Friday, January 27, 2017

Ciri Website Kredibel: Pelajari Syaratnya dan Pilih Mana Rumah Tulisanmu


Siapa saja bisa punya website? Betul… saya berkata begitu ketika mendapati teman-teman saya yang sesama ngeblog, mbak Ria A.S dan mbak Ratna Nana, pindah rumah dari Blogspot dan Wordpressnya menuju website.
Belum lagi, postingan dari begitu banyak jenis dot kom-dot kom di beranda saya yang berseliweran selama beberapa tahun belakangan. Dari yang ternyata eh… ternyata isinya iklan semua, sampai website yang membuhulkan perpecahan antar umat beragama.
Dari semua dot kom yang berseliweran tersebut, banyak juga yang berdiri berlandaskan keroyokan. Isinya? Tulisan-tulisan yang memang secara kaidah, tidak masuk di media massa mainstream. Ah… sial… ini masih bersambungan sama skripsi hamba yang bahas Public Pedagogy (Pendidikan Melalui Ruang Public) itu hiks. Skripsimu, Pop… skripsimu…
Di sini, saya membatasi arti kredibel sebatas website keroyokan tersebut jelas siapa penanggungjawab dan kontributornya. Lha… yang jelas penanggungjawab dan kontributornya saja belum tentu sungguhan bisa jadi patokan tuk ngisi kepalamu, apalagi dot kom-dot kom tidak jelas yang full iklan dan sekadar menyajikan berita hot yang mengeyangkan para masokis, yang suka dianiaya dan penganut playing victim, yang selalu merasa paling teraniaya. Tulisan ini, berguna bagi kita semua yang masih kesulitan menilai kredibel tidaknya suatu tulisan dari kualitasnya.
Berikut website-website kredibel yang bisa jadi pilihan bacaan atau kamu mengirim tulisan. Kenali cirinya, pelajari syaratnya…

1.      Basabasi.co

Website yang satu grup dengan Diva Press ini, getol membahas sastra, dari esai, puisi, cerpen hingga lain-lain. Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Ah… ada pak Edi CEO Diva Press. Eh? Ada Tia Setiadi yang esais nasional itu. Lho? Joni Ariadinata siapa? Ampun, Om… namamu buat pemisalan saja kok. Ini peringatan buat semuanya, meski makan waktu, jangan malas browsing, cari nama si penjaga gawang yang asing bagimu di gugel, telusuri rekam jejaknya. Meski satu atau dua orang dalam tim yang kamu kenali namanya, sesungguhnya sudah cukup bagimu untuk tahu, siapa yang pantas bertanggungjawab kalau ada anu-anu dan bagaimana mereka akan bertanggungjawab apabila ada anu.

Kenali para penulisnya…



Wah… ada GTA nih. Itu… penulis yang gagal datang waktu Roadshow Sastra Perjuangan Diva Press di Malang itu kan ya? Hiks. Masa sih? GTA sembarangan menyerahkan karya dia pada website tidak kredibel? Wih… kalau lolos kurasi di Basabasi.co, berarti tulisan kamu bersanding dengan tulisan GTA dong, ya? Kelas…

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Poin nomor satu, rasanya pantas jika diminta oleh Basabasi.co. Karena memang, Basabasi.co berani memberi poin nomor dua sebagai apresiasi. Begitu pula poin nomor tiga, penantian para penulis tidak bakal sia-sia dengan para penjaga gawang yang kredibel bahkan sudah gaung tingkat nasional dan juga apresiasi yang pantas. Apresiasi dan juga kredibelitas para penjaga gawang memang membikin masa penantian lebih lama, dengan para pengirim naskah yang jauh lebih membludak. Jika tulisanmu lolos dari tangan para penjaga gawang ini, memang seolah namamu turut naik pun kualitas tulisan dan rasa gengsimu.
Jadi, meski menunggu cukup lama, masih memilih basabasi.co sebagai rumah tulisanmu, kan?

2.      Mojok.co

Satir-menikam-membabakbelurkan, barangkali tiga kata ini cocok betul dengan tulisan-tulisan yang diusung Mojok.co. Berbeda dengan Basabasi.co yang mengusung sastra. Mojok.co lebih mengusung tulisan bertema opini, esai, artikel serta jenis tulisan pengalaman.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Kepala sukunya Puthut EA? Ya… kamu tahu lah dia siapa. Sudah, pada bagian ini saya tidak bahas panjang-panjang ya. Itu muka di foto sama namanya sudah jelas sekali. Kalau ada anu, kamu tahu mesti melabrak kemana.

Kenali para penulisnya…


Itu… Aji Prasetyo yang komikus itu, kan? Mana ngawur sih, sekelas beliau menyerahkan tulisannya di mana.

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Layaknya Basabasi.co, Mojok.co juga memiliki nilai bisnis yang jelas dengan para penulis. Terlihat dari kejelasan bahwa Mojok.co berani memberi apresiasi berupa honor. Meski demikian, Mojok.co membebaskan para penulisnya mempublikasikan ulang hasil tulisan yang telah masuk, pada media lain. Penantian seminggu setelah tulisan dimuat, barulah penulis boleh mempublikasikan pada media lain, agkanya tidak berlebihan, mengingat memang apresiasi yang ditawarkan Mojok.co sepadan dan juga para penjaga gawang yang menyeleksi tulisanmu, sudah wara-wiri tingkat nasional.

3.      Gubuktulis.com

Karep-karepmu, mungkin adalah simpulanmu ketika membaca tulisan di website satu ini. Website keroyokan yang para penjaga gawangnya, para mahasiswa (saat ini sudah pada lulus) yang berkuliah di Malang ini, tidak memiliki gaya penulisan tertentu layaknya Basabasi.co maupun Mojok.co. Bahkan, perkara ejaan pun, oleh para penjaga gawangnya, semua diabaikan. Hal ini sepertinya pantas, mengingat website yang berangkat dari Wordpress ini, tidak menyanggupi apresiasi berupa uang atau lainnya pada para kontributor. Semua orang merasa berani menulis ketika membaca tulisan di website yang mengusung kesederhanaan cara menulis ini, meski memang banyak tulisan yang tidak rapi atau berimbang secara kualitas antara tulisan satu dengan lainnya.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


         Lelaki empat ini… familiar di Gusdurian Malang tidak sih?

Kenali para penulisnya…


         Wah… redaktur Radar Malang pun nulis di sini.

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Berbeda dengan Basabasi.co dan Mojok.co yang sekaligus mengajak para penulis berbisnis, melalui apresiasi berupa honor (uang), seperti saya sebutkan di awal paragraf bahasan soal Gubuktulis.com ini. Gubuktulis.com tidak memberikan apresiasi dalam bentuk honor maupun sejenisnya. Tulisan yang disertakan pun bebas, boleh dimuat sebelumnya pada website, blog atau media lain, bagian ini agaknya selaras dengan tidak adanya apresiasi yang dengan jelas disebutkan dalam syarat. Website ini pun, konsisten tidak menerima iklan, mengukuhkan tidak adanya nilai bisnis antara Gubuktulis.com dan para penulis.
            Jadi, tertarik jadi bagian dari misi sosial?
4.      Sediksi.com

Serupa dengan Gubuktulis.com. Sediksi juga merupakan website keroyokan yang digawangi para mahasiswa yang pernah berkuliah di kota Malang. Namun, berbeda dengan Gubuktulis.com. Tulisan-tulisan yang masuk dalam website ini lebih rapi, memerhatikan ejaan dan kualitas yang berimbang antara kontributor satu dengan lainnya. Berbeda dengan Gubuktulis.com yang membedakan jenis tulisan dalam bentuk kolom, reportase, puisi dan lain sebagainya. Sediksi.com memiliki cara berbeda. Website ini, memergunakan istilah Rupa, Rehat dan Rintis untuk membagi jenis tulisan para kontributornya. Kerapihan dalam tulisan-tulisan di Sediksi.com, memang memiliki nilai gengsi yang lebih bagi penulis yang berhasil lolos, meski juga mengukuhkan bahwa tidak semua orang bisa menulis.
Bagaimana website ini bisa dianggap kredibel?

Kenali para penjaga gawangnya…


Wajahnya jelas, pun namanya. Coba telusuri sosial media mereka, lalu telusuri juga teman-teman dan jaringannya juga postingan-postingan dan kejelasan data mereka. Kalau sampai dicari di sosial media susah, jangan-jangan anu. Eh… tapi tidak, saya sudah komunikasi sama satu-satunya mbak-mbak dalam tim ini dan dia asli manusia bukan akun robot.

Kenali para penulisnya…


Oh, ada Jun. Itu anak UM yang ikut UKM Penulis dan Workshop Cerpen Kompas 2015. Tuhan… sungguhan deh, caption dia di instagram soal foto Worskshop Cerpen Kompas itu, panjanganya lalala…

Kenali syarat untukmu mengirim tulisan…


Kaget dengan kenyataan bahwa Sediksi.com ternyata memiliki iklan di bagian pojok kanan bawah website? Kaget dengan kenyataan, Sediksi.com berani memiliki syarat serupa Mojok.co dan Basabasi.co yang tidak menerima tulisan yang sebelumnya telah dimuat di media lain, padahal website ini tidak berani memberi apresiasi berupa apapun pada para kontributornya. Jadi, setelah tulisanmu masuk Sediksi, media lain yang akarnya lebih kuat, memiliki syarat serupa dan berani memberi apresiasi, tidak bakal mau menerima tulisanmu. Segala syarat dan rupa website hendaknya kamu analisa sendiri, termasuk pertanyaan soal,”Itu iklan dari gugel duwitnya lari kemana? Para penulisnya gratisan loh. Nanggung ini, mau misi sosial apa mau bisnis, sih? Syarat buat dapat duwit dari iklan gugel memang originalitas tulisan, kan? Hmm… pantas Sediksi tidak terima tulisan yang sudah masuk media lain sebelumnya. Eh… tapi kan anu…”
Bertanya macam di atas pun serba salah, bisa-bisa kamu malah dicap sebagai penulis mata duwitan nan tak berkelas kwkw. Barangkali, memang iklan dari gugel belum begitu nampak hasilnya, selain untuk membelikan para penjaga gawangnya kopi untuk menemani mencari WIFI. Bisa juga, iklan gugel tersebut murni dipergunakan untuk memerpanjang dot kom si website ini. Moga saja ketika si iklan sudah mulai menampakkan hasil, para penulis ini bisa mendapat apresiasi, meski hanya segelas kopi yang instagram-able dengan hastag DariSediksi.

      Jadi? Mana website pilihanmu?


1 comment:

khoirul muttaqin said...

Wah wah wah.. Niatnya pengin baca dikit aja. Ternyata nagih sampe bawah.