Friday, November 11, 2016

Ketika Ortu Pacar Minta Kejelasan


Curhat pagi teman perempuan saya betulan bukan hal remeh. Dia 22 tahun, sebut namanya Mimi. Si Mimi ini cewek manis berjilbab yang jago berdagang, punya pacar si Opet, cowok ganteng dan imut yang seusia dengannya.
Hubungan mereka kira-kira jalan setahun lewat. Kalau dari cerita si Mimi, orang tuanya sudah menuntut Mimi buru-buru menikah. Opet sudah diberikan rambu-rambu itu oleh orang tua Mimi. Opet pun beralasan bahwa dirnya belum memiliki pekerjaan yang mumpuni. Setelah kejadian itu, Opet menurut Mimi jadi senang marah-marah tanpa musabab yang jelas. Tentu saja, Mimi sedih.
Kemudian, saja jadi ingat pada teman laki-laki saya yang kamu panggil saja Timmy. Timmy sempat curhat pada saya soal kegalauannya dalam hal finansial. Dia merasa malu jika melulu pacaran dengan cara pergi ke rumah pacarnya tiap akhir pekan. Timmy merasa sebagai cowok tidak bermodal dan dia minder. Timmy jadi sering marah-marah pada pacarnya tanpa alasan yang jelas dan dia menyadari itu.
Timmy di usianya yang juga pertengahan dua puluhan, merasa ada beban bahwa sebagai laki-laki dia mesti punya modal secara finansial. Sayangnya, dia tidak cukup memiliki jalan untuk menjelaskan pada pacarnya soal beban rasa tanggungjawabnya yang menurutnya memalukan. Hingga pada akhirnya, Timmy memutuskan mengakhiri hubungan dengan pacarnya itu.
“Dia sudah wisuda oktober kemarin, Mak (panggilan kesayangan untuk saya dari sebagian teman). Tapi belum dapat kerja. Mamaku tanya terus apa dia udah dapat kerjaan? Nah… pusing kan aku.” Curhat Mimi.
Agaknya, orang tua Mimi takut menyerahkan Mimi pada Opet yang dianggap belum mumpuni untuk menghidupi Mimi, begitupun Opet yang agaknya ragu pada modal dalam dalam dirinya sendiri untuk saat ini.
“Opet itu cowok tanggungjawab, Mi. Makanya dia galau. Makanya dia nggak obral berani janjiin kamu nikah. Nggak ngawur itu anak.” Balas saya pada curhatan Mimi.
Sebagian laki-laki memang tidak berani main-main pada pernikahan. Mereka juga akan merasa minder ketika tidak memiliki modal untuk bertanggungjawab akan kehidupan seorang putri dari sebuah keluarga. Namun, sebagian lagi tentu sebaliknya. Ada sebagian lelaki yang menganggap enteng pernikahan. Bahkan ada yang sengaja mencari perempuan yang kuat secara finansial supaya dirinya tidak perlu teralu bekerja keras buat menanggung hidup. Ada loh… sungguh…
“Aku biarin diri sendiri dulu, Mak. Biar dia mikir. Nanti kalau udah dingin, aku coba bicara sama dia apa sebenernya beban dia.” Pungkas Mimi di akhir curhatannnya.

1 comment:

KOKO FERDIE said...

Hehe kalau bahas jodoh gini jadi tertarik bacanya. :D Cowok juga kadang--bukan minder sih ya--kalau pasangannya berpenghasilan lebih banyak. Apaya, istilahnya ... kayak film AADC dua gitu