Tuesday, May 6, 2014

Jagal Ayat


                       Benderang. Kami di hempas lembut dari langit terang menuju bola tanah raksasa warna biru. Dua tanganku meremas erat tangan sesamaku di kanan dan kiri seperti takut kalau- kalau guncangan yang menyakitkan muncul. Nyatanya, cuma hentakan seperti kaki anak- anak yang muncul dua atau empat kali dalam perjalanan kami.
                       Cahaya putih tersaji makin mendekat depan muka kami. Nyalanya membuat mata kami berair hingga semua dari kami memaksa diri menutup mata.
                       Waktu bangun, tangan empuk yang sangat lembut memeluk kami semua. Kuputar kepalaku kesekitar. Disekitar cuma ada bau air dan batu. Tangan yang menyambut sejak kedatangan makin erat memeluk kami. Kami merasa damai.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       Damai nyatanya tak cukup lama hinggap. Aku melihat seperempat dari rombongan kami menghilang dibalik jantung pemilik tangan empuk nan lembut yang menyambut kami tadi. Makin erat dua tanganku menggenggam tangan sesamaku yang ada di kiri dan kanan. Nyala sinar di sekitar makin redup.
                       Jantung itulah rumah kami.
                       Gelap. Aku membuka mata. Selebarnya. Sekuatnya. Namun tetap gelap.
                       Berusaha kugerakkan dua tanganku. Aku melihat sisi kiri dan kanan. Dua sesama yang sejak keberangkatan kugenggam erat tanganya sudah tidak ada. Mereka
hilang. Satu tangan lain yang hangatnya tidak melebihi hangatnya tangan pertama yang menyambut kami sudah membawa mereka kebalik jantungnya. Tangan itu sibuk menggores sesuatu pada daun- daun.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       Jantung dan daun- daun itulah rumah kami.
                       Aku merasa sendirian. Mengapa aku di tinggalkan?.
                       Melayang aku dibawa angin. Sisa rombongan yang lain ternyata juga banyak yang melayang di udara. Mereka ke utara, barat, dan selatan. Sedangkan aku melayang tanpa mauku sendiri kearah timur.
                       Sepanjang jalan, aku melihat banyak sesamaku di rengkuh tangan- tangan hangat meski tak sehangat tangan pertama dan kedua yang menyambut kami datang awal tadi. Sesamaku hilang di balik jantung tangan- tangan cukup hangat yang meraih mereka sepanjang jalan kami melayang. Tangan- tangan itu tampak sibuk menggores sesuatu di daun, batu dan batang kayu.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.      
                       Jantung, daun, batu dan batang kayu itulah rumah kami.
                       Rombongan kami makin sedikit. Kami melintasi laut. Tak ada tangan sejauh ini. Ingin rasanya aku berjalan semauku mencari tangan yang mau merengkuh aku. Sayang, lumpuh kakiku. Cuma angin yang bisa di andalkan menggulir perjalananku biar tetap maju kedepan.
                       Tiba kami di pinggiran pasir yang berair. Rombongan kami berkurang lagi. Lebih banyak tangan meraih sesamaku yang kemudian memasukkan mereka ke dalam jantungnya. Tangan ini tak lebih hangat dari tangan mereka yang sibuk menggores sesuatu di daun, batu dan batang kayu sebelum kami melintasi laut. Tangan- tangan ini sibuk menggores sesuatu di atas lembaran tipis kulit kayu warna coklat.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       Jantung dan lembaran tipis kulit kayu warna coklat itulah rumah kami.
                       Lagi. Tak ada tangan yang mau meraih aku. Angin membawa kami yang
tersisa membumbung lebih tinggi melewati daun- daun pohon kelapa. Daun, dahan dan kepala hitam semut- semut menunduk teduh memandang kami lewat.
                       Angin lebih keras membawa kami. Aku sampai tidak lagi bisa melihat sekeliling karena yang terlihat cuma kilat putih dan bau debu bercampur angin.
                       Kami menabrak dinding kayu. Keras, dingin dan kusam.
                       Rombongan kami berkurang lagi. Tangan- tangan yang lebih banyak jumlahnya dari yang menggores sesuatu di lembaran kulit kayu mulai meraih sesamaku yang tersisa satu- satu ke permukaan jantung mereka. Tangan- tangan itu hambar. Tidak dingin, tidak panas dan tidak hangat. Dengan menyeret kaki, aku berusaha menarik salah satu tangan yang barangkali mau meraih aku bila tahu aku tengah sendirian. Tapi angin menjauhkan aku dari dinding kayu itu.  Dari jauh aku melihat tangan- tangan yang barusan menangkap sesamaku sibuk menggores sesuatu di atas lembaran putih bernama kertas.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       Permukaan jantung dan lembaran putih bernama kertas itulah rumah kami.
                       Kami melayang lagi. Angin menampar tubuh kami ke atas sebuah kubah. Lantunan kalimat indah mengalir dari puncak kubah. Tak asing kata- kata itu bagi kami. Kalimat itu sering kami dengar hingga hafal bahkan sebelum kami di hempas ke dalam bola tanah raksasa warna biru ini. Kalimat indah pujian untuk Tuhan.
                       Tangan- tangan muncul. Jauh lebih banyak dari tangan yang meraih sesamaku di dinding kayu. Tangan- tangan itu panas, di raihnya sesamaku ke permukaan jantung mereka. Tubuhku tak tersentuh mereka namun kulitku rasanya seperti terbakar.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       Sesamaku yang tertangkap melotot menahan panas. Aku maupun mereka
seperti hendak teriak. Namun, ketika aku merogoh rongga mulutku, barulah aku sadar bahwa kami tidak punya daging lentur yang namanya lidah.
                       Angin datang lagi. Badanku melayang lagi. Kali ini bersama daun kering, debu, dan kotoran hewan.
                       Dari jauh. Aku melihat tangan- tangan panas tadi menggores sesuatu diatas kertas putih. Bukan dengan tangan mereka. Tapi, menggunakan mesin besar bersuara keras yang membuat kertas- kertas itu dalam goresan serupa.
                       Permukaan jantung dan kertas- kertas dalam goresan yang sama itulah rumah kami.                      
                       Aku dan sisa rombongan melayang lagi. Lama. Kami menabrak sebuah dinding kaca. Besar, tinggi, bagian teratasnya hilang ditimbun awan.
                       Suara gaduh mendadak menggaruki kupingku. Tangan- tangan yang jauh lebih panas adanya daripada yang ada di kubah menarik badan sesamaku.
                       “Kitab suci! ,”
                       “Ayat suci! ,”
                       “Demi Tuhan ,”
                       “Menangkanlah aku!,” jerit pemilik tangan- tangan panas itu berulang- ulang.
                       Kasar. Leher sesamaku di cengkeram. Mereka di lempar ke meja-meja bundar dan kursi- kursi besar berbantal.
                       Ini kali pertama aku benar- benar tak berharap ada yang meraihku. Tangan- tangan yang saat ini gaduh menyeret kasar badan sesamaku adalah siksa. Aku tahu.
                       Nyatanya. Satu tangan panas ternyata meraih badanku. Kulit mukaku mengelupas. Leherku berdarah- darah. Di lemparnya aku ke meja besar berbentuk lingkaran.
                       Si empunya tangan bersorban dan berbaju putih.
                       “Emas! ,”
                       “Bunuh hak! ,”
                       “Emas! ,”
                       “Bunuh hak! ,”
                       “Kitab suci .”
                       “Ayat suci ,”
                       “Demi Tuhan! ,”
                       “Menangkanlah aku! ,” Lenganku jadi biru. Dicengkeram oleh dia si peraihku. Dia teriak soal dunia, aku, Tuhan dan kemenangannya. Aku di dorong tepat ke muka pemilik tangan yang lain.
                       Pemilik muka yang lain meneriakkan hal yang serupa. Sesamaku yang ditangkap olehnya dilempar balik tepat ke muka peraihku.
                       Terus begitu. Dijadikan kami senjata untuk saling lempar antar muka.
                       Kami tak punya lidah. Hati kami yang teriak sebut- sebut nama Tuhan.
                       Tuhan kami..
                       Tuhan kami..
                       Dihempas kami.
                       Dilempar kami.
                       Dibuat kami berdarah- darah.
                       Tak diberi kami barang sebuah rumah. 
                       Mereka sebut kami.
                       Mereka sebut kitabMu.
                       Mereka sebut asmaMu.
                       Demi mereka menang.
                       Beri ampun mereka Tuhan..

TAMAT

Sunday, March 16, 2014

Aspal Merah


Motor biru melaju. Muka si pengemudi merah, berpeluh, kosong matanya. Laju motornya lambat makin melambat. Dua detik kemudian, motor biru itu melintas samping gadis dengan rok panjang hitam dan motor merahnya.
Gadis itu menoleh. Matanya tertuju antara roda depan dan belakang motor biru yang ada di sampingnya. Standar motor itu setengah berdiri, hampir menyentuh aspal. Lama. Motor merah dan biru itu berjalan beriringan. Mata si gads makin lebar mengamati standar motor biru yang makin dekat dengan aspal.
Pikiran si gadis jadi macam- macam. Ia bayangkan standar motor itu benar menyentuh aspal. Pastilah motor sekalian pengemudinya berguling hebat di aspal. Pikiran- pikiran buruk gadis itu terus berguling dalam otaknya. Tapi, tangan kanannya malah memutar gas kearah belakang. Motornya bergerak maju, meninggalkan motor biru dan pengemudinya yang makin jauh tertinggal di belakang punggungnya. 
Motor merah sekalian si gadis hampir menghilang dari garis jalan yang di kiri kanannya berjajar rumah toko. Jauh dari garis jalan itu bukannya membikin pikiran buruk si gadis beranjak pergi. Makin riuh pikirannya dengan bayangan manakala standar motor biru pemuda tadi menggaruk aspal. Pastilah pengemudinya jatuh, terseret, berputar dan terlempar.
Suara klakson motor lain tepat di belakang si gadis memecah lamunannya. Kemudi di tangan kiri dan kanannya mulai meliuk tajam tanpa tentu arah berbarengan dengan
senggolan keras benda berat dari belakang motor sebanyak dua kali. Tubuh dan motor si gadis makin miring ke kanan. Menyentuh aspal. Berputar dua kali. Terlempar kedepan. Kaca helm si gadis terbuka. Matanya terpejam. Dua tanganya masih menempel pada kemudi.
Gelap. Tusukan jarum infus membuat nyeri lengan gadis pengemudi motor merah yang menggaruk aspal siang tadi. Ia membuka mata kirinya pelan- pelan.
“Kamu di Rumah Sakit Umum Mbak... ,” perawat muda menyambut mata si gadis yang baru terbuka. Belum usai perawat bicara, suara kaki yang menerobos selambu hijau penyekat ruangan sudah memecah heningnya suasana.
“Selamat sore. Saya dari Koran X Post. Benar anda saudari Erma? ,” Pria usia 37 tahunan dengan tanda pengenal pers di dadanya terus mengeluarkan kata- kata tanpa perduli napasnya yang tersengal akibat langkahnya yang buru- buru tadi.
Mengangguk sopan. Tak ingin mengganggu, perawat muda keluar dari ruangan bersekat kelambu hijau.
“ Ya. Saya Erma ,” gadis itu mengangguk lemah sambil menahan nyeri pangkal lengannya.
“Boleh saya mengobrol sebentar? ,”
“Oh tentu ,” Erma berusaha menegakkan kepalanya.
“Usia anda? ,”
“19 ,”
“Kuliah? ,”
Ya. Semester 4 pak ,”
“Di? ,”
“Universitas Y ,”
“Bagaimana kejadian yang Mbak alami hingga akhirnya berada disini? ,”
“Ada suara klakson yang sangat memekakan telinga dari belakang motor saya. Agaknya pengemudi yang membunyikan klakson itu hendak beri peringatan pada saya agar segera menghindar oleh karena sesuatu, tapi terlambat. Benda keras menghantam belakang motor saya. Saya miring kekanan dan berputar dua kali kemudian terlempar ,”
Pria itu mengucap terimakasih. Tangan kanannya menyalami Erma. Ia pergi bersama tanda pengenal persnya. Erma memejamkan mata lagi.
Sisi kiri ruangan bersekat itu mendadak riuh. Erma membuka sedikit mata kirinya.
“Motor biru pemuda itu hancur setelah menabrak motor lain yang ada di depannya.
Si pemuda tewas di tempat ,” wanita dengan suara berat menguasai awalan percakapan. Gemerincing mangkuk perak wadah air bersahutan.
“Ya. Motor yang di tabrak pemuda itu langsung rubuh dan menabrak motor lain yang ada di depannya. Begitulah seterusnya. Untunglah korban tewas hanya pemuda itu seorang ,” suara wanita lain menyusul.
“Standar motor biru milik pemuda yang tewas itu belum di lipat waktu kecelakaan beruntun ini terjadi kata polisi ,”
“Mahasiswi yang ada di kamar sebelah itu adalah korban terakhir dari kecelakaan beruntun itu bukan?. Beruntung motor gadis itu tidak menggaruk pengguna jalan lain yang ada di depannya ,” jari si penutur menunjuk kamar bersekat tempat Erma terbaring.
“Ya. Beruntung.. ,”
Erma diam. Dua matanya sekarang melotot. Pemuda yang lupa melipat standar motor birunya itu, sempat melintas samping motor Erma. Tapi dia diam.
“Pembunuh.. ,” bisiknya pelan diikuti teriakan yang tidak jelas apa maknanya hingga mengundang orang di sekitar ruang bersekat itu berdatangan.


TAMAT 

Thursday, February 20, 2014

Manuk Sakti


Karina pulang larut hari ini. Di antar pria yang kiranya seusia dia, sembilan belas tahun. Ia tiba depan rumah dengan jaket sangat tebal. Di lambaikan tangan kanan Karina manakala pria itu beranjak menjauh bersama motornya dari tempat Karina berdiri.
Sesegera mungkin Karina merogohi saku jaket tebalnya untuk mencari kunci dengan helm hitam yang tetap menggagah di kepalanya. Bertemu kunci yang ia cari, Karina memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu ruang tamu, ia masuk ke dalam rumah.
Tak tahu Karina, dua pasang mata intai dia dari rumah di ujung gang. Dua pasang mata itulah yang saling berbisik, membekap mulutku, menarik tubuhku kemudian memasukkan aku di antara ketiak mereka biar berhenti aku meronta.
Pagi hari, di keluarkannya aku dari ketiak mereka. Tubuhku sudah lemas. Aku di dudukkan di pinggiran kasur. Mereka menjambaki rambutku, mengaitkan pita- pita kawat di seluruh kepalaku. Di bedaki mukaku dengan bedak sangat putih hingga tak tampak muka asliku. Tak lupa, mereka oles perona bibir merah darah bersamaan pula dengan perona pipi warna oranye menyala. Mereka tersenyum- senyum tak tahan rasanya mereka mengarak aku keliling kampung depan orang- orang.
Berdua mereka meninggalkan aku di pinggiran kasur. Tak lama, mereka kembali lagi. Di copotinya seluruh pakaianku. Telanjang aku dengan riasan tebal di muka. Aku diam di
pinggiran kasur. Ingin menangis. Tapi sayang aku seperti tak punya anugrah bisa keluarkan air mata.
Mataku yang terasa tebal akibat bedak yang menindih seluruh mukaku membuatku baru sadar bahwa dua orang itu adalah dua wanita bertubuh tambun dengan baju terusan panjang sekenanya. Satu seperti ibu muda, satu lagi nenek tua.
Ibu muda keluar dengan menggelung rambut panjang berminyaknya ke belakang. Kasar ia gesekkan anak kunci pada lubang kunci ruang depan. Ia keluar sambil menenteng dompet yang besarnya tiga kepalan tangannya.
Tangan keriput nenek tua mendorong tubuh kurusku menyusul langkah si ibu muda. Aku besusaha meraih tangan ibu tua kemudian menggigitnya, tapi jitakan berkali- kali di kepalaku bikin aku menyerah juga.
Riuh suara terkikik sejumlah ibu yang mengerumuni gerobak sayur depan rumah para penyiksaku. Badan kecilku yang sawo matang, di bawa ibu tua ke atas gerobak sayur. Tak indah muka dan badanku di pandang barangkali waktu itu. Kulit tubuhku yang warna sawo matang mesti di adu dengan riasan warna putih di mukaku.
“Karina pulang larut sekali semalam. Dia di antar pria ,” ibu muda mengawali percakapan.
“Ah masa?. Aku kira dia gadis pendiam yang tidak neko- neko ,” ibu berambut sebahu menyahut sambil jari- jarinya memasukkan kepingan kerupuk ke dalam kantong kresek.
“Ah, bu RT ini. Saya dan anak saya lihat sendiri malam itu lewat jendela kamar ,” ibu tua mencubit pahaku manakala aku hendak buka mulut. Aku diam menahan sesak di dada.
“Diam- diam bikin hanyut itu si Karina ,” ibu berkerudung merah jambu seperti mengamini arah pembicaraan ibu tua dan putrinya.
“Sopan sih. Tapi ya, luarnya saja tuh sepertinya. Hahaha ,” Ibu berambut keriting panjang menambahkan pewarna kelopak mata warna hijau tua di mukaku.
“Ah, saya sih belum percaya. Bisa saja Karina pulang malam karena suatu alasan, bukan karena dia macam- macam ,” wanita yang di panggil- panggil bu RT menghapus perona mata itu di mukaku. Aku tersenyum padanya. Dia penyelamat atas rasa maluku.
“Yah. Ada benarnya juga. Karina begitu sopan, dia jarang keluar rumah kecuali keperluan mendesak ,” ibu kerudung merah jambu melepas satu kawat di rambutku.
“Mereka kelihatan mesra sekali malam itu. Apa itu bukan tanda? ,” ibu tua mengoles perona kelopak mata warna oranye kali ini. Aku menjerit. Di jitaknya kepalaku dua kali.
Sibuk ibu muda, ibu tua dan ibu- ibu lainnya memilah ikan dan sayur yang bakal di bayar. Aku kedinginan dan telanjang, di lupakan begitu saja di atas gerobak.
Lama. Para ibu itu melenggang pergi satu- satu termasuk dua penyiksaku itu. Kakiku hendak turun dari gerobak. Belum sampai, tangan bu RT menyambar lenganku. Lembut, dia gandeng aku sambil tangannya yang lain menenteng belanjaan.
Sampai di rumah. Aku di dudukkan bu RT di kursi ruang tamu. Ia meninggalkan aku agak lama di ruang tamu. Bau masakan tercium dari tempatku duduk. Bau masakan itu tetap mengepul ketika bu RT membawa kapas dan air di tangannya menuju ruang tamu.
“Tega sekali mereka ngomong macam- macam soal Karina. Benar atau tidak asal Karina tak sampai racuni otak anak- anak mereka, apa urusan mereka? ,” ucapnya sambil mengusapkan kapas basah di pipiku yang penuh riasan.
Separuh mukaku terbebas dari riasan tapi bu RT buru- buru pergi ke pintu depan untuk menyahuti tamu yang datang. Siapa yang datang? Nyoya Laras yang datang.
“Kurang berapa kali cicilan baju muslim saya bu? ,” Nyonya Laras duduk di kursi ruang tamu tanpa di persilahkan.
“Kurang dua kali bu ,” bu RT buru- buru menyusul Nyoya Laras yang duduk.
Nyonya laras mengeluarkan lembaran- lembaran uang kemudian segera pamit dan keluar rumah. Ia membawa aku. Lenganku di cengkeram kasar.
Baru tiga langkah meninggalkan pintu, Nyonya Laras mengoles bedak putih tebal lagi di separuh wajahku yang tadinya sudah di bersihkan oleh bu RT. Nyonya Laras juga balik badan menghampiri bu RT yang baru saja hendak menutup pintu.
“Bu, benar ya?. Si Karina anak bu Joko itu sekarang mulai neko- neko? ,”.
“Ah. Saya tidak berani komentar Bu Laras ,” bu RT tersenyum lembut di sambut raut sebal dari Nyonya Laras. Nyonya Laras menarik aku. Ini awal siksaan berat yang baru.
Nyonya Laras membawa aku ke sebuah warung. Di dudukkannya aku di etalase toko.
“Beli apa Nyah? ,” sapa pria paruh baya dari balik etalase.
“Telur seperempat kilo Mas Kri ,”
“Eh, Nyah. Sudah dengar soal Karina?. Anak bu Joko yang kuliah di kampus X itu loh.. ,” laki- laki yang namanya mas Kri itu mulai mengambil satu telur dari bawah meja.
“Dia mesra sekali dengan pria yang mengantar pulang larut malam itu ,”
“Hah? Mesra bagaimana toh Nyah? ”
Nyonya Laras menebalkan perona oranye di pipi kananku.
“Tahulah anak muda sekarang, gandeng tangan sudah jadi hal biasa ,”
“Wah, hati- hati kebablasan tuh. Malah waktu berboncengan, si Karina juga mrangkul perut pemuda itu erat- erat ,” yang di balik etalase mengambil pemberat untuk menimbang telur. Setelahnya, dia oleskan perona oranye di pipi kiriku.
Aku ingin teriak sekerasnya, tapi serak suaraku. Tidaaaaak! Tidaaaaak! Bukan begitu! Bukan begitu Karina! Yang kalian ceritakan itu bukan Karina. Mereka terkekeh- kekeh seperti telinga mereka sudah di sumpali kain- kain beludru biar  tak dengar apa ucapku.
Di bawanya kantong kresek isi telur itu oleh Nyonya Laras. Aku di campakkan bersama pria paruh baya di balik etalase.
Badanku di junjung tinggi- tinggi. Mas Kri pria itu di panggil. Ia begitu senang melihat tubuhku di genggamnya.
“Telur seperempat kilo Mas Kri ,” suara nenek berambut tipis membuyarkan rasa senang Mas Kri.
“Iya Mbah.. ,” Mas Kri dengan senyum terlebar mulai memindahakan telur ke timbangan.
“Mbah sudah dengar kalau Karina sekarang neko- neko? ,” Mas Kri tangannya tetap sibuk memindahkan telur ke timbangan.
“Tahu dari mana Mas? ,”
“Dari orang- orang. Siang malam, tidak kenal waktu, Karina berbocengan dengan seorang pemuda. Di rangkul mesra perut pemuda itu tiap mereka berboncengan ,” mas Kri menebalkan perona bibirku dengan warna merah.
Nenek yang ada di depan mas Kri cuma tersenyum tipis.
“Berapa mas Kri? ,”
“Biasanya lah.. ,” Mas Kri ketus.
Nenek itu mengeluarkan lembaran uang di dompetnya. Di hapusnya sedikit perona di pipi kiriku. Ia pergi dengan menenteng kantong kresek isi telur.
Aku bersorak. Tak ada cerita lagi soal Karina. Cerita itu berhenti pada Mas Kri yang mendengus sebal memandang Nenek pembeli telurnya barusan mulai berjalan meninggalkan halaman warung. Aku terbahak keras. Mas Kri menjitaki kepalaku.
Di campakkannya aku di atas etalase toko. Nelangsa aku sendirian disana, mau turun pun tempat ini tingginya minta ampun buatku. Tubuhku yang telanjang aku rapatkan dengan tangan. Tak tahu aku apa yang hendak terjadi setelah ini. Tebal tipisnya riasanku pun aku tak tahu bakal kapan terjadi. Yang aku tahu, Karina bukan apa yang mereka kata.
Karina pulang di antar Aji, teman sekampusnya. Karina menunggui teman perempuannya yang jatuh dari tangga hingga hilang kesadaran mulai sore hari sepulangnya dari kampus. Temannya itu tak kunjung bangun sampai dini hari, hingga akhirnya Aji, teman laki- laki yang turut menunggui menawarkan Karina untuk di antar pulang karena hari sudah terlalu larut dan teman yang lain pun sanggup menunggui.
Lalu aku?. Aku lah kabar burung yang dirias tebal biar Karina tampak menarik diceritakan. Punya daya apa aku?.

TAMAT

Saturday, January 4, 2014

Kultus


Oleh- oleh dari makam seorang penggede..

Liburan semester 2..


           Berguling aku di lantai hingga air mataku mengalir saking kerasanya aku terbahak. Sayang sungguh mereka tidak dengar bahana tawaku, kalaupun mereka sanggup dengar, pastilah robek gendang telinga mereka sedari awal.
Makin banyak mereka yang lalu lalang disini, makin banyak laku mereka yang aku rekam. Lebih cepat lagi tubuhku berguling, lebih banyak lagi air mata yang mengalir di pipi akibat tawaku yang kian kuat.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Kilat kamera berulangkali menusuki mata mereka yang ada di sekitaran nisan. Sekalipun berulang mata mereka tertusuk kilat kamera, mereka terus berebut memeluk nisan sambil menyembul gigi berharap wajah dan tubuh mereka tersambar kilat kamera seutuhnya dengan rasa bangga.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Seorang perempuan usia lima puluhan dengan bedak sangat tebal membisikkan sesuatu di kuping perempuan muda berambut panjang yang ada di sampaing kiri tubuhnya. Perempuan muda itu mengangguk pelan dengan tatapan waspada. Bola matanya bergulir ke kiri dan ke kanan, tangan kirinya mengambil sebuah kantong plastik kecil warna hitam di dalam tas kecil bertahta mutiara imitasi kemudian tangan kanannya buru- buru mengambil beberapa kembang di tanah kuburan.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
***
Asma Tuhan ramai mereka sebut, asma nabi ramai mereka sebut. Mereka yang pakai jubah putih- putih, kerudung rapat, bibir hikmat. Tujuan ada di kepala, mengambang mereka sebut asma Tuhan. Bola mata mereka merapat pada nisan, dalam kepala dan hati ada bayangan si penghuni gundukan tanah yang di tancapi nisan itu semasa hidup. Hingga di akhir doa- doa mereka, bayangan si penghuni gundukan tanah yang di tancapi nisan itulah yang bikin mereka yakin doa mereka bakal di ijabah karena si penghuni gundukan tanah itu pasti jadi perpanjangan tangan Tuhan soal doa- doa mereka.
Sesekali aku menyaru muka si penghuni gundukan tanah itu jelang petang. Ramai mereka kata sosok itu nyata si penghuni gundukan tanah yang makin dekat kabul doa mereka.
Mereka..
Mereka..
Hahahahahaah!
Sungguh lucu laku mereka!
Kultus..
Ya..
Iyakan saja aku yang menyaru sosok dalam gundukan tanah itu sebagai nyata si penghuni gundukan tanah yang makin dekat kabul doa. Iyakan saja..iayakan saja.. hahahahaha kultus.. kultus..kultus..

SELESAI

Wednesday, January 1, 2014

Hadiah Buat Pak Menteri


Cerpen jaman SMK..

Dibikin tahun 2011..

Yang tersisa dari berantakannya data- data lama..

Aku sendiri ingat- ingat lupa apa ceritanya..

Dan lagi..

Ini tanpa editing alias asli ketikan pada tahun tersebut..

      Rumahku sederhana. Rumah peninggalan orang tua dengan tiga kamar didalamnya. Rumahku sederhana tapi ada surga didalamnya. Suamiku yang baik,sabar dan pengertian juga tidak romantis tapi ekspresive..tiga anakku dengan warna warni karakter mereka. Ini rumahku, rumahku yang indah, rumahku yang hangat.
***
Yan, panggilan akrab buat anak lelaki pertamaku. Dia memiliki otak brilian hingga dapat masuk Sekolah Menengah Pertama unggulan dikota kami tanpa harus membayar sepeser pun..
Hari ini aku pergi kesekolah Yan untuk mengambil laporan belajar milik Yan (rapor). Yan datang dua jam sebelum acara dimulai,sedang aku memilih datang tepat waktu.
***
Kunaiki motor sederhana hasil keringat ku dan suamiku tercinta memasuki gerbang sekolah Yan. Aku turun dari motor dan segera masuk kedalam gedung. Kulihat Yan berceloteh riang bersama teman- temannya di depan sebuah kelas. Yan berteriak memanggilku kemudian mengahampiriku untuk mengantarku ke tempat yang dituju.
Ketika aku berjalan bersama Yan melewati koridor sekolah, terdengar arakan mobil mewah berhenti di lapangan bagian tengah sekolah. Seseorang keluar dari sana,aku mengenalnya??ah tidak. Kami semua yang ada disini mengenalnya bukan cuma aku.
Yang keluar dari mobil adalah laki- laki dengan wajah tampan oriental dan kulit kuning bersih juga tubuh proporsionalnya yang tinggi besar.
Semua orang disekitar ku merangsek maju menghampiri lelaki itu. Semua berjabat tangan karena dia..seorang menteri dan aku mengenalnya melalui televisi.
Semua orang merangsek maju kecuali aku dan putraku.
“Bunda..anak pak menteri sekelas dengan Yan. Anak pak menteri sangat cantik hehe..,” Yan tiba- tiba berkata dengan wajah tersipu.
Aku terdiam tak menyahut ucapan putraku. Jantungku berdegup. Lelaki itu, ah...pak menteri maksudku..dia memandangku dengan tatapan hangat. Aku merasakan kehangatan diseluruh ragaku.
Tanpa terasa lelaki yang memang pak menteri itu mendekati tempatku berdiri bersama anakku.
Tangannya menepuk lembut kepalaku himngga semua orang termasuk putraku terhenyak. Mendadak sisi humanisme pak menteri keluar mengalir melalui sikap hangatnya. Dengan ramah ia berucap.
“Ndak nyangka kita ketemu disini. Kowe lali tah karo aku??’miracle girl’??
Miracle Girl??itukan sebuatanku dari...
“Sodara- sodara..ini Farah, sahabat baik saya semasa SMP. Saya tidak menyangka bisa bertemu dia disini. Dia termasuk jajaran orang yang membuat saya jadi sebesar ini,” kata pak menteri.
“Pak menteri..,”sergahku
“Ini saya Farah..ini saya si rapuh,” kata pak menteri ah...maksudku orang ini..dia sahabat baikku!dia Cantal Arion. Cantal?!!
“Cantal??saya kira hanya namamu yang mirip dengan sahabat yang ku kenang dan hilang ditelan bumi selama bertahun- tahun lamanya,” ucapanku mengahangat.
Cantal mengangkat tangan kanan ku ke udara sembari berucap lantang.
“Ini Farah,sahabatku. Cahayaku, yang menguatkan ku hingga sanggup berdiri sebesar ini,”
Aku tersipu. Semua bertepuk tangan riuh.
***
Suasana sekolah sepi. Cantal berpamitan untuk pergi namun kami masih harus menunggu anak kami berdua yang pergi berdua untuk membeli sesuatu. Beberapa menit tersisa, aku dan Cantal akhirnya sempat mengobrol setelah 15 tahun hilang kontak.
“Far??kamu masih nulis??,”tanya Cantal memulai pembicaraan. Kami berdua berdiri didepan mobil yang terparkir.
“Iya. Belum besar tapi saya cukup diakui khalayak lokal,”kataku agak kikuk.
“Jangan kikuk dong. Aku masih Cantal yang dulu Far..terus menulis ya..suatu hari orang akan memahami hasil pemikiranmu,”Cantal menghentikan ucapannya karena tatapan hangat mataku makin dalam dimatanya.
Tanganku menyentuh pipinya. Dengan hangat ia kucubit sekeras- kerasnya. Cantal terhenyak.
Air mata mengalir lembut disudut mataku.
“Farah kenapa??,”tanya Cantal padaku dengan nada khawatir.
Aku rindu kamu sahabatku!!tapi aku tidak mungkin mengatakan itu didepanmu. Aku sudah bersuami,itu bukan hal etis buat dikatakan.
“Kita sodara. Mulai sekarang kita bisa menyambung kekerabatan kita yang terputus waktu itu,”kataku pada Cantal yang dengan tangan kirinya mengelus pipinya sendiri yang merah akibat cubitan ku.
“O..oke Farah..,”balas Cantal.
***
Aku mencubit pipi pak menteri...hahahahah siapa orang di Indonesia yang berani mencubit pipi pak menteri kecuali aku??hahahaha..aku patut tertawa bangga.

 SELESAI















Tuesday, December 31, 2013

Ibu Dan Sepuluh Telur Bijaksana

Cerpen jaman SMK..

Dibikin tahun 2011..

Yang tersisa dari berantakannya data- data lama..

Aku sendiri ingat- ingat lupa apa ceritanya..

Dan lagi..

Ini tanpa editing alias asli ketikan pada tahun tersebut..


Saya dan debat kusir manusia..
Saya lebih suka diam daripada bicara didepan tatapan penuh khalayak ramai yang masing- masing dari mereka alisnya mengernyit tanda siap menantang siapa yang paling lantang bicara.
Saya lebih suka memejamkan mata kemudian beranjak dari atas kursi dan pergi keluar ruangan daripada terlibat adu mulut dalam suatu forum diskusi yang isinya hanya ada orang- orang aneh dengan mata melotot juga gigi runcing yang berkilat kilat seolah siap menerjang siapapun penghadang jalan mereka.
Hmm..
Tapi tak seorang pun akan menggoyahkan idealisme saya..
Tak seorang pun kecuali orang yang memang benar saya jadikan panutan.
“Tahukan kamu??dada ku bergemuruh tiap berada diantara alunan sebuah perdebatan tempat perang argumentasi antara manusia- manusia teori yang di ujungnya aku sudah tahu bahwa takkan terjadi perubahan apa- apa kecuali mata yang tadinya putih dengan kornea hitam menjadi merah dengan kornea mengkerut kecil”
Nyatanya, saat saya bicara, semua mata terpana. Mata- mata yang awalnya menganggap saya anjing rendahan tiba- tiba berubah menjadi mata- mata yang memandang saya sebagai malaikat langit yang membawa serpihan cahaya kecil kedunia..
Saya..
Hebat !
***
Today..arghhhh...aku..
Kubuka tudung saji diatas meja makan. Hanya ada periuk nasi yang telah berkurang sepertiga isinya,semangkuk sayur lodeh dan sepiring tempe goreng tepung favoritku khas bikinan Ibu. Rangkaian menu seperti ini biasanya menggugah selera makan ku tapi tidak hari ini.
“Buuuuuu…aku butuh pelukan,” teriakku sembari meletakkan kepala diatas meja makan.
Ibu datang dari arah belakang kemudian membelai kepala dan wajahku dengan tangan paruh bayanya yang kasar akibat terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi sejujurnya itu tak menjadi masalah buatku karena Ibu…sang penyejuk!
“Presentasinya gagal total?,” Tanya ibu.
“Sepertiganya berhasil Bu selebihnya gagal..,” jawabku.
“Mr. Arogant..,”panggil Ibu. Mr. Arogant adalah panggilan akrab ibu semenjak aku jadi penggila teori dan suka terlibat dalam perdebatan meski hanya diam dan kemudian menjadi dewa pengkoreksi atas orang- orang yang berdebat.
“Ya, bu..,” sahutku sembari mengangat kepala dan memandang ibu.
“Tole..tole..” ibu mengambil wadah telur dalam kulkas.
Aku melongo, aku tidak paham dengan apa yang ibu lakukan saat ini dan tidak bisa menebak apa yang akan ibu lakukan selanjutnya.
“Ini berisi 10 butir telur, anggap saja ini sebuah presentase,” ibu mulai menjeaskan dan aku hanya mangut- mangut sejujurnya aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ibu.
Ibu selanjutnya memvahkan tujuh telur diatas lantai dengan sangat berhati- hati hingga kuning telur tidak sampai hancur. Aku semakin melongo sekaligus tertarik dengan lanjutan dari keterangan ibu.
“Apa yang kamu lihat?,” Tanya ibu.
“Ibu siakan telur- telur itu,’ jawabku ngasal.
“Asal- asalan, pikir dulu..,”
“Nyerah ma’am..,” ejekku genit.
“Dasar males,” sahut ibu sabar.
“Apa maksud ini semua Bu?,” tanyaku dengan raut penasaran.
“Langsung saja ya?demi anak ibu yang paling males ini??,” ibu balik mengejek.
“Bu…,”rengekku.
“Saat kamu melihat telur, kamu tidak akan tahu seberapa besar volume kuning telur yang ada didalamnya kecuali kamu membuka kulitnya dan mengeluarkan isinya,” jelas Ibu.
“lalu..,” desakku semakin penasaran.
“Itulah rahasia, seperti rahasia Tuhan. Telur yang ibu pecahkan ini sama dengan kegagalanmu yang sudah ketahuan dan lihat tiga telur yang belum ibu pecahkan..kamu maupun Ibu tidak akan tahu isinya kecuali kita berdua membuka dan mengeluarkan isinya,” lanjut ibu.
“Aku tidak paham,” ketusku.
“Kita tidak akan pernah tahu kenapa Tuhan memberimu keberhasilan hanya sepertiga dari keseluruhan. Tapi karena Tuhan saying padamu, Tuhan pasti menyiapkan hadiah yang gurih buatmu segurih tiga telur yang masih utuh ini apalagi kalau ibu memasukkannya kedalam mangkuk kemudian memberinya sedikit garam kemudian menggorengnya,” Ibu mengelus lembut kepalaku sembari meraih mangkuk kaca yang kemudian digunakannya untuk mengocok tiga telur yang tadinya utuh dan masih berada diatas meja. Setelah ditaburi sedikit garam, ibu menggoreng adonan telur tersebut dan segera menyajikannya buatku.
Aku melahapnya dengan rakus. Ibu beranjak pergi dari tempatku duduk. Aku memandang ibu dengan senyum terkembang.
“Emak..you are the best!makasih Bu..,” ucapku sepenuh hati.
“Bu..,” kalimatku ternyata berlanjut sebelum Ibu beranjak.
“Apa tole?,” sahut Ibu.
“kenapa hanya untuk hal sesederhana ini ibu menjelaskannya dengan panjang dan rumit?,” tanyaku.
“kamu kan mr. arrogant Ibu tersayang, kamu yang sejak kecil hingga sekarang gandrung teori- teori rumit tapi malah tidak paham dengan hal- hal sederhana. Makanya Ibu pakai enjelasan macam tadi,” jawab ibu.
Ibu kemudian hanya tersenyum kemudian benar- benar beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian aku memandangi lantai ruang makan yang berlendir terkena telur- telur yang tadinya dipecahkan ibu secara ngawur.
“Ma’am sapaaaa yang mau bersihin ini,” tunjukku jijik melihat kearah lantai.
“Itu tanggung jawabmu tole…,” ejek Ibu dari arah ruang depan.
“Bu..
Aku memang masih membutuhkan pelukanmu..
Terimakasih..” bisikku.
Aku terseyum lebar..

TAMAT