Thursday, December 1, 2016

Maiyahan Rasa Asing Ala ASC feat BDM Al-Hikmah UM


Saya dan Naila memutuskan datang tanpa tiket menuju Graha Cakrawala, lokasi UM Mengaji bareng Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Ya… saya mahasiswi UM, namun justru tidak kebagian tiket.
Mas Viki Maulana teman Gubuk Tulis dan Gusdurian yang baby sitter-able, justru gedabyahan[1] via telepon, mencarikan saya dan Naila dua lembar tiket. Akhirnya dapat. Lucunya, saya justru kebagian tiket dari mas Billy Kobra yang bernama asli M. Dihlyz Yasir, mahasiswa UIN yang hobi nyepik[2], sembari baca puisi dan mengaku sebagai penikmat kopi.
Sampai di depan gerbang Graha Cakrawala. Saya langsung merasa asing. Teriakan soal peserta tidak bisa masuk tanpa tiket, terus bersusulan dari panitia yang berjaga di depan pintu. Soal ini, saya maklum. Acara memang diutamakan bagi mahasiswa baru. Bahkan tiket untuk umum baru dibuka Sabtu, 26 November 2016. Namun, Senin, 28 November 2016, tiket untuk umum justru sudah dinyatakan habis. Tiket sendiri bisa diambil di kantor UKM ASC (Unit Kegiatan Mahasiswa Al-Qur’an Study Club), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan BDM Al-Hikmah (Badan Dakwah Mahasiswa Al-Hikmah).
Banner resmi dari BDM dan BEM UM
Saya jadi bertanya-tanya, apa pada hari minggu, antara tanggal 26 hingga 28, pos-pos di mana tiket bisa diambil ini buka? Atau ada sistem titip menitip antar kenalan? Belum lagi simpang siur soal tiket yang jelas di pamflet bertulis ‘Gratis’, namun ada oknum yang mengatakan tiket tersebut berbayar. Maiyahan sendiri selalu gratis di mana pun lokasi pengadaannya.
Soal tiket, semua pasti bisa maklum. Graha Cakrawala adalah gedung yang meski punya ruang yang besar, juga memiliki kerterbatasan kapasitas. Tiket pasti dimaksudkan untuk memberi keteraturan selama di dalam gedung, jangan sampai over capacity [3] mungkin begitu. Bisa banyak peserta yang pingsan, jika sirkulasi di dalam gedung tidak ditata sedemikian baik. Memang akan berbeda dengan acara serupa yang biasa diadakan di lapangan lepas, tanpa tiket dan semua orang bebas masuk karena tidak dibatasi kapasitas.
Sedihnya juga, salah seorang oknum BEM yang saya datangi, hanya mengatakan jika tiket habis. Dia tidak menginformasikan soal keberadaan layar tancap di parkiran luar Graha Cakrawala yang ternyata bisa diisi manusia yang tidak kebagian tiket. Dia juga sekadar mengatakan bahwa tidak bisa dan tidak bisa, saya tiba-tiba datang tanpa tiket. Semoga saja si oknum BEM tersebut tidak menginformasikan karena lupa, sedang banyak pikiran atau sungguh tidak tahu. Bayangkan betapa anu hati seorang yang berniat maiyahan live dan begitu percaya soal aturan tiket namun tidak mendapat informasi yang cukup. Apa niatnya itu tidak berakhir di layar Youtube pada akhirnya? 
Tidak seperti acara serupa yang biasa dilaksanakan bareng Cak Nun. BEM dan BDM mengusung tajuk ‘Mengaji’, bukan ‘Dialog’ atau ‘Ngopi Bareng’. Dari sini, sudah mulai rasa asing terasa. Namun, lagi-lagi bisa dimaklumi karena BDM tentu membawa misi keislaman dan setiap tahun memiliki ragam program yang diwajibkan bagi mahasiswa baru. Meski tajuk ‘Mengaji’ seperti garis batas yang tegas bahwa acara tersebut hanya diperuntukkan bagi muslim.
Padahal, pernah acara serupa diadakan di kampus Sebut Saja Anu di kota Malang. Kebetulan saya absen. Seorang teman menanyakan keberadaan saya hari itu. Dia menceritakan bagaimana dia duduk di bagian belakang bersama pria-pria berambut gondrong dan bertato. Bahkan dirinya juga datang bersama kawannya yang bukan seorang muslim. Tajuk yang diangkat di kampus Anu itu tentu saja ‘Ngopi’, seperti tajuk yang biasa dipakai dalam acara serupa.
Sebelum saya dan Nai diantar masuk barisan oleh mas Viki, Nai mengobrolkan soal banner acara yang bertulis ‘Wajib Bagi Muslim’. Maiyahan[4] hari itu, makin terasa asing.
“C*uk nggilani, ora toleran blas.[5]” Umpat mas Viki menanggapi informasi dari Nai.
Susana dalam Graha Cakrawala. Sumber: Naila
Saat kami masuk barisan pun, barisan dibagi atas dua lajur. Laki-laki dan perempuan. Ini berbeda jauh dari acara serupa yang membebaskan lelaki dan perempuan berbaur. Laki-laki di jalur kiri, sedang perempuan di jalur kanan, begitu pula saat di dalam dalam gedung selama berjalannya acara. Ya… meski mas Billy tidak mau ambil soal. Dia tetap duduk di samping teman perempuannya di dalam gedung.
Cak Nun barangkali sudah mengetahui soal konsep Maiyahan ala BEM dan BDM UM ini. Saya yakin, beliau menghormati betul tata cara yang dianggap menuju kebaikan di lokasi tempatnya diundang ini.
Namun,  konsep yang demikian tentu membikin teman-teman yang baru kali pertama Maiyahan, mengira ini memang konsep yang biasa diusung ketika Maiyahan. Saya sendiri memang baru datang langsung Maiyahan tahun lalu. Sebelumnya, saya cuma membaca karya Cak Nun lewat buku. Bahkan dengan polos, saya bertanya pada mas Denny Mizhar, teman Pelangi Sastra Malang, apa saya harus berjilbab ketika datang Maiyahan? Mas Denny mengatakan, bebas.
Tema-tema yang diangkat Cak Nun pun bukan soal bagaimana kamu mesti sholat dan di mana letak surga dan neraka. Tema-tema yang diangkat justru dekat dengan masyarakat, keseharian, negara dan intelektualitas.
Lepas siapapun kamu, bertato atau tidak lenganmu, berjilbab atau belum kepalamu, di mana pun rumah ibadahmu, Maiyahan adalah kamu…




[1] Wara-wiri tingkat akut.
[2] Menggombali
[3] Melebihi kapasitas
[4] Maiyah, sebutan bagi orang-orang yang mengikuti Ngopi bareng Cak Nun. Orang Jawa senang menambahkan tambahan ‘an’ untuk memertegas istilah.
[5] “(Umpatan) menjijikkan, tidak toleran sama sekali.” Umpat Mas Viki menanggapi informasi dari Naila.

Catatan November 2025:

Salah satu komunitas yang saya sebut ternyata pendukung pelaku kasus predator UIN. Sedang salah satu nama teman yang saya sebut, ia kerap mendaku feminis, namun ternyata pelaku Kekerasan Berbasis Gender. Tulisan tidak akan dihapus karena sebagai pengingat.

Saturday, November 26, 2016

Romadhon, Kesatria Kursi Merah (Rekam Mundur TK, Tahun 1999)


“Kenangan selalu hapal jalan pulang.”
Djoko Saryono

Saya sekolah di TK Perwira, satu-satunya Taman Kanak-Kanak yang ada di daerah saya pada 1999. Kursi warna warni jadi tempat duduk kami semua setiap hari. Namun, kursi merah anehnya jadi sakral bagi hampir kami semua. Saya menganggapnya ganjil, tentu saja.
Setiap hari, anak-anak berebut mengambil kursi merah bagi diri mereka sendiri. Jumlah kursi merah tentu tidak banyak. Ingat saya, bahkan tidak sampai lima. Saya bahkan sering terusir jika kebetulan sedang duduk di kursi merah. Saat itu, kursi berwarna apa saja saya anggap sama.
Foto rapor saya saat TK. Sumber: Dokumentasi pribadi
Bahkan, seorang teman perempuan yang setiap hari menempel pada saya untuk bermain bersama, juga berkali-kali mengusir saya dari kursi merah yang hanya kebetulan saya dapat. Saya selalu memersilahkannya. Dia duduk di bangku belakang meja saya. Sering juga dia memamerkan betapa kursi merah itu lebih lembut dari kursi-kursi lainnya. Tapi saya hanya membalasnya dengan tatapan kosong. Bagi saya, semua kursi itu sama dan ucapannya sangat tidak masuk akal.
Teman perempuan saya itu, juga memiliki perasaan lebih pada seorang anak laki-laki bertubuh kurus yang selalu duduk di sampingnya, Eki. Tentu, pada masa itu saya belum memahaminya. Saya hanya merasa ada sesuatu yang ganjil dari sikap teman perempuan saya itu. Setiap hari, dia mendahulukan kursi merah yang dia dapat untuk Eki. Setelahnya, dia baru memburu kursi merah untuk dirinya sendiri, merebutnya dari siapa saja.
Ada juga seorang anak laki-laki yang juga rela bertengkar dengan siapa saja demi kursi merah. Namanya Romadhon. Saya waktu itu hanya setinggi kupingnya. Warna kulitnya seperti saya dan rambut ikalnya selalu nampak berantakan jika sedikit saja lebih panjang.
Romadhon tidak sembarang merebut kursi merah. Dia merebut kursi merah dari teman-teman yang mengusir saya dari kursi istimewa yang kebetulan saya dapat itu. Saya ingat, anak laki-laki itu begitu kuat. Dia selalu memenangkan semua pertengkaran, tanpa menangis atau mengadu pada guru. Saya hanya diam dan memandangnya. Setelah kursi merah didapat, dia menyuruh saya minggir. Dia ambil kursi sembarang warna saya duduki sebelumnya dan dia ganti dengan kursi warna merah. Saya sendiri, sering mendapatinya duduk di kursi sembarang warna. Dia sepertinya juga tidak sebegitu peduli dengan kursi merah yang bagi sebagian besar dari kami begitu sakral.
Saya (tengah) dan teman sekelas waktu TK. Kami melakukan perjalanan naik delman dari TK sampai PPPTK Karangploso. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Romadhon tidak pernah benar-benar mengobrol dengan saya. Tapi saya senang memandanginya yang berlarian, aktif dan punya banyak teman. Saya ingin seperti dia, namun saya tidak pernah bisa benar-benar lebih banyak bicara. Saya bahkan ingat betul bagaimana namanya disebut, bukan Ramadhan tapi Romadhon.
Sampai di akhir kelulusan TK, saya dan Romadhon tidak pernah benar-benar bicara atau duduk bersama. Saya sebenarnya selalu mengingat nama dan wajahnya dan begitu ingin bicara dengan dia, namun saya tidak pernah tahu mesti mulai dari mana. Saya juga sering berpikir, jangan-jangan dengan sikap saya yang kesusahan mengungkap perasaan dan berekspresi itu, Romadhon pikir saya tidak mau berteman dengannya. Dan itu kedengarannya menakutkan.
Namun, hingga hari-hari terakhir kami di TK, Romadhon tetap si ahli bertengkar yang kuat. Dia membentak siapa saja yang merebut kursi merah yang kebetulan saya dapat. Dia melakukannya, meski saya tidak pernah mengucap terimakasih.
Apa kita bisa bertemu lagi? Saya hanya ingin bilang terimakasih, Kesatria Kursi Merah.

“Karena kenangan, punya kecerdasan spasial yang tinggi.”

Poppy Trisnayanti Puspitasari

Tuesday, November 22, 2016

Bukan Reinkarnasi Sebabnya

Beberapa pertemuan, membuatmu mendapati perasaan telah mengenal jauh sebelum pertemuan. Sebabnya bukan reinkarnasi, karena hingga kini reinkarnasi masih berupa keganjilan bagimu. Sebabnya adalah, telah mengenal jauh sebelum pertemuan itu memang benar. Pertemuan yang bukan fisik…
Sumber: Dokumentasi pribadi

Saturday, November 19, 2016

Agama Playing Victim dan Pasal Penistaan Mantan

Sesuanu dan Sesuancuk suatu malam, di sebuah warung lalapan pinggir jalan Mayjen Panjaitan, kota Malang…

“Facebookmu itu lho, Nu. Makin njijiki sekarang.” Tembak Sesuancuk sambil menguliti ceker ayam yang ada di hadapannya.

“Njijiki bagaimana toh, Cuk?” tanya Sesuanu.

“Lha… kamu berkoar jadi jomblo syar’i segala. Seolah selama ini ada di jalan Tuhan dan ndak pernah pacaran. Bukannya mantanmu ada tiga tuh dulu?”

“Sudahlah, Cuk. Aku mau berbagi inspirasi buat semua orang. Kamu kan nggak pernah tahu niatku apa. Masalalu biar berlalu kalau kata motivator beken.”

“Tapi ya lucu. Kamu kok seolah lupa sama mantanmu yang tiga itu.”

“Lha… Facebookmu sendiri juga njijiki gitu kok…” Sesuanu menembak balik.

“Njijiki bagaimana toh, Nu?”

“Kamu share artikel dari dot kom-dot kom ndak jelas gitu. Yang isinya rumah ibadah dibakar lah. Presiden anu yang katanya anti agama tertentu, mau tutup rumah ibadah lah. Apa itu juga ndak njijiki? Hati-hati loh, Cuk. Kamu bisa pindah agama nanti…”

“Lha? Kok bisa sampai pindah agama? Aku kan cuma sedang berjuang sebagai umat. Lagipula, bakal pindah agama apa aku?”

“Wah… lha ini. Kamu sudah menunjukkan ciri-ciri bakal pindah agama. Nama agamanya, agama playing victim, jelas dari pose dan manuvermu yang selalu seolah paling teraniaya lagi menderita.”

“Kalau begitu, kamu juga harus hati-hati, Nu.” Balas Sesuancuk ketus.

“Kenapa mesti aku juga hati-hati, Cuk?”

“Kamu bisa kena pasal penistaan mantan. Lha… tiga mantanmu yang terdahulu, ndak kamu akui pernah ada gitu…”

Friday, November 11, 2016

Ketika Ortu Pacar Minta Kejelasan


Curhat pagi teman perempuan saya betulan bukan hal remeh. Dia 22 tahun, sebut namanya Mimi. Si Mimi ini cewek manis berjilbab yang jago berdagang, punya pacar si Opet, cowok ganteng dan imut yang seusia dengannya.
Hubungan mereka kira-kira jalan setahun lewat. Kalau dari cerita si Mimi, orang tuanya sudah menuntut Mimi buru-buru menikah. Opet sudah diberikan rambu-rambu itu oleh orang tua Mimi. Opet pun beralasan bahwa dirnya belum memiliki pekerjaan yang mumpuni. Setelah kejadian itu, Opet menurut Mimi jadi senang marah-marah tanpa musabab yang jelas. Tentu saja, Mimi sedih.
Kemudian, saja jadi ingat pada teman laki-laki saya yang kamu panggil saja Timmy. Timmy sempat curhat pada saya soal kegalauannya dalam hal finansial. Dia merasa malu jika melulu pacaran dengan cara pergi ke rumah pacarnya tiap akhir pekan. Timmy merasa sebagai cowok tidak bermodal dan dia minder. Timmy jadi sering marah-marah pada pacarnya tanpa alasan yang jelas dan dia menyadari itu.
Timmy di usianya yang juga pertengahan dua puluhan, merasa ada beban bahwa sebagai laki-laki dia mesti punya modal secara finansial. Sayangnya, dia tidak cukup memiliki jalan untuk menjelaskan pada pacarnya soal beban rasa tanggungjawabnya yang menurutnya memalukan. Hingga pada akhirnya, Timmy memutuskan mengakhiri hubungan dengan pacarnya itu.
“Dia sudah wisuda oktober kemarin, Mak (panggilan kesayangan untuk saya dari sebagian teman). Tapi belum dapat kerja. Mamaku tanya terus apa dia udah dapat kerjaan? Nah… pusing kan aku.” Curhat Mimi.
Agaknya, orang tua Mimi takut menyerahkan Mimi pada Opet yang dianggap belum mumpuni untuk menghidupi Mimi, begitupun Opet yang agaknya ragu pada modal dalam dalam dirinya sendiri untuk saat ini.
“Opet itu cowok tanggungjawab, Mi. Makanya dia galau. Makanya dia nggak obral berani janjiin kamu nikah. Nggak ngawur itu anak.” Balas saya pada curhatan Mimi.
Sebagian laki-laki memang tidak berani main-main pada pernikahan. Mereka juga akan merasa minder ketika tidak memiliki modal untuk bertanggungjawab akan kehidupan seorang putri dari sebuah keluarga. Namun, sebagian lagi tentu sebaliknya. Ada sebagian lelaki yang menganggap enteng pernikahan. Bahkan ada yang sengaja mencari perempuan yang kuat secara finansial supaya dirinya tidak perlu teralu bekerja keras buat menanggung hidup. Ada loh… sungguh…
“Aku biarin diri sendiri dulu, Mak. Biar dia mikir. Nanti kalau udah dingin, aku coba bicara sama dia apa sebenernya beban dia.” Pungkas Mimi di akhir curhatannnya.

Thursday, November 10, 2016

Mencurigai Kecantikan


Jika kamu menikmati kemudahan hidupmu dari berat badanmu yang proporsional, dari baju-baju dengan warna serasi yang menempel di tubuhmu, dari bedak yang kebetulan bisa membikin mukamu segar, tanpa mau susah belajar atau bekerja. Sungguh itu bukan investasi yang bagus buat hidupmu, Perempuan.
Tidak selamanya berat badanmu akan poporsional, tidak selamanya baju-baju dengan warna serasi akan nampak pas menempel di tubuhmu, tidak selamanya bedak mampu membikin mukamu segar. Saat kamu kehilangan itu semua, kamu juga bakal kehilangan kemudahan hidupmu.

“Saya ini tergolong beruntung. Saat orang lain sibuk menguruskan tubuh, memutihkan wajah. Saya tinggal terus membaca dan belajar.”
Bertha (Etta Herawati)
Hingga kini masih laris sebagai konsultan dan guru vokal dengan menggunakan pengetahuannya soal olah vokal. Hitam Putih, 01 November 2016. Saat menanggapi soal penampilan dan eksistensi.

Wednesday, November 9, 2016

(ARTI LIRIK) I Adore You by Daniel Sahuleka

I Adore You
Aku Mengagumi Kamu
Daniel Sahuleka
i’m maybe not romantic
i’m maybe not poetic
sometimes i’m not that fluent
to find those magic words
i wish that i could show you my emotion
how can i give a notion
to use all my attention
to say how deeply i adore you
i hope you do forgive me
on moments when i’m clumpsy
the truth is some uncertain
when we’re about to make love
how my jokes they cover my confusion
though it’s not my intention

Mungkin aku tidak romantis
Mungkin aku tidak puitis
Kadang aku tidak fasih
Untuk merangkai kata ajaib itu
Aku berharap aku bisa menunjukkan padaku emosiku (perasaan yang dirasakan)
Bagaimana aku bisa memberi pengertian
Menggunakan semua perhatian
Untuk mengatakan betapa dalam aku mengagumi kamu
Aku harap kamu memaafkan aku
Di saat itu ketika aku ceroboh
Kenyataannya tidak menentu
Ketika kita bercinta
Bagaimana candaanku mengatasi kebingunganku
Meski itu bukan niatku

how deeply i adore you
don’t reject me
you could hurt me
although i seem so silly
but it’ll hurt me
i’m maybe different
as you’ve discovered
but i’m getting warm inside
whenever you are near me
i’m no longer lonely
don’t ever leave me
cause i can’t stand

Betapa dalam aku mengagumi kamu
Jangan tolak aku
Kamu bisa melukai aku
Meski itu terlihat bodoh
Tapi itu melukai aku
Aku mungkin berbeda
Seperti yang pernah kamu temukan
Tapi dalam diriku ini hangat
Di mana pun kamu berada
Aku tidak bisa terlalu lama sendiri
Jangan pernah tinggalkan aku
Karena aku tidak bisa berdiri

Blog Walking: Mendapat Pembaca Blog Dengan Sekadar Merekam Jejak?


Melihat orang nge-blog itu asyik. Iya… sungguhan ini. Ya, asyik kalau kamu sudah lihat blog dia yang sekarang, yang sudah dapat pembaca, yang sudah diingat orang dan sudah ada yang komen. Padahal, untuk mendapat semua itu bisa jadi dia melakukannya menahun.
Tapi, ada satu hal krusial yang mungkin kamu lupa dari bagian yang nampak menyenangkan itu. Bagaimana proses si pemilik blog sampai ada di titik sudah mendapat pembaca dan blognya diingat orang?
Tidak jarang, orang mutung (berhenti di tengah jalan) setelah nge-blog. Alasanya? Klise,”Ndak enak nge-blog. Ndak ada yang mbaca.” Begitu bunyinya…
Yang luput dari perhatian kebanyakan blogger, lagi-lagi adalah soal proses. Untuk menaikkan blog pribadi jadi urutan atas di mesin pencarian Google, tentu bisa menggunakan ‘trik khusus’. Namun, perlu diingat, jika blog bukan dibuat untuk bisnis, keberadaan blog di bagian paling atas mesin pencarian Google menggunakan ‘trik khusus’, bisa jadi tidak terlalu berarti banyak bagi datangnya pembaca.
Blog tentu bisa naik secara alami. Google otomatis akan menaikkan blog yang sering memerbarui kontennya. Ya… ibarat orang dagang, siapa sih yang tidak suka produknya dipakai? Itu dianggap promosi, sehingga blog yang sering memerbarui kontennya akan diutamakan di mesin pencari sebagai kompensasi. Ingat… berlaku utamanya untuk konten yang original loh ya. Begitu sih kata blog-blog sebelah.
Dengan ini, kamu juga jadi terpacu buat terus menulis dan mencari-cari ide. Lebih bermanfaat juga buat dirimu ketimbang memakai ‘trik khusus’, bukan?
Kemudian, pemilik blog juga bisa melakukan blog walking. Istilah ini pasti akrab kamu lihat di blog-blog sebelah. Namun, blog-blog sebelah bisa jadi hanya menjelaskan blog walking seperti ini; dengan cara meninggalkan jejak komentar di blog orang lain, akan menambah kata kunci nama kita di mesin pencarian Google yang juga berimbas pada blog pribadi.
Sesungguhnya, blog walking bisa dimaknai lebih dari itu. Logikanya begini, bagaimana kamu bisa punya pembaca jika tidak mau membaca? Seterkenal apa sih dikau ini? Sampai berharap pembaca bisa datang sendiri padamu. Seberapa tinggi kualitas tulisan kamu sih? Sampai orang yang tidak kenal kamu rela menculik sedikit waktu buat membaca tulisanmu.
Membaca blog orang lain kemudian mengapresiasinya dalam bentuk komentar, akan membentuk ikatan pembaca dan penulis bahkan pertemanan. Orang yang kamu kunjungi blognya tentu akan merasa senang. Mereka dengan kesadaran sendiri akan mengunjungi blogmu di waktu lain. Tapi ingat, baca sepenuh hati, komentar dengan sepenuhnya apresiasi. Jangan sampai kamu sekadar berkomentar,”Bagus, Kak.” atau “Keren, Kak…” padahal, kamu tidak membaca keseluruhan isinya. Apalagi kamu menyisipkan di baris selanjutnya,”Kunjungi blogku juga ya di blablabla. blogspot.”
Nah… komentar yang begini ini nih yang terkesan kamu mengunjungi blog seseorang bukan untuk membaca tulisannya. Tidak akan ada ikatan antara penulis dan pembaca apalagi pertemanan di sini.
Bagaimana? Sudah siap nge-blog?

Monday, November 7, 2016

STOP! Mengomentari (Melabel) Seorang Anak


Kemarin, saya pergi ke rumah seorang saudara yang memiliki anak usia dini. Namanya Rizki. Rizki senang berjalan dan jarang duduk diam. Di samping itu, Rizki seorang anak yang kritis dan mandiri. Di usianya yang ke empat, dia sudah bisa makan-makanan berkuah sendiri dengan menu utama ceker ayam. Ceker ayam biasanya termasuk menu yang sulit, jika mesti disantap tanpa bantuan oleh anak usia dini. Rizki juga bisa mengomentari cucian di rumah saya yang berantakan dan memertanyakan kenapa saya belum pernah pergi ke rumahnya. Selanjutnya, saya enangkap Rizki yang hobi bercerita dan mengritisi banyak hal.
Namun, kemarin mama Rizki dengan sedih menceritakan bagaimana seseorang mengomentari anak-anaknya yang menurut si komentator, seperti set. Set dalam bahasa Indonesia berarti belatung. Bagaimana Rizki yang jarang duduk diam dianggap menyerupai sifat belatung.
Saya kemudian ingat bagaimana orang-orang di sekitar saya dulu mengomentari diri saya ketika saya masih usia balita. Saya sangat kalem dan super pendiam. Saya tidak menyenangi aktivitas fisik dan cenderung takut pada orang-orang asing. Hal ini, dianggap keanehan bagi para komentator.
Saya kemudian juga ingat, bagaimana lincahnya Aurel, anak tetagga di depan rumah saya. Rizki yang jarang bisa duduk bukan apa-apa jika disbanding kelincahan Aurel saat balita. Saya kali pertama mengenal Aurel saat usianya 1,5 tahun. Semenjak itu, Aurel hampir setiap hari pergi ke rumah saya, makan di rumah, mandi di rumah, ikut mencuci baju bersama saya, menaik turunkan benda-benda dan hanya mau duduk diam cukup lama saat bermain boneka.

Sebaliknya, Danis adik Aurel, diakui mama saya sangat mirip dengan saya ketika balita. Aurelsi super aktif ternyata memiliki adik yang super kalem. Bedanya, Danis mudah berbaur dengan orang asing, beda dengan saya dulu.
Saya, Danis dan Aurel. Sumber: Dokumentasi pribadi
Mama Aurel dan Danis ketika kecil pun mendapat pelabelan dari sekitar. Mama Aurel dan Danis yang memiliki sikap kalem pernah diejek dengan kalimat,”Telek mbok idek yo ora penyet, Vit…[1]” yang menggambarkan betapa terlalu kalemnya mama Aurel dan Danis, hingga itu patut dijadikan ejekan oleh para komentator.
Dengan banyak macam karakter anak-anak, pantas kah para komentator sibuk mengomentari mereka? Seberapa merepotkan anak-anak itu bagi para komentator? Apa anak-anak itu meminta uang susu pada mereka? Apakah anak-anak itu menuntut makan setiap hari pada mereka? Jika memang merasa terganggu, bisa kah para komentator itu diam-diam pergi saja tanpa meninggalkan label macam-macam?
Lebih berbahaya, ketika ibu dari si anak yang dilabel lingkungan mengamini label tersebut. Bisa jadi, anak yang mendapat label akhirnya turut mengamini label tersebut dan merasa tidak punya harga.
Saya sendiri, di usia balita, mampu menangkap label-label dari orang sekitar. Hingga pada hari-hari berikutnya, saya terus bertanya-tanya,”How to be normal like them, God?”



[1] Kotoran kamu injak juga tidak bisa pipih, Vit.

Sunday, November 6, 2016

(ARTI LIRIK) Running by No Doubt

Running
Berlari
No Doubt

Run Running all the time
Running to the future
With you right by my side

Berlari, berlari sepanjang waktu
Berlari menuju masa depan
Bersamamu di sampingku

Me
 I'm the one you chose
Out of all the people
You wanted me the most

Aku
Aku satu yang kamu pilih
Dari sekian banyak orang
Kamu menginginkanku lebih

I'm so sorry that I'm falling
Help me up lets keep on running
Don't let me fall out of love

Aku minta maaf jika aku jatuh
Bantu aku bangkit dan mari berlari lagi
Jangan biarkan aku lepas dari cinta

Running, running
As fast as we can
I really hope you make it
(Do you think we'll make it?)

Lari, lari
Secepat yang kita bisa
Aku sunguh berharap kamu bisa melaukannya
(Kamu pikir kita bisa melakukannya?)

We're running
Keep holding my hand
It's so we don't get separated

Kita berlari
Tetap genggam tanganku
Itu membuat kita tidak akan terpisahkan

Be
Be the one I need
Be the one I trust most
Don't stop inspiring me

Jadi
Jadilah satu yang aku butuh
Jadilah satu yang paling aku percaya
Jangan berhenti menginspirasi aku

Sometimes it's hard to keep on runnin
We work so much to keep it going
Don't make me want to give up
(The
 future)

Kadang berat untuk terus berlari
Kita bekerja banyak untuk tetap berjalan
Jangan membuat kita ingin berputus asa
(Masa depan)