Saturday, November 19, 2016

Agama Playing Victim dan Pasal Penistaan Mantan

Sumber: Gugel


Sesuanu dan Sesuancuk suatu malam, di sebuah warung lalapan pinggir jalan Mayjen Panjaitan, kota Malang…
“Facebookmu itu lho, Nu. Makin njijiki[1] sekarang.” Tembak Sesuancuk sambil menguliti ceker ayam yang ada di hadapannya.
Njijiki bagaimana toh, Cuk?” tanya Sesuanu.
“Lha… kamu berkoar jadi jomblo syar’i segala. Seolah selama ini ada di jalan Tuhan dan ndak pernah pacaran. Bukannya mantanmu ada tiga tuh dulu?”
“Sudahlah, Cuk. Aku mau berbagi inspirasi buat semua orang. Kamu kan nggak pernah tahu niatku apa. Masalalu biar berlalu kalau kata motivator beken.”
“Tapi ya lucu. Kamu kok seolah lupa sama mantanmu yang tiga itu.”
“Lha… Facebookmu sendiri juga njijiki gitu kok…” Sesuanu menembak balik.
Njijiki bagaimana toh, Nu?”
“Kamu share artikel dari dot kom-dot kom ndak jelas gitu. Yang isinya rumah ibadah dibakar lah. Presiden anu yang katanya anti agama tertentu, mau tutup rumah ibadah lah. Apa itu juga ndak njijiki? Hati-hati loh, Cuk. Kamu bisa pindah agama nanti…”
“Lha? Kok bisa sampai pindah agama? Aku kan cuma sedang berjuang sebagai umat. Lagipula, bakal pindah agama apa aku?”
“Wah… lha ini. Kamu sudah menunjukkan ciri-ciri bakal pindah agama. Nama agamanya, agama playing victim, jelas dari pose dan manuvermu yang selalu seolah paling teraniaya lagi menderita.”
“Kalau begitu, kamu juga harus hati-hati, Nu.” Balas Sesuancuk ketus.
“Kenapa mesti aku juga hati-hati, Cuk?”
“Kamu bisa kena pasal penistaan mantan. Lha… tiga mantanmu yang terdahulu, ndak kamu akui pernah ada gitu…”

Untuk Hari Toleransi Internasional, 16 November 2016




[1] Menjijikkan

2 comments:

Anonymous said...

Wkwk.. ngena sekali Sis! :D

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Yang penting... Moga di hati juga menghibur hehe. Sekarang, yang serius sudah kelewat banyak, Anonim. Jadi ya... Butuh yang lucu-lucu biar tetap sehat...