Saturday, March 26, 2022

Silam

 

Coreted by: @destianrendra

Tidak ada yang tahan jadi pacar gadis itu lebih dari tiga bulan. Bagaimana bisa ada yang tahan? Jika usianya dua puluh empat dan kerap menjerit histeris ketika pacarnya melakukan satu hal; telat menjemput.

“Ayu sih, tapi kekanakan banget...”

“S2 sih, tapi suka membesarkan masalah.”

Hingga hari itu pun tiba, pacar gadis itu terlambat sembilan menit. Mereka dua bulan berpacaran, berjumpa karena ternyata satu gedung perkantoran. Obrolan mereka pun nyambung karena gadis itu punya pengetahuan luas namun...

Kuku si gadis yang cukup panjang sudah menancap di kedua lengan pacarnya itu kini. Matanya membulat, merah dan badannya gemetar. Ia pula nyaris histeris. Pacarnya itu pun buru-buru mengibas dua tangan si gadis dan berlalu pergi. Semua kontak gadis itu ia blok dari ponselnya.

Dengan dada sesak, gadis itu hampir jatuh terduduk. Di depan matanya hanya ada sang ayah yang menepuk kepala kecilnya suatu pagi dengan janji akan menjemputnya tepat jam dua belas siang, sepulang sekolah. Ayahnya itu ternyata tidak pernah menjemputnya kembali.

Gadis itu menjatuhkan tas kantornya dan tubuhnya pun makin gemetar. Seorang anak perempuan sembilan tahun, kini sedang berdiri di sampingnya. Anak itu tidak menangis. Ia justru memegangi tali tas ranselnya dan seolah berkata pada seseorang di hadapan,”Nggak apa-apa. Papa pasti masih sibuk...”

Wednesday, March 16, 2022

Ustad Pelaku Pelecehan, Benar Hanya Oknum?

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

10 Januari 2022 lalu, Kevin Ngunyen mengunggah kasus pelecehan oleh seorang ustad berinisial M di Tiktok dan Twitter. Kevin menekankan yang demikian tentu saja oknum. Kevin juga menyebut Husain Basyaban sebagai salah satu uztad yang benar-benar membela isu perempuan.

“...korban-korbannya udah banyak, bukti-buktinya terlampir jelas dan nanti bakal gue sertakan di green screen. Dan disclamier ya temen-teman, ini hanya oknum-oknum aja, nggak semua kayak gini. Masih banyak kok pendakwah-pendakwah di luar sana yang bener-bener membela isu perempuan, Husein contohnya.” -Kevin Ngunyen, Tiktok 2022-

Penggunaan istilah oknum dalam kasus ustad M, seperti merujuk dirinya yang merupakan bagian dari umat islam. Hingga ketika ustad M kedoknya terbongkar, ia masih dianggap sebagian kecil dari umat islam yang sedang berbuat bejat.

Uztad M sendiri ternyata aktif di Instagram. Jadi Husain buat saya lebih familiar dan benar, video-video pendeknya cukup bisa dicerna orang awam sekalipun. Salah satu perspektif Husain soal pelecehan seksual bisa disimak dalam video berikut.

Sumber: Tiktok Husain Basyaban

“Aib ini terikat pada pelaku, bukan korban.” Husain, Tiktok 2021.

Tapi bagaimana dengan pernyataan Kevin soal ustad M yang oknum? Mari kembali membaca tulisan di blog ini yang berjudul Terimalah, Grooming Senjatanya Nggak Melulu Persona Baik untuk memahami citra bentukan pelaku kejahatan. Sebelum itu, mari kita memahami pengertian oknum lewat esai berjudul Oknumisasi Aparat dan Politik Bahasa.

“Kata “oknum” tidak memiliki terjemahan yang pas dalam Bahasa Inggris. Padanan yang paling mendekati adalah “individual.” Tapi, dalam kata tersebut tak ada citra negatif seperti yang dicitrakan “oknum.” -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Sedikit rangkuman, ustad M sendiri kerap mendesak para perempuan pengikutnya di Instagram untuk video call. Hal ini berlawanan dengan dakwah M menyoal interaksi lawan jenis. Ustad M pun sudah memiliki istri.

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

Dan ya, ustad semacam M sebetulnya sama dengan predator lain. Ia sengaja mengambil satu identitas tertentu sebagai citra. Islam tentu bukan tidak sengaja dia pilih.

Predator bisa dengan sengaja mengambil identitas apapun untuk membentuk sistem pendukung dan menjerat mangsa. Ustad M dengan identitas islamnya, sedang para predator lain dengan identitas nasionalis atau lainnya.

Bagaimana bisa seorang predator yang sengaja menggunakan identitas islam sebagai sekadar citra, bisa dianggap bagian dari umat yang sedang berbuat jahat?

Penyebutan oknum juga tidak tepat dipergunakan dalam kasus yang terjadi di lembaga. Apalagi ketika kasusnya menahun dengan jumlah korban tidak dua atau tiga.

"Demikianlah realitas dibentuk oleh bahasa. Dalam bahasa Inggris, kesalahan institusi tidak bisa dilimpahkan begitu saja ke individu seperti penggunaan kata “oknum” dalam Bahasa Indonesia." -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Padahal dalam lembaga demikian, biasanya terjadi kekerasan struktural. Sebuah kasus bisa tertutupi menahun, tidak mungkin kerja dari satu orang. Pasti banyak pihak terlibat menutupi kasus hingga membungkam korban. Pihak-pihak inilah yang lantas membentuk sistem. Dan ya, sistem yang menguntungkan pelaku, tentu saja.

Jadi untuk Husain dan siapapun teman-teman, lelaki dan perempuan yang menggunakan jalur dakwah kreatif, semoga kalian tetap baik-baik di jalan. Sedang untuk kita semua, yakin masih sudi memakai istilah oknum?

Eh, omong-omong kontennya Adela Surya Pertiwi bagus. Kali lain saya bahas yes. Konten Tiktok Adel tuh semacam,”Ya sudah, kami yang bercadar pun kesehariannya sama dan asyik aja kok.”

Tuesday, March 1, 2022

24

Sumber: Gugel

 

Kemarin lusa, tepat di hari ulang tahunmu. Dia saling bilang cinta dengan laki-laki lain.

Sebagai sang pangeran wanna be, kamu tentu merasa ada yang istimewa dari dia yang mengingat tanggal ulang tahunmu.

Tapi ya, entah bagaimana dia mengingat tanggal lahir siapa pun lelaki yang pernah lewat di hidupnya.

Ada dua lusin dan dia ingat semua...

Thursday, February 24, 2022

Kegilaan

Sumber: Dokumentasi pribadi


Di usia yang ke 25, teman-temannya mulai sibuk mempersiapkan pernikahan, daftar LPDP, bahkan mulai merantau ke berbagai kota. Namun ia justru gila.

Tidak ada ingatan tersisa soal siapa dirinya, yang mana ibu, di mana rumahnya. Ia hanya ingat kucing hitam putih itu miliknya, kesayangannya dan bapaknya yang terpaksa memelihara demi kesembuhannya juga.

Sebelumnya ia percaya, semua orang di muka bumi ini pada dasarnya baik. Ia juga terlampau percaya diri bahwa semua orang pasti bisa disentuh hatinya. Cinta itu nyata.

Hingga pertemuannya dengan kedua orang itu. Yang bagaimanapun ia sodorkan cinta buat mereka, tetap saja tikaman yang ia terima. Egonya bisa jadi terluka. Ia ternyata bukan si ajaib yang bisa menyentuh hati siapa saja dengan kekuatan cinta.

Kedua orang itu juga menikam siapa saja yang selain dia semaunya. Cinta yang ia sodorkan dilirik mereka saja tidak. Bagaimana bisa mereka tetap berjaya? Bukankah konsep yang ia terima sepanjang hidup, cinta selalu menang melawan yang batil?

Jadi dia gila.

Memutuskan gila juga tepat.

Sukmanya ada di antara dunia yang pekat biru langit dan dunia lain di bawahnya. Tersendat di sana, tidak ke atas, tidak ke bawah.

Dia menyerah tapi berdalih ingin dekat dengan yang maha kuasa. Konsep cintanya lebur lagi hancur tapi berdalih ingin ibadah ritual saja selamanya...

...tanpa terhubung lagi dengan manusia. Manusia yang hanya melukai konsep cintanya, mematahkan hati saja.

Tapi seorang uztad memberinya kisah 100 tahun beribadah. Ia tidak dimarahi. Ia juga tidak sedang diajak bersedih. Namun tangis dan rasa marahnya keluar serentak.

Kisah itu mencubit inti hatinya. Kisah itu adalah dia. Jadi air matanya berleleran.

Ia mengakui takut menghadapi kekecewaan, kerumitan hidup di dunia, jadi kabur dengan berdalih ingin dekat Tuhan saja.

Ia pengecut.

Ia tahu itu.

Jadi kisah 100 tahun beribadah membuat air matanya tidak juga berhenti. Ia ada di sana, dalam kisah itu. Manusia yang mengira ibadah ritual saja cukup aman dilakukan, tidak seberbahaya bersinggungan dengan manusia-manusia lain.

Kemudian pelan-pelan ingatannya kembali. Ia ingat siapa dirinya, yang mana ibunya, juga di mana rumahnya.

Erich Formm pernah berkata:

Maka dari itu, keinginan terdalam manusia adalah keinginan untuk mengatasi keterpisahannya, meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan mutlak dalam meraih tujuan ini berarti kegilaan, karena rasa panik akibat keterasingan total hanya dapat diatasi dengan menarik diri secara radikal dari dunia luar sehingga rasa terpisah itu sirna—karena dunia luar, tempat seseorang terasing itu juga sirna. (Seni Mencintai:18)

Ketika manusia lain melakukan hikikomori, dia malah meraga sukma. 

Friday, February 11, 2022

Negasi Kejahatan

 

Sumber: Gugel

Ada tukang selingkuh, sepakat menyingkirkan istri sah bareng selingkuhannya. Istri sah berhasil dihempas dengan dua anaknya tanpa nafkah, tanpa permintaan maaf.

Kemudian si tukang selingkuh membentuk persona agamis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara perbuatan baik disertai dalil. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona agamis itu membuat orang-orang yakin, si tukang selingkuh sudah berubah dan yang demikian disebut hidayah. Mantan istri sah dituduh tidak pemaaf ketika coba mengungkap luka dan hak anak-anaknya. Hingga menahun berikutnya, si tukang selingkuh terus berbicara soal agama, setara mereka yang membaca kitab saban hari dan mempraktikkan isinya.

Ada tiga nyawa yang kesulitan makan dan biaya sekolah pada berikutnya...

Ada tukang bully, menyingkirkan temannya dari komunitas karena dianggap pesaing. Temannya tadi berhasil dihempas tanpa permintaan maaf atau yang sejenis rekonsiliasi.

Kemudian si tukang bully membentuk persona feminis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara women support women. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona feminis itu membuat orang-orang yakin, si tukang bully anti penindasan. Korban lamanya melihat ia divalidasi banyak orang lantas ragu apakah pembullyan yang ia alami dulu nyata. Hingga menahun berikutnya, si pembully terus bicara feminisme setara mereka yang menangani kasus kekerasan di lapangan.

Kali ini muncul pesaing baru di tempatnya kerja dan saban hari si pembully menindasnya...

Ada pelaku kekerasan seksual, korbannya trauma berat dan tidak tahu harus melapor kemana. Korban berhasil dihempas dari lingkungan tempat mereka bertemu. Negasi dari pelaku bahwa kejadian itu kurang bukti juga terus dilancarkan terhadap korban.

Kemudian si pelaku membentuk persona nasionalis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara cinta bangsa dan anti korupsi. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona nasionalis itu membuat orang-orang yakin, si pelaku kekerasan seksual pro keadilan. Korban lamanya makin menyembunyikan diri setelah melihat ia divalidasi orang banyak. Hingga menahun berikutnya, si pelaku tetap bicara nasionalisme setara mereka yang keukeuh mengungkap kasus korupsi di sebuah desa kecil tanpa sorotan media.

Pelaku menciptakan korban baru. Di hadapan mereka selalu ia pamerkan seberapa banyak orang mempercayai dirinya...

Lalu kita pun bertanya-tanya, seberapa berat mengakui kejahatan ketimbang mengumpulkan begitu banyak orang lantas membangun citra?

Adakah kita salah satu dari para pelaku ini ternyata?

Wednesday, February 2, 2022

Tutorial Menanggapi Kasus Kekerasan Seksual Tanpa Perspektif Korban

 

Sumber: Gugel

Kok nggak lari atau teriak?

Tiba-tiba badanku kayak lumpuh, mau teriak nggak bisa, lari apalagi.

Baru lapor kok setahun kemudian?

Pelaku citranya bagus, aku takut ceritaku dianggap nggak valid.

Kalau nggak ada saksi, berarti bohong.

Pelaku menggiring aku sampai berdua saja.

Pelaku tuch udah tau mana cewek yang layak digenitin.

Aku ramah pada pelaku dan semua orang. Tapi hanya kamu yang menangkap keramahan itu sebagai genit.

Pelaku sama aku nggak pernah aneh-aneh tuch, berarti nggak mungkin lah dia gitu.

Berarti kamu harus mengalami dulu, baru bisa percaya

Kalau nggak lapor polisi, berarti fake korban.

Aku sudah lapor pada pihak berwajib tapi oknum di sana mengatakan persis lima kalimatmu di atas. Hatiku hancur dan aku memutuskan mundur.

 

Catatan:

Tulisan ini dibikin 2020 lalu di Instagram. Sangat banyak tulisan saya soal bullying dan kekerasan seksual yang tercecer di Instagram sepanjang 2017-2021. Tulisan ini satu dari sedikit yang sempat tersimpan.

Tuesday, February 1, 2022

Surat ke 16.2


Jepreted by: #AnomaliKreate

Berharap kita bersama-sama ketika kembali ke sana nampaknya memang manis. Tapi justru yang demikian ternyata bikin saya bertanya-tanya, tidak adakah hari ini, nanti sore atau esok hari?

Sebetulnya apakah kita sama-sama tidak melihat harapan bersama hari ini, nanti sore atau esok hari? Jadilah kita menghibur hati,”Bersama ketika kembali ke sana kan bisa juga...”

Saat ini, seolah kita sedang jadi yang paling paham, segala yang hidup pasti kembali ke sana. Didengar bagaimanapun, kita terkesan mencintai Dia saja, meyakini dari gusti kembali pada gusti, kepemilikan bagi kita adalah kosong. 

Padahal ternyata, kita sedang menerapkan ego kepemilikan yang lain...

Thursday, January 20, 2022

Yang Suri

Sumber: Gugel

Anak lelaki itu masih duduk di sekolah menengah. Seragamnya baru disetrika pagi tadi sebelum sepasang penjambret yang berboncengan naik motor, menarik tasnya.

Tali tas itu ternyata melilit erat di pundaknya, jadi si anak lelaki malah berguling di tanah hingga atasan putihnya bercampur lumpur bekas hujan kemarin malam. Para penjambret mengira anak itu enggan menyerahkan tasnya, jadi sebuah sabit diayun, tali tas robek, pula jari telunjuk anak itu.

Para penjambret membawa tasnya dan naik motor sekencang mungkin. Orang-orang berdatangan, mengerumuni anak itu, berinisiatif memanggil ambulance.

Kata orang-orang, ia kehilangan kesadaran...

Lantas dokter memutuskan tindakan amputasi. Separuh jari telunjuknya tidak selamat.

Ia pun masuk dalam lorong-lorong panjang. Sebuah ruang yang tidak pernah ia temui di dunia nyata. Kadang kakinya ada di langit-langit, kadang pula di tanah. Kapan malam hari, kapan sore hari, ia tidak mengenali.

Dunia yang tidak dikenalinya itu terus berputar-putar. Melemparnya masuk ke ruang-ruang baru, lantas tiba-tiba membawanya ke sebuah kamar dengan seorang anak lelaki yang sedang tertidur. Selang-selang beda jenis terlihat melintang di tubuh anak itu.

Tiba-tiba ia terseret lagi. Kali ini lebih keras dan menghentak. Dirasai tubuhnya sekarang ada di atas kasur, selang-selang beda jenis melintang di antaranya. Perawat berteriak memanggil dokter ketika mendapati jarinya menggeliat.

Ia ternyata tidak mati, hanya kehilangan jari.

Menahun berikutnya, di salah satu adegan film, para pembully menginjak tangannya. Adegan itu dilanjutkan dengan telunjuknya yang berakhir dengan amputasi.

Agaknya, adegan itu seperti penyembuhan buatnya. Ia berani menghadapinya lagi meski dalam film. Judul film itu Juara (2016).

Dua tahun kemudian, ia merilis sebuah lagu, judulnya Yang Suri (2020). Lagu itu isinya memaknai ulang kesadarannya yang pernah hilang ketika kehilangan jari. Ia berani menghadapinya lagi, meski dalam lagu.

Ia yang sedang kita sebut ini, ternyata Bisma Karisma, eks personel Sm*sh. Belum banyak yang tahu aktingnya apik, filmnya pun tidak cukup banyak buat akting seapik itu.

Selain lewat Juara (2016), kita bisa menyimak akting Bisma lewat series Brata (2018) dan Kenapa Gue (2022). Tapi ya... Bisma ini kalau nggak jadi korban bully ya psikopat. Film dan seriesnya murung dan gelap...

Catatan:

Wqwq. Kangen ya? Salam gembira buat semua sobat segawon dan para asuku. Pokoknya salam pada semuanya kecuali untuk kaum hopeless romantic.

Ya beginilah, semenjak 2020, saya sengaja membiarkan jadwal tulisan yang harusnya masuk blog tidak diunggah. Sebagian orang barangkali membatin, jangan-jangan mbak Anomali ini sudah berhenti menulis.

Padahal justru saya terus menulis di media, masuk antologi, sempat juara kompetisi, bahkan berhasil menyelesaikan 30 Hari Bercerita, dengan nama asli maupun pseudonym. Namun keberadaan tulisan yang semacam ini, sengaja diberitakan pada teman tertentu saja memang. Tidak juga tulisan semacam ini saya unggah ulang atau ceritakan di blog proses kreatifnya. Bahkan sepertinya, saya sudah agak lupa tulisan-tulisan ini yang mana saja mwehehe.

Keseruan-keseruan selama menepi barangkali kelak bakal saya bagikan di blog. Apa dan bagaimana yang saya temukan. Baik pertemanan, gaya menulis, juga pengalaman-pengalaman baru.

Paling penting, terimakasih untuk teman-teman yang bertanya langsung mengapa saya tidak unggah tulisan lagi di blog. Bahkan ada yang mengaku membaca-baca tulisan lama karena intensitas unggah tulisan di sini makin renggang. Sekali lagi terimakasih, sudah menyapa saya secara langung. Juga terimakasih, untuk tidak mengira-ngira, sekadar ingin tahu tanpa bertanya. Kalian teman-teman yang sungguh baik.

Dan ya, kabar baiknya, diet digital saya yang sejak 2019 itu semakin intens dan menyenangkan. Dengan atau tanpa sosial media, kita tetap ada kok. Ya kecuali dengan sadar, sosial media memang bagian dari pekerjaan kita atau kamu benar-benar suka ada di sana karena tampilan antarmuka atau lainnya. Pokoknya, apapun yang tidak membuat dijajah traffic begitu. Traffic itu berguna kok, ketika pengguna sosial medianya yang pegang kendali, bukan sebaliknya.

Jadi jika kamu menemukan catatan ini, selamat ya. Ada kabar baik, bahwa jika punya keperluan, kamu bisa mengirim DM lewat Instagram @trisnayantip2. Tapi ya begitulah tampilan Instagram orang yang sedang belajar diet digital.

Semoga proses menepi ini bisa membawa karya baru yang kelak bisa teman-teman nikmati juga.

Saya cinta kalian!

Tuesday, November 16, 2021

Si Culun dan Pergaulan Bebas

 

Sumber: Instagram Kalis Mardiasih

Mbak Kalis Mardiasih menulis Bagaimana Anak-anak Bisa Menjadi Pelaku Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Instagramnya 14 November 2021. Pada slide ke tujuh, saya ingat bagaimana terlalu bangganya keluarga besar terhadap saya yang disebut tante sebagai ‘awet culun’.

“Biarkan pengalaman tentang tubuh dan seksualitas anak berjalan normal, namun sambil terus menemani pengalaman itu.

Misal, ketika anak mulai naksir seseorang. Terima kondisi itu sebagai pengalaman yang normal. Jelaskan kepada anak bahwa saat naksir seseorang, beragam hormon dalam tubuh bekerja secara biologis sehingga menghasilkan rasa ingin menggandeng lawan jenis, jantung deg-degan, susah makan, dan lain-lain. Pengalaman tiap orang beragam, tapi semua pengalaman tubuh itu BISA DIKENDALIKAN sehingga tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri.”

Menstruasi pertama di usia dua belas tahun, akhir sekolah SD karena lahir saya Juni dan selalu tambah usia di pergantian tahun ajaran baru, membuat mama nampak kecewa. Mama bilang, dirinya baru menstruasi waktu SMP, itu pun masuk SD usia 7 tahun, sedang saya 6 tahun.

Mama yang kelahiran 60an akhir selalu meyakini, anak perempuan yang mens lebih awal pasti karena pola pikirnya sudah terlalu ‘dewasa’, sudah tahu memikirkan lelaki. Salah seorang teman sekelas pun terlihat tersenyum puas waktu mendapati saya mens di akhir kelas 6. Dia yang pernah bikin heboh dan disidang para guru setelah ketahuan berduaan dengan teman lelaki yang disebut pacar dalam kamar mandi berkata,”Cepat juga ya kamu mens...”

Sampai akhir SD, memang si teman ini belum mens juga. Dari wajahnya ia terlihat mengamini, mens lebih awal adalah salah.

Tapi ternyata, saya sibuk naksir Shingo Aoinya Captain Tsubasa dan jatuh cinta pada Gaaranya Naruto, menulis novel, belajar menggambar, mimpi pergi ke Jepang hingga beberapa tahun berikutnya. Seorang teman lama malah bercerita, dia pacaran sejak kelas 7 dan baru mens ketika kelas 9.

Sedang saya baru benar-benar tertarik berkomunikasi lebih dekat dengan laki-laki dan berinteraksi di dunia nyata ketika 18 tahun, mahasiswa baru. Beragam kisah cinta pun baru dimulai hari itu.

Apakah untuk perempuan yang lahir di tahun 90an saya tergolong telat puber? Entah juga. Toh, barangkali di luar sana banyak yang mengalami hal serupa hanya saja kami tidak saling bertemu.

Seorang teman yang dokter psikiatri mengatakan, tidak terlalu tertariknya saya bicara seks hingga hubungan dengan komitmen lebih lanjut seperti pernikahan, itu normal, hanya belum waktunya saja bagi saya. Seorang teman yang kuliah di jurusan Bimbingan Konseling menolak asumsi bahwa saya seorang aseksual dan mengatakan,”Kupikir karena sibuk dengan dunia samean sendiri aja, Mbak...”

Meski telat puber ini ternyata membingungkan hingga hari ini. Karena di masa mulai naksir cowok pun, saya tidak terpikir memegang tangan atau kontak fisik lain. Pikir saya, berbagi emosi saja sudah cukup sehingga ketika ada yang curi-curi kontak fisik, meski tidak berniat melecehkan, saya bahkan baru ngeh sekarang-sekarang ini kalau itu namanya curi kesempatan.

Misalnya seorang teman laki-laki yang menuntun saya sehabis kecelakaan karena kaki waktu itu pincang. Sodoran tangan dan getaran dari sana tidak saya pahami waktu itu sebagai reaksi biologis setelah kontak fisik dengan orang yang dia suka. Dia hanya mengungkap rasa sukanya dengan membantu saya berjalan, tapi bonusnya rasa senang dan getaran itu dia rasakan. Saya hanya terheran-heran waktu itu semacam, anak ini waktu nuntun aku kok ada yang beda itu apa ya?

Sedang di keluarga besar, tante menjuluki saya ‘si awet culun’. Merujuk perilaku yang dianggap awet anak-anak karena tidak menunjukkan tertarik berkomunikasi dengan lawan jenis di dunia nyata hingga usia akhir belasan. Ada rasa bangga terlihat dari ucapan tante. Mama pun sama, ia selalu terlihat lega mendapati saya yang tampaknya telat puber.

Hal ini beda jauh dengan sepupu perempuan saya, anak dari pakpo. Ya, mama memang tiga bersaudara. Sepupu saya ini sering jadi bahasan utama di keluarga karena pacaran sejak SD.

Bahkan baru-baru ini, ia mengaku dulu sering disidang keluarga karena perilakunya dianggap berbahaya. Keluarga agaknya takut ia terlibat pergaulan bebas. Setiap selesai menceritakan kekhawatirannya soal si sepupu ini di rumah, mama selalu melihat saya dan ada rona syukur melihat anaknya masih sibuk dengan dunia Narutonya. Wajah mama seolah berkata,”Anakku awet polos, pasti selamat dari pergaulan bebas.”

Meski ketika dewasa, saya baru memahami cara ‘menyelamatkan’ sepupu saya itu, ternyata seperti menumpukan segala kesalahan padanya. Bahwa dianggap terlalu cepat puber, seolah adalah salah sepupu saya sendiri. Tapi bagaimana bisa anak SD paham dari mana ia cepat puber? Dan mengapa yang dikhawatirkan hanya persoalan terlibat atau tidak dengan yang disebut pergaulan bebas?

“Aku dulu sampai takut mau cerita apa-apa ke samean, Mbak. Aku takut dicap nakal. Aku ngira samean dulu juga ngecap aku nakal.” Ucap sepupu saya.

Hingga tulisan ini dirilis, dalam keluarga, saya hanya pernah mengaku menjadi penyintas pelecehan, bahkan percobaan soft rape pada dua sepupu. Sepupu perempuan yang dianggap terlalu cepat puber tadi dan seorang sepupu laki-laki yang suka kebelet baku hantam ketika dengar keluarganya disenggol. Bagaimana hubungan kami saling dukung tanpa ada kata tabu ala pendidikan di masa lalu, antara kami saja yang paham. Meski beberapa waktu lalu, saya akhirnya mengaku pada mama dengan tetap tidak mau memberi detail kejadian.

Benar, si culun yang dibanggakan keluarga, dianggap bakal selamat dari yang disebut pergaulan bebas itu ternyata malah jadi korban pelecehan, hampir masuk dalam percobaan perkosaan halus dan tidak paham pula begitu itu dulu dinamakan kejadian apa. Seperti banyak orang yang lahir 90an, saya tidak diberi edukasi soal seks. Seks adalah tabu dan satu-satunya sumber selamat ya... pokoknya tidak terlibat pergaulan bebas.

Sampai ketika saya dimanipulasi secara psikis, juga digrepe-grepe ketika kuliah pun, rasanya ya... hanya paham hal itu tidak benar dan melukai. Tapi betul deh, kalau itu yang dinamakan manipulasi, pelecehan dan harusnya berhak melawan (menolak, teriak, memukul sebagai misal), saya tidak ngeh. Saya tidak tahu, hak itu ada di sebelah mana ketika kejadian.

Ketika orang-orang di keluarga, hanya memberi batas selamat dan tidak selamat, hanya perkara tidak berhubungan seks sebelum menikah, tidak tukar pasangan, apalagi hamil sebelum itu. Mereka tidak ngeh bahwa banyak kejahatan lebih besar dari standar-standar moral tadi mengintai anak-anak mereka. Kejahatan dan tantangan tiap jaman pun makin canggih dan terus berubah. Pelecehan dan kekerasan seksual menjadi salah satunya...

Bahwa seharusnya, si terlalu cepat puber dirangkul dan ditanya dari mana ia tahu sistem berpacaran di usia SD misalnya, juga si telat puber, mesti diberi tahu batasan mana yang boleh dan tidak boleh dari tubuhnya disentuh orang lain terlepas reaksi biologis dalam tubuhnya ternyata matang lebih lamban.

Dan ya, bahkan untuk berbagi hal semacam ini pun, saya lebih nyaman dengan para sepupu. Para sepupu, yang dulu oleh para orang dewasa selalu dikhawatirkan jadi anak nakal...


!!Bonus!!


Bersama kado nikahan untuk seorang sahabat. Jepreted by: salah seorang sepupu.

Sebab Kita Semua Gila Seks bisa dijadikan referensi kado manten. Jepreted by: salah seorang sepupu.




Friday, November 12, 2021

Surat ke 16.1

Jepreted by: #AnomaliKreate

"Kamu jadi selibat kan?"

"Kelak selibat betulan kan?"

Dan pertanyaan sejenis yang tidak tahu berapa kali kamu ulang dan saya jawab iya. Kadang, saya merasa selibat adalah pembebasan, salah satu pencapaian spiritual, lepas dari ikatan. Sedang ikatan adalah sumber masalah paling besar di muka bumi ini. Ikatan pada hubungan darah, ikatan pada harta benda, bahkan sampai ikatan pada agama, juga ideologi. Tapi betulkah kita sudah lepas dari ikatan-ikatan tadi hanya dengan merasa tidak cemas menikah atau tidak, tidak cemas punya anak atau tidak?

Perasaan manunggaling itu...

Radha tidak menikah sampai akhir hayatnya (tapi versi serial, dia menikah). Sedang Krisna menikah dengan ribuan perempuan yang ternyata semuanya wujud dewi Radha. Sampai akhir mereka saling mencintai sebagai sahabat.

Tujuan pernikahan Radha versi serial pun, untuk dakwah ternyata. Mengembalikan Ayan, suaminya pada pengetahuan soal kuasa dewa. Pun Krisna yang membiarkan istri-istrinya belajar dari sifat memiliki ala manusia menuju sifat yang membebaskan. Dalam versi serial, Krisna menekankan cinta persahabatan di atas segalanya, bahkan di atas cinta eksklusif pernikahan. Dan persahabatan harusnya juga melandasi pernikahan, katanya. Juga bahwa antara dua orang yang melebur, bukan berarti kehilangan jati diri.

Jadi apa yang sebetulnya kita cari? Selibat itu sendiri sebagai pencapaian spiritual kah? Tapi bagaimana ketika Tuhan ternyata punya jalan selain itu? Akankah kita bertahan, mencukupkan pencapain spiritual pada kondisi selibat atau kita justru menerima takdir Tuhan selain selibat? Yang mana sesungguhnya disebut lepas dari ikatan?

Hari ini, kita ingin jadi teman hidup. Bersahabat, bersama di dunia, berdua selibat. Kemudian bertemu di sana jadi teman hidup lagi, saling mengingat sebagai saudara.

Tapi bagaimana jika ternyata kamu punya pertalian dengan perempuan lain? Ditakdirkan menikah lalu hidup sesuai norma, sedang saya tidak?

Tapi bagaimana jika saya punya pertalian dengan laki-laki lain? Ditakdirkan  menikah lalu hidup sesuai norma, sedang kamu tidak?

Tapi bagaimana jika kita berdua punya pertalian dengan orang lain? Sama-sama ditakdirkan menikah lalu hidup sesuai norma?

Tapi bagaimana jika kita berdua punya pertalian satu sama lain dan...

...apa yang sesungguhnya sedang kita cari dalam proses ini? Betulkah selibat adalah pencapaian spiritual tertinggi? Ataukah pencapaian sesungguhnya adalah menerima apapun takdir Tuhan sekalipun tidak sesuai inginnya kita, kesadaran awal kita?

Atau jangan-jangan, keinginan kita bersama seterusnya dengan kebetulan sama ingin selibat adalah bentuk ego yang lain? Boleh jadi itu justru ego soal memiliki tingkat spiritual tertentu lantas merasa paling dicintai Tuhan atau justru ego memiliki satu sama lain?

Dari,

Sahabat baikmu