Friday, October 28, 2016

Rival (2)

Sumber: Dokumentasi pribadi

Cara terbaik membunuh rivalmu adalah dengan memuji.

Karena pujian, membikin seseorang puas kemudian berhenti belajar atau bekerja.

Saturday, October 22, 2016

Agama dan Dua Mangkuk Sup

Sumber: IG Gamelan Kiai Kanjeng

Kurang ada gunanya, tetanggamu tahu bahwa kamu bisa membikin dua mangkuk sup maha lezat dalam sekali pagi, dalam rumahmu sendiri. Lebih ada guna, ketika kamu bisa membantu menata panganan saat tetanggamu itu ngunduh mantu[1].

“Dan sesungguhnya, yang ditunggu orang adalah output sosial dari shalat kita.”
Emha Ainun Nadjib




[1] Pesta pernikahan yang dilakukan pada pihak laki-laki

Tanah Pemakaman Tujuh Agama


Sesuanu dan Sesuancuk pada suatu sore di pinggir trotoar jalan Surabaya, kota Malang…
“Kalau kamu punya uang banyak, mau kamu apakan uang itu, Nu?” tanya Sesuancuk sambil mengunyah beberapa butir es batu dalam mulutnya.
“Mau aku belikan tanah untuk rumah ibadah, Cuk...” jawab Sesuanu.
“Investasi jangka panjang ya, Nu?”
“Begitulah… investasi dunia untuk hidupku kelak di akhirat.”
“Lha… rumah ibadah sudah banyak banget kok sekarang. Pada magrong-magrong [1]semua. Di kampungku saja, rumah ibadah ada tiga dan besar-besar. Bedanya cuma di tanggal lebarannya saja…”
“Terus… kamu sendiri kalau punya uang, pengin kamu apakan uang itu, Cuk?”
“Bikin kuburan dong, Nu…”
“Eh? Buat apa? Kuburan?”
“Ya... buat orang mati, Nu. Rumah ibadah sekarang sudah terlalu banyak, semua magrong-magrong. Padahal, ada yang beribadah di sana juga belum tentu. Beda dengan mati, semua orang pasti mati dan butuh pemakaman. Investasi akhiratku lebih menjanjikan, Nu…”
“Wah… kalau begitu kamu mesti bikin pemakaman tujuh agama, Cuk.”
“Lho? Mesti begitu?”
“Kalau ndak ya… kamu bakal dikira tendensius sama agama tertentu. Lha… rumah ibadah di kampungmu saja yang satu agama, mesti beda-beda bangunannya soalnya beda tanggal lebaran kok…”



[1] Terlalu mewah

Kepada Ujian Nasional: Sebuah Surat Kangen Dari Kami Generasi 90an

Sumber: Gugel


Hai, Ujian Nasional a.k.a UN kabar saya baik, seperti kamu tebak. Nama saya Kenangan, saya lahir di era 90an dan menemuimu kali pertama saat kelas sembilan.

Kala itu orang-orang dewasa di sekitar saya selalu pias saat mendengar namamu, UN. Televisi menyiarkan belasan anak kesurupan sedang ratusan lainnya menangis histeris sambil mengucap nama Tuhan, tiap kamu makin dekat.

Mama seorang tetangga saya yang kelas dua belas, datang ke rumah dengan wajah tegang dan hampir menangis. Ia menceritakan, putrinya meraih nilai delapan dan sembilan pada tiga mata pelajaran dan nilai dua pada satu mata pelajaran yang membikinnya itu tidak lulus.

Orang-orang dewasa di sekeliling saya, tidak ada yang mengatakan bahwa tanpamu, saya tetap bisa ikut paket B atau tetap bisa masuk sekolah lanjutan negeri. Mungkin mereka sengaja tidak memberitahukannya, agar saya berusaha keras buatmu. Ya… biar saya terbiasa dengan usaha keras sebelum dewasa, barangkali. Atau mereka memang tidak tahu, yang tidak terlalu memuakkan ketimbang pura-pura tidak tahu. Selain soal program kesetaraan belum bisa menyamai gengsi sekolah formal sih.

Akhirnya, dengan segenap kekuatan super yang saya punya, les privat sana-sini maksudnya. Tiga mata pelajaran saya raih dengan nilai delapan dan satu mata pelajaran dengan nilai empat. Empat adalah batas nilai terendah yang jika ditotal dengan tiga mata pelajaran lain, berarti saya masih lulus meski cuma dengan rata-rata tidak sampai delapan.

Tidak ada maknanya nilai rapor, ujian sekolah atau gambar-gambar karya saya yang saat itu hampir selalu jadi percontohan oleh guru kesenian. Hanya kamu yang kala itu punya arti.

Beda lagi, saat saya kembali bertemu denganmu di kelas dua belas. Nilai ujian sekolah ada artinya saat itu, meski secara ajaib nilai matematika saya yang hanya lima berubah jadi delapan di ijazah.

Tiga tahun berikutnya, kamu berubah lagi. Nilai rapor dan ujian sekolah setara maknanya denganmu saat itu. Meski begitu, televisi tetap menayangkan belasan anak kesurupan sedang lainnya menjerit histeris sambil menyebut nama Tuhan. Motivator makin laris. Mereka membikin anak-anak sekolahan sesaat menjeritkan nama ibu mereka, sambil memutar musik-musik sedih yang biasa jadi latar berita tragedi di televisi.

Sekarang, saya sudah mengerti, mestinya mama tetangga saya tidak perlu tegang hingga hampir menangis. Putrinya bisa masuk jurusan di perguruan tinggi, yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran yang membikinnya tidak lulus. Bahkan tes masuk perguruan tinggi tidak ada kaitannya dengan kamu juga kan ternyata.

UN… nanti tolong inbok alamat terbaru kamu di FB saya, ya. Saya sekarang sudah agak pintar ketimbang dulu buat berdialog denganmu. Lha… waktu saya sudah agak pintar dan pengin ajak kamu berdialog, kok ya kamunya menghilang toh…

Duh… UN…

Salam,

Kenangan

Zizi Hefni dan Caranya Menjadi Manusia


Semaunya sendiri, adalah kesan mbak Zizi untuk saya. Saya bocah SD yang kali pertama bertemu dengannya saat dia masih berkuliah di UIN Malang. Tentu saja, di masa itu saya tidak mengetahui bahwa mbak Zizi yang sekarang menjadi editor Diva Press, juga seorang yang dikenal sebagai cerpenis asal Malang.
Mbak Zizi adalah guru mengaji yang sangat berkesan bagi saya. Dia memikat hati saya, gadis kecil yang karena keadaan jadi berkuping tebal dan hanya percaya pada dirinya sendiri juga Tuhan untuk berbicara.
Saya dikenang sebagai murid mengaji yang selalu punya aktifitas sendiri. Saya tentu tidak mengingat kebandelan saya itu. Mbak Zizi yang mengingatkannya saat kami saling bertukar komentar di FB setahun atau dua tahun lalu.
Kemudian, saya jadi teringat masa-masa di mana teman-teman saya menurut, saat mbak Zizi memberi instruksi buat menulis huruf hijaiyah, sedang saya malah sibuk menggambar sendiri. Betul, saya punya dunia sendiri dan hanya percaya pada dunia yang saya bikin sendiri itu.
“Mengajimu bagus sekali, Pop. Kamu belajar di mana?” puji mbak Zizi. Pipi saya tentu saja panas. Saya jarang mendapat pujian hingga sulit berekspresi sebagaimana semestinya ketika mendapat pujian itu. Saya yakin, saat itu saya terus memasang wajah datar meski sungguh ingin tersipu atau tersenyum.
“Aku ngaji di sekolah, Mbak.” Jawab saya.
“Oh iya? SD mana?” tanya mbak Zizi dengan nada suaranya yang selalu ceria dan menyenangkan itu.
“SD Muhammadiyah 1 Malang.” Jawab saya.
“Oh… pantas…” sahut mbak Zizi yang seperti maklum.
Kalimat ‘oh pantas’ seperti mewakili pengetahuan mbak Zizi soal SD islam yang tentu saja banyak porsi pelajaran agama dan mengaji. Ini kali pertama saya menyebut asal alumni saya di hadapanmu, supaya kamu tidak lelah penasaran soal bagaimana latar belakang saya atau menerka apakah saya budha, katolik atau agama lainnya, hanya karena saya menyenangi kutipan-kutipan Yongey Mingyur Rinpoche atau senang memakai display picture BBM wajah ibu Theresa.
“Mbak Zizi, ada yang bilang menggambar itu haram.” Cetus saya satu waktu.
“Siapa bilang? Kamu kan niatnya menggambar, bukan niat meniru ciptaan Tuhan. Ayo, Poppy bikin gambar. Nanti mbak kirim ke majalah.” Sahut mbak Zizi.
Mbak Zizi menyemangati saya buat terus menggambar. Tidak jarang, dirinya juga membikin suatu permainan berkelompok yang memanfaat kemampuan menggambar saya. Saya merasa berharga dan makin tertarik buat mendengarkannya.
“Mbak… aku nggak bisa doa yang seperti teman-teman itu. Aku bisanya doa iftitah.” Ucap saya saat semua teman dan mbak Zizi sendiri, mengucap doa awalan sholat yang beda dengan yang kadung saya hafal dari sekolah.
“Nggak apa-apa, Pop. Kamu pakai doa yang diajarkan di sekolahmu saja.” Sahut mbak Zizi adem.
Jika mengingat bagaimana mbak Zizi dulu menyikapi perbedaan, maka saya ngilu dengan kotak-kotak aliran itu dan ini yang ada di masa sekarang. Mungkin, kamu salah satu orang yang dengan keras saya tegur saat sengaja membagikan artikel terkait islam, namun cenderung menyerang di sosial media milik saya pula. Kamu sekarang paham apa sebabnya bukan? Selain karena pemirsa sosial media saya bukan cuma yang seperti dirimu, yang sudah merasa benar beragama.
Pertemuan saya setahun lalu, saat mbak Zizi pulang ke Malang juga berkesan bagi saya. Mbak Zizi tidak memertanyakan kenapa saya memakai celana jeans atau kaos lengan pendek. Dia juga tidak memertanyakan sudah khatam kah saya mengaji.
“Selama di Malang, kamu kenalan sama siapa saja, Pop?” tanya mbak Zizi.
Loh… dia justru menanyakan pergaulan saya.
“Aku kenal teman-teman diskusi sampeyan jaman kuliah dulu, Mbak. Mas Denny Mizhar salah satunya.” Jawab saya.
Pertanyaan mbak Zizi, justru mengingatkan saya bahwa soal bergaul, juga termasuk dalam beragama. Bergaul, justru letaknya lebih jauh dan tersembunyi ketimbang syariat atau tata cara beragama yang nampak dari luar.
Bagaimana? Sudah terasa belum? Bahwa yang memahami ilmu, justru menyebarkannya lewat cinta.

Friday, October 14, 2016

Bagaimana Cara Menjadi Manusia?


Suatu saat, tulisan ini pasti akan sampai padamu. Tidak mungkin kamu yang menemukannya sendiri. Saya ingat, kamu tidak pernah terlalu suka membaca. Cara menulismu selalu seperti bahasa dalam pesan singkat, bahkan dalam karya tulis yang jadi tugas kuliah.
Saya tahu, kamu terus berjalan bahkan semenjak kita saling mengusir dan makin merentang jarak. Mereka bilang, kamu mengagumkan. Seorang lelaki agamis yang tidak berpacaran bahkan tidak juga bersalaman dengan perempuan. Itu kamu yang sekarang dan saya tidak tahu apa yang kamu dengar tentang saya dari orang.
Kamu yang dulu, begitu bangganya saat menceritakan bagaimana kakak tingkat di SMAmu memberimu kado, sebuah kitab suci dengan statusnya yang sebagai pacarmu. Kamu yang dulu, bercakap-cakap dengan pacarmu begitu lekatnya, hingga berciuman lewat udara.
“Saya suka dengan prinsipmu, tapi saya tidak suka dengan kamu.” Sebelum saya menatapmu lekat, kamu mengalihkan pandangan dengan jari-jari tanganmu yang bergerak gelisah.
“Prinsip?” tanya saya.
“Soal tidak pacaran...” jawabmu.
“Oh…”
“Lanjutkan prinsip itu. Saya suka…” kamu buru-buru berdiri dan berjalan makin jauh.
Saya tidak pernah menyatakan apa yang jadi prinsip saya padamu atau pada siapa saja. Dan saya tidak perlu tahu bagaimana kamu mulai menerka-nerka.
“Saya kemarin ikut kajian agama di komunitas X. Saya mulai ragu soal saya dan pacar saya.” Ucapmu.
“Segera bikin keputusan, entah itu ragu atau itu yakin. Dia perempuan yang jelas punya rasa, kamu jahat kalau tidak tegas soal hubungan kalian.”
“Oke… saya akan segera bikin keputusan.”
Tidak lama, saya dengar kamu putus dengan pacarmu yang beda kampus itu. Kita sendiri makin menjauh satu sama lain. Kamu dengan caramu mencari jati diri dan saya pun sama.
Saya kemudian mulai melihatmu yang melontar komentar panas soal anti hari valentine, berpacaran hingga percampuran antara perempuan dengan lelaki.
“Saya tidak setuju dengan percampuran antara perempuan dengan lelaki…” ucapmu.
“Percampuran yang bagaimana?” tanya saya.
“Ya… antara perempuan dan lelaki…”
“Kamu suka cak Nun tidak?”
“Ya… saya nonton dia waktu di UMM.”
“Laki-laki dan perempuan berbaur di sana, lintas generasi, lintas profesi, yang bertato hingga yang tanpa tato. Tidak ada sekat buat belajar. Percampuran macam begitu yang kamu tidak setuju?”
Kamu diam dan kembali pergi.
“Cara belajarmu itu salah. Mestinya, kamu belajar syariat dulu baru ma’rifat…” tuduhmu.
“Saya cuma ingin jadi manusia…” balas saya.
“Tapi kamu salah. Kata guruku, mestinya syariat dulu baru ma’rifat.”
Kita makin berjarak setelahnya. Saya jengah dengan agama yang berubah jadi momok di tanganmu. Kamu jengah dengan saya, yang kamu tangkap seperti tidak terikat pada satu tata cara beragama tertentu. Semoga kita menemukan cara menjadi manusia…
Tuhanku yang maha kasih, lihat betapa memuakkannya umatmu ini…
Yang atas namamu, kami saling meretas hubungan setelah perdebatan-perdebatan…

Tambahan November 2021,
Kira-kira 2016 atau 2017, seorang teman lelaki menyatakan kekagumannya padamu di depan saya. Dia bilang, prinsip dan beragamamu keren. Kala itu, dengan lantang kamu menyatakan apa-apa saja yang jadi peganganmu hingga banyak orang tahu memang.
Lalu tahun ini, seorang teman yang lain terkekeh melihatmu mengunggah video berboncengan dan berpelukan dengan pacarmu di media sosial.
Tapi lebih dari itu, saya justru salut atas kejujuran beserta semua prosesmu hari ini. Bukankah proses tidak pernah layak dihakimi? Hanya saja semoga, kita sama-sama sudah saling memaafkan dengan siapa saja di hari lalu yang kita tuding sebagai si tidak benar, lalu dengan legowo juga mengakui kita juga sedang berproses.

Tambahan Mei 2023,
Sampai juang di pernikahan. Semoga langgeng dalam ibadah seumur hidupmu.
Temanmu yang terkekeh di 2021 itu sedang 'merasa paling' juga ternyata. Lantas ia diuji pula di 2022.
'Merasa paling', meski itu dalam hati sedemikian menakutkan ternyata. Tuhan menyiapkan ujian-ujian setiap rasa paling ini berembus. Ya, setiap embusannya.

Monday, October 10, 2016

Sayap-sayap Patah


Jika belum, cobalah bertanya pada dirimu sendiri…

Apakah seseorang yang ada di hadapanmu itu, sungguh memahami dirimu? Atau dia hanya sengaja menyamakan diri atas apa yang kamu pikirkan dan kamu rasa nyaman di hati, demi… mencapai tujuan...

*Judul tulisan saya ambil dari salah satu Lagu Dewa 19 favorit saya


Distopia

Sumber: Gugel
Maka, di hadapan saya sekarang ada kamu. Dengan bibir robek dan pipi biru.
“Hai…” sapamu dengan mata yang redup.
Dengan bola mata yang berair, saya malah mengambil jarak beberapa langkah dari tempatmu tidur.
“Mereka menghianati saya, kamu tahu kan?” kamu lebih panjang berucap meski kesusahan mengatur napas.
Saya justru kembali berjalan mundur beberapa langkah.
“Ya… kamu sudah tahu tentang itu sejak bertahun-tahun lalu. Saya memang yang terlalu utopis, ketika melihat mereka yang seolah mau berjalan bersama saya,” kali ini, kamu bicara sambil berusaha mengangkat kepalamu yang nampak begitu berat bahkan hanya untuk sedikit digeser.
“Saya adalah januari, yang berkali disebut salam lagu seperti katamu. Saya adalah januari, yang juga berkali disebut dalam doa mendiang ibu saya, masih seperti katamu. Saya adalah januari, yang berkali ada dalam omelanmu, lagi-lagi seperti katamu. Saatnya saya minta maaf padamu kali ini…”
Saya mendekati gagang pintu dan mulai memutarnya sambil masih menoleh padamu, yang makin kesusahan mengatur napas dan berhenti bicara.
“Kamu butuh istirahat dan bersekapat pada dirimu sendiri buat memaafkan…” ucap saya sebelum keluar dari ruangan.

Sunday, October 9, 2016

Mendiang Bu Nurul, Bikin Si Anak Panti Jadi Percaya Diri


Saya baru saja memahami, apa sebab saya menulis selama ini. Saat SD kelas dua, saya begitu menyukai bu Nurul Aula. Guru yang menurut teman-teman lain begitu kaku dan galak. Namun, bagi saya beliau justru tegas dan perhatian. 
Siswa paling pintar bisa diapresiasinya dengan melibatkan seluruh penghuni kelas. Persaingan sehat dibentuk dari sana. Bahkan, masing-masing siswa yang menjadi jagoan bisa memiliki simpatisan. Jika di kelas lain, siswa paling pintar, segala apresiasi dan pujiannya seolah hanya dimiliki sendiri. Beda betul dengan kelas yang dipimpin bu Nurul. Siswa paling pintar seperti dimiliki bersama oleh seluruh penghuni kelas.
Bukan hanya siswa paling pintar. Bu Nurul juga memerhatikan keunikan karakter masing-masing siswanya. Pernah suatu ketika, teman saya yang tinggal di sebuah panti asuhan membawa teri balado sebagai bekal. Bu Nurul tidak sungkan memohon ijin buat memakan sedikit bekal yang dengan antusias dikatakan, sepertinya memiliki rasa yang enak.
Saya sangat ingat, teman saya itu buru-buru memberikan satu sendok teri balado dari kotak bekalnya. Wajahnya kelihatan berbinar dan tersanjung, seolah seorang guru yang mau makan makanan yang sama dengan anak panti sepetinya adalah hal yang luar biasa.
Bu Nurul ternyata hanya menyuap sedikit makanan yang ada di tangannya. Selanjutnya, dia memuji masakan pengurus panti, yang dibawa sebagai bekal oleh teman saya itu betul-betul enak. Seluruh kelas bergemuruh. Sebagian siswa yang biasa bergerak lincah segera mengerubungi bu Nurul, memohon sedikit jatah teri balado untuk mereka makan.
Teman saya si anak panti itu makin menunduk dan tersipu. Bu Nurul kemudian meminta lagi sedikit teri balado dari kotak makan miliknya. Banyak siswa yang kemudian mengerubungi si anak panti itu. Semua saling berbicara, meski sekadar memohon ijin buat meminta sedikit teri balado dari si anak panti.
Selanjutnya, teman saya si anak panti itu, begitu diingat teman-teman sekelas sebagai seorang yang mau berbagi teri balado dengan mereka.
Belakangan, ketika dewasa. Saya baru menyadari, cara bu Nurul meminta teri balado adalah buat melibatkan teman saya, si anak panti itu di dalam kelas. Anak panti itu, baru saja bergabung di sekolah saat kelas dua, yang juga jadi tahun pertamanya menjadi warga panti asuhan.
Saya sering melihat beberapa teman perempuan sengaja menjahilinya hingga mata anak itu berkaca-kaca karena sedih. Saya sendiri hanya bisa diam dan duduk di sudut kelas tanpa berbuat apa-apa. Saat itu, saya memang lemah dan belum mengerti sekuat apa sesungguhnya diri saya jika saja saya lebih berani.
Kamu tahu? Saya sangat ingin mengatakan pada bu Nurul bahwa saya sangat menyukai beliau. Namun, saya tidak pernah mengerti bagaimana carnaya. Saya dulunya tidak seperti siapa yang kamu kenal sekarang. Dulu, saya sangat kesusahan mengungkap apa yang sesungguhnya saya rasa.
Menjelang kelulusan, saya nekat masuk dalam ruang guru. Saat itu, tepat ulang tahun saya yang ke dua belas, tanggal lima juni. Saya menyodorkan selembar kertas berwarna kuning pada bu Nurul.
“Eh? Ini buat apa, Pop.” Tanya bu Nurul saat itu.
Dengan tidak berani menatap mata beliau, saya menjawab,”Itu untuk biodata bu Nurul…”
Oh, Tuhan… saya sungguh tidak percaya saya bisa seberani itu. Saya berhasil mengatakan apa yang saya mau pada orang yang sangat saya suka.
Saya ingat, bu Nurul hanya tersenyum kemudian memersilahkan saya duduk di hadapannya.
“Diisi apa nih, Pop?” goda bu Nurul sambil mengetuk-ketuk bolpoinnya di atas kertas.
“Anu… nama, tanggal lahir…” jelas saya sebisa mungkin tanpa rasa grogi.
Bu Nurul lagi-lagi tersenyum dan menyelesaikan biodata yang saya minta. Setelah biodata selesai ditulis dan disodorkan pada saya, buru-buru saya pamit keluar ruangan. Jika saja bu Nurul tahu, saya sesungguhnya ingin berlama-lama duduk di hadapannya dan mengobrol banyak hal. Kelulusan makin dekat dan saya tahu, mustahil melihat bu Nurul setiap hari di SMP.
Ah… pikir saya saat itu, meski saya tidak berani menyatakan perasaan saya pada bu Nurul apalagi berlama-lama mengobrol dengannya, saya setidaknya masih bisa menyimpan tulisan tangan yang saya dapat dari biodatanya itu. Bukankah tulisan tangan juga punya harga?
Bu Nurul meninggal sekitar tahun 2010. Tentu saja, saya menangis. Tidak ada wajah terakhir beliau yang bisa saya rekam. Terakhir, saya hanya bisa menitipkan sebuah kertas yang asal saya comot dari meja perawat bertulis ‘Bu Nurul, You Are The Best Teacher’.
Saya sudah mulai bisa berekspresi saat itu, menulis jadi awalnya. Sayang, kertas berisi isi hati saya pada bu Nurul yang akhirnya bisa saya ungkapkan itu, hanya bisa saya titipkan pada adiknya yang berjaga di depan ruang ICU yang kemudian juga jadi tempat bu Nurul berpulang.
Jika kamu mengenali saya yang barangkali terlalu ekspresif mengungkap sesuatu saat ini, baik lewat tulisan atau juga sikap. Kamu mesti tahu, saya hanya tidak ingin terlambat kemudian menahun dalam sesal…

PERHATIAN: Kupinang Putrimu Dengan Seperangkat Kostum Dan Properti Teater Di Bayar Tunai Pak!

Dibuat di Malang, 2014

“Tujuan hidupmu apa Kak? ,” rasanya aku ingin menyembur isi air yang ada dalam rongga mulutku buru- buru. Pertanyaan itu. Mendadak bikin air mineral yang baru masuk ke rongga mulut jadi pahit rasanya.
“Apa? ,” aku menoleh ke mukanya. Tapi. Tolehanku tidak di balas. Dia terus menghadap arah depan. Bicaraku terlalu buru- buru. Belum semua air dalam rongga mulutku kutelan. Nyaris keluar dari sudut bibir sisa air yang belum kutelan.
“TUJUAN HIDUPMU apa? ,” kata ‘tujuan hidup’ dia tekan tiga kali lipat dari ucapan sebelumnya.
“Eh ,” kugaruki kepala belakangku yang tidak gatal.
“Apa? ,” melirik matanya ingin tahu.
“Tujuan hidup… ,” aku mengulang pertanyaan.
“Iya apa? ,” bola matanya kembali menghadap arah depan.
“Eh ,”
“Apa? ,”
“Tujuan… hidup… ,” lagi. Kuulangi pertanyaan dia.
“Iya apa? ,”
Skak! Telak! Aku terpojok. Ini lebih ngeri ketimbang mesti kuis dadakan salah satumata kuliah. Oh oke. Untuk kuis, aku masih bisa dapat bisikan teman atau asal tembak salah satu opsi ganda dengan cara ngawur. Tapi ini!. Bisikan dari siapa yang aku harapakan?. Kami cuma… berdua!.
“Apa? ,” napasku berkejaran. Dia bertanya lagi.
“Pulang kampung ,” apa yang akan terjadi?. Jawaban macam apa ini?.
“Eh? Aku yang bertanya kurang jelas. Benar juga. Setelah ini liburan. Pulang kampung juga tujuan kan? ,” dia tergelak. Terbahak. Diluar dugaan. Anak ini tidak bikin aku terpojok lagi. Mukanya yang datar mendadak cair. Gigi gingsulnya terpajang bebas.
“Maksudku… ,” ah ini dia. Mukanya kembali datar. Nada bicara itu… pasti menyudutkan aku lagi setelah ini!.
“Seperti aku. Aku ingin lulus kuliah. Dalam waktu dekat aku akan mengulang mata kuliah yang belum meluluskan aku ,”
“Jadi tujuan hidupmu? ,” napasku berkejaran lagi. Aku resmi. Ter-po-jok.
“Eh ,” aku menghentak keras satu tarikan napas.
Dia diam. Mukanya tetap. Datar. Lama. Aduh! Diammu terlalu lama nona!. Kamu mirip dosen- dosen mata kuliah yang sebal lihat kelakuanku. Kabur dari ke-las. Melanglang ke sanggar teater kemudian ngobrol dengan teman yang pura- pura tidak tahu prosesku melarikan diri dari banyak kelas!.
“Oh ,” matanya berbinar. Gigi gingsulnya terpajang lagi.
“Tujuan hidupmu untuk menemukan tujuan hidup itu sendiri. Itulah sebabnya kamu hidup di dunia ini Kak ! ,” dia tertawa. Singkat.
Jantungku panas. Seperti di remas.Ditusuk. Di belah kemudian di bumbui dengan garam dan jeruk nipis.
Aku hidup untuk mencari tujuan hidupku. Tujuan hidup yang akucari dalam hidup. Sebab aku hidup untuk mecari tujuan hidup. Demi tujuan hiduplah aku hidup. Dan. Tujuan hidupku adalah menemukan tujuan hidup.
Ah! Anak ini. Bicaranya selalu bikin aku berpikir sepuluh kali!. Kata- kata yang terbolak balik tapi penuh makna yang mengharuskan akumengakui bahwa… aku sama sekali tidak pernah memikirkan jawaban dari pertanyaan anak ini!. Oh nona… aku ingin…
“Ya. Itu tujuan hidupmu. Itulah kenapa kamu hidup. Mencari tujuan hidup sebabnya ,”dia tertawa lagi.
Aku menoleh padanya. Dia tetap menghadap kearah depan.
Pertama kalinya!. Ya!. Ada orang yang menyebut sebab kenapa aku hidup. Bahkan aku sendiri tidak pernah memikirkan itu!.
Makin keras tawanya.
“Dik ,”
“Apa? ,”
“Besok datang lagi?. Pentas teaternya masih ada untuk dua hari kedepan ,”
“Ya. Mungkin. Aku nggak bawa motor Kak. Angkutan umum daerah rumahku juga susah. Tahu sendiri ,” di renggangkan dua tanganya seperti orang baru bangun tidur.
“Datang sendiri atau aku jemput? ,”
“Ter-se-rah ,” nada bicaranya datar.
“Aku jemput kamu nanti ,” asal saja aku menyahut. Ini keputusan sekenanya. Kata ‘terserah’ seperti memojokkan aku. Untuk me-mu-tus-kan.
“Ya. Boleh. Kabari lagi saja besok ,”
“Sekarang kamu mau pulang? ,”
“Terserah ,” seumur hidup kata terserah baru kudengar dari nona ini. Memutuskan sesuatu bukan kebiasaanku. Rasanya… pahit, asam, manis…
“Tunggu ,” aku buru- buru berlari kebelakang panggung. Secepatnya juga aku keluar.
“Ya… nanti aku kembali lagi. Aku antar dia dulu ,” tanganku melambai kepada beberapa teman disana.
***
“Kak jadi jam berapa?.”
Pesan singkatnya bikin leherku panas.
“Jam 13.30 pentas 1.”
Kubalas secepatnya.
“Oke.”
Hanya oke? Lalu aku mesti jawab apa?. Lama. Kuhentak kakiku. Seperti digigiti semut di dasarnya sepatuku. Eh? Aku menyanggupi untuk menjemput dia bukan?. Tapi aku… bagaimana aku harus datang? Bagaimana aku harus memberi salam? Bagaimana aku harus menunggui di di ruang depan? Dan. Bagaimana dengan satu kelas yang aku lewatkan hari ini?. Haruskah aku kabur untuk menjemput perempuan? Atau kabur ke sanggar tempat teman- teman?.
“Uhm. Nanti kalau aku nggak bisa jemput aku kabari.”
Oh Tuhan!. Sudah kuputuskan. Aku… Ragu!.
“Bisa atau nggak bisa tetap kabari ya Kak.”
Menolak. Aku mau menolak. Mana tega?. Tapi demi mengantar dia kemarin, aku sudah tolak ajakan teman- teman untuk sekadar mengobrol. Tapi…
Lama.
“Sorry. Aku nggak bisa jemput kamu.”
Oh Tuhan!. Aku berhasil menolaknya. Tapi. Apa ini mauku?.
“Oke nggak apa- apa.”
Bukan. Bukan. Aku ingin melanjutkan obrolan yang kemarin dengan dia. Atau… aku ingin diskusi soal pentas kemarin dengan teman- teman?. Oh tentu. Aku ingin keduanya. Bagaimana caranya pilih salah satu?. Bukankah aku sudah berhasil menolak nona itu. Eh? Menolak? Memangnya minta apa dia sampai aku menolak?.
***
“Pagi. Aku bisa jemput kamu.”
Apa yang aku lakukan?. Pukul delapan aku mesti ujian tengah semester. Ujian tersebut lisan!. Tidak tahu pukul berapa ujian itu bakal selesai. Semalam aku tidak tidur. Tidak juga mandi pagi ini.Apalagi belajar!.
Lalu? Aku tidak ingin bikin anak itu kecewa dan anggap aku tidak bisa tepat janji. Hah? Kenapa aku tidak rela dia menganggap aku demikian dan blablabla?.
Sudah. Aku sudah janji. Pukul setengah sepuluh. Ya. Aku janji untuk masuk kelas!. Aku juga janji menjemput anak itu sebelum jam tersebut!. Lalu?. Ya. Bagaimana?. Aku sudah janji.
Tidak. Tidak bisa. Anak itu tidak berhak kecewa. Ujian tengah semesterku tidak berhak terlalu lama menyita waktu. Dan. Berhak aku masuk kelas tepat waktu. Berhak. Semua berhak!.
***
“Kamu bisa menepati janji juga ya Kak? ,” terbahak dia selepasnya.
“Ya. Bisa. Aku bisa. Sangat bisa ,” aku seperti di tampar kata- kata anak ini. Sialan.
“Kamu butuh pendamping hidup sepertinya Kak ,”
“Eh? ,” aku memencet tombol lift.
“Biar teratur. Hidupmu… ,”
“Tapi… ” lanjutnya.
“Pendamping hidup juga butuh makan Kak. Kamu mau kasih makan apa? ,”
Geli. Tertampar. Terpojok. Tapi. Selalu aku menunggu kejutan- kejutan di balik lidahnya. Selalu bikin aku berpikir sepuluh kali untuk mencerna. Namun selalu penuh makna.
“Bapak calon pendampingmu pasti memastikan putrinya dapat kelayakan. Kamu menawarkan apa? ,”
Lama. Diam. Tertusuk.
“Aku bakal bilang Kupinang Putrimu Dengan Seperangkat Kostum Dan Properti Teater Di Bayar Tunai Pak! ,”
Tergelak tawanya. Keras. Paling keras di antara tawa dia yang aku tahu selama ini. Senyum tipis kugelar.
Bodoh kurasa yang aku ucap. Tapi. Balasannya berupa tawa bikin aku merasa ucapanku menghibur dan punya harga.
“Kak ,”
“Ya? ” mukanya kembali datar.
“Aku tahu. Dengan ada aku disini, aku jadi mengganggu kebersamaanmu dengan teman- temanmu di sanggar. Kalian butuh bersama. Butuh diskusi ,”
Pintu lift menunjukkan angka dua. Tujuan kami. Lantai satu.
“Ah nggak kok! ,” ayo- ayolah lift cepat turun. Ingin aku segera mengantar nona ini pulang. Mesti cepat kembali aku ke tengah teman- teman. Sudah janji aku bakal bersama mereka malam ini. Diskusi.
Tapi. Kalau nona ini kecewa bagaimana?. Tidak berhak dia kecewa.
Pintu lift menunjukkan angka satu. Lega. Kami sampai.
Pintu terbuka. Tapi. Anak ini. Diam di tempat dengan muka datar.
“Hey ayo ,” berkata ayo aku namun kakiku tetap di tempat.
“Silahkan duluan. Dulu. Aku pernah hampir terjepit lift. Agak takut aku ,” muka datarnya selalu bikin aku gagal percaya dia pernah melewati hal semengerikan itu.
Melawan ragu. Aku berjalan lebih dahulu.
Bahkan untuk memutuskan berjalan lebih dahulu  atau berjalan belakangan. Aku ternyata… tidak terbiasa.
Sekeluarnya dari lift. Jalan anak ini malah melambat. Was- was aku. Ayolah nona… aku mesti kembali ke teman- temanku. Tapi. Bagaimana cara mengabarkan itu padamu?.
“Jangan cepat- cepat. Aku masih ingin mengobrol dengan kamu Kak ,” astagaaaa anak ini. Betapa nyamannya dia mengatakan hal sepribadi itu. Dari hati? Atau? Karena dia sudah biasa bilang seperti itu pada siapa saja?.
“Eh? Oke ,” aku melambatkan langkah. Luluh aku. Menyetujui perpanjangan waktu bersama dia.
“Kak ,”
“Ya? ,”
“Soal kebiasaanmu merokok. Aku tidak berusaha merubah hidupmu…… ,”
“…..hanya mencoba membuat aku hidup lebih lama ,” aku melanjutkan kata- kata dia yang belum selesai. Hafal sekali aku dengan kata itu. Kata yang sama. Tapi. Selalu bikin aku punya harga.
“Dan lagi. Aku mengobrol dengan siapa kalau kamu mati? ,” heh? Mati?. Ringan sekali dia ucap kata itu. Sederhana. Tapi kata- kata dia barusan bikin harga hidupku terasa lebih mahal lagi.
“Kan ada teman yang lain ,” mengucap kata ‘teman’. Jadi ingat aku  janji dengan teman- teman. Ah. Aku harus cepat kembali. Langkah aku percepat. Lagi.
“Ya. Ada teman yang lain. Tapi beda dengan kamu Kak ,” tangannya menarik tas ranselku.
“Jangan cepat- cepat ,” lanjutnya. Terpaksa kakiku melambat.
Lagi. Kusetujui perpanjangan waktu kebersamaan kami.
“Kita bisa duduk disitu ,” kutunjuk dudukan di bawah sebuah pohon diluar ruangan. Aku duduk. Dia berdiri berputar- putar dua kakinya. Tidak bisa diam.
“Maaf hari ini merepotkan ,”
“Ah. Tidak ,” ya Nak. Aku cukup repot hari ini tapi kamu tidak berhak kecewa.
            “Aku tidak mau seperti itu lagi. Tapi. Terimakasih. Aku merasakan suatu rasa yang aneh selama bersama kamu. Bisa bilang ‘terserah’. Bisa berlagak bodoh soal angkutan kota.Berlagak penakut soal lift.”
            “Aku selalu memutuskan. Aku selalu melangkah di depan teman- teman. Apapun. Mereka selalu bertanya padaku. Bosan aku ,”
            “Bukan masalah. Dengan kamu. Aku belajar memerdekakan diri ,”
            “Hah? ,” dahinya di tekuk.
            Ya. Ya nona. Denganmu aku belajar merdeka. Merdeka mengartikan kata ‘terserah’.
Itu sebuah harga bagi yang merdeka tapi tidak merdeka. Dan. Itu aku…

Sebagian besar percakapan dalam cerpen ini, saya comot dari percakapan saya dan teman saya yang seorang pegiat teater. Saya mengenalnya sejak maba, sedang dia kuliah tingkat tiga. Tipe kepribadiannya dominan plegmatis dan dia kesusahan menuruti maunya sendiri. Hingga sekarang, dia belum lulus kuliah. Dalam cerpen ini, saya mencoba masuk dalam sudut pandangnya.