Monday, September 19, 2016

Menampung Mendung


Saya belum pernah menatap matamu sedemikian dekat. Ternyata, matamu mirip dengan banner blog yang tidak sengaja saya pilih dan pakai. Tidak terlalu gelap, tapi juga tidak terlalu terang. Mendung, simpulan singkatnya.
Saya merasa sama saja denganmu. Kamu menyimpan luka lewat mata, sedang saya menyimpannya dalam gambar dan warna-warna.
“Saya boleh tebak apa tipe kepribadianmu?” tanya saya.
“Tentu… silakan. Saya justru senang jika ada yang membahas tentang itu.” Jawabmu antusias. Ah, tidak… gerak tubuhmu mana mau berekspresi sih? Matamu saja yang sesekali bergerak menunjukkan emosi yang kamu rasa.
“Melankolis?” tebak saya dengan suara yang mantap, meski saya sendiri tidak yakin, apakah saya sesungguhnya benar-benar tahu?
Kamu menunjukkan ekspresi ragu. Ah… bukan ragu, tapi itu ekspresi yang menunjukkan bukan jawaban ya atau tidak. Kamu tidak ingin ingin membikin simpulan barangkali?
“Itu karena saya melihat keteraturan dalam dirimu. Maka saya asal tebak saja kalau kamu melankolis, setidaknya dominan melankolis.” Sambung saya.
Sebagian orang mengobati dirinya dengan cara menceritakan luka-lukanya. Sebagian lagi, menyimpannya rapat-rapat sambil mencari cara mengobati diri.
“Kamu tidak ingin tebak apa tipe kepribadian saya?” tanya saya antusias.
Rautmu ragu, suaramu juga begitu. Namun, ada keyakinan bahwa kamu sungguh-sungguh tahu.
“Kamu? Sangu… in? betul tidak?” tebakmu.
Saya hanya terkekeh. Dari cara saya terkekeh dan mata saya yang membulat, tentu kamu bisa tebak saya tengah mengiyakan.
“Betul?” kamu kembali memastikan, sedang saya terus terkekeh.
“Kalau ya, kamu sama seperti dosen saya yang seorang sanguin. Saya sering bertanya, apa dia tidak bisa marah? Bagaimana dia bisa tertawa sepanjang hari?” kamu bertanya-tanya meski sesungguhnya seperti tengah bicara dengan dirimu sendiri.
“Dan bagaimana dia bisa berkata ‘hai’ pada semua orang?” sambungmu lagi sambil mengangkat sebelah telapak tangan setelah menekan kata ‘hai’.
Kemudian, saya kembali pada matamu yang mendung. Kita sama. Hanya saja, saya sedang pura-pura lupa menampung mendung itu di mana.
Ah… saya mestinya segera berhenti berpura-pura. Sedang kamu sendiri mesti percaya, seseorang dengan luka yang nyaris serupa, akan bertemu pada waktunya, meski tidak saling bercerita.
Oh iya… kamu sedang membaca tulisan ini kan?

2 comments:

Miko Waldufri said...

Iya, saya sedang membaca tulisan ini. Eh, maafkan saya. Saya kira kamu sedang berbicara dengan saya. Karena, saya juga lelaki melankolis. Melankolis-loyalis, saya menamainya.

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Hai, kenal salam (: saya lagi bicara sama semua yang melankolis nih sepertinya.

Eh... melankolis-loyalis ya? Istilah baru bagi saya. Boleh kalau kita jumpa, dijelasin ke saya itu cuma-cuma :p