Monday, October 10, 2016

Distopia

Sumber: Gugel
Maka, di hadapan saya sekarang ada kamu. Dengan bibir robek dan pipi biru.
“Hai…” sapamu dengan mata yang redup.
Dengan bola mata yang berair, saya malah mengambil jarak beberapa langkah dari tempatmu tidur.
“Mereka menghianati saya, kamu tahu kan?” kamu lebih panjang berucap meski kesusahan mengatur napas.
Saya justru kembali berjalan mundur beberapa langkah.
“Ya… kamu sudah tahu tentang itu sejak bertahun-tahun lalu. Saya memang yang terlalu utopis, ketika melihat mereka yang seolah mau berjalan bersama saya,” kali ini, kamu bicara sambil berusaha mengangkat kepalamu yang nampak begitu berat bahkan hanya untuk sedikit digeser.
“Saya adalah januari, yang berkali disebut salam lagu seperti katamu. Saya adalah januari, yang juga berkali disebut dalam doa mendiang ibu saya, masih seperti katamu. Saya adalah januari, yang berkali ada dalam omelanmu, lagi-lagi seperti katamu. Saatnya saya minta maaf padamu kali ini…”
Saya mendekati gagang pintu dan mulai memutarnya sambil masih menoleh padamu, yang makin kesusahan mengatur napas dan berhenti bicara.
“Kamu butuh istirahat dan bersekapat pada dirimu sendiri buat memaafkan…” ucap saya sebelum keluar dari ruangan.

No comments: