Monday, April 17, 2017

Dengan Nenek, Saya Bebas Bermain Air Hingga Bedah Bangkai Kecoa

Sumber: Album fotonya nenek

Nenek saya lahir di tahun empat puluhan. Merunut penuturannya, nenek hanya SD hingga kelas tiga kemudian sibuk mengungsi. Buyut saya, ibunya nenek, warga biasa yang tinggal di tengah kota dengan empat orang anak yang rata-rata berprofesi sebagai penjahit, termasuk nenek.
Saat saya masih SD, nenek masih terus menjahit sebagai hobi. Sesekali menjahitkan saya baju lebaran yang cantik, meski saya benci sekali jenis kainnya yang gerah. Selain gemar menjahit dan memasak, nenek juga aktif menjadi pengurus koperasi. Selain hobinya bertemu orang lain, nenek juga punya phobia akut dengan kecoa hidup. Saya ingat bagaimana nenek menyiramkan minyak tanah sebanyak mungkin, ketika menemukan seekor kecoa di rumah.
Uniknya, nenek membiarkan saja ketika saya mulai mengambil dua batang lidi dan membedah tubuh kecoa itu. Saya membedahnya hingga hancur dan penasaran dengan cairan dalam tubuhnya yang justru berwarna hijau, bukan merah seperti darah manusia saat tertusuk. Setelah itu, nenek membersihkan ‘hasil percobaan’ saya tanpa berkomentar.
Di lain waktu, saya mengambil gelas-gelas bekas air mineral dari dapur. Saya kemudian mengisinya dengan air dan mencelupkan kertas putih yang sudah saya lumuri spidol. Saya membuat gradasi warna dari hitam pekat hingga jernih. Nenek lagi-lagi tidak berkomentar. Malah, di lain waktu nenek mengumpulkan tutup botol banyak sekali. Dengan palu, dibuat sebagian tutup-tutup itu menjadi pipih. Semua tutup botol itu kemudian diberikannya pada saya. Dan tebak… saya memang senang sekali. Saya bermain dengan tutup-tutup yang biasa dianggap sampah itu setiap hari.
Pernah juga, saya mengambil sejenis kapur yang biasa dipergunakan nenek menggambar pola untuk menjahit. Saya menggambar perkampungan dan pemakaman dengan teman saya dek Nila, yang tinggal di belakang rumah nenek. Lantai rumah nenek penuh dengan coretan yang kemudian saya dan dek Nila bikin sebuah drama sambil tertawa-tawa. Lagi-lagi nenek tidak berkomentar.
Saya dan dek Nila kemudian meninggalkan kekacauan di lantai begitu saja dan ketika kami pulang kembali, lantai sudah bersih. Nenek mengepelnya dan saya melongo sambil mulai merasa bersalah. Saya mulai berpikir-pikir jika nenek yang selalu membereskan kekacauan yang saya buat. Namun, saya saat itu tidak pernah mengerti bagaimana cara mengungkapkan perasaan saya.
Di lain hari, nenek mengajak saya melelehkan lilin dan mengisinya pada kulit kacang. Kami lagi-lagi bermain hal-hal yang dianggap sampah. Nenek kemudian mengajari saya cara membungkus kacang-kacang palsu itu dan pura-pura menjualnya dan saya senang sekali.
Pernah juga, nenek memberitahu saya bahwa dirinya memiliki setoples kecoa. Nenek menyimpan kecoa-kecoa kecil dalam toples dan memberi mereka makan di dalam sana. Kata nenek kecoa ternyata tidak bisa tumbuh besar jika diletakkan di dalam toples. Saya sangat bersemangat mendengarkan hasil percobaan nenek.
Setiap hari, nenek juga terus menyisakan tutup-tutup botol untuk saya mainkan. Sesekali, saya juga dibelikan alat memasak mini yang terbuat dari tanah liat yang dibelinya di pasar pagi dekat rumah. 
Saat kecil, saya selalu menganggap nenek jauh lebih seru ketimbang mama. Saya selalu menganggap mama kaku. Rumah kami selalu dijaga bersih, dan kertas-kertas bersi gambar atau surat milik saya selalu dikumpulkan kemudian dibuang karena dianggap sampah. Saya tidak boleh menyimpan kertas, apalagi koleksi tutup botol seperti yang diberikan nenek.
Meski banyak memiliki batasan, mama selalu mengajari saya tanggungjawab. Setiap saya memainkan sesuatu atau membuat rumah sedikit berantakan, saya mesti membereskannya sendiri. Sebaliknya, seperti saya ceritakan di atas, nenek yang lebih membebaskan saya memainkan saya segala hal, tidak pernah menuntut saya bertanggungjawab atas kekacauan yang terjadi.
Nenek dan mama saya tentu punya alasan masing-masing dengan perbedaan cara didik yang diberikannya pada saya. Mereka berdua tentu menganggap pendidikan yang diberikan mereka adalah yang terbaik. Dari nenek, saya belajar bebas dan eksploratif, sedang dari mama saya belajar bertanggungjawab.

1 comment:

Anonymous said...

coba in thor sekali kali bedah badan cicak
+tokek sama nenek kkkk~~