Sunday, January 15, 2017

Agni dan Semua Orang Baik di Dunia



Maka Agni menggeram kesal. Giginya bergemeretak. Ini sudah yang kesekian ribu, semenjak ingatannya mulai bisa menjejak dunia di usia dua tahun.
“Banyak manusia jahat di dunia ini! Mereka membikin hidup manusia lain, serasa paling nelangsa!” umpat Agni tentu beserta alasan.
Para karyawan tempatnya magang, menyambut Agni dengan tampang merengut. Mereka tidak biasa terima tamu. Jangankan dengan mahasiswi magang, sikap mereka pun jauh dari ramah pada karyawan yang baru masuk.
“Klise…takut bersaing dengan orang baru. Persaingan individu…” komentar Agni soal para karyawan di tempatnya magang.
Belum lagi, perempuan paruh baya bermulut kasar yang dia temui di terminal Bungurasih. Dia memaksa Agni naik bus kota dengan kursi keras dan angin dari jendela. Padahal, dia ingin naik bus AC dalam kota dengan kursi yang empuk.
“Rakus… Memenuhi target penumpang supaya dapat fee…” Komentar Agni soal si perempuan.
Di salon pun, Agni mendapati para pegawai yang tanpa senyum. Mereka sekadar buru-buru menyelesaikan smoothing rambut Agni. Tidak ada penjelasan bahwa mestinya, Agni tidak boleh keramas lima hingga tujuh hari supaya obat smoothing di rambutnya meresap. Untungnya, Agni tahu soal hal itu jauh sebelum datang ke salon itu. Bagaimana jika kebetulan Agni tidak tahu? Bukankah uang ratusan ribu yang dia keluarkan bakal sia-sia, ketika mendapati rambutnya malah rusak karena keramas sebelum waktunya.
“Murni bisnis… tidak punya tanggung jawab moral!” komentar Agni soal para pegawai salon.
Saat SMP, Agni mendapati betapa bangga bangga seorang guru pada murid-muridnya yang pintar. Padahal, para murid itu sudah dari dulunya sungguhan pintar, ada atau tidak ada si guru yang cara mengajarnya tidak canggih-canggih amat itu pun, para murid itu bakal tetap pintar.
“Barangkali, kalau salah satu murid jagoannya masuk talkshow karena sukses. Guru itu ingin turut hadir, pura-pura menghasilkan murid-murid berlian atas jasa kecanggihan mengajarnya, lalu dapat cap pahlawan tanpa tanda jasa, meski gaji telat tiga hari sudah ngedumel.” Komentar Agni soal guru di SMP-nya.
Saat di taman kanak-kanak juga, Agni ingat bagaimana mamanya marah-marah saat dirinya pasrah saja, diberi kembalian bukan semestinya oleh tukang batagor di depan sekolah, beberapa kali. Penambahan dan pengurangan mana Agni sudah mengerti sih?
“Oportunis kok kebangetan. Duwit anak TK pun dilibas…” komentar Agni saat sudah mahasiswi dan mengingat kejadian itu kemudian.
Sebuah tepukan di pundak Agni membikin lamunannya buyar.
“Mbak… AC-nya bocor sepertinya, itu kardus sampeyan bisa basah.” Ucap seorang ibu muda sambil menuntun balita yang digandenganya menuju kamar mandi, letaknya di paling ujung gerbong kereta.
Berkali-kali Agni mengucap terimakasih. Kardus itu berisi buku-buku untuk skripsinya semester depan. Dia meletakkannya tepat di bawah tempat duduknya di kereta. Jika perempuan tadi, tidak awal menyadari air dari AC dalam kereta yang merembes ke lantai, buku-buku Agni mungkin bakal mumur.
“Mbak… saudara saya kasih apel banyak sekali dari Surabaya tadi. Ini, sampeyan ambil yang banyak.” Ucap lelaki tua yang muncul dari belakang kursi Agni.
Agni yang tidak sempat membeli air mineral ketika naik kereta Surabaya-Malang, dengan malu-malu mengambil dua buah apel, padahal sungguh dia begitu haus. Namun, lelaki itu buru-buru meletakkan lebih dari lima buah apel ke pangkuan Agni.
Buru-buru Agni memasukkan apel-apel itu dalam tasnya sebelum menggelinding jauh. Berkali, dia ucap terimakasih. Kursi di depan dan samping Agni kosong, jadi dia menyimpan apel itu buatnya sendiri.
Dengan apel-apel itu, Agni tidak perlu membeli air minum di kereta. Dirinya cukup memakan apel-apel itu hingga rasa hausnya hilang.
Agni kemudian memandang keluar jendela.
           “Tapi ada juga, manusia yang membikin hidup manusia lain serasa beruntung…” bisiknya.

No comments: