Tuesday, December 6, 2016

Kamu Punya Uang? Stop Nonton Sirkus Lumba-lumba


Hastag stop sirkus lumba-lumba, agaknya mesti segera diganti dengan hastag stop tonton sirkus lumba-lumba. Hastag yang kedua ini, memang lebih cocok buat kita, masyarakat yang mampu membayar tiket untuk menonton sirkus lumba-lumba.
Saya kemudian ingat, bagaimana tante saya bercerita dengan polos dan gembira, ketika membawa putrinya menonton sirkus lumba-lumba. Dia bercerita bagaimana lumba-lumba yang cerdas dan menyenangkan ketika diajak berfoto. Tante saya adalah bagian dari masyarakat yang memiliki uang, namun kurang mengerti kenyataan dalam sirkus lumba-lumba, saya pun.
Amank Raya, aktivis dari Jakarta Animal AID diundang dalam talkshow The Rooftop Trans 7, yang dipandu Gilang Dirga pada, Selasa, 6 Desember 2016, menjelaskan banyak hal soal kenyataan dalam sirkus lumba-lumba yang banyak tidak diketahui orang. Salah satunya soal Indonesia, yang jadi negara terakhir yang mengijinkan sirkus lumba-lumba.  
Ternyata, peluit yang dipergunakan di sekeliling lumba-lumba, menyakiti telinga mereka. Dengan cara ini lah, mereka dipaksa melakukan atraksi. Mereka dibuat lapar dan dipaksa mendengar peluit yang menyakitkan hingga akhirnya melakukan apa yang sirkus mau. Selain itu, cara berkomunikasi lumba-lumba yang memergunakan sinyal suara, akan terganggu saat mereka diletakkan dalam kolam yang sempit. Sinyal tersebut akan memantul kepada diri mereka sendiri dan memicu stress. Stress ini lah yang membuat insting bunuh diri lumba-lumba bangkit.
Ya… lumba-lumba ternyata memiliki insting bunuh diri. Caranya? Mereka menenggelamkan diri di dasar kolam. Napas yang seharusnya diambil selamabeberapa saat di udara, tidak mereka ambil.
Amank Raya berpendapat, bahwa melakukan edukasi pada orang dewasa dalam lingkup bisnis sirkus lumba-lumba adalah percuma. Untuk itu, dirinya dan para aktivis memilih melakukan edukasi pada anak-anak.
Melakukan edukasi bagi para nelayan, yang menangkap lumba-lumba juga agaknya kurang memiliki dampak. Para nelayan ini hanya warga biasa yang membutuhkan mata pencaharian. Mereka menangkap lumba-lumba hanya berdasar pesanan. Enam hingga tujuh juta bisa mereka dapat dari satu lumba-lumba.
Lumba-lumba sendiri ternyata merupakan navigasi bagi para nelayan. Berkumpulnya lumba-lumba, merupakan tanda berkumpulnya ikan seperti tuna dan banyak lainnya. Lumba-lumba adalah bagian dari rantai makanan.
Jadi, jika anda memiliki uang, stop menonton sirkus lumba-lumba. Bunuh bisnisnya, selamatkan lumba-lumba.

No comments: