Monday, July 5, 2021

Ruang

 

Sumber: Google


Sharma merabai tengkuknya. Bulu-bulu halus berdiri seluruhnya di sana dan matanya sudah bengkak sepenuhnya. Bekas jahitan yang masih terlihat basah di pelipis sesekali pula ia raba, ia rasai perih yang masih tersisa.

Ia ingat betul, lima belas menit lalu masih berada di kafe X bersama seorang teman yang pikirnya bakal membantu. Namun dalam kondisinya yang masih sesak, menyesal karena tidak melawan, juga merasa tidak berharga, temannya itu malah mengatakan Sharma tidak tegas, ia pula dikatakan menikmati berada dalam lingkaran kekerasan.

Rokok pun dihisap Sharma dalam-dalam. Teman-temannya di kantor mengatakan, rokok bisa meredam stress dan biasanya memang bekerja serupa itu. Sayangnya, kali ini dada Sharma justru makin pengap saja ketika dijejali asap rokok. Rokok tidak membantu, demikian kesimpulannya hingga gadis berkulit gelap itu membuang rokoknya ke lantai dan menginjak nyalanya sekenanya.

Saya jemput kamu ya, Sayang. Kita harus ngobrol. Sungguh saya minta maaf.

Tulis pacar Sharma bertepatan ketika ia masih bertemu dengan temannya itu. Hingga lewat pukul dua belas malam, warung kopi kian ramai, Sharma tidak juga membalas pesan itu dan ia hanya mengetuki meja yang semestinya diisi empat orang.

Saya ada di kafe Z.

Demikian pesan balasan Sharma pada pacarnya itu. Selanjutnya ia memejamkan mata sambil merasai dadanya yang berdebar makin cepat. Kopi susu yang sudah dingin sama sekali tidak disentuhnya.

“Nunggu lama, Sayang?” Tanya suara yang begitu Sharma kenal selama dua tahun ini.

Entah bagaimana, Sharma menoleh dan mengeluarkan air mata yang sejak tadi tertahan. Ia terisak, ada rasa lega juga di sana...

Sadarlah! Kamu terkungkung patriaki. Kenapa masih denial sih?

Sharma terenyak di tengah pelukan erat dengan pacarnya. Seperti ada yang merangsek paksa ruang dalam dirinya. Ucapan dari temannya yang dikenal sebagai aktivis beken itu mendadak menusuk dada, membuyarkan rasa damai.

***

Dua tahun lalu, Sharma bertemu pacarnya tepat selepas wisuda. Sharma yang bermimpi jadi penulis novel misteri dengan kondisi sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional. Sharma pula, yang jenuh setengah mati dan merasa tidak punya waktu untuk membaca buku lagi.

Pacarnya itu berkepala plontos, bermata bulat dan berkulit putih dengan kaus tanpa lengan. Penampilannya mencolok. Secara umum, orang-orang menyebut pacarnya itu tampan. Ya... secara fisik, lelaki itu memang memenuhi standar pada umumnya buat disebut tampan.

“Suka triller, Mbak?”

Sharma tergagap, ada sembur merah di kedua pipinya. Belum ada seseorang yang memerhatikan buku bacaannya sedemikian rupa. Yang demikian justru membuat debar di dadanya berkejaran kemudian, lebih dari pujian cantik yang tidak pernah ia dapat kecuali dari mendiang neneknya hanya karena dirinya berkulit gelap.

“Mau jadi penulis novel misteri, Mas. Apa daya malah kerja di perusahaan Indom*e sekarang.” Gelak Sharma sambil menutup buku John Steinbeck di pangkuannya.

“Oh, suka sastra-sastraan gitu ya?” tanya lelaki itu sambil berlalu ke meja kasir.

Melihat lelaki itu tidak jadi duduk semeja dengannya, Sharma menghembus napas cukup keras, merasa kecewa. Lelaki itu terlihat membayar kopi untuk mejanya sendiri sambil sesekali menunjuk Sharma dan bercakap-cakap dengan si kasir dengan begitu akrab.

Pikir Sharma, lelaki itu pasti mulanya tertarik soal apa buku bacaan dan mimpinya namun kecewa ketika mendapati kulitnya yang gelap. Sekali lagi gadis itu menghembus napas cukup keras.

“Besok ke acara ini bareng yuk...” ucap lelaki itu tiba-tiba. Ia kini sudah menarik kursi di hadapan Sharma sambil menunjukkan sebuah poster dari ponselnya.

Sebuah acara bedah buku, penulis lokal. Demikian yang Sharma simpulkan sekilas dari poster yang ia baca. Sharma mengangguk tipis sambil mengangsurkan ponselnya. Sudah terbuka menu kontak baru di sana.

“Saya minta kontakmu...” pinta Sharma yang disambut senyum tipis lelaki itu.

Selanjutnya, mereka keluar dari warung kopi bersama dan upaya Sharma membayar kopinya sendiri ditolak si kasir. Sudah dibayar mas Dao Ming Si, demikian nama julukan lelaki yang dua bulan kemudian menjadi pacarnya Sharma itu.

Dao Ming Si, merujuk tokoh serial Meteor Garden yang menurut orang-orang di warung sangat mirip dengan lelaki itu. Ya... meski satu asli Taiwan dan satu lagi asli Pacitan. Setidaknya itu yang Sharma tahu beberapa waktu setelah mereka resmi berpacaran dan dirinya yang mulai akrab dengan orang-orang di warung.

***

Sharma datang ke kota ini sendirian. Mengisi segala formulir untuk kuliah dengan bibi dan pamannya sebagai wali. Sebuah lembaga amal memberinya beasiswa untuk tiga setengah tahun ke depan meski Sharma ternyata harus lulus empat tahun dan cukup terangah-engah memenuhi biaya tambahan satu semester.

Gadis itu tidak sempat mengikuti unit kegiatan apapun di kampus. Fokusnya hanya satu; lulus tepat waktu. Ia pula hanya punya hiburan membaca novel-novel triller di sela kegiatan akademisnya. Diam-diam ia bermimpi jadi penulis novel misteri, tanpa tahu bagaimana cara membina mimpinya itu.

Teman-teman seangkatan mengomentari Sharma sebagai pemudi oportunis, tidak punya visi dan jauh dari idealis. Dalam kepalanya hanya ada ambisi lulus tepat waktu, juga kerja mapan. Ikut demo? Membuat story di Instagram saja ia tidak pernah sempat.

“Mau kemana, Shar?” sapa tiga orang teman sekelas Sharma basa-basi.

“Mau balik kos.” Jawab Sharma cekak dengan langkah tergesa dan tanpa memandang ketiga temannya itu.

Ketiga temannya itu saling sikut dan berbisik soal betapa sombongnya gadis itu. Jam kuliah baru usai, teman-teman sekelasnya pun masih makan bersama di kantin namun Sharma justru buru-buru kembali ke kos tanpa berniat menyapa siapapun.

Teman-temannya itu tidak pernah tahu, sebuah pesan diterima Sharma sekeluarnya dari kelas. Seperti biasa, bibinya meminjam uang dan dari mana bisa Sharma mendapat sejumlah uang? Jika bukan upayanya menyisihkan biaya hidup dari beasiswa.

Bibinya itu memiliki dua anak yang masih sekolah menengah. Suaminya bekerja serabutan dan sepuluh tahun lalu pun, mereka menerima Sharma dengan berat hati. Toh hidup mereka sendiri sudah sesak.

Sebentar lagi Sharma lulus dan kerja. Uang bulanan buat dek Ila dan dek Nanda bisa ditransfer ke nomor rekening yang tadi.

Tidak ada ucapan terima kasih setelah gadis itu mentransfer sejumlah uang. Pertanyaan kapan gadis itu makan dan ucapan semangat karena seminar proposal lebih awal juga tidak pernah ada.

Suami bibinya itu pula, yang enggan menekuni usaha servis televisinya. Berkali masuk perusahaan pun kerap keluar karena pertengkaran dengan sesama teman. Saban hari, Sharma melihat bibinya bangun pagi sekali, menyiapkan segala kebutuhan kedua putri, suami, baru kemudian berangkat ke pabrik.

“Ini namanya berbakti...” ucap bibinya itu ketika Sharma memandanginya terburu sekali menyetrika pakaian pamannya sambil menggoreng nasi untuk sarapan mereka semua.

Sharma mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan serupa setelah dua bulan tinggal di rumah itu. Setiap pulang sekolah, ia buru-buru berlari pulang hingga tidak sempat menerima ajakan teman-temannya bermain. Sebutan wis ireng, sombong alias sudah (berkulit) hitam, sombong pula, melekat padanya hingga menahun kemudian.

Jika bukan karena tawaran RT di tempatnya tinggal bersama lembaga pengelola amal itu, Sharma barangkali sudah memutuskan bekerja di pabrik saja selepas Aliyah. Semua dengan melepas nilai-nilai di sekolah yang membuat para guru sekadar menyayangkan keputusannya tidak kuliah. Ya, hanya menyayangkan, tidak ada saran bagaimana Sharma semestinya...

***

Si Dao Ming Si, ah... Pacar Sharma itu mengelus rambut hitamnya yang lurus sebahu berkali-kali. Mata Sharma terpejam dengan kisahnya semasa hidup bersama sang bibi kembali diceritakan ulang di hadapan pacarnya.

Tidak ada tinju yang membuat pelipis gadis itu berdarah dari si Dao Ming Si malam ini. Yang ada hanya ciuman-ciuman lembut di bibir Sharma yang membuatnya tertidur pada berikutnya.

Namun pintu kos terdengar diketuk cukup kasar kemudian. Pelan-pelan pacar Sharma meletakkan kepala gadis itu di atas bantal dan beranjak membuka pintu.

“Ayolah, Mas! Sudah dua bulan ini. Saya juga cari makan dari kosan ini...” bentak seseorang yang agaknya pemilik kos setelah pacar Sharma membuka pintu.

Dengan tergesa, si Dao Ming Si menarik pemilik kos agak jauh dari kamarnya. Bola matanya sesekali terlihat cemas, entah takut Sharma terbangun atau takut gadis itu memergoki ketidakberdayaannya.

Namun gadis itu terlanjur menggeliat dan mendengar perdebatan pacarnya dengan pemilik kos dari kejauhan. Maka sekembalinya lelaki itu dari pertemuan dengan pemilik kos, sudah ada uang sejumlah tujuh ratus ribu di meja kecil dekat kasur.

“Pakai aja. Kalau kurang bilang.” Ucap Sharma dengan badannya yang menghadap dinding dan mata terpejam.

Lelaki itu pun buru-buru menutup pintu kamar, memeluk Sharma dari belakang dan memuji pengertian gadis itu. Yang Sharma tahu, jika sudah begitu pacarnya akan berlaku sangat manis hingga beberapa minggu ke depan. Mengantar dan menjemputnya kemana saja, menanyakan berapa kali ia makan dalam sehari, juga semua hal yang membuat dada gadis bertubuh kurus itu menghangat. Hari-harinya di kantor pun terasa lebih bersemangat.

Teman-temannya berdehem soal wajah pacarnya yang mirip Dao Ming Si di hadapan Sharma, sedang di belakangnya, mereka saling berbisik soal bagaimana gadis berpenampilan biasa saja sepertinya bisa mendapat pacar begitu rupawan.

Jahitan di pelipisnya sudah mulai mengering...

***

Lelaki itu mengatakan mau bergerak di dunia literasi. Kelak pula, ingin punya toko buku indie dengan kafe sederhana melengkapi. Mimpi-mimpi yang kerap dibaginya pada Sharma itulah, membuat si gadis makin terpikat. Papa pacarnya itu kepala sekolah dan mamanya guru di sebuah sekolah negeri, namun demikian justru membuatnya keluar dari kampus tempatnya mengambil jurusan keguruan. Ia pilih mengambil jalan hidupnya sendiri, katanya.

Sharma merasa pilihan hidupnya serba terbatas. Ibu dan bapaknya entah menikah lagi dengan siapa dan memiliki berapa orang putra. Paman dan bibi yang hanya mengirim pesan ketika hari gajian...

Jadi bagi gadis itu, si Dao Ming Si menawarkan kebebasan yang tidak pernah bisa dirinya pilih. Selain ya... Ia suka bagaimana lelaki itu menciumnya. Ada hangat di dada yang semestinya mula-mula ia dapat dari pelukan kedua orang tuanya.

“Nanti, ada rak khusus buku triller rekomendasi kamu di toko itu, Sayang.”

“Jangan lupa ada menu kopi susu bagi yang nggak suka kopi hitam...”

“Sampul buku gratis dan acara baca puisi tiap sabtu.”

“Diskon buku untuk pasangan kekasih juga...”

Demikian Sharma dan pacarnya saling menimpali, membahas mimpi yang membuat gadis itu sesaat lupa teman kantornya cemburu akibat rencana promosi yang ia terima, juga yang membuat pacarnya itu sesaat lupa orang tuanya masih saja marah karena uang kuliah selama tiga tahun justru dipergunakannya sendiri.

Semuanya selalu diakhiri ciuman yang sangat dalam sekaligus ucapan selamat tidur yang manis. Bekas jahitan di pelipis Sharma mulai terlihat samar.

***

Sharma memeluk pacarnya itu dari belakang, dibisikkannya sebuah berita baik. Ia resmi mendapat promosi...

Namun mata lelaki yang justru terlihat membulat dan merah. Laptop yang menampilkan sebuah email penolakan naskah dari penerbit terhampar di hadapannya.

Melihat Sharma yang datang dengan ceria, membawa berita promosi jabatannya pula, mendadak membuat dada lelaki itu panas. Ia gagal... Ia gagal dan gadis itu sama sekali tidak mau mengerti. Gadis itu mengejeknya.

Sharma tahu, membawa berita baik untuk dirinya saja selalu berakhir...

“Cewek anjing!” si Dao Ming Si meninju tepat di bekas jahitan pelipis Sharma yang sudah nyaris menghilang.

Tidak... Berita sejenis itu bukan hanya baik bagi Sharma, namun juga untuk masa depan hubungan mereka. Karena kelak mereka bakal menikah, mendirikan toko buku indie, ada rak khusus buku triller rekomendasi gadis itu, menu kopi susu, sampul buku gratis, acara baca puisi setiap hari sabtu dan...

Darah merembes dari pelipis Sharma. Gadis itu terhuyung, nyaris pingsan namun berhasil berlari keluar kos dengan beberapa penghuni lain memandang bingung padanya.

...dan diskon buku untuk pasangan kekasih.

***

Temannya yang disebut aktivis itu dikenal Sharma ketika sama-sama menghadiri Haul Gus Dur yang bertempat di Klenteng Eng An Kiong. Sharma datang dengan si Dao Ming Si dan temannya itu bersama pacarnya yang wirausahawan, bertutur lembut, juga menunggangi mobil model paling anyar. Di sana, pacar Sharma membaca puisi, sedang si aktivis itu membaca orasi.

Sejak kecil pula, teman Sharma itu mengaku diberikan buku-buku bacaan dengan berbagai isu oleh orang tuanya. Masih orang tuanya juga yang memintanya kuliah setidaknya hingga S2 dengan biaya penuh dari mereka.

“Papiku jago masak, Shar. Keduanya kerja kantoran emang, tapi papiku tuh nggak patriarkis, mamiku nggak menerima beban ganda.”

Patriarkis? Beban ganda? Istilah-istilah itu betul-betul asing buat Sharma. Membaca buku triller saja ia harus mencuri waktu, apalagi buku-buku dengan istilah yang disebut temannya itu.

Habis-habisan Sharma berusaha menyamakan obrolan dengan gadis yang menurutnya menarik itu. Namun batin Sharma tetap saja kebingungan. Bagaimana bakti bisa disebut patriarkis dan beban ganda? Hingga baginya, gadis itu membawa sesuatu yang tidak wajar.

“Kamu diracuni jadi feminis juga ya, Sayang? Nanti deh, di kos saya bacakan buku-buku yang dia maksud. Saya punya semua kok.” Ucap si Dao Ming Si disusul tawa teman Sharma itu beserta pacarnya.

Hari itu, Sharma betul-betul merasa kecil. Sungguh-sungguh kecil hingga pujian dari bosnya bahwa ia akuntan andalan perusahaan hanya sekadar lewat saja dalam kepala.

Lagi-lagi, gadis itu merasa pacarnya membawa kemerdekaan yang tidak bisa ia raih, pula teman-temannya...

***

Jahitan kali ini lebih panjang dan lebar. Di kamar kosnya yang baru, Sharma memegang ponsel dan nyaris saja mengirim pesan pada bibinya. Ada sesak yang meluap di dada gadis itu tanpa terpikir siapa orang yang layak ia bagi.

Akhirnya, gadis itu justru membatalkan pesan pada bibinya dan justru ditekannya nomor si Dao Ming Si...

“Kita putus. Jangan cari saya lagi.”

Buru-buru sambungan telepon diputus Sharma bagaimanapun lelaki itu memohon maaf dan meminta mereka mesti bertemu.

Pada hari-hari berikutnya, Sharma kerap ditanya teman-teman sekantornya dari mana luka itu berasal. Namun gadis itu tahu, mengumpulkan uang untuk sesi bersama profesional dan menceritakan segalanya akan lebih baik.

Hingga hari itu, Sharma mendapati lingkaran ungu kehitaman melingkar di lengan teman satu kantornya. Gadis itu kemarin mengetahui bagaimana temannya bertengkar hingga saling tarik di depan kantor dengan pacarnya. Kejadian itu sampai ditonton banyak orang kantor dan mesti dilerai dua orang satpam.

“Kalau kamu nggak mau cerita juga nggak mengapa. Kamu butuh ruang dan saya nggak akan mengolok kamu lemah.”

Ada haru yang memenuhi wajah teman sekantor Sharma itu dan ia pun mulai menangis. Tidak ada cerita, hanya tangis. Satu yang Sharma pahami meski tidak pernah sempat membaca buku serupa si aktivis itu, ia tidak berhak mendikte kapan tangis temannya mesti berhenti.

Tuesday, June 22, 2021

Afirmasi

 

Tulis mimpimu dapat nobel sastra di dinding rumah tetangga, papan reklame dekat lampu lalu lintas, hingga batang pohon beringin di alun-alun kota...
...maka ketika kamu dapatkan memimpimu itu, orang-orang bakal berkata,"Dia memang berani bermimpi sedari dulu dan kini ia mendapat apa yang ia perjuangkan."


Tulis mimpimu dapat nobel sastra di dinding rumah tetangga, papan reklame dekat lampu lalu lintas, hingga batang pohon beringin di alun-alun kota...
...maka ketika kamu gagal dapatkan mimpimu itu, orang-orang bakal berkata,"Dia memang sedari dulu tidak tahu malu."

Tuesday, May 25, 2021

Menyoal Depresi Pasca Melahirkan, Anak-anak dan Pelabelan

Sumber: basabasi.co

Dimuat di basabasi.co 14 Desember 2019

Judul : SILSILAH DUKA
Penulis : Dwi Ratih Ramadhany
Penerbit : Basabasi
Edisi : Pertama, September 2019
Tebal : 134 hal
ISBN : 978-623-7290-21-6

Dibuka dengan adegan mengerikan Ramlah yang bunuh diri disaksikan putri pertamanya, Silsilah Duka seperti menagih untuk terus dibaca tanpa jeda. Meski tetap dengan gaya bahasa Ratih yang khas, novela ini tidak menyajikan tata bahasa yang berbunga-bunga dengan diksi-diksi cukup berat layaknya dalam buku keduanya, Pemilin Kematian (PSM, 2015).

Pemilin Kematian sendiri terdiri dari cerita pendek yang telah dimuat di koran nasional dan memenangkan perlombaan. Memang gaya menulis yang disajikan Ratih di sana bisa dibilang pekat beraroma cerpen koran atau cerpen ala kompetisi. Dan langkah Ratih yang tidak menghilangkan gaya bahasanya, namun memangkas diksi-diksi sukar seperti biasa ia menulis di media nasional, memberi dampak novela ini tetap berbobot namun tidak membuat pembaca terengah-engah.

Novela ini bisa juga dikatakan membawa pemahaman mengenai depresi pasca melahirkan yang tidak tekstual. Tokoh Mbuk Jatim misalnya, menjadi gambaran bahwa masyarakat yang tumbuh dalam tradisi tidak primitif juga. Mbuk Jatim si dukun pijat bayi, mengerti psikologi dalam hal praktik. Ia memahami bagaimana seseorang mengalami depresi dan bagaimana sebab juga akibatnya, hanya saja ia kalah dalam penggunaan istilah sukar. Terlihat dari bagaimana Mbuk Jatim meyakinkan Farid yang sarjana dan pegawai, bahwa istrinya diliputi ketakutan hingga tekanan mental dan bukannya kesurupan apalagi kurang iman.

Lain dari Mbuk Jatim, tokoh Ebo’ yang juga tumbuh dalam tradisi masih dihinggapi mitos bahwa ciri-ciri seseorang yang histeris dan menangis adalah kesurupan dan bukannya gangguan kesehatan mental. Berbagai sebab di masa lalu, membuatnya terobsesi mengatur hidup orang lain, termasuk hidup anak-anak dan menantunya yang sudah masuk usia dewasa. Luka akibat kegagalan menata hidupnya sendiri, membuat Ebo’ tidak kunjung sembuh bahkan hingga memiliki cucu. Meski sebenarnya perempuan yang telah lama kehilangan suaminya itu tengah membuat mekanisme pertahanan hidup dengan berupaya ingin dianggap ada dan mampu menata hal-hal yang seharusnya. Lantas masih ia pula yang lari dari lukanya yang tidak kunjung sembuh, dengan membuat hidup orang lain terasa selalu salah. Jika hidup orang lain selalu salah, maka menjadi benarlah hidupnya. Tokoh mertua Ramlah dan ibu kandung Farid ini terasa sukses membuat pembaca ingin menjambak habis rambutnya tepat pada omelannya yang ketiga kali.

Salah satu omelan Ebo’ ketika memaksa menantunya pijat tradisional meski kesakitan, begini isinya,“Ramlah nggak akan mati karena dipijat begitu. Kamu berani bilang Ebo’ serakah? Lupa kamu keluarnya dari tampuk siapa? Ini lagi menantu suka ngadu. Masih untung Farid nggak saya suruh kawin lagi.” (hal 20)

Farid sebagai seorang suami juga sebenarnya sudah memegang prinsip “hamil berdua”. Istilah ini belakangan populer untuk menyebut suami yang turut andil ketika istrinya hamil hingga merawat anak. Berasal dari masyarakat yang penuh tradisi, tidak membuat Farid membedakan “pekerjaan lelaki” dan “pekerjaan perempuan”. Hal ini seperti menggugat anggapan sebagian orang bahwa pria lokal tidak berpikiran terbuka sehingga enggan melakukan pekerjaan rumah juga punya andil mengurus dan mendidik anak-anak. Masih Farid pula, yang melakukan prinsip “hamil berdua” tanpa teori yang melangit. Dia mencintai Ramlah, istrinya itu, dan melakukan segala hal yang sepakat mereka sebut sebagai sama-sama nyaman.

Lingkungan Ramlah pun sesungguhnya sudah sangat ideal, ya jika saja Ebo’ tidak bersikap sedemikian ajaib begitu. Selain suaminya yang menerapkan “hamil berdua”, masih ada Kholila, iparnya yang lajang dan mahasiswi tingkat akhir, mendukung kehamilannya dengan cara mengirim tips-tips selagi hamil dan melahirkan dari YouTube. Diam-diam melalui novela ini, kita juga bisa belajar sikap mana yang tepat dan tidak tepat ketika menghadapi orang hamil, lagi-lagi tidak secara tekstual dan di luar teori-teori berat. Pula bagaimana kita turut andil menciptakan lingkungan yang positif bagi seseorang yang tengah hamil.

Selain menunjukkan penguasaan yang cukup baik mengenai isu depresi setelah melahirkan, Ratih juga ternyata menguasai psikologi anak. Persoalan psikologi anak dilebur secara apik dalam dialog dan gaya penceritaan. Bahaya pelabelan bagi anak menjadi salah satu yang paling menonjol dalam cerita. Ratih tidak mendikte pembaca dengan kalimat teoretis semacam, bahaya pelabelan bagi anak adalah dan contoh-contohnya adalah. Dalam perkara pelabelan ini, Ratih justru menceritakannya melalui Mangsen yang entah bagaimana berkulit jelaga dan beda sekali dengan anggota keluarga lainnya.

Secara apik Ratih menggambarkan anak-anak sebaya yang enggan bermain dengan Mangsen karena dianggap aneh. Konsep aneh ini ternyata tidak didapat sendiri oleh anak-anak tersebut. Mereka mendapatkannya dari orang dewasa di sekitar. Figur orang dewasa yang dianggap serba tahu dan maha benar oleh anak-anak, membuat mereka membenarkan label soal Mangsen yang sengaja ditularkan. Pada akhirnya, berdasar label tersebut, anak-anak ini merasa sah saja menjauhi Mangsen yang berbeda. Toh, ini peraturan tidak tertulis dari para orang dewasa bukan?

Persoalan warisan label tersebut, tergambar dalam salah satu paragraf di halaman 74. Begini isinya; mereka enggan mengajak Mangsen bergabung karena telah dibekali peringatan orang tua masing-masing bahwa Mangsen tidaklah cocok menjadi teman mereka. Kulitnya berbeda. Ayah dan ibunya pasti berbuat banyak dosa. Jangan dekat-dekat supaya tidak ikut celaka.

Sayangnya, pada dua bab terakhir, Ratih terasa terburu-buru dan banyak menyajikan jalan cerita yang berulang telah disajikan terlebih dahulu dalam karya fiksi sejenis. Pijakan kuat dari bab-bab sebelumnya seolah lumayan bergoyang pada dua bab terakhir ini. Bahkan ada adegan-adegan yang mirip sinetron kejar tayang. Meski demikian, salah satu seri novela dari kompetisi penerbit Basabasi ini, bisa dibilang memberi edukasi soal pendidikan keluarga terhadap pembaca melalui cerita kelam yang di luar nalar. Silsilah Duka tetap layak mendapat tepuk tangan dan semoga, makin banyak penulis serupa Ratih yang tidak hanya menjual cerita kelam namun juga nilai-nilai yang dekat bila dipraktikkan dalam keseharian.


Catatan: Sejak 2019 sering lupa habis ngetik tulisan simpan di mana dan habis dimuat nggak dikliping di blog. Ini nyicil yang lupa-lupa itu yes.

Dokumentasi tampilan website.
Sumber: basabasi.co


Monday, May 17, 2021

Seberapa Fasis Kita Check

 

Sumber: Gugel

Kita mendaku anti feminis, RUU PKS bagi kita pro zina. Kemudian ada kasus kekerasan seksual di depan mata dan kita katakan,”Alah, biar tuh para feminis egonya dikoyak-koyak!”

Kita mendaku relijius, LGBTQ bagi kita sesat. Kemudian ada kasus waria dibakar tanpa sebab dan kita katakan,”Alah, udah azabnya. Siapa suruh menyalahi aturan Tuhan!”

Kita mendaku pluralis, bagi kita NKRI harga mati. Kemudian ada fakta Palestina menerus dijajah Israel dan kita katakan,”Alah, yang teriak-teriak free Palestine memang udah kasih makan tetangganya?!”

Kata kuncinya adalah, ketika ada sebuah kasus yang biasanya disuarakan mereka yang bertentangan dengan keyakinan atau ideologi kita, itu kitanya tuh nggak fokus berempati atau membahas tragedi kemanusiaannya. Malah nih, kita fokus menyerang ideologi atau keyakinan yang berseberangan tadi.

Fasis itu yang gimandos sey? Fanatik... Fanatik...

Fanatik itu bukan hanya agama lho.

Yang merasa feminis, pluralis, sosialis dan lis-lis-an lainnya coba cek dulu dan jangan keburu merasa paling tercerahkan, apalagi sampai anggap fanatik tuh hanya identik dengan agama 🙅

Karena kalau kita merasa udah paling lis-lis-an, tapi masih bersikap macam paragraf sebelum-sebelumnya akika bahas tuh, ya jadinya sama aja. Fanatik-fanatik juga... Fasis-fasis juga...

Heuh 🤦

Jadi, sudah fasis berapa kali hari ini?

Tuesday, May 4, 2021

Begini Rasanya Jadi Pengisi Acara Parpol


Sumber: Gugel


Agustus 2020 lalu, Gofar Hilman menjadi olok-olok di Twitter setelah mempromosikan UU Cipta Kerja. Ada yang mengolok idealisme yang selama ini ia tunjukkan hancur setelah butuh uang, hingga mengolok ideologi punk yang katanya ia usung. Gofar Hilman pun memohon maaf dan mengaku tawaran tersebut ia terima murni karena ketidaktelitian.

Apa saya ikut mengolok Gofar Hilman? Ya, gimana ya. Mau mengolok sungkan juga karena faktanya, pernah juga saya nggak teliti menyeleksi sebuah tawaran.

Jadi seorang teman mengajak saya mengisi acara di Malang kota 2019 lalu. Temanya soal perempuan, dua pengisi acara yang lain pun tenaga profesional yang tidak tergabung dalam organisasi berbau politik mana pun. Satu orang model sekaligus make up artis, sedang satu lagi personal trainer sekaligus pakar public speaking. Si personal trainer ini lebih dahulu saya ketahui sepak terjangnya, posisi kampus kami juga dekat.

Sosial media komunitas tersebut kemudian mengikuti akun saya dan jumlahnya dua; pertama, markas komunitas dan kedua, komunitas itu sendiri. Ketika saya klik akun sosial media mereka ya... memang komunitas tersebut sering mengadakan acara pengembangan diri dan markasnya di sebuah tempat makan cepat saji. Dari dokumentasinya pun, personal trainer yang sudah lebih dahulu saya ketahui sepak terjangnya itu ternyata sering mengisi acara di sana.

Tapi ketika poster sudah perjalanan dibuat, teman saya yang menawari itu WA lagi. Isinya ternyata laporan keuangan komunitas tersebut dan sebuah pesan permintaan maaf jika lokasi acara komunitas itu ternyata milik orang partai. Teman saya ini memeringkatkan kalau mungkin di sana bakal ada bau-bau kegiatan politiknya. Tapi ya sudah deh, saya sudah terlanjur mengiyakan dan memang berniat cari pengalaman baru apapun bentuknya itu.

Mau tahu isi laporan keuangannya? Yang paling saya ingat sih, setiap pemateri mendapat alokasi seratus lima puluh ribu untuk souvenir. Lalu peserta dikenakan tiket dua puluh ribu per orang. Pokoknya total biaya dari pengadaan acara itu sampai jutaan.

Singkat cerita, acara berlangsung. Ternyata pemilik markas dan komunitas adalah perempuan berusia lima puluhan, sebaya ibu saya. Malam itu, ia memakai dress putih, celana tiga per empat dan sepatu kets sewarna, kostum yang seolah menegaskan, ini lho saya yang paling ngerti milenial. Sempat juga ia turut berbicara di akhir acara, meski nggak ada ucapannya yang ada bau-bau partai. Saat itu dia hanya mengulas materi acara dari awal hingga akhir.

Ya, usai acara juga si ibu partai ini tanya nama pengguna sosial media para pemateri dan mengikuti akun kami. Sesama pemateri pun saling bertukar nama pengguna dan mengikuti sosial media masing-masing.

Eh, lha tapi ternyata kami dapatnya ucapan terimakasih dan menu makanan paling murah di lokasi acara yang tempat makan cepat saji itu. Nggak ada sertifikat, uang transport apalagi. Sudah begitu, sehari setelah acara, ada teman dari Gusdurian WA saya. Anak ini dikenal suka bisnis memang, jadi jika ada seminar-seminar dari lembaga tertentu begitu dia seksi cari-cari peserta. Jadi, nggak heran lingkaran pertemanan si teman ini sampai ke orang-orang parpol juga.

Yang bikin nggak nyaman itu ya, foto kami mengisi acara ternyata dipakai dan disebar untuk kampanye kemana-mana dan teman saya ini yang bilang. Tjuy, bayangkan... Kamu mula-mula mengira hendak mengisi acara di komunitas belajar biasa, kemudian justru tahu isi laporan keuangannya, tapi datang hanya diberi menu termurah lalu fotomu disebar untuk pencalonan ibu tersebut jadi caleg. Partainya? Ternyata betulan partai yang konsepnya ‘anak muda’ banget itu.

Bahkan anak HMJ kampus dan unit aktivitas lebih menghargai tenaga manusia meski nggak punya dana. Mereka dengan terus terang akan bilang tema dan sasaran acaranya apa dan siapa. Mereka pula yang terang-terangan bilang nggak ada dana untuk transport tapi masih berusaha memberi hidangan terbaik dalam bentuk kue dan minuman, juga sertifikat yang dibingkai cantik. Bukan soal harganya ya tjuy, tapi kejujuran dan menghargai tenaga sesama manusia itu lho.

Saya masih bersyukur, oleh si pembuat poster yang entah siapa itu nama saya hanya ditulis blogger dan satu lagi predikat, pokoknya bukan Gusdurian. Lha, kalau ditulis Gusdurian ya menangis dong saya. Gusdurian nggak boleh ikut politik praktis. Ya, memang saya nggak ikut, tapi mengisi acara yang ternyata ditujukan untuk politik praktis kan jadinya saudaraan.

Lalu kabar baiknya, ibu tersebut gagal di pencalegan. Di Instagramnya, beliau mengunggah foto surat pengunduran dirinya dengan caption yang intinya marah karena partai sudah nggak bisa mewadahi idealismenya. Hehe... Iya, idealismenya.

Setelahnya, saya putuskan unfollow dua akun komunitasnya. Selanjutnya, agaknya saya juga bakal unfollow akun ibu tersebut. Seram juga soalnya, jika terus berhubungan dengan orang-orang yang mau keuntungan sebanyak mungkin dengan modal sedikit mungkin, nggak jujur pula.

Khawatirnya juga, kejadian saya mengira komunitas tersebut kredibel gara-gara melihat si anak kampus sebelah terlihat bergiat di sana, terjadi juga pada teman-teman yang lain. Bisa jadi teman-teman mengira komunitas tersebut kredibel karena melihat profil saya yang selama ini hanya dekat dengan komunitas non profit kok ternyata pernah mengisi acara di sana, bahkan saling follow juga.

Ya gimana ya, mau hujat Gofar Hilman juga saya sendiri punya dosa. Bedanya, bung Gofar sejak awal kesepakatannya kegiatan bisnis, sedang saya dan teman-teman yang terjebak komunitas ibu partai tersebut kesepakatannya kegiatan sosial. Tapi tidak ada salahnya juga sama-sama lebih teliti di hari berikutnya.

Doa saya hingga hari ini hanya satu, semoga ibu tersebut bisa menemukan partai baru yang sesuai dengan idealismenya.

Ehe.

 

*Ditulis bulan September 2020, lalu lupa upload. 

Jadi mikir untuk mulai foto dengan orang-orang lintas parpol lalu diunggah di tulisan ini buat koleksi. Bolehlah ini jadi capaian hidup.

Catatan: 

Beberapa waktu setelah tulisan ini diunggah, salah satu publik figur yang disebut dalam tulisan ini viral di Twitter sebagai pelaku kekerasan seksual. Tulisan ini tidak akan dihapus karena sebagai pengingat.

Sunday, April 25, 2021

Semua Bisa Jualan Body Positivity dan Mental Health Awareness, Termasuk Si Pembully

Sumber: Gugel

Ramah dan bersahabat, itulah kesan pertama yang saya dapat ketika 2016 kali pertama bersalaman dengan si pembully itu. Dia sudah lulus kuliah sedang saya baru selesai seminar proposal, kami seangkatan, hanya saja saya yang telat lulus karena masalah kesehatan. Jika fisik kami digambarkan dalam pertemuan hari itu, ia memiliki berat 10 kilo di bawah indeks massa tubuh, sebaliknya saya yang 10 kilo di atas indeks massa tubuh. Sedang kulit kami sama terang.

Di hari-hari berikutnya, kami masih sering bertemu di warung kopi yang sama bahkan tergabung dalam komunitas serupa. Ia aktif datang sebagai moderator maupun audien, sedang saya yang menjadi audien dan kontributor tulisan.

“Aku tuh pengin punya lengan kayak kamu, seger gitu...” katanya ramah, sambil memegang lengan saya yang gemuk dan segera setelahnya, ganti memegang lengannya.

Ucapannya kali itu lebih terasa sebagai upaya membesarkan hati, tidak ada body shaming sama sekali. Pancaran mata si pembully itu pun hangat, selaras dengan kampanye body positivity yang kerap ia gencarkan di media sosialnya. Bahwa ia, betulan menganggap gemuk bukan masalah jika diterima.

Dari satu komunitas, kami selanjutnya masuk dalam komunitas yang satu lagi. Kali ini bukan lagi komunitas literasi, namun komunitas feminis. Dua komunitas ini masih satu atap dan yang membuat saya masuk adalah si pembully ini, mempertemukan pula dengan banyak teman lainnya, lintas kampus.

Di hari-hari berikutnya, si pembully ini tetap hangat, bahkan pernah punya rencana mengunjungi rumah saya. Ia bahkan membagikan tulisan saya di grup. Sebuah tulisan yang dimuat di website feminis yang hari itu dianggap prestisius. Meski lupa persisnya, ia jelas menyertakan kalimat kebanggan terhadap saya. Ia melakukan hal serupa pula di story WAnya.

Beberapa teman menyahut, mengucap selamat dan kalimat berbau kebanggaan sejenis. Dari semua itu, semestinya cukup untuk meyakini si pembully itu teman yang baik. Ia seorang feminis yang betul menerapkan women support women. Hingga saya mulai dekat dengan lebih banyak teman dalam komunitas tersebut dan mendapati konflik antara si pembully ini dengan satu teman fakultasnya sebut saja Maia.

Maia ini dua tingkat lebih muda dari si pembully di kampus. Diakui Maia, orang yang mengenalkannya pada feminisme adalah si pembully, bahkan mengajarinya metode penelitian. Seolah, Maia ini ‘dipungut’ lalu dididik si pembully ini. Jika digambarkan secara fisik, Maia memiliki berat badan pas dengan indeks massa tubuh, wajahnya pula standar industri, sedang si pembully wajahnya standar industri ketika menggunakan make up.

Keganjilan mulai terasa ketika di grup WA, adik tingkat Maia membagikan sebuah acara gerakan perempuan. Ada foto di mana ia dan Maia berada di sana. Kalimat yang menyertai foto pun berupa ajakan jika teman-teman di grup ingin bergabung, maka dipersilakan. Sayangnya, sekutu si pembully sebut saja mbak Anggun, justru memojokkan adik tingkat Maia. Meski tidak dapat mengetik ulang bagaimana persisnya kalimat mereka karena kejadiannya sudah 2017, siapapun jelas bisa menangkap si adik tingkat ini dipojokkan sesungguhnya karena ia dianggap sekutu Maia dan bukannya karena si adik ini dianggap mengunggah kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan komunitas.

Melihat si adik tingkat dipojokkan dan makin mundur agaknya karena bingung dan merasa sungkan soal usia, saya pun akhirnya turut berkomentar. Saya menyatakan bahwa, kalimat yang dipermasalahkan justru ajakan yang terkait dengan pengembangan komunitas. Tidak layak si adik tingkat dirisak sedemikian rupa untuk hal yang salah saja tidak.

Hingga mbak Anggun berhenti menyalahkan si adik tingkat di grup WA, konflik ternyata tidak tuntas. Si adik tingkat mengirim pesan pribadi kepada saya, menyatakan sangsi atas tindakannya sendiri. Jangan-jangan betul ia salah seperti kata mbak Anggun, namun saya yakinkan ia tidak salah dan mbak Anggun sedang gaslighting saja.

Setelahnya, barulah masalah Maia dan si pembully mulai terungkap. Si pembully ternyata kerap merisak Maia setelah ia mengetahui, jejaring Maia di dunia feminisme jauh lebih banyak dan cepat. Masih Maia yang bahkan menjadi pendamping penyintas di sebuah LSM yang tidak dijangkau si pembully. Dua di antara bentuk perisakan itu antara lain, meninggalkan Maia ketika hendak pergi ke Jakarta. Padahal proposal hingga mendapat pendanaan sebelum acara, semua Maia yang mencari. Ia betul-betul tidak diberitahu kapan kereta berangkat dan setelah diprotes, si pembully sambil menangis berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya dan menyatakan sangat menyesal. Tentu kalimat barusan terus diulang ketika ia melakukan hal serupa dan Maia melakukan protes yang sama.

Sebelum Maia betul-betul pergi, hasil kerjanya pernah juga diakui si pembully dan mbak Anggun, sekutunya. Jadi komunitas membuat acara dengan tema penelitian dan feminisme. Konsep acara, semua Maia yang membuatnya sedang ketika hari H, ia ditinggalkan. Bahkan yang masuk media dan diwawancara, justru si pembully dan mbak Anggun. Pada berikutnya, Maia keluar dari grup WA dan betul keluar dari komunitas. Praktik penyingkiran oleh si pembully dan para sekutunya berhasil.

Awal 2018, seorang teman menyatakan si pembully, mbak Anggun dan satu lagi sekutunya yang seorang lelaki, membicarakan Maia. Sambil tertawa-tawa, mereka katakan Maia layaknya dibikinkan pangggung membaca tulisan secara erotis sampai orgasme. Si lelaki itu sendiri ada di komunitas literasi dan feminis yang sama dengan si pembully dan mbak Anggun. Serupa dengan mereka berdua, si lelaki ini gemar berdagang isu kemanusiaan ketika tampil di panggung.

Masih di awal tahun 2018, saya berjumpa dengan si pembully dan mbak Anggun ketika Haul Gus Dur di gedung kesenian. Dengan senyum mengejek, si pembully memanggil saya dan di hadapan mbak Anggun ia katakan,”Sorry, ya. Bukannya aku body shaming, tapi kamu emang makin gemuk.” Disusul tatapan puas dan tawa keduanya.

Dari situ saya memahami, kebaikan si pembully terhadap saya sebelum 2018 ternyata grooming saja alias kedok dari kejahatannya. Bagaimana ia mendukung saya menulis, mendukung penerimaan tubuh hingga merangkul dengan ramah ketika 2017 berjumpa di sebuah acara buku, ternyata kedok, semuanya kedok. Yang bisa jadi ketika tidak pernah terang-terangan memihak Maia dan siapapun yang dianggap temannya, saya tidak akan percaya bagaimana ia dirisak sedemikian rupa. Semacam, nggak mungkin deh dia gitu. Ke aku aja baik kok...

Toh, kita memang kerap tidak percaya seseorang melakukan kejahatan ketika pelakunya tidak melakukan serupa terhadap kita. Kita kerap melakukan negasi atas pengalaman orang lain jika tidak mengalami yang serupa. Dan selamat, di situlah kita menjadi alat grooming bagi para pelaku kejahatan, entah itu seorang tukang merisak maupun predator seksual.

Namun semenjak kejadian adik tingkat Maia yang dirisak di grup hingga meragukan dirinya sendiri, saya memang melihat kejadian itu sebagai sebuah data. Sekalipun tidak mengalaminya sendiri, jika ada fakta di depan mata kenapa harus membuat negasi? Apalagi jelas si adik tingkat ini tidak melakukan kesalahan.

Data itu ternyata bertambah ketika Maia dijadikan guyonan seksual dan saya sebagai yang nampak keberpihakannya kena body shaming. Jadi si pembully tidak bisa menemukan argumen yang masuk akal untuk melawan keberpihakan saya terhadap ‘musuhnya’, satu-satunya hal yang dianggap kekurangan hanya berat badan, apalagi dia tahu saya tidak bisa disentuh soal itu. Bagi yang kerap membaca tulisan saya soal persepsi tubuh di blog, tentu tahu apa sebabnya.

Keterbukaan saya soal kasus Maia, adik tingkatnya dan diri saya sendiri ternyata membawa pada data yang lain. Pertengahan 2018, adik tingkat saya di UKM akhirnya bercerita bahwa selama SMA, ia ternyata dirisak oleh si pembully! Saya tentu kaget dan menyesal. Menahun saya bareng si adik ini, bahkan pernah di tahun 2017 di sebuah acara buku, kami satu meja dengan si pembully dan ia belakangan baru mengaku takut sekali hari itu. Sayangnya, saya betul tidak mendeteksi semuanya. Adik tingkat ini tidak berani bercerita karena takut hubungan saya dengan si pembully rusak dan lagi, ia sering sangsi soal pengalamannya. Apalagi, si pembully tiba-tiba bersikap ramah terhadapnya dan di media sosial, ia kerap berbagi seputar feminisme.

“Aku kira dia udah berubah, Mbak. Dia positif banget di Instagramnya, suka berbagi soal feminisme juga.” Ucap adik UKM.

Jadi jika Maia dianggap mengungguli si pembully dalam karir aktivisme, adik tingkat saya itu dianggap merebut laki-laki yang disukainya selama SMA. Bentuk perisakan itu salah satunya menyoraki si adik tingkat yang tengah berolahraga di lapangan sekolah. Hanya karena tubuhnya dianggap sedikit berisi, meski jauh untuk dikatakan gemuk, dijadikannya itu bahan merisak oleh si pembully. Bersama teman-temannya, ia mengomentari tubuh adik tingkat tadi beramai-ramai.

Jika digambarkan secara fisik, adik tingkat ini berat badannya pas dengan indeks massa tubuh dan wajahnya standar industri. Semasa sekolah, akademisnya juga sangat baik. Jadi selain tubuh yang dianggap tidak sekurus si pembully, ia tidak punya bahan merisak lain. Apalagi lelaki yang disukainya itu ternyata memilih si adik tingkat.

Data masih terus bertambah, ketika seorang teman lelaki yang semasa SMA ternyata satu angkatan dengan si pembully, ternyata pernah dimusuhi teman-temannya sendiri. Si pembully menebar cerita bahwa pacar-pacar standar industri yang didapat teman kami ini hasil dari pelet. Semua hanya karena teman kami ini dianggap wajahnya tidak standar industri, jadi mustahil mendapat pacar yang dianggap unggul secara fisik. Padahal siapapun yang mengenalnya di komunitas tahu, bagaimana ia jago membikin puisi, musikalisasi hingga menggombal. Ia juga kreatif dan pintar, nyambung diajak mengobrol. Perempuan menyenanginya? Tidak heran. Ia juga teman yang bisa diajak saling dukung. Apa benar nilai teman kami ini sekadar kulit dan dagingnya?

Entah berapa banyak lagi korban dari si pembully ini sebetulnya. Korban yang sangsi hendak bicara karena imej yang ia bangun. Bahkan pernah, saya satu panggung dengan teman satu jurusannya di kampus dan si teman ini nampak kagum sekali dengannya. Saya pilih pura-pura tidak mengenal si pembully, ketimbang fakta-fakta yang penggemarnya belum perlu tahu itu bocor. Kalaupun kelak ia mengetahui fakta-fakta tersebut, biarlah dengan tangannya sendiri.

Si penggemar ini pintar dan fisiknya standar industri. Tapi bagaimana bisa ia diperlakukan baik oleh si pembully bahkan seolah dibimbing? Semua ternyata karena ia bergerak di bidang public speaking, bidang yang tidak serupa dengan si pembully. Jadi sekalipun ia pintar dan standar industri, tidak bakal tuh dianggap ancaman. Sebaliknya saya yang bukan ancaman di dunia aktivismenya, akibat berat badan juga tidak dianggap punya fisik standar industri, namun berpihak pada yang dianggapnya ‘musuh’, jadilah bagi si pembully, saya layak balas diusik.

Hari ini, si pembully tetap berjualan konsep persepsi tubuh positif di depan orang-orang, ini masih ditambah berdagang konsep psikologi klinis sesuai jurusannya di S2. Dengan getol ia juga menyuarakan pentingnya pola asuh yang baik.

Pernah seorang teman bertemu dengannya di MATOS tahun 2018 dan ia tanyakan kabar Maia. Teman kami menjawab, Maia masih berkonsentrasi dengan anaknya yang masih bayi. Disaksikan si teman tadi, si pembully mengangkat sebelah bibirnya, spontan tersenyum puas mendengar ‘musuhnya’ dianggap hidup tidak lebih baik darinya yang sudah mendapat beasiswa S2.

Si pembully sendiri sempat terusir dari komunitas karena disingkirkan teman perempuan lain yang sama-sama-sama sindrom ratu lebah dengannya. Bahkan si penyingkir ini dengan bangga menyatakan, si pembully ketakutan waktu jumpa dengannya. Ini belum lagi masalah dengan mbak Anggun dan sekutu lelakinya itu. Setelah terlempar dari lingkaran lamanya, si pembully pun kemudian mengambil psikologi klinis di provinsi lain ketika lolos beasiswa S2, dengan tetap berusaha meninggalkan komentar mendukung di sosial media Maia maupun adik UKM saya.

Ini semua bukan FTV sinema pintu taubat di mana pembully hidupnya blangsak dalam waktu singkat. Pada nyatanya, si pembully tetap melanjutkan hidupnya, menjadi pembicara di mana-mana dengan tema kesehatan mental. Sedang Maia melanjutkan studinya ke benua lain tahun 2019 dan adik UKM menikah dengan lelaki yang ia cintai tahun 2020.

Ada kemungkinan ketika ganti kejahatan teman perempuan yang menyingkirkannya terungkap dan sisi-sisi si pembully sebagai korban diangkat, ia akan kembali lagi ke Malang lantas mendapat panggung lebih luas dan korban perisakannya makin tidak berani berbicara. Entahlah... Tunggu saja yang lebih jahat dari si penyingkir itu bertindak dan baku hantam dengan si pembully atau tunggu ia terjerat jati diri aslinya sendiri. Kita tinggal tonton sambil menyiapkan banyak camilan, karena bukankah semua kejahatan itu berpola?

Friday, April 16, 2021

Gelisah

Beritahu aku, bagaimana caranya agar bisa berpihak tanpa mengisolasi diri...

Dunia ini abu-abu, pula aku. Namun pada kasus tertentu, hitam dan putihku jelas.

Jika aku tidak berbaur, mereka yang butuh ditarik tangannya bakal makin amblas. Mereka mengira yang berbaur, yang abu-abu, tandanya tidak berpihak.

Jika aku mengisolasi diri, mereka yang butuh ditarik tangannya tidak akan tahu mesti pergi kemana. Mereka mengira yang mengisolasi diri, yang hitam dan putihnya jelas meski tanpa diketahui, tandanya tidak pernah ada.

Di sini, pemahaman soal sangkan paraning dumadi diasah.

Friday, April 9, 2021

Validasi Maskulinitas dan Upaya Perempuan Menyatakan Perasaan

 

Sumber: Gugel


Ketika mahasiswa baru, sempat saya sering jalan bareng dan berdiskusi dengan seorang sahabat lelaki yang juga satu offering. Ia di masa itu pernah menceritakan bagaimana semasa MAN ada kakak kelasnya menyatakan perasaan terlebih dahulu hingga akhirnya mereka berpacaran. Masih kakak kelas itu juga yang memberi hadiah kitab suci ketika si sahabat ini berulang tahun. Dari mata si sahabat ini, ada sinar kebanggaan dan kepuasan yang berbeda meski ketika bercerita, status dengan kakak kelasnya itu sudah menjadi mantan. Batin saya waktu itu,"Ini ada yang ganjil, tapi apa ya?"

Perasaan ganjil yang belum mampu saya ungkap kala itu ternyata, soal perempuan yang menyatakan perasaan terlebih dahulu. Sinar mata sejenis itu belum pernah saya temukan dari teman perempuan yang mendapat pernyataan perasaan terlebih dahulu dari lelaki. Tapi mengapa demikian?

Di akhir kuliah, pernah juga saya mengobrol dengan teman lelaki yang ternyata satu SMP dengan yang namanya Andin. Saya, Andin dan lelaki ini pernah satu TK dan beda satu tingkat saja. Di antara obrolan kami, ia kemudian mengatakan bahwa Andin pernah suka dengannya semasa SMP. Lagi-lagi ada sinar mata penuh kebanggaan. Sinar mata itu, sama persis dengan sahabat lelaki yang saya ceritakan di awal tadi.

Sebaliknya, Andin justru sama sekali tidak pernah menyinggung soal menyukai kakak kelasnya di SMP. Kali terakhir kami berjumpa ketika pertengahan kuliah, ia justru menceritakan laki-laki lain yang tengah dekat dengannya. Saya menengarai, teman lelaki kami itu menganggap kejadian Andin yang suka dengannya sebagai kejadian monumental. Monumental karena baginya, perasaan Andin yang seorang perempuan ternyata bisa sangat kentara hingga banyak orang di SMP tahu. Sebaliknya Andin yang ternyata menganggap kisah demikian hanya soal hari yang telah lalu, hingga bahkan tidak menarik lagi diceritakan. Tapi bagaimana bisa?

Saya pun mundur pada waktu yang lebih panjang lagi, ketika SMK. Ibu pernah mengatakan perempuan tidak boleh menyatakan perasaan lebih dahulu. Hal yang tidak pernah saya amini ini bukan dilatarbelakangi cara ibu membedakan tugas lelaki dan perempuan. Semua ternyata bersumber dari kisah teman perempuannya sendiri semasa sekolah dulu. Teman ibu menyatakan cinta terlebih dahulu pada lelaki dan ditolak. Sayangnya, lelaki tadi malah mengumumkan nama teman ibu ke seantero sekolah sehingga temannya tadi kerap diejek beramai-ramai. Jika memang tidak menyukai seorang gadis dan merasa berhak menolak, mengapa ia merasa menang dan lagi merasa layak membikin malu? Teman ibu tidak mencuri kas kelas apalagi korupsi uang negara. Jadi bagaimana bisa?

Semakin bertambah usia, saya akhirnya pun memahami. Pengalaman buruk teman ibu ketika menyatakan perasaan terlebih dahulu bukan salahnya. Kesalahan juga bukan milik si lelaki dan anak-anak lain di sekolah yang merasa berhak menertawakan keputusan teman ibu. Keputusan yang barangkali jauh melebihi jamannya. Keputusan yang barangkali mudah dicap sebagai murahan. Tugas perempuan adalah menunggu dan tugas lelaki adalah memilih. Ah, ini dia. Ini dia konsep yang mencuci pemahaman dalam kepala hampir semua dari kita selama ini.

Konsep ini pula yang agaknya diwariskan generasi terdahulu dari sahabat hingga teman lelaki saya itu. Mereka pada akhirnya meyakini pesona mereka tentu luar biasa, hingga perempuan yang mereka yakini memiliki kodrat menunggu, sampai menunjukkan perasaannya terlebih dahulu. Ada piala yang seolah mereka dapat dari ini semua. Piala yang memberi validasi maskulinitas mereka, kelelakian mereka.

Meski sebetulnya, lelaki maupun perempuan, salah satunya juga tidak perlu diberi tepuk tangan berlebih apabila berani menyatakan perasaan lebih dahulu. Tidak perlu merendahkan, namun juga tidak perlu mengunggulkan berlebihan. Prosesi merendahkan atau memuji berlebihan bagi perempuan yang mengungkap perasaannya lebih dahulu misalnya, hanya akan membuat kukuh konsep soal perempuan menyatakan perasaannya lebih dahulu adalah eksklusif.

Dan benar, teman dan sahabat lelaki yang saya ceritakan di atas tadi pun sama-sama korban. Korban dari konsep turun temurun bahwa lelaki semestinya begini dan perempuan semestinya begitu. Upaya para lelaki ini untuk mencari validasi maskulinitas dengan perasaan menang dan mempermalukan, tidak begitu saja hadir dengan tiba-tiba...

Sunday, March 21, 2021

Masih hidup, oy...

Tenang, yang punya blog ini masih hidup.

Hanya saja... lagi masa transisi atas hal-hal yang nggak pernah dipelajari apalagi dihafal dari buku sebelumnya yaitu... Sangkan paraning dumadi.

Jadi...

Sampai jumpa lagi ya, setelah masa transisi ini selesai, setelah semua selubung ini purna pupaknya.

Sayang kalian!

Baik-baik...

Thursday, March 11, 2021

Malam Minggu Monster (MMM)


Sekali memejamkan mata, ia bisa mengeluarkan asap dari ubun-ubunnya. Tipis mula-mula, menebal pada berikutnya, membumbung ke langit-langit kos dan lama-lama membentuk tubuh, punggung, tangan, kaki dan wajah serupa dirinya, hanya saja lebih besar tiga kali lipat.

Jika sudah demikian, ia utus makhluk yang ia namai serupa nama bikinan ibu buat dirinya itu melayang keluar kamar. Makhluk itu menembus cucian-cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang berkibar di tiang jemuran malam-malam. Ia akan terus melayang melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portalnya lebih dahulu.

Jika sudah demikian, bisa dipastikan itu malam minggu. Malam di mana kembaran yang tiga kali lebih kecil darinya itu sebagian besar menolak ajakan kencan dari pacarnya yang satu kampus di pascasarsajana. Ada apel lain yang mesti kembarannya itu rutin lakukan, apel yang jauh lebih membikin panas dada, memercepat detak jantung dan bikin merinding permukaan kulit jika dibanding ketika kembarannya itu disodori susu lembut milik pacarnya.

Sudah 134 kilo meter makhluk itu terus melayang. Sesekali menembus badan-badan truk dengan plat B. Jika bosan, ia pula sengaja menggulung tubuh menjadi 160 cm, menumbuhkan susu dan rambut panjang lalu melipir ke pinggir jalan dengan rok kuning menyala yang sekadarnya menutupi paha.

Para sopir truk terang saja meleng. Mereka meleng bukannya karena tergoda paha terang si makhluk, namun mereka buru-buru teringat cerita antar sopir soal perempuan macam demikian yang muncul malam-malam dan ketika ditoleh sekali lagi malah menunjukkan mukanya yang hancur separuh juga taringnya yang besar-besar.

“Allah hyang maha agung!” jerit salah seorang dari sopir dengan plat B ketika melihat si makhluk. Berkali ia hanya menyebut nama Allahnya tanpa berani menoleh kembali ke arah si perempuan.

Dengan dengus kecewa, si makhluk kembali merenggangkan tubuhnya. Kembali ia jadi tiga kali lebih besar dari kembarannya yang tengah rebah di atas kasur kos. Perjalanan dilanjutkan hingga ia sampai di sebuah kecamatan berpenduduk padat di tengah kota itu. Satu-satunya rumah dengan atap bertuliskan PKK yang pudar itulah tujuannya. Ada seorang gadis yang tengah lelap di sana...

Dicekalnya tulang kaki gadis itu sesudah ia melayang dan menembus kamarnya. Gadis itu menjerit seperti malam minggu sebelum-sebelumnya. Jika sudah begitu, para tetangga mulai bergunjing, kakek dan neneknya mengeluh, juga ibu dan bapaknya yang berbisik ia hanya cari perhatian supaya tidak disuruh cari kerja selepas lulus. Hanya ada sesak di dada dan tulang yang dirasai gadis itu seolah remuk.

Berkali ia pingsan, berkali pula ia bangun. Matanya pun makin membengkak akibat air mata yang tidak lagi ia tahan-tahan. Napasnya hampir berhenti dan barulah rasa remuk di kakinya itu mereda. Makhluk itu melepas tulang kaki gadis itu begitu saja, melayang menembus dinding kamarnya menuju luar rumah, kembali menempuh jarak 134 kilo meter, melewati jalanan kampung, jalan raya antar provinsi hingga tol tanpa perlu membuka portal. Tidak lupa ia menggulung diri, menyaru sebagai perempuan dengan rok kuning menyala dan menunjukkan wajah separuh rusak pada para sopir truk.

Kemudian makhluk itu merenggangkan tubuhnya, kembali melayang hingga atap kos kembarannya itu terlihat. Ia pun masuk halaman, menembus cucian kaos hingga celana dalam para tetangga kos yang kembali basah terkena embun malam lantas menemukan kembarannya tengah terlentang di kasur. Kembali masuk dalam ubun-ubun, ia tiga kali lipat mengecil. Tubuh, punggung, kaki dan wajah itu pun mengempis, asapnya juga makin menipis.

Perlahan, kembarannya itu membuka mata dan ia pun berbisik,”Aku sayang kamu. Malam minggu esok kita kencan lagi ya...”

nan eodum sogui Dancer
Aku adalah seorang penari dalam kegelapan

onmom ttukttuk kkeokkeo
Aku akan meregangkan seluruh tubuhku

chimdae gakkai galge
Aku akan pergi mendekati tempat tidurmu

musimusihage
Dengan begitu mengerikan

ne simjangeul humchyeo jibaehae
Aku akan mencuri hatimu dan mengendalikannya

hanaui jomyeong wae geurimjaneun duriya?
Hanya ada satu cahaya, tapi mengapa bayangannya ada dua?

nae soge dareun ge nuneul tteun geot gata
Aku merasa sesuatu yang lain di dalam diriku telah membuka matanya

I'm a little monster** nal geomnae

I’m a little monster, takutlah padaku


**Little Monster, Irene feat Seulgi