Tuesday, February 23, 2021

Hopeless Romantic VS Platonic

Sumber: Gugel

Tahun lalu, saya menerima sebuah kesadaran baru. Bahwa ternyata spektrum orientasi seksual saya hetero, namun ada  namun ada demiseksualnya** juga. Salah satu indikasinya, tanpa sadar saya menerapkan hubungan platonis pada siapa saja dan inilah sumber masalahnya...

Mula-mula sebuah email saya kirimkan pada yu Siti akhir tahun lalu. Saya jabarkan pemahaman-pemahaman baru ini. Saya tarik pula limpahan kekesalahan pada teman lawan jenis yang kerap tiba-tiba pergi tanpa sebab jelas. Ya, dulunya saya menggerutu soal mereka itu begini, kenapa berteman saja susah sekali sih mereka ini? Kalau memang ada rasa sekalipun, berteman aja terus tetap saling dukung. Susahnya di mana sih?

“Bukannya biasanya ada bedanya ya? Antara teman dan bukan?” salah satu balasan yu Siti lewat email.

Tidak. Nyatanya tidak ada beda sikap saya dengan siapa saja. Cinta saya adalah cinta pertemanan yang celakanya, saya betul tidak paham bagi mayoritas orang ini ganjil. Bagi orang-orang dominan hetero, tanpa status milik ternyata hal menyakitkan.

Hingga dalam kesadaran baru itu, saya menemukan jalan tengah. Saya tidak mungkin memaksa diri menerima ikatan-ikatan ala dominan hetero, pun mereka tidak mungkin memaksa diri menerima hubungan platonis ala aseksual. Jalan tengah ini hendak saya terapkan ketika kelak bertemu entah siapa lagi di depan sana.

Ternyata tanggal 10 Februari 2021, teman lama saya menelepon malam-malam. Kami terakhir berkirim WA 2019...

“Harapannya, kita pacaran serius...” ucapnya di tengah percakapan.

Teman saya ini mengakui, ia dulunya pergi karena merasa tidak mendapat apa yang dia mau. Kami sepakat saling membuka pintu dan berdecak, ini kenapa bisa waktunya pas?

Dia tetap seseorang yang saklek, apa-apa diekspresikan langsung, tidak takut dengan penolakan juga. Lebih jauh, benar dia seorang hopeless romantic, selama hampir sembilan tahun berjalan masing-masing dan makin tambah parah saja. Sedang saya pun tetap pla...

Kemudian tanggal 12 Februari 2021, saya ajukan sebuah proposal jalan tengah. Pernikahan adalah satu-satunya hubungan romantis yang terpikir mampu saya jalani, tidak dengan pacaran. Maka kami pun sepakat, tiga bulan komunikasi lalu istikharah adalah jalan paling adil.

Pada hari-hari berikutnya, saya mengenalinya sebagai seseorang yang penuh kata cinta, hangat dan bisa diandalkan. Dan pada hari-hari berikutnya ia mengenali saya yang ikatan-less.

“Aku pulang...” begitu kata si hopeless romantic ini beberapa kali.

Dia memang selalu begitu, menjelma jadi tokoh utama, mempercayai alam semesta sengaja memberikan pertemuan-pertemuan ajaib dalam sebuah kisah cinta. Mengibaratkan saya sebagai rumahnya secara sepihak yang ternyata berbalas...

“Seandainya aku katolik, aku mau jadi biarawati dan seandainya aku budha, aku mau jadi bikkuni.”

Menariknya, kami yang sekarang sama-sama mampu saling memahami. Saya yang tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia hopeless romantic dan dia tidak mungkin memaksa diri sepenuhnya dalam dunia plantonic.

Kami pun bersepakat, kelak jika jawaban dari semua proses ini ternyata tidak; selanjutnya persaudaraan mesti terus dijalin. Sebaliknya jika jawabannya iya; kami ingin saling dukung, membina diri masing-masing meski sama tidak ingin menikah dalam waktu dekat.

Jadi... Makan es krim pinggir minimarket lagi yuk... Dan selamat 27 ya.


**Catatan:

Untuk spektrum orientasi seksual, masih dalam proses saya pelajari termasuk dengan melibatkan profesional. Hasil akurat belum didapatkan. 


Sabtu, 08 Mei 2021.

Ego kepemilikan memang bikin sulit untuk saling bertemu.

Wednesday, February 17, 2021

Patah Hati di Hadapan Seorang Nihilis

Sumber: Gugel


Saya selalu benci ketika dulu, ibu kerap membuat negasi ketika saya nampak sedih dan luka. Kata ibu, banyak di luar sana yang masalahnya lebih parah dan mestinya dan mestinya saya bersyukur.

Jadilah saya terbentuk tidak gemar bercerita pada ibu. Apapun saya cerna, atasi dan simpan sendiri. Butuh waktu lama hingga saya betulan bisa berkata pada ibu kalau ucapan demikian hanya menambah luka dan kalau orang yang ada di hadapan sedang depresi, dia bisa langsung berangkat bunuh diri.

Tapi toh ibu jelas bukan satu-satunya orang yang gemar melakukan negasi demikian. Bab ibu ini saya pungkasi dengan; orang-orang jenis ini tidak paham rentang waktu. Bahwa tidak ada masalah lebih berat atau lebih ringan bagi seseorang. Yang beda hanya soal waktu. Ketika si A mendapat beban luka 10 kg di usia 13 tahun, bisa jadi si B mendapat beban luka 23 kg di usia yang sama. Tapi lain waktu, bisa jadi beban yang 23 kg itu dialami juga oleh A kelak di usia 30 tahun.

Memahami ini bakal membuat kita tidak bakal terlalu percaya diri bicara,”Oh, kalau aku sudah ngalamin sih masalah kayak gitu jaman SMA...”

Lain ibu, lain pula abangnya seorang teman. Waktu si teman ini patah hati, abangnya itu berkata,”Maaf bilang gini ya. Berdasar dari pengalamanmu, kamu tuh nggak spesial. Bahkan orang lain di dunia ini bisa jadi masalahnya lebih buruk.”

Bau-bau nihilis...

Ya, dia emang

Aku dulu iya

Aku pikir dia nihilis, tapi percaya Tuhan

Meski hampir mengeluarkan kalimat nyaris serupa, ibu saya memang mengeluarkan kalimat itu karena sekali lagi, tidak memahami rentang waktu, sedang kakak si teman itu memang seorang nihilis yang semacam yawis manusia emang ya gitu-gitu aja. Kedua orang ini juga punya latar belakang perjalanan hidup yang berbeda meski mengeluarkan kalimat hampir serupa.

Meski saya dulunya sempat jadi nihilis dan hanya kesampaian berpikir manusia hidup atau tidak ya begitu saja, saya jadi membayangkan ucapan ibu saya dan abangnya si teman diterapkan pada penyintas kekerasan...

Oh, kamu kena sampai petting doang. Aku nih sampai fingering.

Ealah, kamu kena sama dijebak doang. Dia tuh sampai nggak bisa kabur.

Merinding.

Yang jelas, justru ketika berkali hampir mati saya malah melihat dengan terang... Kita, manusia berhak merasa punya rasa sakit yang paling berat pada satu waktu. Perasaan demikian tentu saja valid dan memang harus diakui. Namun pada waktu-waktu yang yang lain, setelah kita berhasil mengatasi rasa sakitnya... Bahkan dalam hati pun kita tidak berhak merasa lebih berjuang ketimbang orang lain. Hingga sebagai orang yang tidak paham rentang waktu, tidak akan ada ucapan macam ibu saya dan sebagai nihilis macam kakaknya si teman itu... Ya, tapi kalau nihilis memang gitu lah ya wqwq.

Bagian ini klise tapi percayalah, ceritamu berharga. Tidak ada pengalaman personal manusia yang sama persis satu sama lain...

Dah yes, yang berusaha sok berbeda dan rebel, dengan menegasikan pengalaman orang lain, melipir dulu setelah baca paragraf barusan. Karena kita yang menuduh orang lain membahas hal seragam, lebih jauh tanpa beda dengan yang lain, sesungguhnya akeh pisan kok tunggalanmu.


Sunday, February 14, 2021

Pertalian

Sumber: Nyolong foto Mavalda Junia Sahanah

Orang-orang barangkali heran soal bagaimana pola pikir Umbu Landu Paranggi yang berjalan belasan kilo demi melihat gadis yang ia suka naik bus Jogja-Malang. Umbu bahkan naik bus buat mengintil gadis itu, memastikannya selamat sampai Malang. Umbu tidak pernah melakukan pendekatan berarti hingga kelak gadis itu disaksikannya menikah dengan lelaki lain.

Kamu membaca kisah itu berkali-kali dan tetap tidak memahami bagaimana ada cinta yang rupanya demikian? Bukankah Umbu tidak betul berjuang? Sampah betul konsep mencintai dalam diam. Tapi apakah yang sebetulnya dinamai mencintai dalam diam? Hingga sebuah telepon masuk, dari pacar barumu. Kamu menutup browser yang berisi kisah Umbu, lantas memasang headset dan menekan tombol terima.

Pacarmu itu kelewat cerdas dan memiliki mata sipit yang manis. Inilah pacar yang kamu berhasil perjuangkan, begitu pikirmu. Meski seseorang seolah sedang tajam mengawasimu jauh di belakang pagar kampus. Hingga kamu pun menoleh ke arah belakang, mencari-cari asal tatapan itu dan kembali berkonsentrasi pada telepon ketika hanya mendapati kerumunan mahasiswa yang kamu tidak kenal-kenal amat berseliweran di sana.

Ia ada di sana sebetulnya, menyaru di antara keramaian. Ia yang bersamamu jauh sebelum kuliah, ia yang ucapan cintanya hanya pernah kamu perkirakan sebagai candaan. Selalu kamu ingat ia pula yang temannya sangat banyak dan ekspresi cintanya memang demikian, bukan pada kamu saja.

Tapi hari itu, ia gadis itu...

“Pacar dia baru lagi...” bisiknya sambil menyulut sebatang rokok dari saku almamater.

Siang itu sesungguhnya, si gadis hendak menyapamu dan menggandengmu ke kantin fakultas sastra. Namun ketika melihatmu menelepon seseorang dengan muka merah dan dialog-dialog manis, ia urung mengajakmu makan dan bahkan menyapa saja segan.

Sambil menghembus asap rokoknya ke udara, gadis itu melihat ke arah langit. Ia meraba ubun-ubunnya dan memandangimu yang tengah tertawa-tawa masih dengan headset terpasang di kuping. Mata gadis itu pun menyipit, dilihatnya sebuah tali kuning terhubung horizontal antara ubun-ubunnya dengan ubun-ubunmu.

Tali itu warnanya kian terang hari demi hari, semakin kalian bersama. Namun untuk menjadikan warna tali itu kuning cerah, gadis itu tahu akan butuh waktu lebih dari belasan tahun bersama. Sekali lagi, mata gadis itu menyipit, namun kini ganti memandang langit. Tali berwarna serupa berdiri vertikal di masing-masing kepala kalian, bedanya ia memiliki warna kuning cerah, warna masa depan yang kelak akan kalian raih pula di antara garis horizontal.

Gadis itu mengelus tengkuknya, melempar rokok yang tinggal separuh ke tanah lantas menginjaknya dengan sepatu baletnya yang berwarna coklat.

“Kalau memang menikah dengan yang lain dahulu lalu bercerai adalah jalanmu, baiklah.”

Sekali lagi, gadis itu merogoh rokok dari saku almamaternya. Ia pun kembali menyulutnya dan berjalan menjauhi lokasimu terbahak sambil menelepon.

Ada tali-tali beda warna dan saling terhubung di antara orang-orang yang melintas di sekitar gadis itu. Tali-tali itu saling bertindih hingga seperti jalinan benang tidak berarti yang rumit minta ampun. Namun si gadis selalu tahu, tali-tali yang saling terhubung itu tidak bisa dianggap sekadarnya saja.

Maka esok hari, ketika kamu tidak sedang menelepon pacarmu, gadis itu mendatangimu dan mengajakmu ke kantin fakultas sastra. Seperti biasa, ia rutin menawarimu rokok meski basa-basi saja dan selalu kamu menolaknya. Dan bagaimanapun kamu bertanya kemana kemarin ia pergi hingga tidak mengajakmu makan di kantin, gadis itu hanya tersenyum. Katanya sahabat baik selama belasan tahun, tapi bisa tega begitu tidak mengajak pergi ke kantin, demikian candamu.

“Pacarmu kabarnya gimana?” tanya gadis itu tiba-tiba, disusul wajahmu yang kini berubah menjadi merah.

Sepulang kuliah, kamu berencana mengajak sahabat baikmu itu mampir ke toko perhiasan, membeli cincin dari hasil kerjamu selama dua tahun.


Catatan:

15 Februari 2021

Akhir-akhir ini, saya bukannya mengalami kebuntuan menulis tapi justru mengalami kebuntuan bikin judul. Ya sudah, pokoknya ada judulnya aja begitu...

Ini nyolong foto Valda karena dia fans berat Umbu Landu.

***

Umbu Landu meninggal dunia pada Selasa, 6 April 2021.

***

Ketika awal ditulis, fiksi mini ini berjudul Enaknya Dikasih Judul Apa Hyunk?

Jumat, 17 Juni 2022 baru nemu judul Pertalian.

Monday, February 8, 2021

Ada Kasus Kekerasan Seksual, Aku Harus Apa?

 


Ada kasus kekerasan seksual...

Aku nggak ngerti psikologi...

Nggak ngerti hukum...

Bukan aktivis...

Nggak punya akses membantu...

Lalu aku harus gimana?

1.   Nggak usah menegasikan kasus



Kita nulis di media sosial isinya,’Kalau aku nggak ikut bahas yang lagi ramai ya.’

Kalau nggak mau ikut bahas, diam. Penyintas ada di sekitar kita dan cara menulis macam demikian hanya membuat mereka merasa kejadiannya nggak valid. Ada perasaan,’Temanku menganggap ini nggak penting, berarti akunya aja yang bawa perasaan.’

Yakinlah di sekitar kita ada penyintas. Penyintas ini bahkan bisa dari teman terdekat kita sendiri atau orang yang nggak kita duga-duga. Mereka sedang melihat keberpihakan kita dan berani bersuara tergantung dari itu semua.



2.   Kita berhubungan baik dengan pelaku? Rem dulu



Selagi belum ada kejelasan nasib penyintas, nggak usah tunjukkan kedekatan dengan pelaku. Misalnya habis ngopi bareng lalu bikin story atau membagika  karya tulis pelaku di media sosial kita.

Ingat, para penyintas ada di sekitar. Bisa jadi itu teman terdekat kita sendiri ataupun orang yang nggak diduga-duga.

Menunjukkan hubungan baik dengan pelaku sangat tidak strategis bagi kondisi psikologis penyintas. Penyintas akan berpikir,’Temanku berteman baik dengan pelaku, jadi aku nggak boleh ngomong daripada merusak pertemanan mereka.’ Atau,’Temanku ngopi dan promo karya pelaku, berarti dia ada di pihak pelaku.’



3.   Punya cukup keberanian? Mari, tunjukkan sikap...



Yang berat ini sih. Apalagi kalau pelaku punya hubungan baik dengan kita, lebih-lebih yang selama ini hubungannya merasa pakai simbiose. Jadi ini hanya bisa dilakukan untuk kita yang cukup punya keberanian, yaitu dengan membagikan kasus pelaku di media sosial.

Mau kasih caption atau pernyataan sikap tapi berat? Nggak usah pakai pun nggak mengapa, cukup bagikan. Demikian membuat penyintas percaya diri untuk bersuara semacam,’Oh, temanku membagikan kasus ini. Berarti dia percaya denganku.’

Mengutip Anindya Restuviani Holaback Jakarta via Asumsi.co...

“Percaya pada korban sebelum terbukti sebaliknya adalah kunci utama, bukan malah menuduh aduan tidak berdasar. Butuh waktu dan kekuatan yang besar bagi korban  untik mengungkap kejadian yang mereka alami.”



4.   Nggak punya kapasitas tapi kepo? Rem dulu...



Berapa banyak dari kita yang ketika kasus naik, malah kepo siapa yang menaikkan kasusnya dan siapa penyintasnya? Kalau ada perasaan seperti ini, tahan dulu. Apalagi tujuannya hanya kepo, tanpa kapasitas mendampingi secara psikologis maupun hukum.

Memangnya selain memenuhi rasa penasaran kita, hal apa sih yang dicari dari kepo-kepo begini? Kalau sudah tahu siapa yang menaikkan kasusnya lalu apa? Kalau sudah tahu profil penyintasnya lalu apa? Dijadikan bahan obrolan di tempat kita nongkrong supaya terlihat,’Aku lho yang paling tahu banyak informasi.’ Begitu?

Jadi hal apapun yang kita rasa nggak menyumbang pemulihan penyintas, baiknya direm dulu.


Catatan: Pernah diunggah di Instagram story dan feed, pertengahan 2020.

Wednesday, February 3, 2021

Perayaan Moral

 

Sumber: Gugel


Teman saya satu fakultas, Indri Winegal, dua hari lalu menceritakan pengalaman buruknya dengan seorang teman kos. Si teman ini menegur siapa saja anak kos yang keluar tanpa jilbab, di depan umum. Lebih jauh ia memarahi, bukan hanya menegur.

Indri tentu saja pernah kena. Ia kala itu membeli gorengan di depan kos, tanpa jilbab. Meski sekali lagi, dia bukan satu-satunya. Hingga entah bagaimana warga satu kos akhirnya tahu si ia ini punya foto ciuman dengan pacarnya, juga foto tidak berjilbab di tempat umum. Semua heboh dan hilang respek.

Kehebohan dan hilang respek itu berakhir dengan kalimat,”Kenapa sebagai sesama pendosa saling menghakimi?”

Namun saya justru menggarisbawahi bahwa teman Indri sesungguhnya adalah korban. Tapi bagaimana bisa?

2019 lalu, Celine mengobrol dengan saya soal temannya yang suka sekali berkomentar bahwa baju teman kami yang lain tidak sopan. Si teman lain ini adalah mbak-mbak berusia lebih tua, sama pintar dan produktif juga seperti yang berkomentar itu.

Sempat membatin sih saya, ini jangan-jangan yang memang nggak bermoral saya dan Celine. Jadinya waktu mbak tersebut pakai rok selutut dan baju tanpa lengan, ya menurut kami biasa saja. Meski teman-teman lain ternyata juga berpendapat sejenis tentang mbak tersebut. T... Tunggu, jangan-jangan moral kami yang bobrok berjamaah?

Padahal, Celine bilang banyak saksi soal temannya itu bertukar lidah dan permen dengan laki-laki di sembarang tempat tanpa peduli kenyamanan orang yang tidak punya kaitan dan ada di sekitarnya. Siapapun yang membaca tulisan ini barangkali akan membatin, dia aja begitu, terus kenapa pakai ngomen pakaian perempuan lain?

Komentar soal baju teman lain yang tidak sopan itu terus didengar Celine selagi masih diberi keakraban palsu dan dieksploitasi sepanjang 2018. Sedang setahun sebelumnya, teman Celine itu masih getol mendekati dan hendak mengeksploitasi saya. Ia saya ingat, sepanjang 2017 juga memberi komentar yang bertema moral tentang teman perempuan kami yang namanya Tiara...

Di depan saya, teman Celine kala itu mengomentari Tiara yang punya hubungan terbuka dengan pacarnya. Artinya, mereka berpacaran namun sama bebas berhubungan seksual dengan orang lain.

Mundur lagi setahun sebelumnya, 2016, si Tiara ini pernah juga mengomentari teman kami yang suka menulis fiksi bertema keperawanan. Ia terang-terangan penasaran apa si penulis betul mengalami yang katanya kehilangan keperawanan. Masih dengan terang-terangan, ia mengaku sedang mencari tahu. Ini belum soal si penulis itu ia katakan suntik putih setelah putus dengan pacarnya dan berubah jadi stylish sekali.

Tiara agaknya curiga, si penulis kehilangan sesuatu setelah berpacaran dengan lelaki yang waktu itu. Jadi setelahnya, si penulis dinilai Tiara move up habis-habisan.

Oh, tidak. Teman Celine dan Tiara bukan orang-orang tanpa akses belajar. Mereka justru kenal feminisme jauh sebelum saya. Malah temannya Celine yang meminjamkan buku soal feminisme dan Tiara yang memperkenalkan komunitas feminis kepada saya.

Tapi bagaimana bisa orang-orang yang memiliki akses pengetahuan soal feminisme justru menggunakan isu ketubuhan sesamanya untuk menjatuhkan?

Diakui atau tidak, teman Celine maupun Tiara adalah korban sekaligus pelaku patriarki. Secara teori mereka paham bahwa cara berpakaian, pula keperawanan dalam artian ‘utuhnya’ selaput dara, tidak boleh jadi indikator menilai moral seorang perempuan.

Kalau kamu tanya mereka tentang dua teori tadi, mereka akan menjawab lebih dari jelas soal kebiasaan menilai moral perempuan dari pakaian, bisa berujung kekerasan. Juga tidak semua perempuan terlahir dengan selaput dara...

Baik temannya Celine maupun Tiara, sesungguhnya kecewa dan tidak siap akan pilihan tentang ketubuhan mereka. Tubuh mereka menyenangi pilihan itu namun mental mereka sanksi. Meski mengetahui teorinya, mental mereka masih meyakini perempuan yang kontak fisik sebelum menikah artinya sudah tidak utuh sebagai manusia. Sebetulnya narasi ini jelas kita semua terima sepanjang hidup, semenjak kali pertama bisa mendengar. Bertebaran pula di keluarga, kerabat hingga masyarakat.

Teman Celine maupun Tiara, adalah korban narasi demikian hingga setelah keputusan atas ketubuhannya, mereka merasa tidak lagi utuh sebagai manusia meski sayangnya... Mereka pun kemudian menjadi pelaku. Kedua perempuan ini menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Yang demikian tentu tidak mengobati, meredam sementara saja iya.

Jadi apakah teman satu kosnya Indri mengalami hal serupa? Bisa jadi. Selama itu, ia menutupi rasa tidak utuh atas tubuhnya dengan mempermasalahkan perempuan lain. Dan ya... Mereka semua yang ada di kos itu menjadi korbannya.

Sekarang pertanyaan kembali kepada kita. Jika menyoal ketubuhan kita semua ternyata korban patriarki, akankah kita juga menjadi pelaku? Keputusan apa yang akan kita ambil terhadap tubuh masing-masing? Dan kesiapan seperti apa yang menyertai?

Catatan tambahan 2025: salah satu nama yang ada dalam tulisan ini sengaja menghindari percakapan soal senior organisasinya yang pelaku KS. Penyebutan namanya bisa menjadi ofensif bagi korban. Namu tulisan ini tidak akan dihapus sebagai pengingat.

Monday, February 1, 2021

Yuhu, Gengs...

Setelah menikmati serunya kemungkinan lain soal menulis selama satu bulan, dah niat tuh saya unggah tulisan lagi di sini, dengan jadwal normal selama Februari. Eh, laptop yang isinya jadwal dan tulisan-tulisan malah sekong dongs.


Ya nggak mengapa, kalau hilang pun tinggal nulis lagi. Saya pernah kehilangan puluhan tulisan dari ponsel dan tetap lanjut nulis lagi kok, 2018 lalu.


Sehat selalu ea gengs...

Meski...

Meski luka, sakit dan kematian adalah sebuah keniscayaan yang mana...

Heuh, panjang kalau tema-tema begini diteruskan tuh.


Omong-omong, selain untuk simpan kontak biar nggak semua orang akses nomor WA, kamu ada usulan nggak sosial media saya mau dibuat apa?


Sejak 2019 saya sering bingung para sosial media ini hendak dipakai apa. Sering deaktif dan terakhir, Instagram isinya resensi.


Semalam, dosen jenius kesayangan jamaah PLS, Pak Guntur Waseso WA apa betul saya hilang dari Facebook. Memang sudah enam bulan... Ah, hampir delapan bulan malah.


Pak Guntur menyatakan kangen dengan komen-komen saya di Facebook. Memang untuk bapak dan ibu sepuh di fakultas tuh, jaminan rindu kalau dah kenal ritual komenan dengan saya.


Namun tetap saya bingung. Karena jika aktif pun sosial media hendak digunakan sebagai apa? Jadi baiklah, untuk simpan kontak saja kalau begitu, tetap. Diisi resensi bukunya teman sendiri juga harus.


Di tulisan yang entah kapan, saya akan ceritakan pengalaman menemukan kemungkinan lain dalam menulis. Juga soal akun Instagram yang baru saya buat untuk kemungkinan itu. Masih akun itu yang isinya hanya teman-teman yang betulan minat mengikuti atau sama-sama menulis. Itu pun nama akun saya bagikan lewat jaringan pribadi.


Setelah menjalani tuh, saya jadi tahu kalau menulis memang tergantung niat kita. Niat saya dapat teman misalnya, bersambut betulan di sana. Selama itu, saya memang dapat teman baru yang kualitas obrolannya menyentuh haticuuu... Yang meski foto profilnya bunga atau buku, yang meski mereka sempat hanya tahu foto muka saya yang cuma separuh itu.


Oalah, ini tulisan sebetulnya hanya mau mengabarkan bahwa saya masih hidup kok.


Love.

Wednesday, December 30, 2020

Berbeda Pelangi; Panduan Mengenal Dunia Homoseksual, Karya Ansyah Ibrahim

 

Sumber: Dokumentasi pribadi

Oh, tidak… tidak… kamu keliru jika mengira buku ini berisi halal dan haram dunia homoseksual. Tapi jika kamu berpikir isi buku ini demikian, merasa jijik, bahkan lebih jauh berpikir penulisnya pantas dirisak, lebih baik tutup dahulu resensi buku ini dan baru kembali lagi dengan itikad yang sama; sebagai sesama manusia.

Membaca berbeda Pelangi, nyatanya cukup membuat terkejut. Ansyah di sini sebagai minoritas malah berusaha betul memakai narasi heteroseksual dalam tulisan-tulisannya. Bisa dikatakan, buku ini dibuat oleh seorang homoseksual yang isinya justru ramah terhadap heteroseksual. Nah, bagaimana nih? Yang minoritas justru yang berpikir bagaimana membuat nyaman yang mayoritas.

Buku ini sendiri diambil dari tulisan-tulis di blog Ansyah selama ini. Kata penulisnya sih, ini blog trafficnya suka naik setiap ada media yang memberitakan homoseksual dalam pusaran konflik.

Baik, kita mulai dari Berbeda Pelangi yang isinya bukan halal dan haram…

Ditulis menggunakan gaya bahasa personal dengan tidak banyak sudut pandang orang pertama, halaman 19 berjudul Salahkah Menjadi Gay? Ansyah menyajikan dua sudut pandang antara salah dan benar dalam dunia gay. Tidak ada kesimpulan yang memperjelas posisi sikapnya di sini. Pembaca pun, seperti dibiarkan memilih sikapnya sendiri. Tidak ada kalimat yang menganjurkan pilihan tertentu.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Format menulis dalam tulisan ini, dibuka dengan paragraf pembuka berisi pro kontra soal dunia gay secara umum. Baru kemudian, masuk sub judul; Salah dan Benar, selanjutnya kesimpulan.

Hal pertama yang kan dibahas adalah sisi salah. Ada yang mengatakan apapun alasan yang mendasari seseorang menjadi gay, itu adalah sebuah kesalahan. Tak jarang gay disebut sebagai, ada yang bilang gay itu kelainan gen, atau bahkan lebih ekstrim itu gangguan jiwa. Mereka yang menganggap gay adalah sebuah kesalahan pada dasarnya dipengaruhi beberapa faktor yaitu agama, budaya, sosial dan hukum. (hal 20)

Demikian isi paragraf awal sub judul Salah. Masih dilanjutkan pembahasa agama, budaya dan sosial. Penulis pun di sini tidak meletakkan diri sebagai seorang ahli namun lebih kepada seorang teman. Hal ini terlihat dari kalimat ...mari kita bahas dari segi agama terlebih dahulu. Koreksi saya jika salah…

Sub judul ini dipungkasi narasi bahwa ternyata menjadi gay pun masih menjadi perdebatan di antara teman-teman gay sendiri. Pengetahuan ini tentu baru, bagi teman-teman hetero yang jarang atau sama sekali bersinggungan dengan homoseksual. Narasi ini masih disusul penjelasan mengapa dari perdebatan ini, ada gay yang akhirnya menikah dengan wanita. Dalam cara pandang hetero, gay yang menikahi wanita boleh jadi dianggap kebohongan dan kejahatan, namun dalam sub judul ini, terang dijelaskan bagaimana korelasi anggapan menjadi gay salah hingga seorang gay yang akhirnya memutuskan menikahi perempuan. Ada motif yang ternyata lebih rumit dari yang dikira sekadar kebohongan dan kejahatan.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Paragraf berikutnya berisi sub judul Benar. Terdapat bahasan Hak Asasi Manusia (HAM). Pembahasan seputar setiap manusia memiliki tanggungjawab dan pilihan masing-masing. Kemudian dipungkasi pembaca dipersilahkan memilih sendiri mau mengambil sudut pandang yang mana.

Judul-judul tulisan yang ditelakkan di awal buku, memang banyak yang membahas pertentangan mengenai gay itu sendiri. Peletakan judul-judul tulisan ini agaknya dalam upaya merangkul pembaca hetero yang bisa dipastikan, mula-mula pasti masih bertanya seputar gay salah atau benar? Gay takdir atau pilihan?

Meski jika meletakkan diri sebagai hetero yang sama sekali belum pernah bersinggungan dengan gay, ada beberapa judul yang lebih baik disusun ulang. Beberapa di antaranya, Gay Liberal VS Konservatif dan Pernikahan Semu di Kalangan Gay. Gay Liberal VS Konservatif bisa diletakkan di awal buku, setelah jusul-judul seputar perdebatan seperti Mau Kapan Jadi Seorang Gay? Hingga Gay, Pilihan Atau Takdir. Cukup disangakan ketika Gay Liberal VS Konservatif yang mestinya jadi pembahasan awal, malah diletakkan di tenagh buku oleh Ansyah.

Kemudian Pernikahan Semu di Kalangan Gay, lagi-lagi judul ini diletakkan di tengah buku, padahal judul yang saling terkait justru ada agak jauh di halaman sebelumnya. Judul ini lebih cocok diletakkan sebelumatau sesudah Jika Ayahku Seorang Gay, Jika Anakku Seorang Gay dan Jika Suamiku Seorang Gay. Satu lagi judul yang cocok diletakkan di antara tulisan-tulisan yang saya sebut ini, Kisah Wanita yang Menikah Dengan Seorang Gay. Tulisan ini berisi contoh kasus dan justru diletakkan terlalu jauh dari judul-judul terkait, halaman 129! hampir di seperempat akhir buku.

Lanjut pada, Berbeda Pelangi memakai narasi ala heteroseksual…

Meski tidak semua narasi ala heteroseksual dan beberapa di antaranya bagi heteroseksual akan terasa semacam duh, kok aku disalahkan ya? Namun narasi ala heteroseksal itu terlihat salah satunya dari tulisan Bisakah Gay Sembuh? Istilah ‘sembuh’, tentu aja sangat hetero. Bagi banyak hetero, hal-hal di luar menyenangi lawan jenis lebih layak disebut harus disembuhkan. Iya… iya… sebagian lagi memang tidak demikian. Ini bagi yang tidak canggung bersinggungan dengan gay sebagai teman atau kerabat.

Dalam judul Bisakah Gay Sembuh? Terdapat lagi sub judul antara lain; Penyebab Menjadi Gay, Hapus Semua Aplikasi Gay, Tinggalkan Lingkungan Gay, Mendekatkan Diri Kepada Sang Pencipta, Aktif Kegiatan Sosial, Menikah. Sub bab-sub bab ini isinya memang memakai narasi hetero. Di antaranya penjelasan menjadi gay salah satunya karena pergaulan. Sebagai hetero, kisah menjadi gay karena lingkungan begitu jamak saya dengan dan barangkali kamu juga. Kerap kali, narasi satu ini membuat minggir kisah-kisah lain semacam ada pula gay sejak kecil. Terbawa pergaulan ini, masih juga sepaket dengan kisah gay menular. Tentu tidak hanya saya yang mendengar narasi macam ini sejak kecil di antara penutur yang semuanya juga hetero.

Istilah ‘sembuh’ ini juga diulang pada beberapa judul lain, ditambah dengan istilah ‘zona abu-abu’ yang seperti mengamini pandangan hetero bahwa dunia gay sepenuhnya tidak benar. Selain pemakaian istilah yang ramah hetero, ada juga pemakaian istilah yang menjadi jembatan. Simak kalimat berikut…

Pilihan untuk menikah… berjanjilah pada diirmu sendiri bahwa kamu akan bertanggungjawab atas pilihan tersebut… (hal 96)

Bagi teman-teman homoseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, yang diajak ngomong itu aku.” sedang bagi heteroseksual, kata ‘kamu’ akan terasa seperti,”Oh iya, seandainya aku ada di posisi itu…”

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sedang dalam judul Jika Suamiku Seorang Gay dan Jika Ayahku Seorang Gay, terdapat dua pendekatan berbeda. Suamiku Seorang Gay, menyajikan pilihan; mencari alasan (suami menjadi gay), memberi kesempatan kedua, istikharah hingga bercerai. Narasi dari pilihan-pilihan tadi terlihat semacam itu pilihanmu, itu hakmu. Judul tulisan satu ini, kuat memakai narasi hetero. Hetero yang mengalami kejadian serupa atau teman hingga kerabatnya yang mengalami, akan merasa tidak disalahkan ketika memilih apapun jika merujuk tulisan ini.

Namun tidak demikian dalam Ayahku Seorang Gay. Ada penekanan seorang anak yang mengalami hal tersebut untuk melakukan refleksi diri paksa. Semacam disarankan mengingat berapa biaya yang ayahnya keluarkan untuk dirinya hingga penekanan untuk memaafkan. Bagi hetero yang mengalami hal tersebut, bisa jadi akan merasa ayahku yang nggak jujur, aku juga yang dimarahi? Namun justru letak otentiknya buku yang ditulis langsung oleh teman gay memang ada di sini.

Upaya Ansyah menjembatani dengan menggunakan narasi hetero tentu saja keren, namun narasi homoseksual seperti dalam Ayahku Seorang Gay tetap juga mesti kita pelajari. Lha, sepanjang buku sudah banyak narasi ala heteronya kok, beberapa yang narasinya homoseksual justru bikin kaya toh?

Perkara ejaan, sedikit saja yang salah ketik atau kalimat tidak efektif, jadi tidak perlu saya bahas di sini. Ansyah sendiri menulis dengan cukup rapi. Meski bagi pembaca yang barangkali sudah terbiasa membaca jurnal atau tulisan ilmiah lain tentang homoseksual, barangkali akan merasa susunan tulisan Ansyah terasa lamban. Namun untuk yang satu ini, tentu tergantung pengalaman personal. Sebagian orang barangkali tidak merasa butuh disajikan kutipan pengertian dari Wikipedia yang disajikan Ansyah, sedang sebagian lainnya masih butuh.

Selebihnya, pembaca diajak mengenal pilihan-pilihan hidup gay yang ternyata serba terbatas. Bahwa teman-teman homoseksual nyatanya bukan sebatas pemberitaan yang lebih banyak di pusaran konflik seperti prostitusi misalnya. Teman-teman homoseksual ada pula yang dihadapkan pada ketakutan hidup sebayang kara di hari tua, sedang sulit bagi mereka menyenangi sesama jenis sedang standar masyarakat menggambarkan normal artinya menikahi lawan jenis. Kalaupun menjalani pernikahan dengan lawan jenis, masih ada pula permasalahan seperti pasangan dan anak yang baru mengetahui orientasi seksual ayah atau suami mereka belakangan. Belum lagi keinginan berhubungan dengan sesama jenis yang tidak bisa dibendung sekalipun telah menikah dengan lawan jenis. Motif-motif manusiawi dijabarkan pula oleh Ansyah dalam setiap penuturannya.

Dalam bertutur, Ansyah lebih banyak menggunakan sudut pandang orang ketiga. Buku ini pun secara otentik, merekam pengalaman personalnya sebagai seorang gay.  Pengalaman demikian, tentu beda pendekatan dengan jurnal atau tulisan ilmiah yang berbasis data. Ansyah pula, menulis buku ini hingga lebih terasa sebagai seorang teman yang tengah menggandeng tangan kita, menuntun dan menceritakan segala sesuatunya dengan perlahan…

 

Judul buku                 : Berbeda Pelangi (The Hidden Life Part 1)

Penulis                        : Ansyah Ibrami

Tebal                       : 170 halaman

Tahun terbit               : 2020

Penerbit                       : Indie Book Corner (IBC)

ISBN                               : 978-602-309-480-6


Thursday, December 24, 2020

Terimalah, Grooming Nggak Melulu Senjatanya Persona Baik

Sumber: Google

Ya begitu, grooming ternyata ada dua jenis; dengan persona baik atau persona buruk. Hah, persona buruk? Bukannya grooming cuma pakai persona baik aja? Iya, jadi begini...

Pertama, grooming dengan persona baik.

Pelaku membentuk persona baik menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya itu agamis, ya personanya agamis. Kalau sasarannya itu aktivis, ya personanya progesif. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan manfaat bagi tempat yang ia jadikan sasaran persona.

Lalu ketika ada orang yang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya ngerti agama gitu kok.”

“Nggak mungkin lah dia menyakiti, dianya progesif gitu kok.”

Kedua, grooming persona buruk.

Pelaku membentuk persona anak bengal menurut standar masyarakat. Kalau sasarannya agamis, ya ngaku minum. Kalau sasarannya feminis, ya bersikap seksis. Kalau sasarannya sobat mental health, ya ngomong tanpa menimbang perasaan. Tidak jarang, para pelaku ini menunjukkan solidaritas sesama pelaku.

Lalu ketika ada orang mengaku disakiti, maka para sasaran pelaku akan bilang...

“Kamu aja yang bawa perasaan, udah tahu dia anak mabok.”

“Kamu aja yang ndakik-ndakik. Udah tahu dia suka yang mulus-mulus.”

“Kamu aja yang nggak open minded. Udah tahu dia kalau ngomong nggak pakai filter.”

Yang pakai grooming persona buruk tentu saja memang revolusioner. Lha, grooming persona baik memang sudah usang, terlalu banyak yang pakai. Grooming jenis ini juga cepat ambruk ketika sekali atau dua kali ketahuan. Pura-pura baik juga pelik sih kalau bukan jati diri asli.

Terus ya, orang dengan grooming buruk ini bisa dengan cepat mendapat label ‘keren ih, dia tuch apa adanya’. Itu karena kita semua sudah bosan dengan persona baik yang di kemudian hari nggak sesuai harapan. Jadinya ketika ada yang nggak menutupi buruknya, langsung deh kita kira apa adanya. Padahal ya... Nggak jauh-jauh dari grooming lagi dan grooming juga.

Jadi, grooming mana pilihanmu?

Tuesday, December 15, 2020

Selamat tinggal, banner lawas...

2018, seorang senior di FLP satu waktu ngomong, harusnya blog ini bisa diadsense. Tulisan di blog ini menurut senior tadi, aslinya tidak main-main dan layak jadi duit. Tentu saja tulisan yang dimaksud, utamanya yang ada di label 'keseharian'.

Tanggapan demikian hanya akan datang dari teman yang betulan membaca blog ini. Blog yang selama tujuh tahun sengaja tidak dibikin SEO friendly. Sudah begitu, alamatnya suka dibilang alay dan judulnya suka dipertanyakan, kenapa pakai nama itu.

Bulan ini, isi blog ini genap empat ratus sekian. Begitu-begitu, beberapa saja yang hasil unggah ulang status sosial media teman yang berkesan atau tulisan kegiatan teman yang ada saya nongky pula di situ.

Pernah juga ini blog kena perapihan jalur oleh Google di 2017, hingga trafficnya naik tidak masuk akal hanya pada tulisan tertentu yang nggak SEO friendly pula. Bisa sampai seratus lebih views per hari, padahal sebelumnya, empat puluh pun nggak tentu. Dampaknya, blog ini dikira punya aktivitas mencurigakan oleh Google hingga 2018 traffic terjun bebas dan 2018 saya jadi atur jadwal unggah tulisan supaya lepas dari anggapan status mencurigakan tadi hingga blog ini nggak sampai dilenyapkan dari jagat per-Google-an.

2018 hingga 2019, blog akhirnya stabil dengan lima puluh views per hari. Itu pun pada tulisan yang nggak sengaja SEO friendly dan sempat saya tulis semacam; artikel Dijah Yellow, Pinky Boy dan terjemah lagu. Sedang tulisan lain mustahil dijangkau kecuali oleh teman sendiri. Selebihnya, dua puluh views per hari blog ini dapat hingga akhir 2020. Jadi jelas ya, kenapa adsense itu mustahil.

Lupa tepatnya tahun berapa, saya bikin polling di Instagram. Isi pollingnya soal seberapa mungkin saya beli domain dalam pikiran teman-teman. Sebagian besar menebak, saya bakal beli domain. Nah, yang mikir saya bakal beli domain tuh, macam yang mengira kuliah saya lulusnya tiga setengah tahun... Ketinggian ekspektasi cuy.

Blog ini nggak akan saya belikan domain. Terlalu rumit ketika kelak saya mati, masih juga harus mikir ini blog harus diwariskan pada siapa untuk seterusnya memerpanjang dan bayar domain. Kalau nggak diperpanjang dan hilang kan sayang juga cuy, saya nggak dapat amal jariyah dongs. Jadi mati dengan ceria, tanpa beban bayar domain hanya bisa dilakukan dengan blog gratisan.

Lalu kenapa template dan banner ini blog macam nggak niat gitu? Template bawaan, banner konsepnya nggak jelas dan gambarnya asal nemu. Itu karena saya memang mau bikin standar rendah untuk tampilan blog ini. Jadi ketika orang lihat ini blog, kemungkinan akan bergumam, bikin gini aja aku juga bisa kali. Ya udahlah, aku bikin dan nulis di blog juga. Blogspot gratis lagi.

Biar kelak unggahannya ada seribu pun, saya nggak ingin menulis terlihat eksklusif di blog ini. Saya selalu senang, ketika ada teman berniat main blog lepas karena melihat semangkaaaaa tercinta kita ini atau karena hal lain. Tapi awas ya, kalau mutung hanya perkara viewers. Kalau nggak cinta bilang dari awal gitu dongs. Cinta mana kenal traffic? Saya pun yang viewersnya nggak jelas sampai sekarang tetap maju aja tuh.

Terakhir, selamat datang banner baru yang ambil gambar dari Canva dan tetap didesain dengan sangat sederhana. Semoga seterusnya, blog ini bisa mengajak orang sekitar merasa bahwa menulis itu nggak eksklusif. Omong-omong, ini saya nulis langsung pakai hape di blog. Tampilan antar muka yang sekarang memang pelik sih dipakai ngetik langsung begini. Semoga segera balik tampilan lawas ya, Google. Huhuu, coba hitung tipoku yang sudah hilang semua soalnya tiga puluh menit lalu sudah diedit.

Lama

Baru

Catatan: 

Minggu, 24 April 2022

Nemu gambar Usagi Tsukino di sini dan lebih mewakili jiwa blog ini ketimbang donat. Jadi ya...


Hehe.

Tuesday, December 1, 2020

Imanen

Sumber: Instagram xiuros._.f


Dua tahun ini saya sakit, hampir mati dan... Justru setelahnya lebih sering tertawa bersama-sama Tuhan. Bagaimana bisa disebut tertawa bersama? Karena saya jadi mencapai kesadaran-kesadaran baru soal Tuhan yang kontradiktif dan suka bercanda.

Di tahun pertama, saya marah melihat kematian sendiri yang begitu diusahakan. Apa salah saya? Kenapa bisa kematian ini begitu diharapkannya? Hingga pemikiran tadi, masih bertambah dengan... Apa saya yang salah tapi nggak mau sadar hingga upakara kematian ini baginya dirasa adil?

Pertanyaan-pertanyaan di paragraf kedua tadi ternyata lenyap di tahun kedua. Di tahun ini pula, saya memahami bagaimanapun sebuah kematian diupakara, takdir Tuhan masih luar biasa besarnya.

Kita, manusia, memang kerap narsis saja. Menjegal karir orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang cerdik sampai berhasil menjegal. Membunuh orang lain dan berhasil, kemudian merasa... Ah, itu karena aku yang kuat sampai berhasil membunuh.

Padahal kena jegal hingga kematian adalah keniscayaan. Semua orang pasti pernah atau akan merasakannya. Lalu bagaimana dengan diri kita yang narsis tadi? Ada perasaan gede rasa bahwa kita, manusia, adalah penyebab segala sesuatu bisa terjadi.

Yang membedakan kena jegal dan kematian sesungguhnya hanya cara-caranya saja. Cara adalah alat, jadi siapa si pemilik alat? Gitu kok gede rasa amat, sudah merasa jadi tokoh utama. Padahal ya... Hanya alat.

Demikian yang saya pelajari selama dua tahun pertapaan ini. Sesuatu yang mulanya saya tangisi karena masih memiliki perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut. Perasaan kehilangan, perasaan ada sesuatu yang direnggut, bukankah itu hanya dialami oleh kita yang merasa memiliki?

Hal ini pun membuat saya mereka ulang pemaknaan ‘siapa diri saya?’ dan lebih jauh ‘apa yang sesungguhnya saya miliki di dunia ini?' Yang kemudian membawa saya pada keadaan ikatan-less. Sesuatu yang mengejutkan dan salah dua teman yang nyambung dengan keadaan saya ini adalah mbak Siti Nurvianti dan suaminya, mas Lukman.

Perkenalan saya dengan mbak Vian 2015 lalu dan pernikahannya dengan mas Lukman jelas bukan kebetulan. Perjalanan spiritual mereka sudah ugal-ugalan sehingga ketika adiknya ini mengalami kegilaan dalam perjalanan itu, merekalah yang bisa memberi pemahaman.

Kondisi ikatan-less ini pun membuat saya bertanya-tanya... Mengapa kita lahir dan mati sendirian, namun sepanjang hidup sangat ribut dengan ikatan? Kok mirip lirik lagunya Blackpink Lovesick Girls ya? Begini bunyinya... But we were born to be alone, but why we still looking for love. Yang ketika lagu ini rilis, teman saya Noval langsung mengirim pesan berbunyi,”Lagu iki awakmu banget awokokok...”

Orang tua saya menangis karena saya hampir mati. Diusahakannya saya berobat kesana dan kesini supaya bertahan hidup. Teman-teman saya mengutuk kesakitan-kesakitan itu dan mengusahakan pula bagimanapun saya mesti hidup.

Apa yang sebetulnya orang tua dan teman-teman saya cari? Apakah itu adalah usaha untuk lari dari kehancuran akibat kehilangan? Tapi bagaimana jika yang demikian disebut cinta? Apa sebetulnya yang disebut cinta?

Sedang di waktu yang lain lagi, ibu saya dan seorang tetangga yang juga ibu-ibu, menangisi kematian Opet. Opet adalah kucing oranye milik keluarga kami yang juga senang berkunjung ke rumah keluarga si tetangga tadi. Tangisan demikian ternyata adalah tangisan kehilangan, tangisan bahwa tidak ada lagi cinta yang bisa diisi jika Opet tidak ada.

Jika ada kehilangan, bukankah ada perasaan memiliki? Jika yang dimiliki itu hilang, bukankah perasaan memiliki itu jadi luka? Jadi apa itu cinta?

Kemarin saya baru saja tertawa-tawa soal bagaimana Tuhan membuat kita lahir sendirian, mati sendirian, namun sepanjang hidup mesti ribut dengan ikatan. Oke, sudah berapa kali saya mengulang kalimat ini kecuali bagian tertawa-tawanya?

Orang tua siswa melabrak guru karena tidak terima anaknya dicubit...

Seorang kakak, meninju muka teman adiknya karena tidak terima adiknya itu dirisak...

Kita menyumbang uang lewat internet untuk seseorang yang sakit dan tidak kita kenal di dunia nyata...

Apa yang terbesit dalam otak teman-teman ketika saya tanya, kenapa? Kenapa bisa ada tiga kejadian di atas?

Tidak terima?

Tidak adil?

Kasihan?

Cin... Ta...?

Tidak terima, tidak adil dan kasihan kepada siapa sesungguhnya? Lalu apa itu cinta?

Bukankah ada bagian dari diri orang tua yang melabrak itu terluka, sehingga ia melabrak guru anaknya? Bukankah ada sesuatu dalam diri kakak itu yang luka, membuat dirinya meninju teman adiknya yang merisak? Bukankah ada bagian dari diri kita yang terluka, sehingga menyumbang kepada orang asing yang sakit lewat internet?

Dan kita ternyata... Senantiasa hancur oleh karena kehilangan. Jadi upaya-upaya yang mengarah pada kehilangan tadi, berusaha betul kita libas supaya tidak terjadi.

Guru itu mencubit anak kita...

Adik kita dirisak temannya...

Orang sakit di internet tidak punya biaya...

Bagaimana kalau mereka luka kemudian mati? Ada sesuatu dalam diri kita yang turut merasa hancur. Perasaaan kehilangan... Senantiasa menghancurkan...

Bagaimana dengan seorang penguasa yang tidak mau kehilangan wilayahnya?

Bagaimana dengan pemangku kebijakan yang tidak mau kehilangan duitnya?

Bagaimana dengan seorang warga yang tidak mau kehilangan rumah yang menahun ia tinggali?

Bagaimana dengan orang-orang yang takut hutan gundul karena tidak mau kehilangan oksigen?

Jadi apa itu cinta?

Bukankah hal-hal yang saya sebut di atas tadi menimbulkan masalah antar sesama manusia? Kenapa manusia harus hidup dengan keterikatan? Kenapa manusia harus hancur ketika kehilangan? Apa yang Tuhan mau, dengan membiarkan manusia memiliki keterikatan dan rasa hancur akibat kehilangan?

Kehilangan dan kematian adalah keniscayaan. Namun kita, manusia, meski sudah mengetahui hal yang demikian masih juga histeris ketika mendapatinya.

Bayangkan ketika dunia ini dipenuhi manusia-manusia yang tidak berusaha mengingkari kehilangan dan kematian...

Orang tua yang diam saja melihat anaknya dicubit guru.

Kakak yang diam saja melihat adiknya dirisak.

Kita yang diam saja melihat seseorang di internet sakit dan butuh biaya.

Penguasa yang diam saja kehilangan wilayahnya.

Pemangku kebijakan yang diam saja kehilangan duitnya.

Seorang warga yang diam saja kehilangan rumahnya.

Orang-orang yang diam saja kehilangan oksigen karena hutan gundul.

Akankah dunia damai ketika semuanya diam? Apakah dunia akan damai tanpa rasa takut dan kehancuran setelah kehilangan? Jadi apa itu cinta?

Kehancuran atas kehilanganlah yang selama ini membuat dunia ini terus bergerak. Memilikinya adalah anugrah. Tuhan membuat hidup setiap orang berdetak dengan cara demikian.

Jika ada orang-orang yang mencapai kesadaran soal candaan Tuhan satu ini, itu pun untuk penyeimbang saja. Itu pun bahaya sekali jika orang-orang tadi tidak mencapainya dengan kesiapan, karena jelas dirinya kemudian akan kebingungan dan merasa hidupnya tidak ada alasan lagi buat berdetak.

Namun... Sebuah ikatan, rasa hancur akibat kehilangan adalah juga soal perjalanan yang lain. Sesuatu yang orang-orang dengan ikatan-less belum tentu bisa merasakannya kembali. Ada keberanian yang sangat dibutuhkan untuk menjalani jalur yang satu ini.

Orang-orang dengan ikatan-less cukup jauh dari perasaan hancur akibat kehilangan dan sejak awal sudah mengembalikannya kepada Tuhan. Ikatan-less itu semacam perintang yang hilang dari jalan jenis orang ini sehingga lebih cepat kembali pada Tuhan. Sedang orang-orang dengan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan, jalannya akan lebih pelik untuk kembali pada Tuhan. 

Ada yang menimpakan ikatan dan perasaan hancur atas kehilangan itu pada dirinya sendiri, kalaupun bangkit juga dengan kakinya sendiri. Ada juga yang menimpakan rasa sedih, takut, dan hancurnya pada pada orang lain, kalaupun bangkit mesti dengan menginjak kepala yang lain. Jadi apa itu cinta?

Untuk mengalami ikatan-less, kamu nggak harus mengalami hal-hal semacam pernah mati suri. Ikatan-less pula bukan sebuah pencapaian. Adapun saya ada di sini hanya sebagai penyeimbang, menyampaikan segala yang saya sudah utarakan di atas, hari ini, tahun ini. Jadi jika hari ini, kamu hancur karena kehilangan, perasaanmu itu valid.

Melewati perjalanan spiritual yang ugal-ugalan, justru membuat saya memahami, perasaan hancur karena kehilangan bukan hal yang remeh. Itu semua adalah perasaan berulang yang mesti dialami sepanjang hidup. Justru saya salut, kepada teman-teman yang  berani menikah, memiliki pasangan dan anak dengan kejelasan bahwa kelak di depan sana pasti ada kehilangan dan kematian, ada perasaan yang hancur setelahnya.

Lantas setelah perasaan hancur, apakah selama itu kita bisa berdiri tanpa menginjak kepala orang lain? Apakah selama itu, kita bisa berdiri dengan menginjak kepala orang lain? Kepada Tuhan akahkah kita kembali? Itulah cinta, selebihnya Tuhan ingin kita tertawa bersama... Lalu di dalam jiwa kita hanya ada satu kalimat menggema... Sangkan paraning dumadi...