Saturday, August 3, 2019

Sri Eka Fidianingsih dan Bagaimana Caranya Balas Dendam Pada Si Culas

Sumber: Efbenya Sri

Desas-desus soal Anya yang hamil di luar nikah, sebenarnya sudah berhembus kemana-mana. Sri yang hidup satu panti semenjak kelas dua hingga sebelas dengan Anya, jadi bulan-bulanan anak-anak di SMK yang memertanyakan lenyapnya teman satu pantinya itu dari sekolah, sebelum PSG* selesai. 

Saya melihat segala hiruk pikuk dari kejauhan dan bahkan, salah seorang teman satu PSGnya, pernah terang-terangan bercerita bahwa gadis berkulit coklat itu kerap membolos di tempat PSG dan menghilang ketika hendak ujian. Desas-desus lain mengatakan, ia berhubungan dengan anak-anak yang tampilannya mendaku punk. Entah mana yang benar, saya sejujurnya tidak begitu peduli. Karena yang menarik, justru sikapnya Sri yang bungkam dan bungkam. Padahal, Anya terkenal picik dan gemar memerlakukan Sri buruk selama hidup di panti dan bersekolah di tempat yang selalu sama.

Sri menjadi murid pindahan di tahun ajaran baru kelas dua. Desi yang baru pindah ketika kenaikan kelas tiga, mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti yang berani membela haknya. Meski Sri ternyata mengenang masa SD sebagai yang terburuk. Sebabnya, di SD kami dahulu terdapat kesenjangan antar siswa yang menyesakkan. Terjadinya antar anak perempuan. Ada golongan anak panti dan non panti, yang non panti ini masih dibagi lagi jadi golongan anak pintar, kaya atau bahkan tidak memiliki keduanya. Saya ingat, bagaimana anak panti selalu merasa inferior, bahkan ketika memilih bangku. Ketika ada anak non panti merampasnya, mereka akan menyerahkan bangku itu begitu saja. Desi mengenang Sri sebagai satu-satunya anak panti, yang berani mengatakan bahwa bangku itu dia dulu yang mengambilnya, jadi dia yang berhak.

Tapi Anya beda soal lagi. Ia sebenarnya anak yang potensi akademisnya bagus. Hanya saja nilainya baru meningkat ketika kelas lima atau enam, ketika dia mulai mengerti cara belajar. Maklum saja, di panti pendampingan belajarnya tidak begitu intens. Anya ini ibunya bekerja sebagai TKW dan ia kerap bercerita bagaimana ibunya diperlakukan buruk selagi di PT. Ibunya hampir setiap hari hanya makan nasi dan kubis mentah. Sri maupun Anya sesungguhnya sama merasa inferior atas statusnya sebagai anak panti. Mereka sama-sama dari kalangan tidak berpunya, apalagi Sri yang enam bersaudara kala itu dan gigi majunya kerap jadi ejekan anak-anak di sekolah.

Cara Anya dan Sri bertahan hidup sangat berbeda. Anya memilih menempeli saya kemana-mana. Meski bukan dari kalangan berada, prestasi akademik yang sangat baik ketika kelas satu hingga tiga, membuat keberadaan saya diakui. Dan lagi, saya tidak begitu suka bergaul dengan anak non panti kecuali Desi, Nadiya dan Icha. Saya memahami, hubungan dengan Anya sangat beracun. Tapi waktu itu, saya masih terlalu kecil untuk belajar tegas menolak orang apalagi jika asalnya dari panti. Anya kerap memerlakukan saya buruk, mendiamkan tanpa ada salah dan berlaku culas. Dia tidak begitu mau menempeli saya, ketika selesai bulan puasa biasanya. Di bulan itu, anak-anak panti bisa dipastikan memegang banyak sekali uang dari undangan buka puasa. Di saat demikian, Anya berubah jadi sangat percaya diri dan seperti tidak membutuhkan saya sebagai tameng.

Selain saya, tidak ada anak non panti yang cukup diakui dan mau merespon pertemanan Anya. Itu sebabnya, hingga lulus pun, dia menempeli saya terus, meski ketika kelas empat hingga enam, akademis saya menurun dan tidak lagi mendapat pengakuan. Sudah tidak kaya, tidak pintar lagi. Teman-teman semacam Laura yang mulanya berambisi mendekati pun, jelas-jelas menjauh.

Di balik ketidakberdayaan menghadapi Anya yang terus menempel sekaligus melukai, saya sebenarnya juga menjalin pertemanan dengan anak non panti yang namanya Yuni. Dia baru pindah ketika kelas empat dan dari kalangan keluarga lumayan berada, meski akademisnya tidak menonjol. Yuni tidak pernah melukai dan perasaan inferiornya soal akademis, juga hobi nonton anime, justru menyatukan kami. Dan lagi, Yuni merespon pertemanan semua anak panti dengan sangat hangat. Kami bahkan sering main bersama di rumah gadis yang tingginya sekuping saya itu dan menamai ikan-ikan peliharaannya satu per satu. Tapi Anya, tentu saja sangat tidak menyukai Yuni. Apalagi ketika saya mulai bisa lepas darinya dan lebih sering bersama Yuni. 

Satu waktu, dengan drama yang tentu berlebihan, Anya menyampaikan pesan kepada beberapa anak perempuan (non panti dan kami tidak akrab sama sekali), bahwa saya disuruh memilih dia atau Yuni. Teman-teman menyampaikan bahwa Anya terlihat sangat sedih karena ditinggalkan dan celakanya, saya bilang lebih memilih Anya. Jadilah saya kembali terjebak pertemanan beracun dengannya. Hari-hari dipenuhi lagi dengan omongannya yang pedas tanpa sebab, obrolan tidak nyambung dan banyak hal lainnya.

Paham saya, Anya sesungguhnya ingin sekali bergaul dengan anak non panti lainnya. Hanya saja, dia tidak diakui karena tidak berduit dan akademisnya tidak menonjol. Hal ini terlihat dari bahagia berlebihannya ketika salah seorang anak paling pintar dan cantik di kelas, mulai perhatian waktu akademisnya meningkat di kelas enam dan bahkan dia sampai diutus mengikuti lomba pidato. Si populer yang memerhatikannya itu kerap mengajaknya bicara dan memberinya beberapa lembar kertas binder yang apik. Anya sering sekali menghampiri bangku saya dan berkata,”Lihat, anak itu (si populer) suka sama aku loh (mau jadi temanku).”

Mengatasi perasaan inferior memang tidak mudah, apalagi bagi anak-anak. Saya yang sekarang memahami juga, semuanya yang terlibat dalam kesenjangan di sekolah kami dulu sesungguhnya adalah korban dari pemikiran orang dewasa. Misal Laura, didoktrin ibunya untuk hanya berteman dengan anak yang ekonominya setara atau yang akademisnya bagus.

Perasaan inferior ini pula, yang membuat kami bertahan dengan cara masing-masing. Meski sempat memiliki nilai akademis sangat baik dan diakui, saya tetap merasa senasib dengan para anak panti sejak semula. Pertemanan dengan Desi pun, bermula dari perasaan inferior yang terpancar darinya sebagai anak baru di sekolah. Merasa sama dan bisa bertahan bersama, membuat saya lebih pilih merapat pada mereka yang tersisih. Diam-diam, saya sebenarnya tetap sering bermain bersama Yuni di luar jam sekolah. 

Tapi Anya lagi-lagi beda soal. Desi, ketika kami bertemu lagi semasa berkuliah, mengatakan bahwa Anya sebenarnya banyak menjual cerita soal saya dan teman-temannya di panti kepada Laura dan jajaran anak populer lainnya. Anya pernah cerita pada mereka, bahwa saya sangat kasar kepada ibu. Padahal, saya bahkan tidak nyaman berbicara tentang keluarga dengannya hingga lulus dan lagi, cerita darinya itu memang tidak pernah terjadi. Jadi, sikap berbagi makanan dan apa saja yang saya miliki waktu itu, menyentuh hati Sri dan anak-anak panti lainnya, tapi tidak dengan Anya. Namun sekali lagi, dia sebenarnya pun hanya korban dan berusaha bertahan hidup dengan mencari pengakuan dari kalangan anak populer bersama cerita karangannya.

Bahkan ketika masuk di SMK dengan jurusan yang sama, Anya seperti tidak mengenal saya sama sekali. Tidak ada bekas pernah dekat. Dia berhasil masuk grup anak populer di kelasnya karena akademis yang sangat baik. Kami beda kelas, pun dengan Sri. Namun saya dan Sri malah leluasa jadi lebih dekat, tanpa kehadiran Anya. Di SMK, ada banyak anak yang berasal dari keluarga menengah bawah dan di masa itu, Sri mendapat sangat banyak teman dan memiliki kenangan indah. Dengan teman-teman satu geng Sri di kelas pun, saya kenal sangat baik seperti Sofi dan Uus. Kedua anak ini memiliki latar belakang kehidupan yang sama-sama keras pula. Sofi yang akrab dengan pertengkaran antar keluarga dan berjualan roti keliling sekolah. Kemudian Uus, yang pernah hampir dijual menjadi TKW ilegal oleh bapaknya sendiri.

Ketika akhirnya Anya dikeluarkan dari panti sekaligus sekolah, Sri memilih tetap bungkam soal kasus sebenarnya dari gadis licik itu. Padahal, sebagai orang yang makan dan tidur dalam satu lembaga selama bertahun-tahun, mustahil Sri tidak tahu. Pikir saya pun, kasus Anya apabila memang benar, justru adalah peluang Sri membalas segala kejahatannya. Tapi gadis berkulit putih itu sama sekali tidak mengambil kesempatan. Justru, tidak jauh setelah pengumuman kelulusan, Anya tiba-tiba menghubungi saya. Dia memohon agar ijazah saya bisa dia pinjam untuk ‘ditembak', agar dia bisa cari pekerjaan katanya. Agaknya, ia sedang sangat kepepet. Tentu saya menolak. Selain berisiko memberikan ijazah asli pada orang lain, saya tidak berminat menolong teman yang bahkan pura-pura tidak kenal semasa SMK, hanya karena tidak lagi butuh ‘tumpangan'. Bagi saya, masih ada solusi lain untuk permasalahan Anya, tanpa mesti terlibat jauh. Ikut ujian paket C misalnya, seperti salah seorang teman sekelas yang keluar dari sekolah, jelang ujian nasional. Ya, meski mengikuti paket C butuh waktu dan barangkali tidak sesuai dengan desakan kebutuhan Anya.  

Saya kemudian tanya pada gadis bermata bulat itu, apa teman geng populernya semasa SMK tidak ada yang mau meminjamkan ijazah? Kemudian Anya menyebut beberapa nama teman lamanya satu geng, yang mengaku masih menunggak uang gedung sehingga tidak bisa mengambil ijazah. Padahal, saya tahu teman-temannya tadi sudah mengambil ijazah. Semasa SMK, saya cukup dekat dengan para guru dan kantor, jadi saya tahu permasalahan anak-anak hingga menyoal ijazah. Saya memahami, teman-teman satu geng Anya berbohong karena tidak mau risiko ijazah hilang atau terlibat hal ilegal.

Tapi Sri lain lagi. Saya kaget ketika dia cerita Anya meminjam ijazah darinya untuk ‘ditembak'. Saya terang-terangan bilang sudah menolak permintaan Anya, karena bahkan dia baru ingat menyapa lagi ketika butuh dan juga, terlibat pembuatan ijazah ilegal sangat berisiko. Buat apa saya mengambil risiko untuk seseorang yang bukan teman?

Namun ternyata, Sri malah mau meminjamkan ijazahnya dengan ucapan ringan,”Kasihan. Dia biar bisa cari kerja.” Dan ternyata, Anya bisa menjadi TKW hingga saat ini adalah berkat ijazah yang ‘ditembak’ itu. Diam-diam saya mengagumi Sri habis-habisan. Bagaimana gadis yang nampak jago mengumpat ketika membela diri sejak SD dan tidak pernah takut meski lawannya laki-laki itu, ternyata berhati halus. Bahkan ia, jauh lebih halus dari saya yang berpenampilan kalem.

Ketika 2018 lalu saya bilang, tidak ingin lagi berhubungan dengan Anya selamanya, Sri justru ngotot bahwa teman kami itu sudah bertaubat dan beda dari dulu. Meski ya, saya tetap pada keyakinan bahwa setiap manusia, tidak semudah itu untuk berubah. Apalagi Anya, terakhir saya melihat instagramnya, justru gemar bergoyang dengan gaya menggoda. Saya sangat bisa membedakan seni, senam dan semacamnya. Tapi gerakan Anya bukannya menikmati musik atau menari, namun justru gerakan menyedihkan yang malah dikomentari menjijikkan oleh lawan jenis.

Jadi, bagaimana Sri justru memilih membantu penyiksanya? Hingga akhir jaman sekalipun, saya agaknya tidak akan pernah menemukan yang namanya teori kelembutan hati. Sri telah membalas kebencian, dengan cinta yang tanpa dalil. Dia meyakini, semua orang berhak memiliki kesempatan. Diam-diam saya mengamini pendapat Uus, soal Sri yang memiliki jiwa penyayang. Dan bukankah menjadi lembut seperti Sri di antara kehidupannya sendiri yang selalu keras, adalah daya tahan luar biasa?

*PSG Pendidikan Sistem Ganda a.k.a praktik kerja di SMK

Catatan tambahan, ditulis November 2025:

2020 lalu, Anya menyerang Sri di grup WA alumni SD dengan mengomentari hal tidak benar soal suaminya. Ya... tiba-tiba menyerang saja tanpa sebab, seperti tabiatnya sejak SD. Sebelumnya, ia menitip bakso untuk acara panti pada Sri yang bekerja di sana, lalu petentang petenteng di panti karena merasa sudah menyumbang (faktanya bukan sumbangan skala besar). Agaknya, Anya berusaha menunjukkan dia oke secara finansial meski dikeluarkan dari panti.

2025 salah seorang teman mengomentarinya sebagai TKW sukses merujuk dari unggahannya di media sosial, entah gaya hidup seperti apa lagi yang berusaha ditampilkan Anya untuk meraih status sosial. Pada kenyataannya, menurut penuturan teman lain anak Anya entah dimana dan keluarganya berantakan.

Tuesday, July 23, 2019

Rumah

Coreted by: @unartifisial

Seperti ribuan anak-anak lain yang gagal diaborsi semasa masih jadi segumpal darah, Soca Rahmawati hidup dalam kekosongan yang tidak pernah bisa ia ungkap dalam puisi paling rumit sekalipun. Ibunya delapan belas, ketika terpaksa melahirkannya dan setelah itu, ibunya mengira cinta dari lelaki adalah solusi dari laranya setelah ditinggal bapak Soca yang menikahi tidak sampai delapan bulan lamanya.


Hari-hari Soca dipenuhi dirinya yang meringkuk sendirian di sudut rumah pemberian kakek dan neneknya yang kata orang punya duit melimpah. Dilihatnya ibunya sibuk bersandar di bahu para lelaki yang berganti-ganti rupa. Pada satu lelaki, ibunya bersandar selama beberapa bulan, menangis kemudian lantas berganti lelaki lain lagi. Bisik-bisik yang Soca dengar dari orang-orang, siapa yang tidak mau dengan ibunya yang meski janda, masih sangat muda, anak tunggal, memenuhi standar ayu di masyarakat dan punya orang tua berduit luar biasa?

Di sekolah, guru-guru mengeluhkan tingkah Soca yang sering abai dengan perintah dan sengaja pura-pura tidak mengerjakan tugas dengan baik. Kabarnya, gadis kecil bergigi gingsul itu hanya cari perhatian saja. Meski demikian, guru-guru kerap tidak sabar hingga membentaknya. Namun bagi Soca, semua bentakan itu justru menghangatkan hati, seperti mengganti pengharapannya saban hari ketika meringkuk di sudut rumah, pengharapan dipeluk sang ibu. Ah, bahkan dibentak pun tidak mengapa. Pokoknya, mesti ibunya yang melakukan.

Menahun kemudian, ketika orang-orang bilang pantat dan pinggul Soca mulai menyembul, seorang lelaki coba menyentuh tangannya sambil mengucap kata cinta. Dada gadis berambut keriting itu menghangat. Saban hari, ia dihujani kata cinta yang membuat rasa hangat di dadanya, dirasa lebih awet ketimbang upaya membuat para guru marah. Elusan tangan itu lama-lama makin naik ke payudara dan pada satu waktu, lelaki itu mengatakan akan cinta Soca selamanya sambil mulai membuka celana dalamnya.

Perut Soca mulai terasa menyembul dan berat setelahnya. Pil-pil yang disarankan teman-teman sekolah hanya membuat perutnya nyeri luar biasa dan pada muaranya, ia dinikahkan dengan lelaki yang hidup dengannya tidak sampai delapan bulan itu. Ada kekosongan dalam dada Soca dan ia sibuk bersandar dari satu lelaki ke lelaki lainnya. Bahagia dalam beberapa bulan, menangis kemudian, seterusnya demikian.

Diam-diam sepasang mata gadis kecil mengawasi dari sudut rumah besarnya. Ada kekosongan yang merajah dada hingga nadi gadis itu...

Monday, July 1, 2019

Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Sumber: Magdalene.co

Dimuat di Magdalene.co 10 April 2019
Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.
Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.
Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.
Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.
Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?
Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.
Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?
Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.
Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.
Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”
Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.
“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 
Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.
Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.
Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?
Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.
Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?
Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?
Ilustrasi oleh: Sarah Arifin
Terimakasih tim Magdalene yang telah menyunting cerita ini agar layak baca.

Tambahan 04/05/2020: saya berencana menggarap sebuah tulisan yang menggali sisi lain perempuan bercadar di sekitar. Bahwa perempuan bercadar berbaur seperti biasa dengan masyarakat, ada juga yang menjadi wirausahawan sukses, pula tidak semua dekat dengan poligami.

Thursday, June 27, 2019

.

Edit, Sumber: Lupa. Waktu nulis ini, keadaan sedang sangat buruk.

I lost my wings and broken inside

Monday, June 17, 2019

Tali Merah (1)

Coreted by: @unartifisial

Semuanya ada sepuluh orang dan kamu bisa melihat mereka sampai ke dalam tulang, gajih dan aliran darah. Namun yang satu itu beda, perempuan pula. Kecuali soal hitung menghitung dan fisika, semua yang kamu miliki, pula dimiliki gadis itu. Tidak, bukan cuma itu. Ia, gadis berambut cepak itu bahkan mampu membaca kenyataan lebih darimu. Yang satu itu kelak membuatnya punya nama, kehormatan dan duit melimpah. Kamu ingin menerkam dan mencekik gadis itu diam-diam, segera setelah bilang padamu,”Rambutmu standar industri banget, ini nggak keramas tiga hari sih aman. Nggak macam rambutku.” Receh, tidak penting, sekaligus ada ketulusan yang menggetarkan inti nuranimu. Ketulusan yang justru makin membuatmu ingin mematahkan tangan dan kaki gadis yang nyaris tidak memiliki alis itu, tepat hari itu, di hari pertama kalian berjabat tangan. Ah, tepatnya dia yang memaksa menjabat tanganmu lebih dulu.

Semasa Sekolah Dasar, kamu dicap sangat pintar dan punya teman begitu banyak. Disayang guru dan lulus dengan rata-rata sangat tinggi membikinmu masuk sekolah yang dicap favorit oleh masyarakat ketika sekolah menengah dan bahkan ketika kuliah pun, kamu dengan mudah masuk universitas impian orang banyak. Tapi gadis itu tidak, dia...

Dia menjalani hidup dengan tertatih-tatih, bahkan sesaat sebelum kalian bertemu. Jika hasil tes IQmu jenius, dia rata-rata bawah. Tapi, bagaimana bisa gadis seberbahaya dia IQnya hanya segitu? Bahkan jika tidak lebih dulu melempar ramuan itu di belakang punggungnya, kamu tidak yakin gadis itu akan menunduk ketika memandang matamu. Kelak ramuan itu, akan membuat gadis itu gelisah saban hari, menanti-nanti kamu sekeras hatinya dan meski Tuhan bilang jawabannya bukan kamu, dia akan ngeyel dan hancur pelan-pelan.

Maka ramuan itu mulai memunculkan tali tipis berwarna merah. Kamu mengaitkan tali itu lagi-lagi di punggung si gadis, segera setelah dia mengajakmu bercanda di depan kamar mandi. Dia berlalu saja, bahkan tanpa sakit hati ketika kamu tidak menggubris candaanya. Saat dia memunggungimu dan berlalu, segera kamu mengaitkan tali merah itu selapis demi selapis hingga berbulan-bulan berikutnya gadis itu kira dia mencintaimu; lelaki yang gemar minum, jauh dari imej relijius, seks sebelum nikah dan bahkan seksis setengah mati, sama sekali bukan tipenya dan bagaimana bisa ia lumpuh dan tetap merasa mencintaimu? Ramuan dan tali merah itu...

“Ini gambarmu? Wih, bagus ya...” ucap gadis itu bersemangat, ketika melihat buku catatan yang di bagian belakangnya terdapat gambar karyamu. Gambar yang ngasal saja sebenarnya.

Kamu tahu, perlakuan si gadis, apapun itu tidak istimewa. Ia berlaku sama pada delapan orang lainnya. Dan di hari terakhir acara tersebut, kamu melihatnya nyaris menangis waktu mempresentasikan ketertarikannya terhadap gender. Dia satu-satunya orang yang menaruh minat pada bidang itu, presentasinya disertai cerita bagaimana teman sekitarnya menanggung luka akibat perkosaan halus. Sekali lagi, dia menyentuh inti nuranimu dan jika saja membunuh seseorang tidak memiliki landasan hukum, kamu pasti mengambil pisau dari dapur terdekat dan merobek mulut gadis itu, mencacahnya jadi delapan belas bagian, lantas merayakan kemenangan. Empati... Sesuatu yang bahkan sulit menyentuh inti nuranimu sebanyak apapun membaca soal itu. Gadis itu, ia memilikinya...

Si gadis, bisa melihat delapan orang lainnya dengan jelas, sedalam tulang, gajih dan darah, kecuali dirimu. Kamu menyampuli dirimu rapat-rapat dengan jati diri yang lain; yang setia kawan, yang apa adanya dan yang... Ya, pokoknya sampul sekelas yang kamu buat saat itu, belum mampu ditembus si gadis.

Menahun kamu menaati tata cara beragama, demi mendapat pintu-pintu paling dekat dengan Tuhan. Pikirmu dulu, Tuhan paling sayang padamu dengan anugrah kedua bola mata yang mampu membaca dua halaman buku, hingga kelancaran akademis juga kamu kira bentuk kasih sayangNya. Namun rangkaian kesusahan dalam hidup gadis itu membuatmu sadar, Tuhan lebih sayang padanya. Dicap bodoh semasa sekolah, nilai kelulusan pas-pasan yang selalu membuat susah mencari sekolah hingga cap tidak normal dari sekitar karena kesusahan bergaul. Ketika masuk dan melihatnya sejauh itu, kelebat tepuk tangan dan pelukan hangat sangat riuh, berdesakan dan itu jauh... Jauh di masa depan gadis itu.

Ia autentik. Skenario pengalaman buruk dari Tuhan, membuatnya autentik. Jika kemampuan musik, menghapal ratusan buku dan menyelesaikan rumus-rumus fisika milikmu ternyata dimiliki jutaan orang serupa, tidak dengan gadis itu. Namun satu hal, pengalaman membunuh yang bukan cuma sekali membuatmu yakin bisa melumpuhkan gadis bergigi kuning itu. Meski diam-diam kamu menyesali mengapa pula belajar kelewat jauh. Jika saja kamu tidak bisa masuk dan melihat lintas waktu, bukankah itu tidak akan membuatmu secemas itu? Bukankah hidup akan jadi kejutan-kejutan manis dan sakit selagi kamu terus berlari dan dibodohi sesuatu yang namanya harapan?

Maka benar, jika kamu tidak ingin membunuh gadis itu. Kamu ingin membuatnya rusak dari dalam, pelan-pelan. Matamu tersenyum setiap kalian bertemu, semakin lama mengulur waktu kematiannya. Ya, meski tali merah itu bukan hanya pada gadis itu kamu lilitkan. Pada berikutnya, kamu betul mengulurnya 360 hari penuh. Dan masih kamu, yang habis-habisan mengaburkan peringatan dari Tuhan padanya atas kesakitan yang sedang dan akan kamu timbulkan.

Tali merah itu lama-lama berubah menjadi hitam, melilit dalam tulang, gajih dan darah si gadis. Otak dan hatinya pun makin sewarna, mulanya abu-abu dan ia mulai kesulitan menulis, hobi yang serupa milikmu, namun bagaimana cerita-cerita sehari-hari gadis itu bisa jauh memikat orang banyak ketimbang tulisan-tulisan hasilmu menghapal ratusan buku? Itu tidak adil.

Saban hari, tali-tali itu kian pekat disertai kelegaan luar biasa dalam batinmu. Satu orang lagi yang kelak bisa lebih cerah ketimbang dirimu, tengah menuju tamat dan ia... Adalah si gadis.

Sunday, June 2, 2019

Revenge Porn CL dan Bagaimana Kawula Sok Open Minded Menyikapinya

Saya membuka twitter dan melihat artis CL menjadi trending. Sebuah akun membagikan tangkapan layar dari instagram mantan CL. Isinya? Foto-foto mereka di tempat tidur. Meski telah ditegur beberapa orang, si pemilik akun berdalih ia hanya beropini dan menurutnya, gambar yang ia bagikan terkait dengan opini tersebut.

CL sendiri merupakan artis papan atas yang membintangi banyak judul sinetron, memiliki lagu sendiri hingga banyak kegiatan sosial. Selain semua itu, ia juga dikenal memiliki kemampuan akademis sangat bagus. Belakangan, mantan pacar Amerika Latinnya, sengaja mengunggah lebih dari belasan foto sekaligus yang isinya kebersamaan mereka di tempat tidur. Berita resmi mengenai CL bisa juga dibaca di sini.

Ketika media sekelas Tempo dan lainnya menyamarkan kasus CL dengan kalimat ‘foto mesra'. Dua media lainnya masih juga menggunakan kalimat ‘foto panas'. Bahkan kedua media tersebut mengunggah ulang foto mesra yang asalnya dari instagram mantan CL.


Sumber: Media bersangkutan

Sumber: Media bersangkutan

Sumber: Media bersangkutan

Tidak sampai di situ, di antara timbunan warganet yang menyadari penyebaran foto CL sebagai kasus kejahatan. Masih ada juga warganet yang menjadikan keperawanan CL sebagai candaan, sesama perempuan pula. Warganet jenis ini, saya beri nama; sok open minded tipe 1. Mereka menjadikan kasus CL hal remeh dan layak ditertawakan. Saran saya, jangan pernah berdebat dengan jenis ini, kecuali kamu akan dibilang kurang santai, tidak mengerti candaan dan tentu saja tidak open minded.
Sumber: Twitter
“Jadi, CL masih perawan apa enggak?” tulis salah satu akun.
Sumber: Twitter

“Njirrr ngakak gw.” Balas warganet lainnya.


Bagaimana kasus CL layak menjadi candaan? Sedang siapapun bisa menjadi korban, sekalipun melakukan seks di dalam nikah. Dilansir dari magdalene.co , dari sisi pelaku, 61 persen di antaranya adalah pacar, mantan pacar, suami, dan mantan suami, sementara sisanya adalah orang lain, teman, kenalan, bahkan orang yang tidak dikenal. Hal ini menunjukkan bahwa, jenis-jenis kekerasan terhadap perempuan dalam ranah privat dan hubungan intim meluas bentuknya melalui dunia maya.

Upaya membuat malu, menghancurkan karakter hingga karir dan hubungan sosial, menjadi kata kunci dari kasus CL. Warga biasa sekalipun, akan hancur, ketakutan dan luka ketika menjadi korban, apalagi publik figur yang dikenal begitu banyak orang dan banyak jaringan. Belum lagi kasus demikian banyak pula menjadi dasar pemerasan baik uang maupun seksual. Kasus pemerasan demikian dapat dibaca selengkapnya di Sebar Video Bercinta dengan Pacar, Kiki Dihukum 6 Tahun Penjara.

Kasus CL sendiri disebut sebagai revenge porn. Dikutip dari tulisan Arman Dhani yang berjudul Seks Menyenangkan Tanpa Balas Dendam, revenge porn adalah tindakan mempublikasikan konten seksual seseorang yang dilakukan mitra atau mantan kekasih tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.

Kita semua tentu ingat, bagaimana kasus pembawa acara musik LM ketika video mesranya tersebar. Selain LM, masih ada juga CT yang terlibat dengan pria yang sama. Bedanya, video mereka disebarkan orang lain, bukan dari mereka yang terlibat hubungan seksual. LM yang saat itu menjadi brand ambassador beberapa produk, langsung lengser dari statusnya. CT sendiri menghilang hingga beberapa tahun berikutnya. Tidak bisa dipungkiri, imej menjadi hal penting dalam industri. Hilangnya imej, bisa jadi sama dengan hilangnya posisi di industri, meski belakangan LM bangkit dengan bermain apik di berbagai judul film.

Kasus jenis ini juga terjadi pada temannya teman saya. Sebagai anak kuliahan dengan fisik standar industri, ia ngotot terus bersama pacarnya yang kerap selingkuh. Teman saya pada mulanya menganggapnya naif. Namun ketika tidak sengaja membuka galeri foto temannya itu. Ia mendapati video seorang perempuan tanpa penutup tubuh bagian atas. Belakangan baru diketahui, video itu dibikin temannya itu bersama pacarnya dan menjadi konsumsi bersama. Video demikian, agaknya menjadikan temannya teman saya ini berat melepaskan pacarnya itu. Namun kini, temannya teman saya itu sudah berganti pacar, entah bagaimana prosesnya. Tapi seberapa banyak orang yang terjebak hubungan beracun macam ini dan tidak bisa lolos?

Lain cerita dengan seorang kenalannya kenalan saya, pernah pula dijadikan budak seks dengan ancaman foto telanjang. Jadi ia harus menuruti permintaan hubungan seks si pemilik foto kapan saja, sekalipun ia ingin lepas. Mulai berpikir ternyata ada banyak CL di sekitar kita?

Selain kaum sok open minded tipe 1. Ada juga kaum sok open minded tipe 2, dalam kasus CL. Yang macam begini, seolah paling tahu bagaimana budaya barat bekerja dan menuduh bangsanya sendiri sebagai polisi moral.


Sumber: Twitter

“Lol. Foto2 mesra CL sbnrnya biasa aja cm yaaa di indo kan polisi moral nya banyak apalagi urusan selangkangan.” Tulis salah satu akun.

Sumber: Twitter

“Ga psikopat jg memang sd biasa kehidupan bule memang seperti itu, ga kaget.” Balas akun lainnya, ketika salah satu warganet mengatakan mantan CL psikopat.



Sumber: Twitter

“Apa sih masalahnya CL foto mesra diatas ranjang sama pacarnya...? Banyak netizen Indonesia ini sok moralis, padahal bedanya hanya publis dan tidak publis. Soal bersama pacar diatas ranjang hampir sama semua.” Warganet lainnya lagi berkomentar.


Padahal, dikutip dari CNN.com, revenge porn, or the nonconsensual posting of nude images of an individual online, usually by a now-ex-boyfriend, is one of those newest categories of crimes that didn't really exist until technology made every image available worldwide in an instant. Kata kucinya? Konsensual. Penyebaran tanpa konsensual atau kesepakatan? Itu revenge porn.

Di negara-negara barat yang disebut para warganet sok open minded sebagai hal biasa. Revenge porn justru memiliki landasan hukum kuat dan bahkan korban bisa mendapat kompensasi. Dilansir dari New York Times , in 2014, the woman, who was listed as Jane Doe in court documents to protect her identity, sued her former boyfriend, David K. Elam II, in United States District Court in California to get him to stop. Four years passed, until the court awarded her $6.4 million on April 4, in one of the biggest judgments ever in a so-called revenge porn case.

Jadi kasus CL, bukan menyoal siapa moralis atau seberapa biasa saja gambar yang diunggah mantannya. Sekali lagi, mengunggah foto atau video intim tanpa kesepakatan adalah revenge porn. Apalagi jika ditujukan untuk menghancurkan seseorang yang disebar gambar atau videonya. Masih dilansir dari New York Times, at least 36 states have some laws that penalize the nonconsensual distribution of intimate images, representing a national patchwork of different standards and punishments for an activity that transcends borders. Jadi bahkan, di negara-negara barat yang menurut warganet sok open minded ‘kasusnya biasa saja' ini, justru sekali lagi jelas landasan hukumnya.

Di Indonesia sendiri, kasus demikian juga memiliki landasan hukum apalagi disertai pemerasan. Kasus Kiki yang saya sebut di atas misalnya, ia mesti mendapat ancaman hukuman enam tahun penjara. Namun bagaimana dengan korban dan foto atau video yang telah tersebar? Sampai kapan sebarannya akan berhenti dan seberapa lama korban bisa pulih?

Terakhir, opini mbaknya ini masuk banget sih. Gelar warga Indonesia paling open minded sepertinya bisa jatuh ke dia tahun ini.



“CL diexpose foto syurnya sama mantannya terus kalian tau kan headline beritanya? Iya, masalain CL yang foto syur, bukan masalahin mantannya yang share foto syur. Lol, go home, media selalu mabok bahas ginian.” Tulis @astarisburn 

Nah, ini kasus CL ada berbagai sudut pandang yes. Tidak akan saya eksekusi semua, justru   menanti orang lain-lain ini yang eksekusi. Biar saya cukup di bahasan kawula sok open minded ini saja. Nanti bisa dalam sudut pandang media seperti mbaknya yang saya sebut di atas, bisa juga soal penanggulangan revenge porn dll.

Catatan Oktober 2021:

Tulisan ini sempat saya arsipkan karena merasa susunannya tidak rapi dan terlalu kasar apabila dibaca para penyintas.

Namun beberapa bulan lalu, seorang teman beda fakultas bertanya mana tulisan saya tentang ini, bukankah pernah diunggah di blog? Lalu saya utarakan nggak srek dengan tulisan ini. Tapi dia bilang, dia butuh baca, orang lain juga.

Jadilah hari ini saya keluarkan tulisan ini dari arsip. Kepada semua kritik dan saran, silakan masuk ya...

Monday, May 13, 2019

Pilih



Sumber: Gugel

“Kamu bisa lihat yang nggak dillihat orang.”

“Dan kamu pun…”

“Makanya, waktu SD saya nggak punya teman.”

“Teman saya banyak waktu SD.”

“Saya dicap bodoh dan pemalas waktu SD.”

“Saya dicap sangat pintar dan rapi waktu SD.”

“Pikir saya, semua orang melihat apa yang saya lihat. Waktu usia 22, baru saya tahu ternyata saya lihat yang nggak dilihat orang.”

“Sejak SD saya tahu apa yang saya lihat nggak dilihat orang lain. Hingga saat itu dan kini, saya melatih diri.”

“Tapi saya menerima ini. Saya jadi tahu, manusia baik masih banyak…”

“Saya pun menerimanya. Saya jadi tahu, manusia nggak layak dapat kepercayaan sedikit pun.”

Thursday, May 2, 2019

Cantikmu Butuh Konfirmasi?

Sumber: Gugel

Teman saya Nova bercerita, ada gadis yang satu pondok dengannya gemar mengonfirmasi kecantikan. Gadis itu 24 tahun dan hampir setiap hari berkata,”Aku gemukan.” Atau “Kok kulitku kelihatan kerutannya ya?” dan sebagian teman sekitar mereka berlaku sangat baik dengan menanggapi begini,”Mbak nggak gemukan kok.” Atau “Nggak kerut kok.”

Nova melanjutkan cerita, kabarnya temannya itu pernah ditinggal menikah oleh sang mantan. Terlalu naif untuk menyimpulkan sebabnya sibuk mencari konfirmasi kecantikan adalah lukanya yang satu ini. Tapi yang jelas, konfirmasi demikian sesungguhnya tidak sehat dan pelakunya butuh disembuhkan.

Kasus teman Nova, barangkali hampir serupa dengan gadis yang satu ini. Kalem, manis, cerdas dan ambisius. Kata terakhir mungkin tidak akan disetujui banyak orang yang mengenal Sruti, soalnya kata ini memang kontradiktif dengan kalem yang ada di awal kalimat. Tapi ambisius, sesungguhnya tidak sebegitu negatif juga. Sruti ambisius dalam arti berkeinginan kuat.

Saya mengenal Sruti ketika awal bergabung dengan sebuah komunitas lintas iman. Saya 23 akhir, dia 19. Dari caranya menanggapi argumen hingga berkenalan dengan orang lain, terlihat sifatnya yang tegas pula. Pikir saya, Sruti hebat. Ketika 19, saya masih berkutat di dalam kampus dan jauh dari mengenal komunitas luar. Tapi semua berubah ketika saya mendapati gadis baik itu melirik sangat benci ketika saya memoles lipstik. Saya tidak menoleh pada dia sama sekali pada mulanya, tapi tatapan yang betul-betul dilakukan sepenuh hati akan membuat siapapun yang ditatap itu merasa, begitu pula Sruti kepada saya.

Dalam pikiran saya waktu itu, Sruti merasa lebih baik karena cantik tanpa polesan. Semenjak saat itu, saya putuskan merentang jarak saja ketimbang saling luka. Saya memberinya cap sindrom ratu lebah hingga lupa, saya pernah 19 dan juga pernah merasa lebih baik dari mereka yang produk perawatannya lebih detail.

Saya awal 23 waktu Raisa, teman beda fakultas mengunggah beberapa produk pembersih wajahnya di story Instagram. Bagi saya, produk tersebut rumit dan muncul perasaan lebih baik karena untuk membersihkan wajah, saya hanya butuh satu produk. Saya belum memahami kebutuhan kulit tiap orang berbeda. Pemahaman saya hanya sampai pada; saya simpel dan kamu rumit.

Namun semakin saya berkumpul dengan Raisa, Yasmin dan banyak teman-teman yang lain. Saya jadi memahami, kebutuhan setiap orang berbeda dan apa yang orang senangi pun berbeda. Kedua teman saya ini sudah pada taraf jago make up, ketika saya baru bisa meratakan blush on. Keduanya juga aktif di komunitas Resister Indonesia, sama-sama pembaca buku berat dan produktif menulis juga membantu orang lain. Jadi, jika ada yang bilang hobi make up menghabiskan waktu, saya pastikan itu sama sekali salah. Yasmin dan Raisa sama produktif dengan mereka yang tidak hobi make up dan barangkali malah lebih.

Dari Yasmin dan Raisa yang hobi make up saya tahu, mereka justru jago mengatur waktu. Raisa misalnya, ketika kami keluar bersama akan bertanya pukul berapa saya menjemput. Dia nyaman memakai baju yang stylish dan make up yang apik, tapi dia juga tidak mau orang lain menunggu. Jadi sebelum jam penjemputan, dia akan memilih baju dan bermake up.

Saya sendiri tumbuh sebagai remaja yang jauh dari rasa percaya diri. Inginnya dibilang cantik tapi saya merasa jauh dari itu. Kulit saya yang standar industri baru saya sadari di usia 20 tahun. Dan berapa banyak orang yang sampai mengorbankan kenyamannya demi kulit jenis ini? Sedang saya justru secara genetik mendapat kulit jenis ini, yang mudah sembuh ketika luka dan untuk terlihat segar hanya perlu satu produk sabun wajah. Dulunya, saya hanya berfokus pada rambut yang kata orang berantakan dan tidak cantik. Ibu saya tidak pernah memuji dan lebih sering marah-marah saja ketika saya merasa minder atau terlihat memiliki rambut yang tidak rapi. Tidak pernah ada solusi saya mesti mengenakan apa dan menata rambut bagaimana. Ibu juga sering membandingkan saya dengan remaja sebaya yang sudah mengerti harus bagaimana dalam berpenampilan. Maka saya makin merasa buruk. Padahal saya betul-betul belum memiliki ketertarikan menata penampilan di masa itu, apalagi harus memutuskan sepantasnya bagaimana. Perkembangan tiap orang bukannya memang berbeda?

Menelusuri luka saya sendiri, membuat saya juga meyakini Sruti mestinya punya luka serupa. Bagaimana ia memilih hanya mengenakan bedak tabur dan tidak memoles apapun di bibir adalah pilihannya. Bagaimana saya memilih tidak memakai bedak dan menggemari lipstik adalah pilihan saya. Meski memutuskan menjaga jarak, ternyata saya masih juga penasaran dengan gadis yang sehari-hari tinggal di pondok ini. Apalagi menurut seorang teman yang lain lagi, selain kuliah dan pondok mulanya tidak ada kegiatan lain yang diikuti Sruti. Keikutsertaannya di komunitas lintas iman ternyata berkat ajakan seorang temannya yang pernah satu pondok juga. Pikir saya, jangan-jangan lirikan bencinya ketika kami kali pertama kenal itu perasaan saya sendiri, termasuk kerapuhannya soal kecantikan. Ada rasa penasaran tentang bagaimana jadi temannya tanpa saling luka. Maka saya coba mengajaknya pergi bersama di suatu acara tahun lalu. Namun di sana, saya justru makin mendapat konfirmasi bahwa Sruti memang gadis yang luka.

Di dalam mini bus yang kami naiki bersama peserta lainnya, Sruti yang duduk di kanan saya berucap bahwa dia tidak telaten menggunakan kosmetik atau perawatan yang macam-macam. Kalau tidak salah, itu di tengah obrolan antara saya dan teman perempuan yang duduk di kiri dekat jendela tentang cat rambut dan lain sebagainya. Sruti mengulang kata ‘tidak telatennya' berkali-kali namun tidak saya gubris. Saya sayang Sruti dan mengonfirmasi kecantikan hanya akan menghancurkannya lebih jauh. Baru setelah teman yang ada di dekat jendela berkata,”Sampeyan wis ayu teko kono e. Nggak perlu perawatan macem-macem.” Gadis yang berat badannya kira-kira 10 kilo di bawah rata-rata itu berhenti mencari konfirmasi.

Namun di kamar tempat kami menginap, gadis baik ini mengulangi lagi hobinya mencari konfirmasi. Ada empat orang gadis di dalam kamar yang tengah berbincang dan Sruti berkata sambil menepuk perhelangan tangannya,”Aku sak mene iki lemu...” dan kalimat tersebut diulangnya beberapa kali meski seorang gadis yang duduk di kanan saya memasang wajah tidak berminat. Perempuan berkulit kuning langsat yang gaya kerudungnya selalu sederhana itu saya kira berhenti, ketika gadis di sebelah kirinya menyahut,”Lek sampeyan lemu, aku opo?” dan gadis itu lebih tambun dari saya. Namun ternyata, Sruti masih mengulang kalimat bahwa ia gemuk sampai saya berkata,”Arek iki satir ya lek ngomong.” Disusul gelak tawa gadis yang duduk di kanan saya. Sruti menoleh dengan mata luka dan kaget pada saya sambil berkata,”Body shaming a...” meski tidak jelas ia sedang bertanya atau menyatakan sesuatu.

Hingga kami kemudian berpindah kamar dan mendapat satu gadis lain lagi sebagai teman. Teman baru kami itu memiliki jerawat di wajahnya dan ketika hendak tidur, dia mengoles semacam obat dalam jangka waktu beberapa saat. Saya mengajaknya mengobrol soal obat yang ia pakai, namun Sruti tiba-tiba menyahut,”Lek aku nggak telaten gawe ngunu iku.” Dan tidak disadari Sruti, mata teman kami itu nampak luka dan kecewa, sedang saya hanya bisa berkata,”Kebutuhan kulit tiap orang beda.”

Di Pelangi Sastra Malang, semua mesti kenal Dewi R Maulidah. Wajahnya sangat mirip Angeeben Rishi, pacarnya Adly Fairuz dan lagi sangat produktif menulis dan suka belajar. Dewi menjadi bulan-bulanan untuk digoda sana dan sini oleh banyak teman laki-laki namun saya tidak merasa kasihan. Mengapa? Gadis yang berat badannya sesuai rata-rata itu, sangat siap dengan semua perhatian yang lebih-lebih ditujukan kepadanya.

Sejak semula saya mengenal gadis berjilbab ini, dia begitu menghargai meski pakaian saya lebih sering asal nyaman. Mbak Vian, teman kami yang lain pun sangat menyukai kepribadian Dewi yang menghargai. Jika saja ia mau, tentu fisiknya yang standar industri sudah mencukupi untuknya populer tanpa susah-susah menulis, membaca dan berkomunitas. Tapi Dewi tidak pernah melakukannya.

Malah kadang, saya melihatnya tidak begitu nyaman ketika menjadi subjek pembicaraan di depan umum karena fisiknya. Pernah juga saya melihatnya lebih sengaja menempel saya dan mbak Vian, meski teman-teman lelaki heboh menggodanya dan tentu memberi tempat sangat luas untuknya ber-ndusel-ria di antara mereka. Lalu bagaimana dengan Sruti? Serupa Dewi, ia pun menjadi pusat perhatian di komunitas tempatnya begiat. Ia bisa dibilang memang memiliki wajah paling manis dan lagi dalam komunitas tersebut jarang beranggotakan perempuan.

Sruti juga menguarkan citra misterius, kalem namun juga pintar dan tegas meski sedang diam. Ditambah penampilan sederhana yang tidak mengurangi wajah ayunya. Banyak yang menilai Sruti bersikap anggun dan biasa saja ketika menjadi pusat perhatian. Yang satu ini saya setuju, karena nampaknya memang begitu. Dia cool dengan limpahan perhatian. Kemudian apa Sruti sama dengan Dewi? Saya pastikan, Dewi tidak pernah melakukan konfirmasi atas tubuhnya pada sesama perempuan, setidaknya di lingkaran kami dia tidak pernah melakukannya.

Yang terbaru tentu saja pertemuan paling anyar saya dan Sruti. Seorang teman laki-laki yang sejak kuliah berteman baik dengan saya mengomentari,”Tumben awakmu nggak menor, Pop?”. Ia merujuk pada penggunaan blush on saya sehari-hari. Menor yang ia ungkap tentu subjektif. Kalau yang seperti saya menor, apa kabar Tasya Farasya? Ini semua letaknya pada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing. Selera dan butuhnya saya begini, Tasya beda lagi. Saya suka wajah segar karena blush on, bukan untuk menarik perhatian si teman ini. Kami berteman lama dan ia hanya bercanda, cenderung meroasting malah. Roasting semacam ini memang saya alami dari teman perempuan juga lelaki yang lain ketika awal belajar make up. Posisi kedekatannya juga selevel dengan si teman tadi.

Meski demikian, Sruti yang duduk di kanan saya tiba-tiba menyahut dengan antusias,”Menurut Mas menor itu kayak gimana?” teman saya itu kaget, tidak menyangka kalimat candaanya ditanggapi sebegitu antusias. Mata Sruti saya tatap dan tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana. Puas? Senang? Saya tidak berani menyimpulkan. Apalagi dia beberapa kali menyatakan bahwa warna mencolok sangat tidak ia suka. Ia sampai mengulang kalimat ini beberapa kali. Meski saya meyakini, dia hanya mengungkap pendapat dan bukannya mengomentari kegemaran saya pada warna mencolok.

Teman lelaki saya itu, kemudian bergumam yang saya lupa apa isinya dan Sruti mendesak lagi,”Iya, kalau menurut cowok itu yang namanya menor itu gimana, Mas?” kemudian teman saya itu menjawab,”Ya, ehm... Ya... Lebih berwarna gitu mukanya.” Wajah Sruti kembali saya amati dan lagi-lagi tidak jelas perasaan apa yang tergambar dari sana.

Kecenderungan teman laki-laki menjadikan gadis yang dianggap paling menonjol fisiknya sebagai subjek pembicaraan dan candaan di depan publik, bisa jadi sesungguhnya hanya diniatkan sebagai perekat pertemanan dan penghangat komunikasi dalam komunitas. Dewi yang menghormati pilihan sesama teman perempuannya dalam hal penampilan, kerennya pun tidak pernah habis. Ditambah lagi dia betul-betul tenang ketika menjadi subjek. Sedang Sruti yang masih dua puluhan, prosesnya belajar menerima pilihan sesama perempuan tentu masih panjang dan ada banyak kesempatan.

Konfirmasi kecantikan bagaimanapun tidak akan pernah habis jika dilakukan. Karakter satu ini bisa juga menjadi pemicu penindasan sesama perempuan, ketika ada yang dianggap lebih menarik perhatian dan cantiknya dikonfirmasi sekitar. Si pencari konfirmasi akan luka dengan perhatian yang teralih dan si pembuat perhatian teralih, juga akan luka dengan penindasan. Bisa jadi akan terulang pola melukai serupa dari yang mulanya ditindas tadi.

Jika ada temanmu sesama perempuan yang sibuk sekali mengonfirmasi kecantikannya. Baiknya jangan terlalu digubris. Ia luka dan butuh pertolongan. Cara menolongnya adalah dengan tidak menggubris upayanya itu. Seperti sikap saya pada Sruti. Pernah saya spontan memujinya makin cantik, namun hal demikian justru saya lakukan ketika dia tidak minta konfirmasi.

Kemudian, saya ingin sekali berkata pada Sruti,”Kamu cantik paripurna dan yang layak mengonfirmasinya adalah dirimu sendiri. Ngomong-ngomong, di masa lalu kamu punya luka apa sih?”


Ucapan terimakasih yang istimewa saya hatur kepada:
Raisa Izzhaty
Maryam Jameelah Al-Yasmin
Dewi Rizki Maulidah
Dan tentu saja Sruti yang baik hatinya.
Terimakasih kalian telah mengajari saya banyak hal.


Fyi, saya sudah ngobrol dengan Sruti dan memberikan tulisan ini sebagai hadiah. Hebatnya, ia menerima dengan hati dan justru ingin memelajari tipe kecerdasan dan kepribadiannya sendiri. Ia juga tertarik pergi ke luar forum yang biasanya ia datangi untuk melihat perempuan-perempuan lain dan melatih kepekaan (04/05/2019)

Setelah chat obrolan tanggal 4 bulan 5 tahun 2019, beberapa hari kemudian Sruti bertemu kembali dengan saya di sebuah acara buka bersama. Ia nampak takut dan menghindar, bahkan hampir tidak menyapa jika saja ketika keluar lokasi panti asuhan tempat buka bersama sudah tidak ada lagi orang tersisa berdiri di pintu.

2020 kami bertemu lagi, di haul acara lintas komunitas. Sruti terasa sebal melihat saya meski kami saling sapa. Belakangan saya ingat, pada obrolan yang pertama di 2019 memang tidak ada kata maaf. 

Tiga tahun belakangan istilah pick me jadi populer dan ternyata perilaku-perilaku dalam tulisan inilah yang disebut pick me. 

Sebetulnya, ada perlakuan Sruti yang jauh dari perspektif korban terhadap trauma penyintas kekerasan juga demi sikap pick me-nya di 2018. Namun ya... Saya belum tahu bagaimana cara memproses yang satu ini (05/04/2024)