Saturday, September 5, 2020

Arini, Si Picik yang Dibully dan Disingkirkan


Menurut bisik-bisik yang disebar beberapa anak perempuan di kelas, kepindahan Arini dari sekolah salah satunya adalah karena Bravo membullynya. Saya jadi kembali mengingat kasus ini ketika mengobrol dengan Sri. Sri sendiri menceritakan perkara Arini, setelah membaca kisahnya pernah menampar gadis yang punya imej pintar, santun dan pendiam itu dari blog ini (Baca Juga; Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura).

Imej Arini yang kalem, santun dan menonjol akademis disebar lintas kelas oleh para guru, pula imej Sri yang dilabel nakal. Jadilah ketika Arini melukai Sri tanpa sebab, semua orang malah mengeroyok Sri. Kala itu, Arini serupa tokoh utama yang mendadak dianiaya orang-orang kejam yang iri seperti Sri. Meski sesungguhnya, gadis berkulit putih itu hanya berupaya membela diri dan bukannya melukai tanpa sebab.

Cap nakal sendiri, didapat Sri ketika mulai pindah di sekolah kami saat kelas dua. Sri kala itu, juga baru saja pindah dari daerah menuju salah satu panti asuhan yang letaknya di tengah kota Malang. Ia sesungguhnya bukannya nakal, hanya saja belum mengerti peraturan apalagi bisa beradaptasi. Bahkan saya ingat, bagaimana Sri tidak mengerti cara menulis di dalam garis.

Sedang Bravo, saya kenang sebagai anak yang engerjik. Dia selalu tertawa-tawa dan melanggar aturan. Meski dalam ingatan, kami ternyata tidak pernah bersinggungan bahkan sekadar saling sebut nama. Belakangan saya memahami, agaknya Bravo ini tipe yang tidak akan menjalin hungan dengan teman yang tidak membuka diri semacam saya. Pula ia, tidak akan membuat gara-gara dengan teman yang sama sekali tidak bersinggungan semacam ini.

Dalam ingatan Sri, pernah Bravo menulis nama orang tua Arini di papan tulis dan sangat besar. Di sekolah kami yang berbasis agama, menulis atau menyebut nama orang tua teman adalah tindakan tidak terpuji, sebuah pelanggaran fatal. Kemudian Arini kala itu kabarnya terluka parah hatinya dan ramai-ramai orang membelanya. Ya… membela si anak baru yang pendiam, santun, pintar namun tiba-tiba diperlakukan tidak adil oleh Bravo. Bravo yang kejam... Bravo yang jahat… begitu kira-kira yang ada dalam pikiran orang-orang.

Tapi selain Bravo, ternyata ada Cayo yang benci setengah mati pada Arini. Agaknya, kedua anak lelaki ini pernah punya masalah dengan si kalem itu secara langsung atau menyaksikannya membuat masalah. Karena kontak mereka berdua tidak bisa saya dapat, jadi konfirmasi soal hal ini belum bisa dilakukan.

Cayo juga pindah ke sekolah kami ketika kelas dua, hampir berbarengan dengan Sri. Menurut bu Nurul, wali kelas dua, kepintaran Cayo sesungguhnya setara dengan anak-anak dari SD yang katanya favorit. Hanya saja, entah bagaimana dia jadi tidak terarah dan nilainya menurun semakin naik kelas. Jadi ketika Arini masuk di kelas tiga, prestasi Cayo sudah menurun.

Sri dan Cayo sendiri hubungannya sangat baik, pula dengan saya. Dalam ingatan, saya mengenang Cayo sebagai anak yang jahil tapi bukan melanggar aturan. Dengan rambutnya yang keriting dan mengembang ke atas, Cayo memerlakukan saya sangat baik bahkan mendukung terang-terangan hobi menulis saya. Malah dengan Sri, banyak guyonan yang saya tidak paham namun ia dan Cayo bisa terbahak-bahak bersama.

Kolaborasi Bravo dan Cayo selanjutnya terus menggempur Arini. Sri sendiri tipe bertahan, beda cara dalam menghadapi si peringkat dua di kelas itu. Ia hanya pernah menyerang balik Arini sekali dan tidak pernah lagi terulang. Ketika akhirnya Bravo keluar dari sekolah yang saya lupa ketika kelas empat atau lima, desas-desus beredar bahwa keluarnya Bravo salah satunya karena pernah menjahili Arini. Ya, soal papan bertulis nama bapaknya itu. Mr. A yang hanya mau mengakui murid pintar sebagai anak didiknya, saya ingat menceritakan keburukan Bravo sering sekali di depan kelas. Yakin saya, ia pula menceritakan keburukan Bravo lintas kelas, mengingat masing-masing tingkat di SD kami waktu itu, hanya ada satu rombongan belajar. Setiap guru, menguasai hampir semua kelas dan tiap tingkat, bisa saling mengenal. Barangkali, niat Mr. A adalah memberi contoh baik dan buruk kepada semua anak didiknya, meski fatalnya semua justru berubah jadi label karena penyebutan identitas yang jelas.

Jujur saya merasa lega, ketika Sri menceritakan kembali kasus Arini yang ternyata dibully duo Bravo dan Cayo itu. Perasaan sesak dan marah ketika dulu gagal membela Sri yang sesungguhnya membela diri dari kejahatan si kalem itu, pelan-pelan menguap. Jika Sri hanya menyerang ketika bertahan dan bisa membalas kejahatan dengan kebaikan (baca juga; Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya balas Dendam Pada Si Culas), Cayo dan Bravo mengambil jalan yang berbeda. Arini yang picik dan pandai bersandiwara, mereka singkirkan dengan cara setara kejahatan si kalem itu, bahkan agaknya lebih. Ini semua jadi membuat kesan Cayo dan Bravolah yang jahat. Tapi toh, dengan cara demikian, anak seperti Arini baru bisa diusir pergi.

Masih ingat kasus Hasna VS Savina yang saya tulis dalam Seni Memaklumi? Ya, Hasna melukai dan menyingkirkan Rara yang dianggapnya pesaing. Rara keluar dari komunitas dan terlempar dari lingkaran Hasna. Namun kemudian, Hasna bertemu Savina yang takut sekali kalah pamor dengannya dan juga tahu ia berbahaya. Savina ganti menyingkirkan Hasna kemudian, bahkan dengan cara yang lebih jahat dari ia menyingkirkan Rara.

Sri yang memilih bertahan dan membela diri ketika terdesak dan Rara yang tersingkir karena terus didesak. Keduanya memiliki pola yang mirip; sama-sama dilukai tanpa sebab. Dan orang yang membuat mereka luka pada akhirnya tersingkir dengan cara yang lebih jahat. Ini semua membuat saya makin percaya, semua orang memang memiliki motif hingga dirinya jadi beracun. Tapi tidak semua orang, bisa disentuh hatinya dan masuk ke bagian yang satu itu bukannya tugasmu, bukannya kewajibanmu. Orang-orang demikian memang layak tersingkir oleh cara-cara yang lebih jahat dari kejahatan mereka sendiri. Karena jika tidak, tinggal tunggu kamu atau orang terdekatmu yang ganti dilukai tanpa sebab. Tapi ya, ingin menjadi Sri atau duo Bravo dan Cayo, semuanya ada di tanganmu sih.

No comments: