang dianggap serba tahu dan maha benar oleh anak-anak, membuat mereka membenarkan label soal Mangsen yang sengaja ditularkan. Pada akhirnya, berdasar label tersebut, anak-anak ini merasa sah saja menjauhi Mangsen yang berbeda. Toh, ini peraturan tidak tertulis dari para orang dewasa bukan?
Persoalan warisan label tersebut, tergambar dalam salah satu paragraf di halaman 74. Begini isinya; mereka enggan mengajak Mangsen bergabung karena telah dibekali peringatan orang tua masing-masing bahwa Mangsen tidaklah cocok menjadi teman mereka. Kulitnya berbeda. Ayah dan ibunya pasti berbuat banyak dosa. Jangan dekat-dekat supaya tidak ikut celaka.
Sayangnya, pada dua bab terakhir, Ratih terasa terburu-buru dan banyak menyajikan jalan cerita yang berulang telah disajikan terlebih dahulu dalam karya fiksi sejenis. Pijakan kuat dari bab-bab sebelumnya seolah lumayan bergoyang pada dua bab terakhir ini. Bahkan ada adegan-adegan yang mirip sinetron kejar tayang. Meski demikian, salah satu seri novela dari kompetisi penerbit Basabasi ini, bisa dibilang memberi edukasi soal pendidikan keluarga terhadap pembaca melalui cerita kelam yang di luar nalar. Silsilah Duka tetap layak mendapat tepuk tangan dan semoga, makin banyak penulis serupa Ratih yang tidak hanya menjual cerita kelam namun juga nilai-nilai yang dekat bila dipraktikkan dalam keseharian.
![]() |
| Sumber: Gugel |
Kita mendaku anti feminis, RUU PKS bagi kita pro zina.
Kemudian ada kasus kekerasan seksual di depan mata dan kita katakan,”Alah, biar
tuh para feminis egonya dikoyak-koyak!”
Kita mendaku relijius, LGBTQ bagi kita sesat. Kemudian
ada kasus waria dibakar tanpa sebab dan kita katakan,”Alah, udah azabnya. Siapa
suruh menyalahi aturan Tuhan!”
Kita mendaku pluralis, bagi kita NKRI harga mati.
Kemudian ada fakta Palestina menerus dijajah Israel dan kita katakan,”Alah,
yang teriak-teriak free Palestine memang udah kasih makan tetangganya?!”
Kata kuncinya adalah, ketika ada sebuah kasus yang
biasanya disuarakan mereka yang bertentangan dengan keyakinan atau ideologi
kita, itu kitanya tuh nggak fokus berempati atau membahas tragedi
kemanusiaannya. Malah nih, kita fokus menyerang ideologi atau keyakinan yang
berseberangan tadi.
Fasis itu yang gimandos sey? Fanatik... Fanatik...
Fanatik itu bukan hanya agama lho.
Yang merasa feminis, pluralis, sosialis dan lis-lis-an
lainnya coba cek dulu dan jangan keburu merasa paling tercerahkan, apalagi
sampai anggap fanatik tuh hanya identik dengan agama 🙅
Karena kalau kita merasa udah paling lis-lis-an, tapi masih bersikap macam paragraf sebelum-sebelumnya akika bahas tuh, ya jadinya sama aja. Fanatik-fanatik juga... Fasis-fasis juga...
Heuh 🤦
Jadi, sudah fasis berapa kali hari ini?
![]() |
| Sumber: Gugel |
Agustus 2020
lalu, Gofar Hilman menjadi olok-olok di Twitter setelah mempromosikan UU Cipta
Kerja. Ada yang mengolok idealisme yang selama ini ia tunjukkan hancur setelah
butuh uang, hingga mengolok ideologi punk yang katanya ia usung. Gofar Hilman
pun memohon maaf dan mengaku tawaran tersebut ia terima murni karena
ketidaktelitian.
Apa saya
ikut mengolok Gofar Hilman? Ya, gimana ya. Mau mengolok sungkan juga karena faktanya,
pernah juga saya nggak teliti menyeleksi sebuah tawaran.
Jadi seorang
teman mengajak saya mengisi acara di Malang kota 2019 lalu. Temanya soal
perempuan, dua pengisi acara yang lain pun tenaga profesional yang tidak tergabung
dalam organisasi berbau politik mana pun. Satu orang model sekaligus make up
artis, sedang satu lagi personal trainer sekaligus pakar public
speaking. Si personal trainer ini lebih dahulu saya ketahui sepak
terjangnya, posisi kampus kami juga dekat.
Sosial media
komunitas tersebut kemudian mengikuti akun saya dan jumlahnya dua; pertama,
markas komunitas dan kedua, komunitas itu sendiri. Ketika saya klik akun sosial
media mereka ya... memang komunitas tersebut sering mengadakan acara
pengembangan diri dan markasnya di sebuah tempat makan cepat saji. Dari
dokumentasinya pun, personal trainer yang sudah lebih dahulu saya
ketahui sepak terjangnya itu ternyata sering mengisi acara di sana.
Tapi ketika
poster sudah perjalanan dibuat, teman saya yang menawari itu WA lagi. Isinya
ternyata laporan keuangan komunitas tersebut dan sebuah pesan permintaan maaf
jika lokasi acara komunitas itu ternyata milik orang partai. Teman saya ini
memeringkatkan kalau mungkin di sana bakal ada bau-bau kegiatan politiknya.
Tapi ya sudah deh, saya sudah terlanjur mengiyakan dan memang berniat cari
pengalaman baru apapun bentuknya itu.
Mau tahu isi
laporan keuangannya? Yang paling saya ingat sih, setiap pemateri mendapat
alokasi seratus lima puluh ribu untuk souvenir. Lalu peserta dikenakan tiket
dua puluh ribu per orang. Pokoknya total biaya dari pengadaan acara itu sampai
jutaan.
Singkat
cerita, acara berlangsung. Ternyata pemilik markas dan komunitas adalah
perempuan berusia lima puluhan, sebaya ibu saya. Malam itu, ia memakai dress
putih, celana tiga per empat dan sepatu kets sewarna, kostum yang seolah
menegaskan, ini lho saya yang paling ngerti milenial. Sempat juga ia
turut berbicara di akhir acara, meski nggak ada ucapannya yang ada bau-bau
partai. Saat itu dia hanya mengulas materi acara dari awal hingga akhir.
Ya, usai
acara juga si ibu partai ini tanya nama pengguna sosial media para pemateri dan
mengikuti akun kami. Sesama pemateri pun saling bertukar nama pengguna dan
mengikuti sosial media masing-masing.
Eh, lha tapi
ternyata kami dapatnya ucapan terimakasih dan menu makanan paling murah di
lokasi acara yang tempat makan cepat saji itu. Nggak ada sertifikat, uang
transport apalagi. Sudah begitu, sehari setelah acara, ada teman dari Gusdurian
WA saya. Anak ini dikenal suka bisnis memang, jadi jika ada seminar-seminar
dari lembaga tertentu begitu dia seksi cari-cari peserta. Jadi, nggak heran
lingkaran pertemanan si teman ini sampai ke orang-orang parpol juga.
Yang bikin
nggak nyaman itu ya, foto kami mengisi acara ternyata dipakai dan disebar untuk
kampanye kemana-mana dan teman saya ini yang bilang. Tjuy, bayangkan... Kamu mula-mula
mengira hendak mengisi acara di komunitas belajar biasa, kemudian justru tahu
isi laporan keuangannya, tapi datang hanya diberi menu termurah lalu fotomu
disebar untuk pencalonan ibu tersebut jadi caleg. Partainya? Ternyata betulan
partai yang konsepnya ‘anak muda’ banget itu.
Bahkan anak
HMJ kampus dan unit aktivitas lebih menghargai tenaga manusia meski nggak punya
dana. Mereka dengan terus terang akan bilang tema dan sasaran acaranya apa dan
siapa. Mereka pula yang terang-terangan bilang nggak ada dana untuk transport
tapi masih berusaha memberi hidangan terbaik dalam bentuk kue dan minuman, juga
sertifikat yang dibingkai cantik. Bukan soal harganya ya tjuy, tapi kejujuran
dan menghargai tenaga sesama manusia itu lho.
Saya masih
bersyukur, oleh si pembuat poster yang entah siapa itu nama saya hanya ditulis
blogger dan satu lagi predikat, pokoknya bukan Gusdurian. Lha, kalau ditulis
Gusdurian ya menangis dong saya. Gusdurian nggak boleh ikut politik praktis.
Ya, memang saya nggak ikut, tapi mengisi acara yang ternyata ditujukan untuk
politik praktis kan jadinya saudaraan.
Lalu kabar
baiknya, ibu tersebut gagal di pencalegan. Di Instagramnya, beliau mengunggah
foto surat pengunduran dirinya dengan caption yang intinya marah karena
partai sudah nggak bisa mewadahi idealismenya. Hehe... Iya, idealismenya.
Setelahnya, saya
putuskan unfollow dua akun komunitasnya. Selanjutnya, agaknya saya juga bakal
unfollow akun ibu tersebut. Seram juga soalnya, jika terus berhubungan
dengan orang-orang yang mau keuntungan sebanyak mungkin dengan modal sedikit
mungkin, nggak jujur pula.
Khawatirnya juga, kejadian saya mengira komunitas tersebut kredibel gara-gara melihat si anak kampus sebelah terlihat bergiat di sana, terjadi juga pada teman-teman yang lain. Bisa jadi teman-teman mengira komunitas tersebut kredibel karena melihat profil saya yang selama ini hanya dekat dengan komunitas non profit kok ternyata pernah mengisi acara di sana, bahkan saling follow juga.
Ya gimana
ya, mau hujat Gofar Hilman juga saya sendiri punya dosa. Bedanya, bung Gofar
sejak awal kesepakatannya kegiatan bisnis, sedang saya dan teman-teman yang
terjebak komunitas ibu partai tersebut kesepakatannya kegiatan sosial. Tapi
tidak ada salahnya juga sama-sama lebih teliti di hari berikutnya.
Doa saya hingga
hari ini hanya satu, semoga ibu tersebut bisa menemukan partai baru yang sesuai
dengan idealismenya.
Ehe.
*Ditulis bulan September 2020, lalu lupa upload.
Jadi mikir untuk mulai foto dengan orang-orang lintas parpol lalu diunggah di tulisan ini buat koleksi. Bolehlah ini jadi capaian hidup.
Catatan:
Beberapa waktu setelah tulisan ini diunggah, salah satu publik figur yang disebut dalam tulisan ini viral di Twitter sebagai pelaku kekerasan seksual. Tulisan ini tidak akan dihapus karena sebagai pengingat.
![]() |
| Sumber: Gugel |
Ramah dan bersahabat, itulah kesan pertama yang saya dapat ketika 2016 kali pertama bersalaman dengan si pembully itu. Dia sudah lulus kuliah sedang saya baru selesai seminar proposal, kami seangkatan, hanya saja saya yang telat lulus karena masalah kesehatan. Jika fisik kami digambarkan dalam pertemuan hari itu, ia memiliki berat 10 kilo di bawah indeks massa tubuh, sebaliknya saya yang 10 kilo di atas indeks massa tubuh. Sedang kulit kami sama terang.
Di hari-hari berikutnya, kami masih sering bertemu di
warung kopi yang sama bahkan tergabung dalam komunitas serupa. Ia aktif datang
sebagai moderator maupun audien, sedang saya yang menjadi audien dan
kontributor tulisan.
“Aku tuh pengin punya lengan kayak kamu, seger
gitu...” katanya ramah, sambil memegang lengan saya yang gemuk dan segera
setelahnya, ganti memegang lengannya.
Ucapannya kali itu lebih terasa sebagai upaya membesarkan
hati, tidak ada body shaming sama sekali. Pancaran mata si pembully itu
pun hangat, selaras dengan kampanye body positivity yang kerap ia
gencarkan di media sosialnya. Bahwa ia, betulan menganggap gemuk bukan masalah
jika diterima.
Dari satu komunitas, kami selanjutnya masuk dalam
komunitas yang satu lagi. Kali ini bukan lagi komunitas literasi, namun
komunitas feminis. Dua komunitas ini masih satu atap dan yang membuat saya
masuk adalah si pembully ini, mempertemukan pula dengan banyak teman lainnya,
lintas kampus.
Di hari-hari berikutnya, si pembully ini tetap hangat,
bahkan pernah punya rencana mengunjungi rumah saya. Ia bahkan membagikan tulisan
saya di grup. Sebuah tulisan yang dimuat di website feminis yang hari itu
dianggap prestisius. Meski lupa persisnya, ia jelas menyertakan kalimat
kebanggan terhadap saya. Ia melakukan hal serupa pula di story WAnya.
Beberapa teman menyahut, mengucap selamat dan kalimat
berbau kebanggaan sejenis. Dari semua itu, semestinya cukup untuk meyakini si
pembully itu teman yang baik. Ia seorang feminis yang betul menerapkan women
support women. Hingga saya mulai dekat dengan lebih banyak teman dalam
komunitas tersebut dan mendapati konflik antara si pembully ini dengan satu
teman fakultasnya sebut saja Maia.
Maia ini dua tingkat lebih muda dari si pembully di
kampus. Diakui Maia, orang yang mengenalkannya pada feminisme adalah si
pembully, bahkan mengajarinya metode penelitian. Seolah, Maia ini ‘dipungut’
lalu dididik si pembully ini. Jika digambarkan secara fisik, Maia memiliki
berat badan pas dengan indeks massa tubuh, wajahnya pula standar industri,
sedang si pembully wajahnya standar industri ketika menggunakan make up.
Keganjilan mulai terasa ketika di grup WA, adik
tingkat Maia membagikan sebuah acara gerakan perempuan. Ada foto di mana ia dan
Maia berada di sana. Kalimat yang menyertai foto pun berupa ajakan jika
teman-teman di grup ingin bergabung, maka dipersilakan. Sayangnya, sekutu si
pembully sebut saja mbak Anggun, justru memojokkan adik tingkat Maia. Meski
tidak dapat mengetik ulang bagaimana persisnya kalimat mereka karena
kejadiannya sudah 2017, siapapun jelas bisa menangkap si adik tingkat ini
dipojokkan sesungguhnya karena ia dianggap sekutu Maia dan bukannya karena si
adik ini dianggap mengunggah kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan
komunitas.
Melihat si adik tingkat dipojokkan dan makin mundur
agaknya karena bingung dan merasa sungkan soal usia, saya pun akhirnya
turut berkomentar. Saya menyatakan bahwa, kalimat yang dipermasalahkan justru
ajakan yang terkait dengan pengembangan komunitas. Tidak layak si adik tingkat
dirisak sedemikian rupa untuk hal yang salah saja tidak.
Hingga mbak Anggun berhenti menyalahkan si adik
tingkat di grup WA, konflik ternyata tidak tuntas. Si adik tingkat mengirim
pesan pribadi kepada saya, menyatakan sangsi atas tindakannya sendiri. Jangan-jangan
betul ia salah seperti kata mbak Anggun, namun saya yakinkan ia tidak salah dan
mbak Anggun sedang gaslighting saja.
Setelahnya, barulah masalah Maia dan si pembully mulai
terungkap. Si pembully ternyata kerap merisak Maia setelah ia mengetahui,
jejaring Maia di dunia feminisme jauh lebih banyak dan cepat. Masih Maia yang
bahkan menjadi pendamping penyintas di sebuah LSM yang tidak dijangkau si
pembully. Dua di antara bentuk perisakan itu antara lain, meninggalkan Maia
ketika hendak pergi ke Jakarta. Padahal proposal hingga mendapat pendanaan
sebelum acara, semua Maia yang mencari. Ia betul-betul tidak diberitahu kapan
kereta berangkat dan setelah diprotes, si pembully sambil menangis berjanji
tidak akan mengulangi perbuatannya dan menyatakan sangat menyesal. Tentu
kalimat barusan terus diulang ketika ia melakukan hal serupa dan Maia melakukan
protes yang sama.
Sebelum Maia betul-betul pergi, hasil kerjanya pernah
juga diakui si pembully dan mbak Anggun, sekutunya. Jadi komunitas membuat
acara dengan tema penelitian dan feminisme. Konsep acara, semua Maia yang membuatnya
sedang ketika hari H, ia ditinggalkan. Bahkan yang masuk media dan diwawancara,
justru si pembully dan mbak Anggun. Pada berikutnya, Maia keluar dari grup WA
dan betul keluar dari komunitas. Praktik penyingkiran oleh si pembully dan para
sekutunya berhasil.
Awal 2018, seorang teman menyatakan si pembully, mbak
Anggun dan satu lagi sekutunya yang seorang lelaki, membicarakan Maia. Sambil
tertawa-tawa, mereka katakan Maia layaknya dibikinkan pangggung membaca tulisan
secara erotis sampai orgasme. Si lelaki itu sendiri ada di komunitas literasi
dan feminis yang sama dengan si pembully dan mbak Anggun. Serupa dengan mereka
berdua, si lelaki ini gemar berdagang isu kemanusiaan ketika tampil di
panggung.
Masih di awal tahun 2018, saya berjumpa dengan si
pembully dan mbak Anggun ketika Haul Gus Dur di gedung kesenian. Dengan senyum
mengejek, si pembully memanggil saya dan di hadapan mbak Anggun ia
katakan,”Sorry, ya. Bukannya aku body shaming, tapi kamu emang makin gemuk.”
Disusul tatapan puas dan tawa keduanya.
Dari situ saya memahami, kebaikan si pembully terhadap
saya sebelum 2018 ternyata grooming saja alias kedok dari kejahatannya.
Bagaimana ia mendukung saya menulis, mendukung penerimaan tubuh hingga
merangkul dengan ramah ketika 2017 berjumpa di sebuah acara buku, ternyata kedok,
semuanya kedok. Yang bisa jadi ketika tidak pernah terang-terangan memihak Maia
dan siapapun yang dianggap temannya, saya tidak akan percaya bagaimana ia
dirisak sedemikian rupa. Semacam, nggak mungkin deh dia gitu. Ke aku aja
baik kok...
Toh, kita memang kerap tidak percaya seseorang
melakukan kejahatan ketika pelakunya tidak melakukan serupa terhadap kita. Kita
kerap melakukan negasi atas pengalaman orang lain jika tidak mengalami yang
serupa. Dan selamat, di situlah kita menjadi alat grooming bagi para
pelaku kejahatan, entah itu seorang tukang merisak maupun predator seksual.
Namun semenjak kejadian adik tingkat Maia yang dirisak
di grup hingga meragukan dirinya sendiri, saya memang melihat kejadian itu
sebagai sebuah data. Sekalipun tidak mengalaminya sendiri, jika ada fakta di
depan mata kenapa harus membuat negasi? Apalagi jelas si adik tingkat ini tidak
melakukan kesalahan.
Data itu ternyata bertambah ketika Maia dijadikan
guyonan seksual dan saya sebagai yang nampak keberpihakannya kena body
shaming. Jadi si pembully tidak bisa menemukan argumen yang masuk akal untuk
melawan keberpihakan saya terhadap ‘musuhnya’, satu-satunya hal yang dianggap
kekurangan hanya berat badan, apalagi dia tahu saya tidak bisa disentuh soal
itu. Bagi yang kerap membaca tulisan saya soal persepsi tubuh di blog, tentu
tahu apa sebabnya.
Keterbukaan saya soal kasus Maia, adik tingkatnya dan
diri saya sendiri ternyata membawa pada data yang lain. Pertengahan 2018, adik
tingkat saya di UKM akhirnya bercerita bahwa selama SMA, ia ternyata dirisak
oleh si pembully! Saya tentu kaget dan menyesal. Menahun saya bareng si adik ini,
bahkan pernah di tahun 2017 di sebuah acara buku, kami satu meja dengan si
pembully dan ia belakangan baru mengaku takut sekali hari itu. Sayangnya, saya
betul tidak mendeteksi semuanya. Adik tingkat ini tidak berani bercerita karena
takut hubungan saya dengan si pembully rusak dan lagi, ia sering sangsi soal
pengalamannya. Apalagi, si pembully tiba-tiba bersikap ramah terhadapnya dan di
media sosial, ia kerap berbagi seputar feminisme.
“Aku kira dia udah berubah, Mbak. Dia positif banget
di Instagramnya, suka berbagi soal feminisme juga.” Ucap adik UKM.
Jadi jika Maia dianggap mengungguli si pembully dalam
karir aktivisme, adik tingkat saya itu dianggap merebut laki-laki yang
disukainya selama SMA. Bentuk perisakan itu salah satunya menyoraki si adik
tingkat yang tengah berolahraga di lapangan sekolah. Hanya karena tubuhnya
dianggap sedikit berisi, meski jauh untuk dikatakan gemuk, dijadikannya itu
bahan merisak oleh si pembully. Bersama teman-temannya, ia mengomentari tubuh
adik tingkat tadi beramai-ramai.
Jika digambarkan secara fisik, adik tingkat ini berat
badannya pas dengan indeks massa tubuh dan wajahnya standar industri. Semasa
sekolah, akademisnya juga sangat baik. Jadi selain tubuh yang dianggap tidak
sekurus si pembully, ia tidak punya bahan merisak lain. Apalagi lelaki yang
disukainya itu ternyata memilih si adik tingkat.
Data masih terus bertambah, ketika seorang teman
lelaki yang semasa SMA ternyata satu angkatan dengan si pembully, ternyata
pernah dimusuhi teman-temannya sendiri. Si pembully menebar cerita bahwa
pacar-pacar standar industri yang didapat teman kami ini hasil dari pelet.
Semua hanya karena teman kami ini dianggap wajahnya tidak standar industri,
jadi mustahil mendapat pacar yang dianggap unggul secara fisik. Padahal siapapun
yang mengenalnya di komunitas tahu, bagaimana ia jago membikin puisi,
musikalisasi hingga menggombal. Ia juga kreatif dan pintar, nyambung diajak
mengobrol. Perempuan menyenanginya? Tidak heran. Ia juga teman yang bisa diajak
saling dukung. Apa benar nilai teman kami ini sekadar kulit dan dagingnya?
Entah berapa banyak lagi korban dari si pembully ini
sebetulnya. Korban yang sangsi hendak bicara karena imej yang ia bangun. Bahkan
pernah, saya satu panggung dengan teman satu jurusannya di kampus dan si teman
ini nampak kagum sekali dengannya. Saya pilih pura-pura tidak mengenal si
pembully, ketimbang fakta-fakta yang penggemarnya belum perlu tahu itu bocor.
Kalaupun kelak ia mengetahui fakta-fakta tersebut, biarlah dengan tangannya
sendiri.
Si penggemar ini pintar dan fisiknya standar industri.
Tapi bagaimana bisa ia diperlakukan baik oleh si pembully bahkan seolah
dibimbing? Semua ternyata karena ia bergerak di bidang public speaking,
bidang yang tidak serupa dengan si pembully. Jadi sekalipun ia pintar dan
standar industri, tidak bakal tuh dianggap ancaman. Sebaliknya saya yang bukan
ancaman di dunia aktivismenya, akibat berat badan juga tidak dianggap punya
fisik standar industri, namun berpihak pada yang dianggapnya ‘musuh’, jadilah
bagi si pembully, saya layak balas diusik.
Hari ini, si pembully tetap berjualan konsep persepsi
tubuh positif di depan orang-orang, ini masih ditambah berdagang konsep
psikologi klinis sesuai jurusannya di S2. Dengan getol ia juga menyuarakan pentingnya
pola asuh yang baik.
Pernah seorang teman bertemu dengannya di MATOS tahun
2018 dan ia tanyakan kabar Maia. Teman kami menjawab, Maia masih berkonsentrasi
dengan anaknya yang masih bayi. Disaksikan si teman tadi, si pembully
mengangkat sebelah bibirnya, spontan tersenyum puas mendengar ‘musuhnya’ dianggap hidup
tidak lebih baik darinya yang sudah mendapat beasiswa S2.
Si pembully sendiri sempat terusir dari komunitas
karena disingkirkan teman perempuan lain yang sama-sama-sama sindrom ratu lebah
dengannya. Bahkan si penyingkir ini dengan bangga menyatakan, si pembully ketakutan
waktu jumpa dengannya. Ini belum lagi masalah dengan mbak Anggun dan sekutu
lelakinya itu. Setelah terlempar dari lingkaran lamanya, si pembully pun
kemudian mengambil psikologi klinis di provinsi lain ketika lolos beasiswa S2,
dengan tetap berusaha meninggalkan komentar mendukung di sosial media Maia
maupun adik UKM saya.
Ini semua bukan FTV sinema pintu taubat di mana
pembully hidupnya blangsak dalam waktu singkat. Pada nyatanya, si pembully
tetap melanjutkan hidupnya, menjadi pembicara di mana-mana dengan tema
kesehatan mental. Sedang Maia melanjutkan studinya ke benua lain tahun 2019 dan
adik UKM menikah dengan lelaki yang ia cintai tahun 2020.
Ada kemungkinan ketika ganti kejahatan teman perempuan yang menyingkirkannya terungkap dan sisi-sisi si pembully sebagai korban diangkat, ia akan kembali lagi ke Malang lantas mendapat panggung lebih luas dan korban perisakannya makin tidak berani berbicara. Entahlah... Tunggu saja yang lebih jahat dari si penyingkir itu bertindak dan baku hantam dengan si pembully atau tunggu ia terjerat jati diri aslinya sendiri. Kita tinggal tonton sambil menyiapkan banyak camilan, karena bukankah semua kejahatan itu berpola?
Beritahu aku, bagaimana
caranya agar bisa berpihak tanpa mengisolasi diri...
Dunia ini abu-abu, pula
aku. Namun pada kasus tertentu, hitam dan putihku jelas.
Jika aku tidak berbaur,
mereka yang butuh ditarik tangannya bakal makin amblas. Mereka mengira yang
berbaur, yang abu-abu, tandanya tidak berpihak.
Jika aku mengisolasi
diri, mereka yang butuh ditarik tangannya tidak akan tahu mesti pergi kemana.
Mereka mengira yang mengisolasi diri, yang hitam dan putihnya jelas meski tanpa
diketahui, tandanya tidak pernah ada.
Di sini, pemahaman soal sangkan paraning dumadi diasah.
![]() |
| Sumber: Gugel |
Ketika
mahasiswa baru, sempat saya sering jalan bareng dan berdiskusi dengan seorang sahabat
lelaki yang juga satu offering. Ia di masa itu pernah menceritakan bagaimana semasa MAN ada kakak kelasnya menyatakan perasaan terlebih dahulu hingga akhirnya mereka berpacaran. Masih kakak kelas itu juga yang memberi hadiah kitab suci ketika si sahabat ini berulang tahun. Dari mata si sahabat ini, ada sinar kebanggaan dan kepuasan yang berbeda meski ketika bercerita, status dengan kakak kelasnya itu sudah menjadi mantan. Batin saya waktu itu,"Ini ada yang ganjil, tapi apa ya?"
Perasaan ganjil yang belum mampu saya ungkap kala itu ternyata, soal perempuan yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Sinar mata sejenis itu belum pernah saya temukan dari teman perempuan yang mendapat pernyataan perasaan terlebih dahulu dari lelaki. Tapi mengapa demikian?
Di akhir kuliah, pernah juga saya mengobrol dengan teman lelaki yang ternyata satu SMP dengan yang namanya Andin. Saya, Andin dan lelaki ini pernah satu TK dan beda satu tingkat saja. Di antara obrolan kami, ia kemudian mengatakan bahwa Andin pernah suka dengannya semasa SMP. Lagi-lagi ada sinar mata penuh kebanggaan. Sinar mata itu, sama persis dengan sahabat lelaki yang saya ceritakan di awal tadi.
Sebaliknya, Andin justru sama sekali tidak pernah menyinggung soal menyukai kakak kelasnya di SMP. Kali terakhir kami berjumpa ketika pertengahan kuliah, ia justru menceritakan laki-laki lain yang tengah dekat dengannya. Saya menengarai, teman lelaki kami itu menganggap kejadian Andin yang suka dengannya sebagai kejadian monumental. Monumental karena baginya, perasaan Andin yang seorang perempuan ternyata bisa sangat kentara hingga banyak orang di SMP tahu. Sebaliknya Andin yang ternyata menganggap kisah demikian hanya soal hari yang telah lalu, hingga bahkan tidak menarik lagi diceritakan. Tapi bagaimana bisa?
Saya pun mundur pada waktu yang lebih panjang lagi, ketika SMK. Ibu pernah mengatakan perempuan tidak boleh menyatakan perasaan lebih dahulu. Hal yang tidak pernah saya amini ini bukan dilatarbelakangi cara ibu membedakan tugas lelaki dan perempuan. Semua ternyata bersumber dari kisah teman perempuannya sendiri semasa sekolah dulu. Teman ibu menyatakan cinta terlebih dahulu pada lelaki dan ditolak. Sayangnya, lelaki tadi malah mengumumkan nama teman ibu ke seantero sekolah sehingga temannya tadi kerap diejek beramai-ramai. Jika memang tidak menyukai seorang gadis dan merasa berhak menolak, mengapa ia merasa menang dan lagi merasa layak membikin malu? Teman ibu tidak mencuri kas kelas apalagi korupsi uang negara. Jadi bagaimana bisa?
Semakin bertambah usia, saya akhirnya pun memahami. Pengalaman buruk teman ibu ketika menyatakan perasaan terlebih dahulu bukan salahnya. Kesalahan juga bukan milik si lelaki dan anak-anak lain di sekolah yang merasa berhak menertawakan keputusan teman ibu. Keputusan yang barangkali jauh melebihi jamannya. Keputusan yang barangkali mudah dicap sebagai murahan. Tugas perempuan adalah menunggu dan tugas lelaki adalah memilih. Ah, ini dia. Ini dia konsep yang mencuci pemahaman dalam kepala hampir semua dari kita selama ini.
Konsep ini pula yang agaknya diwariskan generasi terdahulu dari sahabat hingga teman lelaki saya itu. Mereka pada akhirnya meyakini pesona mereka tentu luar biasa, hingga perempuan yang mereka yakini memiliki kodrat menunggu, sampai menunjukkan perasaannya terlebih dahulu. Ada piala yang seolah mereka dapat dari ini semua. Piala yang memberi validasi maskulinitas mereka, kelelakian mereka.
Meski sebetulnya, lelaki maupun perempuan, salah satunya juga tidak perlu diberi tepuk tangan berlebih apabila berani menyatakan perasaan lebih dahulu. Tidak perlu merendahkan, namun juga tidak perlu mengunggulkan berlebihan. Prosesi merendahkan atau memuji berlebihan bagi perempuan yang mengungkap perasaannya lebih dahulu misalnya, hanya akan membuat kukuh konsep soal perempuan menyatakan perasaannya lebih dahulu adalah eksklusif.
Dan benar, teman dan sahabat lelaki yang saya ceritakan di atas tadi pun sama-sama korban. Korban dari konsep turun temurun bahwa lelaki semestinya begini dan perempuan semestinya begitu. Upaya para lelaki ini untuk mencari validasi maskulinitas dengan perasaan menang dan mempermalukan, tidak begitu saja hadir dengan tiba-tiba...
Tenang, yang punya blog ini masih hidup.
Hanya saja... lagi masa transisi atas hal-hal yang nggak pernah dipelajari apalagi dihafal dari buku sebelumnya yaitu... Sangkan paraning dumadi.
Jadi...
Sampai jumpa lagi ya, setelah masa transisi ini selesai, setelah semua selubung ini purna pupaknya.
Sayang kalian!
Baik-baik...
Sekali memejamkan mata, ia bisa mengeluarkan asap dari
ubun-ubunnya. Tipis mula-mula, menebal pada berikutnya, membumbung ke
langit-langit kos dan lama-lama membentuk tubuh, punggung, tangan, kaki dan
wajah serupa dirinya, hanya saja lebih besar tiga kali lipat.
Jika sudah demikian, ia utus makhluk yang ia namai serupa
nama bikinan ibu buat dirinya itu melayang keluar kamar. Makhluk itu menembus
cucian-cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang berkibar di tiang
jemuran malam-malam. Ia akan terus melayang melewati jalanan kampung, jalan raya
antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portalnya lebih dahulu.
Jika sudah demikian, bisa dipastikan itu malam minggu. Malam
di mana kembaran yang tiga kali lebih kecil darinya itu sebagian besar menolak
ajakan kencan dari pacarnya yang satu kampus di pascasarsajana. Ada apel lain
yang mesti kembarannya itu rutin lakukan, apel yang jauh lebih membikin panas
dada, memercepat detak jantung dan bikin merinding permukaan kulit jika
dibanding ketika kembarannya itu disodori susu lembut milik pacarnya.
Sudah 134 kilo meter makhluk itu terus melayang. Sesekali
menembus badan-badan truk dengan plat B. Jika bosan, ia pula sengaja menggulung
tubuh menjadi 160 cm, menumbuhkan susu dan rambut panjang lalu melipir ke
pinggir jalan dengan rok kuning menyala yang sekadarnya menutupi paha.
Para sopir truk terang saja meleng. Mereka meleng bukannya
karena tergoda paha terang si makhluk, namun mereka buru-buru teringat cerita antar
sopir soal perempuan macam demikian yang muncul malam-malam dan ketika ditoleh
sekali lagi malah menunjukkan mukanya yang hancur separuh juga taringnya yang
besar-besar.
“Allah hyang maha agung!” jerit salah seorang dari sopir
dengan plat B ketika melihat si makhluk. Berkali ia hanya menyebut nama
Allahnya tanpa berani menoleh kembali ke arah si perempuan.
Dengan dengus kecewa, si makhluk kembali merenggangkan
tubuhnya. Kembali ia jadi tiga kali lebih besar dari kembarannya yang tengah
rebah di atas kasur kos. Perjalanan dilanjutkan hingga ia sampai di sebuah
kecamatan berpenduduk padat di tengah kota itu. Satu-satunya rumah dengan atap
bertuliskan PKK yang pudar itulah tujuannya. Ada seorang gadis yang tengah
lelap di sana...
Dicekalnya tulang kaki gadis itu sesudah ia melayang dan
menembus kamarnya. Gadis itu menjerit seperti malam minggu sebelum-sebelumnya.
Jika sudah begitu, para tetangga mulai bergunjing, kakek dan neneknya mengeluh,
juga ibu dan bapaknya yang berbisik ia hanya cari perhatian supaya tidak
disuruh cari kerja selepas lulus. Hanya ada sesak di dada dan tulang yang
dirasai gadis itu seolah remuk.
Berkali ia pingsan, berkali pula ia bangun. Matanya pun
makin membengkak akibat air mata yang tidak lagi ia tahan-tahan. Napasnya
hampir berhenti dan barulah rasa remuk di kakinya itu mereda. Makhluk itu
melepas tulang kaki gadis itu begitu saja, melayang menembus dinding kamarnya
menuju luar rumah, kembali menempuh jarak 134 kilo meter, melewati jalanan kampung,
jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portal. Tidak lupa ia menggulung
diri, menyaru sebagai perempuan dengan rok kuning menyala dan menunjukkan wajah
separuh rusak pada para sopir truk.
Kemudian makhluk itu merenggangkan tubuhnya, kembali
melayang hingga atap kos kembarannya itu terlihat. Ia pun masuk halaman,
menembus cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang kembali basah
terkena embun malam lantas menemukan kembarannya tengah terlentang di kasur. Kembali
masuk dalam ubun-ubun, ia tiga kali lipat mengecil. Tubuh, punggung, kaki dan
wajah itu pun mengempis, asapnya juga makin menipis.
Perlahan, kembarannya itu membuka mata dan ia pun berbisik,”Aku
sayang kamu. Malam minggu esok kita kencan lagi ya...”
nan eodum sogui Dancer
Aku adalah seorang penari dalam kegelapan
onmom ttukttuk kkeokkeo
Aku akan meregangkan seluruh tubuhku
chimdae gakkai galge
Aku akan pergi mendekati tempat tidurmu
musimusihage
Dengan begitu mengerikan
ne simjangeul humchyeo jibaehae
Aku akan mencuri hatimu dan mengendalikannya
hanaui jomyeong wae geurimjaneun duriya?
Hanya ada satu cahaya, tapi mengapa bayangannya ada dua?
nae soge dareun ge nuneul tteun geot gata
Aku merasa sesuatu yang lain di dalam diriku telah membuka matanya
I'm a little monster** nal geomnae
I’m a little monster, takutlah padaku
**Little Monster, Irene feat Seulgi
![]() |
| Sumber: Gugel |
Tahun lalu, saya menerima sebuah kesadaran baru. Bahwa ternyata spektrum orientasi seksual saya hetero, namun ada namun ada demiseksualnya** juga. Salah satu indikasinya, tanpa sadar saya menerapkan hubungan platonis pada siapa saja dan inilah sumber masalahnya...
Mula-mula sebuah email saya kirimkan pada yu Siti akhir
tahun lalu. Saya jabarkan pemahaman-pemahaman baru ini. Saya tarik pula
limpahan kekesalahan pada teman lawan jenis yang kerap tiba-tiba pergi tanpa
sebab jelas. Ya, dulunya saya menggerutu soal mereka itu begini, kenapa berteman
saja susah sekali sih mereka ini? Kalau memang ada rasa sekalipun, berteman aja
terus tetap saling dukung. Susahnya di mana sih?
“Bukannya biasanya ada bedanya ya? Antara teman dan
bukan?” salah satu balasan yu Siti lewat email.
Tidak. Nyatanya tidak ada beda sikap saya dengan siapa
saja. Cinta saya adalah cinta pertemanan yang celakanya, saya betul tidak paham
bagi mayoritas orang ini ganjil. Bagi orang-orang dominan hetero, tanpa status milik
ternyata hal menyakitkan.
Hingga dalam kesadaran baru itu, saya menemukan jalan
tengah. Saya tidak mungkin memaksa diri menerima ikatan-ikatan ala dominan
hetero, pun mereka tidak mungkin memaksa diri menerima hubungan platonis ala
aseksual. Jalan tengah ini hendak saya terapkan ketika kelak bertemu entah
siapa lagi di depan sana.
Ternyata tanggal 10 Februari 2021, teman lama saya
menelepon malam-malam. Kami terakhir berkirim WA 2019...
“Harapannya, kita pacaran serius...” ucapnya di tengah
percakapan.
Teman saya ini mengakui, ia dulunya pergi karena
merasa tidak mendapat apa yang dia mau. Kami sepakat saling membuka pintu dan berdecak,
ini kenapa bisa waktunya pas?
Dia tetap seseorang yang saklek, apa-apa diekspresikan
langsung, tidak takut dengan penolakan juga. Lebih jauh, benar dia seorang hopeless
romantic, selama hampir sembilan tahun berjalan masing-masing dan makin
tambah parah saja. Sedang saya pun tetap pla...
Kemudian tanggal 12 Februari 2021, saya ajukan sebuah
proposal jalan tengah. Pernikahan adalah satu-satunya hubungan romantis yang terpikir
mampu saya jalani, tidak dengan pacaran. Maka kami pun sepakat, tiga bulan
komunikasi lalu istikharah adalah jalan paling adil.
Pada hari-hari berikutnya, saya mengenalinya sebagai seseorang
yang penuh kata cinta, hangat dan bisa diandalkan. Dan pada hari-hari
berikutnya ia mengenali saya yang ikatan-less.
“Aku pulang...” begitu kata si hopeless romantic
ini beberapa kali.
Dia memang selalu begitu, menjelma jadi tokoh utama,
mempercayai alam semesta sengaja memberikan pertemuan-pertemuan ajaib dalam
sebuah kisah cinta. Mengibaratkan saya sebagai rumahnya secara sepihak yang
ternyata berbalas...
“Seandainya aku katolik, aku mau jadi biarawati dan
seandainya aku budha, aku mau jadi bikkuni.”
Menariknya, kami yang sekarang sama-sama mampu saling
memahami. Saya yang tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia hopeless
romantic dan dia tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia plantonic.
Kami pun bersepakat, kelak jika jawaban dari semua
proses ini ternyata tidak; selanjutnya persaudaraan mesti terus dijalin.
Sebaliknya jika jawabannya iya; kami ingin saling dukung, membina diri
masing-masing meski sama tidak ingin menikah dalam waktu dekat.
Jadi... Makan es krim pinggir minimarket lagi yuk... Dan selamat 27 ya.
**Catatan:
Untuk spektrum orientasi seksual, masih dalam proses saya pelajari termasuk dengan melibatkan profesional. Hasil akurat belum didapatkan.
Sabtu, 08 Mei 2021.
Ego kepemilikan memang bikin sulit untuk saling bertemu.