Friday, April 29, 2022

Seandainya yang Bertemu Kakek Suhud Itu Saya

 

Sumber: Gugel

Hari itu, seorang laki-laki tua mengikuti Baim Wong dengan menaiki motor sampai ke rumahnya. Berikutnya, berita-berita di internet mengatakan Baim membentak pria itu. Video-video menunjukkan sang kakek terluka dan menangis setelah Baim membentaknya sebagai pengemis.

Kakek Suhud nama laki-laki tua itu. Berikutnya, perdebatan menyertai dengan terbagi jadi dua kubu. Kubu pertama menganggap cara kakek Suhud mengikuti Baim menakutkan, sedang kubu kedua menganggap cara Baim menanggapi sang kakek tidak manusiawi.

Saya pun tidak mendapat gambaran mesti memilih kubu mana. Abu-abu saja begitu rasanya. Sedang 2017 lalu, pernah saya diikuti dan direkam diam-diam waktu melawan pelaku pelecehan. Video itu lantas dibingkai sedemikian rupa hingga saya seolah marah tanpa sebab.

Di kolom komentar, orang-orang merisak (membully atau melakukan bullying) terhadap tubuh saya, mengomentari sikap sebagai perempuan yang dianggap kasar, hingga ancaman kekerasan fisik dan usaha mencari identitas.

Ya. Saya adalah penyintas KBGO.

Pelaku hingga hari ini tetap melenggang, tanpa regulasi apapun menjeratnya. Ia tetap membuat konten di media sosial, mengumpulkan lebih banyak pengikut.

Sedang saya, bertahun-tahun mesti berusaha sembuh. Sempat pula menghilang sama sekali dari media sosial dan hingga kini lebih merasa aman diet digital.

Akun Instagram utama saya @trisnayantip bahkan direncanakan deaktif permanen dan digantikan akun lain khusus DM, tanpa pengikut. Tujuannya pun hanya mempermudah orang menghubungi apabila punya keperluan.

Jadi ketika perdebatan mengenai kakek Suhud beredar, saya langsung memposisikan diri sebagai orang yang diikuti sampai rumah. Apa yang saya rasakan seandainya diikuti orang asing sampai ke rumah?

Takut. Hanya itu jawabannya. Sekalipun saya sudah pulih, kenangan diikuti, direkam diam-diam, dikonfrontasi orang asing dan dirisak sedemikian rupa di dunia siber tentu masih ada.

Bisa jadi reaksi saya terhadap kakek Suhud tidak sesuai standar kemanusiaan seperti yang jadi ekspektasi banyak orang. Barangkali saya akan meminta sang kakek berhenti, jika tetap diikuti bisa juga saya lari, jika ternyata masih juga diikuti, batu barangkali bisa saya ambil dan lempar.

Atau minimal berteriak dan mengumpat? Dengan berbagai latar belakang, sayangnya saya ternyata bukan orang yang pintar mempergunakan senjata satu ini buat membela diri.

Apalagi 2018 lalu saya mesti mengalami serangan panik. Teman-teman Gusdurian Malang waktu itu harus repot menenangkan saya yang menangis dan gemetar di tengah Alun-alun kota Batu. Keberadaan orang-orang yang lalu lalang dan ramai ternyata membuat serangan panik itu muncul. Lokasinya pun memang mirip dengan pelecehan 2017 lalu.

Meski nampak tenang, di tahun 2019 perasaan defensif jadi berlipat ganda. Satu waktu seorang teman perempuan nyaris menutup mata saya dari belakang serupa film India. Kami ada di acara bedah buku waktu itu dan saya menarik pergelangan tangannya ke depan, nyaris membanting dia. Dengan cengengesan teman saya itu berkata, kok kamu ternyata defensif.

Mata saya yang mulanya cemas dan marah mendadak cair. Saya sadar sikap tenang palsu bubar malam itu. Buru-buru tangan si teman tadi saya lepaskan, pembicaraan pun tidak membahas sikap defensif yang baru saja.

Sapaan serupa film India sebetulnya saya alami juga dari teman yang lain semasa mahasiswa baru. Namun di masa itu, belum ada hal yang membuat saya mesti merasa waspada di ruang publik. Jadilah bersama si teman tadi kami tertawa bersama.

Sayangnya, kita kerap kali menilai reaksi seseorang hanya berdasar kejadian hari itu. Padahal reaksi seseorang sebetulnya juga kumulasi atas hal-hal yang sebelumnya dia alami.

Apakah orang yang tiba-tiba menunduk atau menolak waktu ada perempuan paruh baya menawarkan barang di pinggir jalan itu jahat dan tidak peduli? Bagaimana jika orang tersebut di masa kecil, ternyata pernah mendapat kata-kata kasar dari pengasuhnya yang juga perempuan paruh baya? Jadi ketika ada yang sosoknya mirip, spontan ia menghindar.

Ini seperti 2017 lalu, saya melawan pelecehan dengan tindakan fisik karena pelaku tidak kunjung berhenti dengan kata-kata saja. Jadi bagaimana bisa saya melawan dengan tindakan fisik? Ternyata dalam proses penyembuhan, saya mendapati tumpukan ketidakberdayaan di tahun-tahun sebelumnya ketika nyaris jadi korban soft rape juga dilecehkan dalam bentuk disentuh secara fisik.

Tumpukan ketidakberdayaan itu ternyata harus saya bayar dengan berjumpa pelaku pelecehan lain di tahun 2017 tadi. Yang ketika keberanian melawan itu muncul, ternyata oleh para pelaku justru dibingkai sedemikian rupa hingga mendatangkan penonton dan uang.

Hingga hari ini pun, saya cenderung kebingungan ketika mendapati orang asing mendatangi meja di ruang publik. Entah itu pengamen, penjual kartu perdana, penjual kue, mahasiswa yang sedang praktik, rasanya buru-buru saya ingin menunduk atau pura-pura tidak melihat mereka ada.

Ya. Rasa takut itu belum pulih sepenuhnya ternyata.

Saya jadi ingat kejadian pengguna motor yang terseret arus air setelah banjir 2021 lalu. Seorang laki-laki dewasa dirisak karena dalam video ia terlihat diam saja, tidak terlihat ada inisiatif menolong. Belakangan laki-laki itu dinyatakan berkebutuhan khusus.

Jadi apakah Baim Wong punya latar belakang kejadian di masa lalu sehingga membentak kakek Suhud?

Jadi apakah kakek Suhud punya latar belakang kejadian di masa lalu sehingga minta bantuan dengan cara mengikuti ke rumah?

Apakah suatu saat reaksi saya yang tidak ideal atas suatu hal di ruang publik, kelak akan ada yang merekam lagi?

Dan apakah di saat itu perisakan serupa bakal saya alami?

Semoga teman-teman yang sedang membaca tulisan ini tidak akan pernah mengalaminya.


Catatan:

Selasa, 4 Oktober 2022

Nama-nama yang disebutkan dalam tulisan ini ternyata ada yang menjadikan KDRT sebagai candaan, konten penghasil uang.

Monday, April 25, 2022

Kerumunan

Sumber: Dokumentasi pribadi. Ngepas lagi ditraktir Wiwin Januaris.

C punya naskah novel. Berkali dia tawarkan pada penerbit mana saja dan gagal. Kemudian ia bikin media sosial, dilihatnya isu kesehatan mental sedang tren, lalu ia pelajari akun-akun yang lebih dulu ada, memperpendek kalimatnya, meletakkan di antara gambar latar warna-warni.

Orang-orang mendatangi akunnya, tulisan-tulisannya begitu ringkas dibaca, menawan ketika dibagikan ulang di Instagram dan mampu menyadarkan pentingnya kesehatan mental. Mereka yakin, kepeduliannya sudah diwakili C.

Tidak lama, akun C memiliki puluhan ribu pengikut. Setelah rombak sana-sini agar ada isu kesehatan mental nyangkut dalam novelnya, ia lantas mengumumkan novelnya akan terbit secara indie. Para pengikutnya membeli dengan senang hati.

Ada keterikatan dalam hati mereka setelah C dianggap selalu mewakili isi hati dan paling memahami. Bersama C, mereka merasa tercerahkan, paling berempati dan memahami isu kesehatan mental.

“Perasaan semua orang valid.” Demikian yang diamini mereka.

Sedang H punya channel Youtube. Ia pernah membahas kesehatan mental yang sedang tren melalui podcastnya, namun sepi. Ia pernah coba mengedit video dengan latar warna-warni dan intonasi khas, tetap sepi. Belakangan ternyata channel sejenis sudah ada dan ramai lebih dulu.

Kemudian H coba menegasikan isu kesehatan mental yang sudah ada. Ia mengajak pendengarnya yakin, isu kesehatan mental hanya milik anak manja yang mudah tersinggung. Bercanda dengan segala tema di sembarang tempat pada semua orang, mereka namakan tidak ribet.

Tidak lama, channel H subscribernya meningkat pesat. Mereka yang tidak merasa terwakili lewat akun-akun kesehatan mental, kini yakin easy goingnya sudah diwakili H. Jadi berapapun iklan yang muncul tidak pernah mereka lewati.

Ada keterikatan di hati mereka karena merasa H yang paling mewakili isi hati dan paling memahami. Bersama H, mereka merasa paling tercerahkan, paling rebel dan bagian dari klub anti ribet.

“Ketersinggunganmu bukan urusanku.” Demikian yang diamini mereka.

Sebuah kutipan yang umum kamu dengar dalam seminar-seminar seperti berkelebat;

Kalau mau buat produk, sama tapi lebih baik atau beda sekalian.

C dan H sekarang sama-sama memiliki 300 ribu pengikut. Orang-orang terus mengikuti mereka dengan keterikatan serupa; merasa diwakili.

Oleh mereka, jumlah kerumunan dianggap validasi kepakaran seseorang. Tidak jarang, antar pengikut memperdebatkan sebuah isu dengan membawa nilai dari apapun yang dibagikan C dan H.

Di balik layar, C dan H bisa bayar listrik dan makan bebek tiga kali sehari. Sedang tetangga kos C yang mestinya didiagnosa depresi terselubung, sedang meringkuk dalam selimut, tidak keluar kos berhari-hari. Ia pula mulai meragukan kesakitannya valid karena komentar-komentar para subscriber H.


Catatan:

Senin, 03 Oktober 2022

September lalu baru selesai baca novel Okky Madasari judulnya Kerumunan Terakhir dan ternyata temanya juga soal media sosial.

Friday, April 22, 2022

Saklar

Saat dia menapaki ruangan itu, cahaya lampu masih menyala. Pijarnya terang sekali sampai menembus kaca dan dinding. Namun ia ternyata pilih memutar saklar sehingga pijar lampu jadi remang-remang.

Dalam diri ia berkata, bukankah remang-remang mengganggu pandangan? Mata kita bisa memaksa melihat sesuatu sampai mendelik dan jadi minus esok dan esoknya. Yang terjadi berikutnya, justru ia mendekat lagi pada saklar lalu betul-betul memutarnya hingga lampu mati.

Dalam dirinya ia berkata, bukankah gelap menutup pandangan? Mata kita mula-mula tidak bisa melihat sesuatu sama sekali, namun lama-lama mata kita bakal terbiasa juga melihat sekitar dengan cahaya seadanya. Yang terjadi pada berikutnya, justru ia mencari-cari saklar itu kembali, berharap setidaknya bisa menemukan pijar yang remang-remang itu setidaknya.

Tapi...

Friday, April 15, 2022

Tutorial Mencintai Kekasih, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -2-

Sumber: Seni Mencintai halaman 68

Waktu kecil, kita dijejali bahwa cinta bentuknya pasti lelaki dan perempuan, berlarian di taman, berciuman, lalu menikah dan bahagia selamanya.

Waktu remaja, kita bilang ciye pada siapapun lelaki dan perempuan yang nampak duduk berdua saja, seolah sudah pasti mereka sepasang kekasih.

Waktu dewasa, kita mengasihani orang-orang yang usianya 25 tahun atau lebih tapi tidak kunjung menikah, seolah mereka tidak buru-buru menjemput yang namanya bahagia.

Erich Fromm bilang, objek cinta ada lima; cinta diri, cinta keibuan, cinta Tuhan, cinta persaudaraan dan cinta erotis.

Tiga paragraf pertama tadi, objek cinta erotis, yang eksklusif antara dua orang saja. Barangkali ada yang menyebutnya pacaran, ada juga yang menyebutnya pernikahan.

Dan ini kisahnya A, dia suka bidang bahasa namun mengiyakan saja ketika keluarga menyuruhnya masuk ekonomi. Bidang bahasa hanya membawanya jadi guru, begitu nasihat yang ia terima.

Ia pilih tidak ngotot masuk bahasa, tidak juga mencari seberapa besar potensinya di sana dan peluang apa yang bisa diciptakan sendiri.

Hari-harinya berat karena jurusan ekonomi membuatnya banyak berhitung. Hitung-hitungan ternyata tidak seringan bahasa dalam kepalanya.

Lalu A masuk english club. Dengan cepat ia didapuk jadi pemateri karena kemampuannya dianggap lebih. Kemudian ia merasa bosan, tidak ada lagi jenjang kemana pun setelah jadi pemateri.

Teman-teman menyarankannya ikut MUN. Tapi ketika ia coba masuk, hal yang dipelajari katanya terlalu luas, jadi dia mundur. Tidak ada english club, tidak ada MUN, lalu ia bertemu kekasih yang tumpuan objek cintanya sama.

Bagi A, bertukar kata cinta tidak serepot memberi argumentasi pada keluarga soal lebih suka bidang bahasa, tidak juga serepot pindah dari english club ke MUN. Hanya ada mereka, tanpa pertanyaan siapa diri, siapa Tuhan. Tanpa keluarga, teman, hobi, komunitas dan tujuan hidup.

Ketika mereka sibuk hanya berdua saja, ada teman-teman kita yang lain, sibuk mencoba satu UKM ke UKM lain di kampus, mencari mana yang paling pas. Ada juga yang belajar membaca kitab, mulai bertanya apa benar ingin menganut agama yang tertera di KTP. Ada juga yang membawa kotak di perempatan, menyanyi dan orasi untuk korban bencana alam.

Kemudian kekasih A pergi, dengan lelaki lain yang punya objek cinta erotis yang ia cari; pernikahan. Pacaran tidak lagi membuatnya aman ternyata.

A seperti dirampas sayapnya. Ia baru sadar tumpuannya hanya si kekasih. Ia tidak kenal siapa dirinya, apa yang ia ingin dalam hidup, hal apa yang bisa dikembangkan dalam karirnya.

Pergi kerja pagi, pulang petang, tanpa ada lagi si kekasih, satu-satunya orang yang bisa diajak mengobrol. Tidur di kostan di akhir pekan, tanpa hobi yang menanti. Ia juga baru sadar, tidak satu pun tetangga kost dikenalnya.

Tuhan bahkan terkekeh melihatnya menangis sesak sambil berkata,”Ngobrol denganku kan sebenarnya bisa...”

Thursday, April 7, 2022

Absen Nyawa, Pemaknaan Seni Mencintai Erich Fromm -1-

Sumber: Dokumentasi Pribadi


“Aman kah?”“

Sehat?”“

Masih hidup?”

“Asu kon...”

Empat kalimat di atas bisa jadi cara menyapa teman. Absen nyawa istilah guyonnya (meski batinmu barangkali bilang, bukannya presensi istilah yang lebih tepat ya?).

“Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan, 29 orang pasien mengalami gejala ringan dari total 68 kasus baru Covid-19 akibat penularan varian Omicron.” Narasi berita mulai masuk ke trending Twitter, fyp Tiktok dan televisi.

Coba tarik nafas dalam-dalam, hembus pelan dan ketik kalimat semacam yang empat tadi, kirim pada teman.

Barangkali kepada mereka yang bulan lalu bilang, sudah boyong dari pondok jadi tidak akan lagi menginjakkan kaki ke kota tempat kalian satu kampus, kecuali waktu legalisir ijazah.

Barangkali kepada mereka yang bilang, bapaknya jadi sensitif sejak sakit paru-paru.

Barangkali kepada mereka yang tiga bulan lalu melihat cinta pertamanya bertunangan atau mereka yang demam setelah vaksin.

Atau bahkan, pada mereka yang menolak menceritakan kabar terkini dan hanya menjawab dengan,”Pokoknya doakan aku baik-baik aja ya...”

Apa yang kita rasakan setelahnya?

Erich Fromm bilang, dalam cinta ada orang-orang dengan karakter produktif;

“Memberi ialah ungkapan tertinggi potensi. Dalam memberi, aku merasakan kekuatanku, kemakmuranku, kekuasaanku. Perasaan daya hidup dan potensi memuncak ini mengisiku dengan kegembiraan. Kurasakan diriku melimpah, lepas, hidup, karenanya aku gembira. Memberi lebih menggembirakan daripada menerima, bukan karena aku kehilangan, tapi karena dalam tindakan memberi ada ungkapan kehidupanku.”

Bagaimana rasanya mencintai orang lain tanpa ‘karena’? Tanpa merasa perlu mengembalikan sesuatu karena ia pernah memberi? Tanpa merasa harus memberi sesuatu karena pasti diberi balik? Menyapa dan bertanya, lepas apapun tanggapannya. Yang demikian, orang-orang dengan karakter produktif.

Dan barangkali dadamu sedang terasa hangat sekarang.

Saturday, March 26, 2022

Silam

 

Coreted by: @destianrendra

Tidak ada yang tahan jadi pacar gadis itu lebih dari tiga bulan. Bagaimana bisa ada yang tahan? Jika usianya dua puluh empat dan kerap menjerit histeris ketika pacarnya melakukan satu hal; telat menjemput.

“Ayu sih, tapi kekanakan banget...”

“S2 sih, tapi suka membesarkan masalah.”

Hingga hari itu pun tiba, pacar gadis itu terlambat sembilan menit. Mereka dua bulan berpacaran, berjumpa karena ternyata satu gedung perkantoran. Obrolan mereka pun nyambung karena gadis itu punya pengetahuan luas namun...

Kuku si gadis yang cukup panjang sudah menancap di kedua lengan pacarnya itu kini. Matanya membulat, merah dan badannya gemetar. Ia pula nyaris histeris. Pacarnya itu pun buru-buru mengibas dua tangan si gadis dan berlalu pergi. Semua kontak gadis itu ia blok dari ponselnya.

Dengan dada sesak, gadis itu hampir jatuh terduduk. Di depan matanya hanya ada sang ayah yang menepuk kepala kecilnya suatu pagi dengan janji akan menjemputnya tepat jam dua belas siang, sepulang sekolah. Ayahnya itu ternyata tidak pernah menjemputnya kembali.

Gadis itu menjatuhkan tas kantornya dan tubuhnya pun makin gemetar. Seorang anak perempuan sembilan tahun, kini sedang berdiri di sampingnya. Anak itu tidak menangis. Ia justru memegangi tali tas ranselnya dan seolah berkata pada seseorang di hadapan,”Nggak apa-apa. Papa pasti masih sibuk...”

Wednesday, March 16, 2022

Ustad Pelaku Pelecehan, Benar Hanya Oknum?

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

10 Januari 2022 lalu, Kevin Ngunyen mengunggah kasus pelecehan oleh seorang ustad berinisial M di Tiktok dan Twitter. Kevin menekankan yang demikian tentu saja oknum. Kevin juga menyebut Husain Basyaban sebagai salah satu uztad yang benar-benar membela isu perempuan.

“...korban-korbannya udah banyak, bukti-buktinya terlampir jelas dan nanti bakal gue sertakan di green screen. Dan disclamier ya temen-teman, ini hanya oknum-oknum aja, nggak semua kayak gini. Masih banyak kok pendakwah-pendakwah di luar sana yang bener-bener membela isu perempuan, Husein contohnya.” -Kevin Ngunyen, Tiktok 2022-

Penggunaan istilah oknum dalam kasus ustad M, seperti merujuk dirinya yang merupakan bagian dari umat islam. Hingga ketika ustad M kedoknya terbongkar, ia masih dianggap sebagian kecil dari umat islam yang sedang berbuat bejat.

Uztad M sendiri ternyata aktif di Instagram. Jadi Husain buat saya lebih familiar dan benar, video-video pendeknya cukup bisa dicerna orang awam sekalipun. Salah satu perspektif Husain soal pelecehan seksual bisa disimak dalam video berikut.

Sumber: Tiktok Husain Basyaban

“Aib ini terikat pada pelaku, bukan korban.” Husain, Tiktok 2021.

Tapi bagaimana dengan pernyataan Kevin soal ustad M yang oknum? Mari kembali membaca tulisan di blog ini yang berjudul Terimalah, Grooming Senjatanya Nggak Melulu Persona Baik untuk memahami citra bentukan pelaku kejahatan. Sebelum itu, mari kita memahami pengertian oknum lewat esai berjudul Oknumisasi Aparat dan Politik Bahasa.

“Kata “oknum” tidak memiliki terjemahan yang pas dalam Bahasa Inggris. Padanan yang paling mendekati adalah “individual.” Tapi, dalam kata tersebut tak ada citra negatif seperti yang dicitrakan “oknum.” -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Sedikit rangkuman, ustad M sendiri kerap mendesak para perempuan pengikutnya di Instagram untuk video call. Hal ini berlawanan dengan dakwah M menyoal interaksi lawan jenis. Ustad M pun sudah memiliki istri.

Sumber: Tiktok Kevin Ngunyen

Dan ya, ustad semacam M sebetulnya sama dengan predator lain. Ia sengaja mengambil satu identitas tertentu sebagai citra. Islam tentu bukan tidak sengaja dia pilih.

Predator bisa dengan sengaja mengambil identitas apapun untuk membentuk sistem pendukung dan menjerat mangsa. Ustad M dengan identitas islamnya, sedang para predator lain dengan identitas nasionalis atau lainnya.

Bagaimana bisa seorang predator yang sengaja menggunakan identitas islam sebagai sekadar citra, bisa dianggap bagian dari umat yang sedang berbuat jahat?

Penyebutan oknum juga tidak tepat dipergunakan dalam kasus yang terjadi di lembaga. Apalagi ketika kasusnya menahun dengan jumlah korban tidak dua atau tiga.

"Demikianlah realitas dibentuk oleh bahasa. Dalam bahasa Inggris, kesalahan institusi tidak bisa dilimpahkan begitu saja ke individu seperti penggunaan kata “oknum” dalam Bahasa Indonesia." -Triyo Handoko, Remotivi 2021-

Padahal dalam lembaga demikian, biasanya terjadi kekerasan struktural. Sebuah kasus bisa tertutupi menahun, tidak mungkin kerja dari satu orang. Pasti banyak pihak terlibat menutupi kasus hingga membungkam korban. Pihak-pihak inilah yang lantas membentuk sistem. Dan ya, sistem yang menguntungkan pelaku, tentu saja.

Jadi untuk Husain dan siapapun teman-teman, lelaki dan perempuan yang menggunakan jalur dakwah kreatif, semoga kalian tetap baik-baik di jalan. Sedang untuk kita semua, yakin masih sudi memakai istilah oknum?

Eh, omong-omong kontennya Adela Surya Pertiwi bagus. Kali lain saya bahas yes. Konten Tiktok Adel tuh semacam,”Ya sudah, kami yang bercadar pun kesehariannya sama dan asyik aja kok.”

Tuesday, March 1, 2022

24

Sumber: Gugel

 

Kemarin lusa, tepat di hari ulang tahunmu. Dia saling bilang cinta dengan laki-laki lain.

Sebagai sang pangeran wanna be, kamu tentu merasa ada yang istimewa dari dia yang mengingat tanggal ulang tahunmu.

Tapi ya, entah bagaimana dia mengingat tanggal lahir siapa pun lelaki yang pernah lewat di hidupnya.

Ada dua lusin dan dia ingat semua...

Thursday, February 24, 2022

Kegilaan

Sumber: Dokumentasi pribadi


Di usia yang ke 25, teman-temannya mulai sibuk mempersiapkan pernikahan, daftar LPDP, bahkan mulai merantau ke berbagai kota. Namun ia justru gila.

Tidak ada ingatan tersisa soal siapa dirinya, yang mana ibu, di mana rumahnya. Ia hanya ingat kucing hitam putih itu miliknya, kesayangannya dan bapaknya yang terpaksa memelihara demi kesembuhannya juga.

Sebelumnya ia percaya, semua orang di muka bumi ini pada dasarnya baik. Ia juga terlampau percaya diri bahwa semua orang pasti bisa disentuh hatinya. Cinta itu nyata.

Hingga pertemuannya dengan kedua orang itu. Yang bagaimanapun ia sodorkan cinta buat mereka, tetap saja tikaman yang ia terima. Egonya bisa jadi terluka. Ia ternyata bukan si ajaib yang bisa menyentuh hati siapa saja dengan kekuatan cinta.

Kedua orang itu juga menikam siapa saja yang selain dia semaunya. Cinta yang ia sodorkan dilirik mereka saja tidak. Bagaimana bisa mereka tetap berjaya? Bukankah konsep yang ia terima sepanjang hidup, cinta selalu menang melawan yang batil?

Jadi dia gila.

Memutuskan gila juga tepat.

Sukmanya ada di antara dunia yang pekat biru langit dan dunia lain di bawahnya. Tersendat di sana, tidak ke atas, tidak ke bawah.

Dia menyerah tapi berdalih ingin dekat dengan yang maha kuasa. Konsep cintanya lebur lagi hancur tapi berdalih ingin ibadah ritual saja selamanya...

...tanpa terhubung lagi dengan manusia. Manusia yang hanya melukai konsep cintanya, mematahkan hati saja.

Tapi seorang uztad memberinya kisah 100 tahun beribadah. Ia tidak dimarahi. Ia juga tidak sedang diajak bersedih. Namun tangis dan rasa marahnya keluar serentak.

Kisah itu mencubit inti hatinya. Kisah itu adalah dia. Jadi air matanya berleleran.

Ia mengakui takut menghadapi kekecewaan, kerumitan hidup di dunia, jadi kabur dengan berdalih ingin dekat Tuhan saja.

Ia pengecut.

Ia tahu itu.

Jadi kisah 100 tahun beribadah membuat air matanya tidak juga berhenti. Ia ada di sana, dalam kisah itu. Manusia yang mengira ibadah ritual saja cukup aman dilakukan, tidak seberbahaya bersinggungan dengan manusia-manusia lain.

Kemudian pelan-pelan ingatannya kembali. Ia ingat siapa dirinya, yang mana ibunya, juga di mana rumahnya.

Erich Formm pernah berkata:

Maka dari itu, keinginan terdalam manusia adalah keinginan untuk mengatasi keterpisahannya, meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan mutlak dalam meraih tujuan ini berarti kegilaan, karena rasa panik akibat keterasingan total hanya dapat diatasi dengan menarik diri secara radikal dari dunia luar sehingga rasa terpisah itu sirna—karena dunia luar, tempat seseorang terasing itu juga sirna. (Seni Mencintai:18)

Ketika manusia lain melakukan hikikomori, dia malah meraga sukma. 

Friday, February 11, 2022

Negasi Kejahatan

 

Sumber: Gugel

Ada tukang selingkuh, sepakat menyingkirkan istri sah bareng selingkuhannya. Istri sah berhasil dihempas dengan dua anaknya tanpa nafkah, tanpa permintaan maaf.

Kemudian si tukang selingkuh membentuk persona agamis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara perbuatan baik disertai dalil. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona agamis itu membuat orang-orang yakin, si tukang selingkuh sudah berubah dan yang demikian disebut hidayah. Mantan istri sah dituduh tidak pemaaf ketika coba mengungkap luka dan hak anak-anaknya. Hingga menahun berikutnya, si tukang selingkuh terus berbicara soal agama, setara mereka yang membaca kitab saban hari dan mempraktikkan isinya.

Ada tiga nyawa yang kesulitan makan dan biaya sekolah pada berikutnya...

Ada tukang bully, menyingkirkan temannya dari komunitas karena dianggap pesaing. Temannya tadi berhasil dihempas tanpa permintaan maaf atau yang sejenis rekonsiliasi.

Kemudian si tukang bully membentuk persona feminis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara women support women. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona feminis itu membuat orang-orang yakin, si tukang bully anti penindasan. Korban lamanya melihat ia divalidasi banyak orang lantas ragu apakah pembullyan yang ia alami dulu nyata. Hingga menahun berikutnya, si pembully terus bicara feminisme setara mereka yang menangani kasus kekerasan di lapangan.

Kali ini muncul pesaing baru di tempatnya kerja dan saban hari si pembully menindasnya...

Ada pelaku kekerasan seksual, korbannya trauma berat dan tidak tahu harus melapor kemana. Korban berhasil dihempas dari lingkungan tempat mereka bertemu. Negasi dari pelaku bahwa kejadian itu kurang bukti juga terus dilancarkan terhadap korban.

Kemudian si pelaku membentuk persona nasionalis di media sosialnya. Tidak ada hari tanpa bicara cinta bangsa dan anti korupsi. Orang-orang berkerumun makin banyak, mengikuti akunnya, menyatakan kekaguman.

Persona nasionalis itu membuat orang-orang yakin, si pelaku kekerasan seksual pro keadilan. Korban lamanya makin menyembunyikan diri setelah melihat ia divalidasi orang banyak. Hingga menahun berikutnya, si pelaku tetap bicara nasionalisme setara mereka yang keukeuh mengungkap kasus korupsi di sebuah desa kecil tanpa sorotan media.

Pelaku menciptakan korban baru. Di hadapan mereka selalu ia pamerkan seberapa banyak orang mempercayai dirinya...

Lalu kita pun bertanya-tanya, seberapa berat mengakui kejahatan ketimbang mengumpulkan begitu banyak orang lantas membangun citra?

Adakah kita salah satu dari para pelaku ini ternyata?