Wednesday, January 18, 2017

‘Budaya’ Buwuh, Dilestarikan Atau Dibumihanguskan?


Teman saya, sebut saja si Anu, sempat sedikit keras mengatakan bahwa, buwuh alias angpau alias menerima uang dan hadiah saat pernikahan adalah budaya. Dari penekanannya pada kata budaya, saya seperti mendapati permakluman luar biasa pada diri Anu.
Anu sendiri, berasal dari kalangan keluarga sederhana dengan ibunya yang seorag buruh jahit. Saya sangat mengenal Anu sekeluarga bukan orang pelit. Dalam kesederhanaannya dan uang sakunya yang cuma seribu rupiah, hingga kelas dua belas, Anu masih berpikir berbagi makanan pada teman di sekelilingnya.
Sempat, Anu mengirimi saya pesan singkat begini…
Anu: Pop, kamu kemarin datang ke nikahannya si anu?
Saya: Enggak, Nu. Aku jarang datang ke nikahan orang hehe…
Anu: Aku juga enggak. Aku waktu itu belum ada rejeki.
Bagi saya, ini cukup kontradiktif. Bagaimana Anu, teman saya yang loman lagi sederhana ini, memilih tidak datang pada pernikahan seorang teman, karena merasa sedang tidak punya sesuatu yang bisa jadi hantaran. Namun, di sisi lain, Anu menekankan bahwa buwuh adalah budaya, dengan nada maklumnya yang luar biasa.
Sebelum Anu, teman saya yang lain mengirimi saya chat FB isinya begini…

A

B

C

“Mbak, kamu diundang mbak (nama disamarkan)?”
“Iya (nama disamarkan). Tapi paling aku enggak datang soalnya aku masih penelitian.”
“Oke-oke.”
“Kamu datang?”
“Enggak tahu, Mbak. Hehehe…”
“Simpan aja uangmu untu kebutuhan lain, (nama disamarkan). Sering kita nggak perlu memaksa hadir ke semua undangan. Kita sendiri juga banyak kebutuhan.”
“Iya, Mbak. Aku sejujurnya bingung buat makan. Bapak sudah meninggal, jadi harus mandiri. Hehe…”
Begitu, terjemahan percakapan ini dalam bahasa Indonesia.
Teman saya yang sedang berjuang untuk hidup mandiri ini, sesungguhnya ingin menghargai undangan pernikahan seorang teman dengan turut hadir. Sayangnya, seperti Anu, dia juga merasa tidak memiliki sesuatu buat jadi hantaran. Pada akhirnya, teman saya ini memilih tidak hadir pada pernikahan teman tersebut.
Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat mantu pada 11 Juni 2015, seperti dilansir di Liputan 6 dot kom, Jokowi Larang Tamu Pernikahan Gibran-Selvi Bawa Hadiah, justru tidak mau terima buwuhan. Alasannya? Takut gratifikasi. Selain itu, bisa kita lihat pernikahan putranya yang bisa dibilang sederhana, buat sekelas anak penggede itu, memang diniatkan buat selametan, memang buat berbagi bukan jualan nasi.
Komentar orang pasti ada yang begini,”Lha… beliau kan penggede, sudah sugih alias kaya. Mana perlu terima buwuh?”
Lho… jadi, sesungguhnya buwuh itu dipakai buat apa sih? Sampeyan yang sedang membaca tulisan ini, pasti juga tidak asing, dengan tetangga, kerabat atau teman yang mencari modal pesta dengan berhutang. Hutang kan maknanya, ketika sampeyan pengin sesuatu tapi modal dalam kantongmu kurang, sehingga butuh tambahan modal yang mesti dibayar balik, bukan gratisan.
Bahkan, seorang teman yang baru-baru ini menikah, masih sempat mengirim undangan untuk orang-orang di tempatnya magang dulu. Padahal, sudah berselang tujuh tahun lebih sejak magang dan entah apa si teman ini selama itu masih menjalin komunikasi dengan orang-orang itu, sebelum bagi-bagi undangan. Apakah orang-orang di bekas tempat magang si teman ini, diharapkan datang tanpa hantaran? Hanya datang untuk makan gratis begitu? Entah… saya yakin sampeyan bisa bikin simpulan sendiri.
            Tahun lalu, sempat juga ayah saya mendengar beberapa pegawai minimarket menggerutu, sambil membawa sebuah undangan pernikahan. Mereka menggerutu soal menumpuknya undangan pernikahan pada bulan tersebut, bulan yang kata orang dianggap bulan baik.
Coba sampeyan sedikit berimajinasi, berapa gaji para karyawan minimarket itu? Tahu tidak tanggungan dalam keluarganya sebesar apa? Belum lagi cicilan motornya yang dipakai wara-wiri berangkat dan pulang kerja itu.  Dan untuk tahun 2016, sampeyan sebut berapa jumlah uang yang pantas buat sekali buwuh, total dengan banyaknya undangan yang mereka terima pada bulan yang katanya baik itu. Ini mau berbagi kebahagiaan atau berbagi beban sih? Lha… jangan dikira sekelas bupati atau walikota juga tidak mikir beratnya yang beginan loh. Tahu apa sampeyan soal berapa banyak undangan yang minta didatangi, juga isi hati dan isi dompet mereka?
            Pernah juga, ibu saya mendengar salah seorang saudara yang menyalahkan saudaranya yang lain, saat dianggap mengundang terlalu sedikit orang dalam pernikahan putranya, tidak termasuk dirinya. Namun, saat akhirnya saudara ini sungguhan diundang pada pesta berikutnya, dirinya justru menggerutu soal uang yang mesti diberikan pada pesta tersebut.
            Ada juga relasi ibu yang berkecukupan, didapatinya memakai sistem utang-bayar dalam buwuh. Jadi, ketika si relasi ini punya hajat, para pemakai sistem utang-bayar ini memberi sejumlah uang padanya dalam koridor buwuhan. Berikutnya, si relasi ini mesti mengembalikan dalam jumlah yang setidaknya sama pada orang-orang tersebut, ketika mereka ganti punya hajat. Kalau kurang jangan, kalau lebih ya… tidak apa-apa.
            Oalah… begitu banyak pernak-pernik yang kontradiktif dalam buwuh, yang katanya budaya. Setahu saya, embel-embel budaya biasanya dipakai untuk kalimat seperti, budaya membaca, budaya salam dan lain sebagainya di mana maknanya adalah, sesuatu yang mesti dilestarikan buat kebaikan.
Teman-teman kalau lagi baca tulisan ini, boleh share juga pengalamannya soal buwuhan, kalau ada yang punya jabaran ilmiahnya juga monggo digelar di sini.
            Saya pribadi, bukan tipe orang yang memaksakan diri untuk buwuh. Saya tentu punya uang, tapi saya juga butuh uang itu untuk beli buku dan hal lain yang mendukung saya belajar. Mungkin bagi sampeyan aneh, tapi saya sudah berkali-kali datang tanpa membawa buwuhan ke tempat teman yang menikah. Bagi saya, andai pun teman itu begitu berkesan hingga saya ingin memberi hadiah, hadiah itu bisa disusulkan lain waktu. Itu pun, tidak perlu jadi beban pikiran, bahwa hadiah mesti dikirim pada semua undangan yang saya datangi. Saya tidak perlu bersikap kontradiktif, yang merasa terbebani tapi kok ya masih memaksa diri…
            Ibu sendiri masih menjalankan budaya buwuh ini, meski sangat anti pada mereka yang dulunya tidak pernah menjalin komunikasi apalagi akrab, eh… datang kok tiba-tiba bawa undangan. Undangan seperti ini yang ibu saya tidak bakal mau hadir. Meski selalu mendatangi pernikahan orang lain dengan buwuh, ibu saya berharap betul bahwa nanti pernikahan saya berjalan sederhana, dengan cukup hantaran doa dari para tamunya.
            Jadi, kalau nanti sampeyan dapati pernihakan saya berupa pengajian biasa yang tidak mengundang banyak orang atau jika saya sekeluarga hanya mau terima hantaran berupa doa baik, jangan merasa kasihan. Yang kasihan itu, justru mereka yang sikapnya kontradiktif. Merasa berat lagi susah tapi kok ya memaksa diri. Jadi, mau kita bawa kemana si buwuh ini?

2 comments:

Endah Rahmawati said...

Ya sebernarnya emg sudah menjadi budaya yg menjamur sih, tapi klo aku pribadi diundang itu adalah tanda klo kita dihormati dan dimintai doa restu, yg sebenarnya 'nyumbang' atau tidak bukanlah suatu kewajiban, yg penting datang saja memberikan doa restu kepada si pengantin sudah cukup..tapi namanya org jawa ya, budaya sungkannya masih kuat kadang jg gak punyapun sampe 'mekso'krn sungkan hehhehe
Tapi insyaAllah klo aku nanti pas nikah (Amin) kyknya boleh jg meniru caranya pak jokowi yg tidak mewajibkan memberi sumbangan, yg penting datang aja udah seneng mantennya..klo misal ada rejeki ya gpp monggo tp sifatnya sangat tidak wajib, lbh enak menerima sumbangan yg ikhlas kan drpd yg bersifat sungkan,tapi ntr nulisi ndk undangane iki piye ya bingung aku mak hehhe..

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Dan banyak juga undangan yang mampir karena sungkan. Semisal A kenal aku dan tahu kamu. Dia akrabnya sama aku tapi karena tahu kamu temen baikku, dia sungkan dan maksa ngundang dirimu juga. Akhirnya undangannya merantak kemana-mana termasuk ke temennya temenmu juga.

Nanti undanganmu kasih gambar kecil aja di bawah sendiri. Gambar kado coret, gambar rupiah coret, gambar doa centang, gambar dollar centang wk~

Temen ayahku ada yang pernah nunjukin undangan dari temennya. Tulisannya jelas tidak menerima sumbangan. Temen ayahku sampai bilang kalau besok-besok pas mantu pengin juga ngikuti jejak yang kayak begitu.

Ya... Untuk sekarang yang begini mungkin aneh. Tapi beberapa tahun kemudian pasti udah umum.