Saturday, February 1, 2020

Profesi Tak Diwariskan dan Mengapa Rian Firmasnyah (Tidak) Mesti Menjadikannya Sebuah Buku

Depan buku. Sumber: Dokumentasi pribadi

Secara personal, Rian Firmansyah memang memiliki pesona. Pesonanya bisa menjerat orang buat sukarela bekerja dengan atau tanpa dibayar. Bahkan tanpa diajak pun, seseorang bisa menyerahkan diri begitu saja buat bekerja bersamanya, bergabung bersamanya. Maka buku ini, saya garis bawahi sebagai karya kolaborasi yang selain hasil kreasi, juga tercipta karena pesona personal seorang Rian. Karena ya, dalam buku ini, terdapat dua orang ilustrator dan seorang tukang kaver yang bergabung dengan sepenuhnya kerelaan hati*. Tidak lupa, pesona ini pula, yang secara alami membentuk pasar pembaca Rian. Jika tidak betul-betul butuh membaca karyanya, seseorang masih punya alasan membeli buku ini karena sosok Rian yang membekas.

Meski memiliki judul Profesi Tak Diwariskan (selanjutnya disebut PTD) yang memberi kesan buku ini sebagai kumpulan esai, nyatanya ada sajian cepen dan puisi yang dibuat berselang-seling di dalamnya. Sebagian tulisan, pernah saya baca di blog Rian memang, karena saya memang mengikuti blognya. Dan cukup membuat mata gatal, ketika Rian ternyata kadung mencetak buku ini dengan hampir seluruh tulisan di dalamnya yang berantakan soal pemenggalan kalimat. Padahal, pada tahun 2018 saya sudah pernah berkomentar di blognya mengenai pemenggalan kalimat ini.

Melalui buku ini, agaknya Rian coba melakukan lompatan soal hobinya menulis. Niatnya hanya mencetak dan bukan memakai kata ‘beli’ melainkan ‘barter karya’, begitu kata Rian. Memerkenalkan karya, dua kata ini saya kira cocok buat menggambarkan mengapa PTD sampai dicetak. Hingga saya ingat, semenjak 2014, saya melakukan pula hal rupa yang bedanya, dicetak sangat terbatas dan dijilid sederhana. Cetakannya juga tidak saya jual, melainkan dibagikan pada beberapa teman saja. Meski pada tahun-tahun berikutnya, biaya cetak yang mahal membuat saya membagikan tulisan dalam bentuk e-book dan berlangsung hingga 2019 lalu.

Langkah Rian strategis memang. Jika blog walking tidak sempat dilakukan di tengah rutinitas kerjanya, maka mencetak dan menyebarkannya bisa menjadi langkah lain untuk mendapat apresiasi, entah dari kawan sendiri maupun pembaca baru. Apresiasi ini bisa dalam bentuk pujian maupun kritik.
Lembar pertama buku. Sumber: Dokumentasi pribadi
Lepas dari konsep yang menarik, bagaimana dengan kualitas tulisan Rian? Selain pemenggalan kalimat dan banyak teknik dasar yang mesti Rian benahi, perkara cara menulis dan cara menganalisa agaknya juga mesti menjadi PR buat Rian. Mari kita bahas satu per satu mulai dari ejaan…

Dalam tulisan Honor, halaman 74, ‘diantara’ semestinya ditulis ‘di antara’. Namun perkara preposisi ‘di’, Rian hampir sangat sedikit melakukan kesalahan. Dengan demikian dapat disimpulkan, ini murni kecerobohan dan bukannya karena Rian belum mengerti preposisi ‘di’. Kemudian dalam tulisan Isyarat Bunga, halaman 110, terdapat paragraf,‘Pagi harinya, tepat pukul 6.30 WIB. Bersama para peserta dan panitia. Kita sepakat senam pagi bersama. Untuk mengawali kegiatan di hari kedua “Youth Camp” itu.’ Penggunaan sudut pandang ‘saya’ sepanjang tulisan, membuat kata ‘kita’, semestinya diganti menjadi ‘kami’.

Dalam Isyarat Bunga, penulisan judul Youth Camp, dapat pula ditulis tanpa tanda kutip. Jika memang ditujukan menandai judul acara yang tengah diceritakan, penggunaan huruf kapital di awal kata sudah cukup. Bagaimana dengan pemenggalan kalimat? Paragraf ini adalah contoh dari masalah pemenggalan kalimat Rian sepanjang buku dan berulang. Pemenggalan yang tidak tepat, berakibat kalimat jadi nampak tertatih. Pemenggalan yang lebih tepat dapat dilakukan seperti ini,‘Pagi harinya, tepat pukul 6.30 WIB. Bersama para peserta dan panitia, kami sepakat senam pagi bersama untuk mengawali kegiatan di hari kedua “Youth Camp” itu.’

Tidak saya bedah semua ya. Karena ini tugas Rian untuk kembali mengoreksi karya perdananya ini. Apalagi, saya sudah mengingatkannya jauh-jauh hari via blog. Yakin saya, pembaca yang lain pun bisa menemukan masukan serupa. Dan lagi, predikat penulis yang secara umum disemat orang-orang kepada siapa saja yang berani meluncurkan buku, mestinya menjadikan Rian makin semangat menerima semua saran juga menerapkannya.

Oke deh, saya beri bonus dalam tulisan Marah, halaman 153. begini isi paragrafnya,’Ialah Bambang AW. Begitu sapaan akrabnya. Ia dikenal sebagai pelukis, penulis dan dosen tamu di beberapa universitas di Kota Malang. Pria berwajah tenang dan teduh. Pria yang kerap mengenakan sarung motif batik saat santai di rumah itu. Telah mengajakan pada saya, jika pentingnya mengendalikan amarah. Ia mengelola amarah jadi sebuah karya, berhulu rasa melaju ke hilir cipta.’ Sudah menemukan bagaimana semestinya? Coba bandingkan dengan paragraf berikut,’Ialah Bambang AW, begitu sapaan akrabnya. Ia dikenal sebagai pelukis, penulis dan dosen tamu di beberapa universitas di Kota Malang. Pria berwajah tenang dan teduh yang kerap mengenakan sarung motif batik saat santai di rumah itu, telah mengajarkan pada saya, tentang pentingnya mengendalikan amarah. Ia mengelola amarah jadi sebuah karya, berhulu rasa, melaju ke hilir cipta.’


Ilustrasi oleh Domesia. Sumber: Dokumentasi pribadi
Perkara ejaan saya temukan kembali dalam Munir, halaman 192. Terdapat kalimat,’Tetapi aktivis HAM di Indonesia dan mereka yang pernah dibantu oleh Munir, siapa saja mereka? Iya, mereka yang tertindas oleh oleh hukum dan kekuasaan.' Menemukan sesuatu? Betul, Rian menulis huruf kecil setelah tanda tanya. Hal ini berulang di banyak tulisan. Saya tidak tahu apakah memang hal ini dibuat menjadi ciri khas seperti judul satu kata dalam banyak tulisannya. Karena dalam banyak tulisan lain seperti Kado, halaman 120 terdapat kalimat, ‘Apakah semakin banyak OTT dari KPK? Entahlah’ Dan ya, di sana Rian menulis huruf kapital setelah tanda tanya.

Lepas dari kaidah menulis dasar, bagaimana dengan cara menulis Rian dalam buku ini? Kabar baiknya, beberapa tulisan memiliki paket lengkap, yaitu layak jual dan bagus. Beberapa dan tidak banyak…

Jadi mari membahas mulai dari Amy Chua dan Hawkins. Dua tulisan ini mewakili Rian yang gemar menulis hasil pembacaannya atas buku dengan tema tokoh. Layak jual? Tidak. Cukilan buku tidak membawa kebaruan pada pembaca. Bisa jadi, pembaca malah lebih tahu atas kisah para tokoh tersebut dari hasil pembacaannya sendiri. Tulisan jenis ini, patut Rian lanjutkan sebagai bentuk mengabadikan hasil pembacaan, tapi hanya untuk di blog, semoga tidak lagi untuk dijual.

Bagaimana menyiasati hasil pembacaan agar layak jual? Bentuknya dapat diubah menjadi resensi yang lebih analitis. Analitis bukan berarti Rian mesti memaksa memakai teori. Karena kesederhanaan sudah jadi mereknya Rian, memahami hubungan sebab akibat atau menghubungkan isi buku dengan dunia nyata, sudah cukup.

Puisinya bagaimana? Pertama, saya tidak bisa bikin puisi dan hanya bisa membedakan baik dan kurang baiknya. Intinya, puisi-puisi dalam buku Rian bukannya baik atau kurang baik namun… biasa saja. Bagi yang lebih memahami soal puisi, boleh ini dibahas lebih jauh agar jadi masukan untuk karya-karya Rian berikutnya.


Ilustrasi oleh Unartifisial. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Cerpen? Hanya ada satu cerpen yang mewakili merek sederhananya Rian dan cukup mengena, judulnya Indoktrinasi Pak Lurah. Jika dibanding cerpen-cerpen lain dalam PTD, Indoktrinasi Pak Lurah memiliki paket lengkap; kesederhanaan, penokohan kuat, jalan cerita yang runut, kejutan dan nilai moral. Formasi paket lengkap ini agaknya memang hal-hal yang ingin dicapai Rian dan terlihat dari pola-pola cerpennya yang lain, meski ya, hanya pada satu cerpen saja nilai-nilai tadi ternyata bisa dicapai.

Esainya? Sebagai bocoran, buku ini lebih banyak memuat esai. Format esai Rian kebanyakan digugah oleh hasil pembacaannya terhadap buku, lantas dihubungkannya dengan kejadian di sekitarnya. Menarik? Ya. Format demikian bisa membawa kebaruan pada pembaca. Ketika buku yang serupa bisa dibaca oleh siapa saja dan bisa jadi, pembaca lain malah lebih menguasai isi buku tersebut ketimbang si penulis esai, namun keberadaan pengalaman nyata, membuat kebaruan pengetahuan bagi pembaca. Meski sayangnya, Rian sendiri agaknya belum mantap dengan format seperti ini.

Dalam esai berjudul Honor misalnya, Rian lebih banyak memamerkan pengetahuannya akan buku bacaan. Sempat memang ia coba menghubungkan dengan pengalaman nyata, namun pada akhirnya, ia tetap lebih banyak memamerkan pengetahuannya akan buku. Padahal, bahasan mengenai guru honorer dalam esai ini sesungguhnya menarik. Rian memang cukup apik dalam penggalian tema. Tapi pada akhirnya, pengalaman nyata yang semestinya lebih membawa kebaruan pengetahuan, justru hanya ada 15% dalam keseluruhan tulisan. Format tulisan semacam Honor ini, juga terulang dalam banyak esai lain dalam PTD, Summerhill School salah satunya.

Dalam satu esai, apabila seorang tidak benar-benar memiliki bacaan sangat luas, satu atau dua kutipan dari buku saja sebenarnya sudah cukup. Kemudian porsi lainnya diisi apa? Pengalaman nyata yang berkaitan dengan kutipan buku. Pengalaman ini tidak melulu harus dialami sendiri, bisa juga dari pengalaman orang lain, hasil membaca blog orang atau pemberitaan dari media massa yang porsinya belum masif.

Rian mesti menghentikan keraguannya dalam menulis esai. Sekali lagi, kesederhanaan adalah mereknya. Tanpa setumpuk bahan bacaan yang orang lain bisa jadi ternyata lebih tahu, esai karyanya akan tetap bisa mendalam. Bahkan saya justru melihat Sarehan, sebagai salah satu dari tidak banyak tulisan bagus dalam PTDnya Rian ini. Meski ya, relatif untuk tulisan satu ini bisa disebut layak jual.

Bagaimana Sarehan bisa disebut bagus? Tidak ada penyebutan hasil pembacaan buku atau artikel dalam tulisan ini yang sepertinya malah membuat Rian lebih menikmai proses menulisnya. Kisahnya yang sangat dekat dengan sisi personal Rian justru menyentuh ketika dibalut penyampaian yang sederhana, tanpa istilah sukar. Meski Sarehan, minus dalam penulisan dialog langsung yang dicetak miring dan juga diulang Rian dalam tulisan-tulisannya yang lain. Mau dibilang cara menulis dialog macam ini sebagai ciri khas? Lagi-lagi dalam banyak tulisan yang lain lagi, dialog langsung ditulis tegak oleh Rian. Namun lebih dari semua itu, persoalan kesepian ternyata tetap bisa mendalam dalam Sarehan, meski tanpa kutipan berat dari buku atau tokoh. Layaknya, Rian menggali lagi tema dan cara menulisnya yang serupa Sarehan.


Belakang buku. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Berikutnya Inlander, Masakan dan Isyarat Bunga. Ketiganya hampir bisa disebut layak jual, selain bagus. Inlander menyajikan hasil pembacaan buku dan kenyataan yang cukup seimbang. Esai ini menyajikan pembacaan buku dan kenyataan dengan berselang-seling. Rian tidak hanya menyajikan pengalamannya sendiri, namun juga teman sekitarnya. Serupa dengan Sarehan, Rian layak menggali lagi gaya menulisnya yang serupa Inlander ini. Selain sajian pembacaan yang lengkap, tulisan ini juga menunjukkan analisa hubungan sebab dan akibat yang apik. Dan lagi, analisa ini ditulis di akhir esai, menjadi pungkasan yang membuat esai jadi lebih tajam.

Masakan menjadi tulisan cukup apik berikutnya. Hasil pembacaan Rian akan teks dan pengalaman nyata disajikan lengkap. Meski sayangnya, hasil pembacaan teks lebih dominan disajikan. Bagi seseorang yang lebih menguasai tema dari hasil pembacaan teks yang disajikan Rian, tentu tidak akan merasa sayang apabila langsung saja lompat halaman. 

Terakhir, Isyarat Bunga. Serupa Sarehan, tulisan ini menyajikan pengalaman nyata Rian. Tidak ada hasil pembacaan buku disisipkan di sana. Hubungan sebab dan akibat disajikan menarik dan pembaca, sekalipun lebih menguasai tema inklusi seperti yang diangkat dalam tulisan ini secara teori, yakin saya tidak akan rela lompat halaman karena pengalaman nyata yang disajikan Rian belum tentu dialami pula oleh pembaca. Dari pembahasan singkat ketiga tulisan yang pikir saya cukup apik ini, Rian semestinya mulai bisa mantap membawa karakter menulisnya ke arah mana.


Samping buku. Sumber: Dokumentasi pribadi
Semoga dengan upayanya memerkenalkan karya dalam bentuk buku ini, Rian bertemu banyak pengalaman dari kritik dan saran yang masuk. Semoga juga, ia menemukan teman-teman baru di luar mereka yang menganggap karyanya tanpa cela. Semua ini, mesti bakal berrguna bagi berkembangnya karya Rian selanjutnya.

PTD, menunjukkan keingintahuan besar Rian terhadap banyak sekali bidang, dari pendidikan, seni hingga sastra. Mengenai keluasan rasa ingin tahunya ini, Rian punya sikap cerdik untuk membaca buku yang mana dan mengunjungi teman atau tokoh siapa untuk belajar. Rian ini juga sangat peka untuk menyeleksi bacaan mana yang bermanfaat dan teman mana yang bermanfaat, eh. Sebelum saya mengakhiri resensi ini, ijinkan saya mengatakan bahwa… karya perdana Rian ini cukup tahu diri untuk tidak berISBN.

Judul : Profesi Tak Diwariskan (Kumpulan Catatan)
Penulis : Rian Firmansyah
Ilustrator sampul: Unartifisial dan Domesia
Rancang sampul : Riza Ilmana
Jenis kaver : Kaver keras
Jumlah halaman : 266
Cetakan : 2019
ISBN : -

Catatan: 
*Mengenai konsep dan ilustrasi yang menarik, akan saya bahas dalam tulisan lain. Perkara konsep ini, membuat saya berani merekomendasikan Unartifisial, Domesia dan Riza untuk kerja bareng secara profesional dengan kalian. Mereka dibayar secara profesional oleh Rian.

*Edit Jumat, 30 Februari 2021
Ada nama yang terlanjur saya sebut dalam tulisan, ternyata tidak memiliki perspektif korban ketika ada kasus kekerasan seksual (KS). 

Untukmu yang terlanjur melihat nama tersebut di sini dan terpantik, saya mohon maaf. Namun tulisan ini tidak akan dihapus karena sebagai pengingat. Akan tetapi dengan ini, saya menyatakan selanjutnya tidak akan mendukung karya yang bersangkutan dalam bentuk apapun.

Saturday, January 18, 2020

Ayam

Sumber: Gugel

"Apa yang berbeda dengan menjadi dewasa?" 

"Kamu bisa makan ayam kapan saja, tanpa ada yang meneriakimu, harus pakai nasi!"

Friday, January 10, 2020

Rahasia-rahasia

Sumber: Gugel

Rahasia-rahasia ternyata punya sifat transaksional sepanjang hidup lelaki ini. Seperti seorang teman perempuan, tiba-tiba mengajaknya masuk rumah dan menunjukkan sebuah keris yang besarannya sama dengan ruas telunjuk. Keris itu katanya bikin dia tembus pandang. Kali lain, seorang teman lelakinya, membuka dompet dan menunjukkan batu hijau yang besarannya sama dengan ibu jari. Batu itu katanya bisa bikin dompet balik sendiri waktu dicopet orang. Lusanya, teman lelakinya yang lain bercerita sejauh mana petualangannya soal ranjang. Sedang sore hari di tanggal yang sama, seorang teman perempuan yang lain lagi memasukkannya dalam kamar kos dan bercerita tentang bagaimana ia kehilangan keperawanan; benar temannya itu menyebutnya kehilangan.
Belakangan lelaki ini mengetahui, bahwa rahasia semestinya dibalas dengan rahasia pula. Tapi bagaimana? Ketika ia sendiri sebenarnya tidak tertarik betul dengan rahasia-rahasia yang telah disodorkan kepadanya. Sodoran rahasia itu baginya, hanya pintu masuk yang sengaja diberikan orang-orang itu agar seolah mereka percaya padanya, agar kelak ia memberi rahasia yang sama di dalamnya.
Namun beda soal ketika ia bertemu perempuan yang selalu menatapnya hangat itu. Perempuan itu tidak kunjung memberinya sodoran rahasia seperti orang-orang yang lain. Bagaimana pun mereka mengobrol kesana dan kemari, perempuan itu terasa selalu berjarak. Ia tidak percaya padamu, demikian pikirmu. Dan bagaimana caranya menghancurkan jarak itu?
Maka lelaki ini mulai membuka almari berdebu dalam kamar yang 4x4 itu. Dengan bersin yang berkali-kali, ia mengambil segenggam rahasia dan menyodorkannya pada si perempuan esok hari. Namun yang ia dapat hanya senyumnya yang tipis sekali, bahkan hingga si lelaki bilang,”Tunggu, aku masih punya rahasia yang lain...” mendengarnya bicara begitu, perempuan itu lantas menghampiri si lelaki menerus hingga berhari-hari. Lelaki ini sengaja mengulur, menanti hingga jarak itu lenyap.
Namun nyatanya, perempuan itu pergi lagi dan lagi ketika segenggam demi segenggam rahasia si lelaki diperolehnya. Dan kemudian, di sabtu sore yang hujan, lelaki ini mendapati isi almari berdebu itu telah habis, disusul kepergian perempuan itu buat seterusnya pula...

Thursday, January 2, 2020

Cerita Anak-anak Korban Perbedaan Kelas di Sekolah


Krisna dua belas tahun dan dia mengalami low vision (baca juga: Vonis Dokter Bukan Penentu Nasibku). Tapi melihat Krisna yang jauh dari kata dibully alias dirisak apalagi terkucil, membuat saya berpikir-pikir bahwa teman-teman di sekitar anak lelaki berkulit sawo matang itu masih belum tercemar standar-standar kenormalan orang dewasa. Dari nenek dan bibinya, saya jadi tahu bagaimana Krisna lebih percaya diri justru di hadapan teman-temannya. Dan teman-temannya pula, yang entah bagaimana memahami cara bicaranya yang cadel tanpa ada ejekan, mereka pula yang tetap mengajaknya bermain bola tanpa menjadikan penglihatan Krisna sebuah masalah.

Selama tiga hari hidup bersama keluarganya Krisna di kabupaten Bandung Barat, saya juga tahu bagaimana teman-temannya bersemangat menyapa terlebih dahulu dan sebaliknya ia. Ia juga yang hampir setiap hari tidak pernah kehabisan teman buat berlarian. Hal demikian justru tidak saya dapati saat seusia Krisna dan teman-temannya. Ya, semasa Sekolah Dasar. Omong-omong, sekolah saya dulu lokasinya di pusat kota.

Semasa saya kelas tiga, salah seorang teman sekelas bernama Laura berulang tahun dan hanya anak-anak non panti terpilih yang mendapatkan undangan darinya (baca juga: Laura dan Ambisi Bundanya). Kala itu, saya terpilih karena nilai akademis yang sangat baik. Ya, Laura didoktrin ibunya untuk memilih teman yang jika tidak pintar, berarti harus dari golongan menengah atas. Keluarga saya waktu itu berasal dari kalangan menengah bawah, namun akademis yang menonjol menjadikan Laura terus mendekati saya, mengupayakan pertemanan. Hal serupa dia lakukan pada teman-teman lainnya yang masuk standar pertemanan ala sang ibu. Ambisi sang ibu juga diamini Desi, bahwa ya... Laura sebenarnya hanyalah korban standar bikinan orang tuanya.

Demikian, Laura akhirnya menjadi salah satu poros kesenjangan pertemanan di SD. Punya paras standar industri, berani bicara, punya jiwa pemimpin, berasal dari keluarga menengah atas dan prestasi akademisnya melejit ketika kelas empat, membuatnya mudah diingat siapa saja. Para guru termasuk Mr. A, menceritakan betapa positifnya Laura hingga lintas kelas. Mengenai kesenjangan di angkatan kami, selengkapnya dapat dibaca di Sri Eka Fidia Ningsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas. Namun kembali saya ulas sedikit di sini, bahwa di angkatan kami golongan anak perempuan dibagi menjadi tiga; anak panti dan non panti yang masih dibagi lagi menjadi golongan anak menengah atas, golongan anak pintar, golongan pintar dan menengah atas. Pintar batasan definisinya waktu itu adalah mereka yang nilai akademisnya baik.

Lebih jelas dan pedih, kasta-kasta itu dibagi rinci seperti di bawah ini:
1. Anak kaya dan pintar
2. Anak pintar
3. Anak non panti
4. Anak panti
5. Anak kebutuhan khusus (ABK)

Jadi, jika posisimu seperti Yuni yang dari keluarga menengah meski akademisnya tidak menonjol, kamu akan tersisih namun masih selamat karena tidak bakal ditindas. Lebih sial posisinya Desi yang berasal dari keluarga menengah ditambah akademisnya menonjol. Dia terus didekati Laura dan golongan anak-anak populer hingga terpisah dari golongan anak-anak yang seperti saya (akademis saya menurun di kelas empat, baca juga Sri Bukan Anak Nakal Tapi Laura) apalagi anak-anak panti yang jelas masuk kesana karena keadaan ekonomi. Dan lagi, anak-anak ini belum mengerti cara belajar, juga tidak mendapat pendampingan belajar karena saking banyaknya penghuni panti.

Masih di sekolah kami, ada anak kebutuhan khusus bernama Icha (baca juga; Icha Ternyata Autis). Icha sendiri sebenarnya berasal dari keluarga menengah, akademisnya pun mumpuni hingga sering masuk lima belas besar. Tapi karena dia berbeda dan tidak satu pun dari kami mengetahui istilah autis, Icha jadi tersisih juga dan bahkan dijadikan hiburan untuk dirisak. Anak perempuan berkulit sawo matang itu, adalah kasta terbawah a.k.a paling blangsak dari yang blangsak jika mencatut istilah dari Twitter.

Desi yang berangkat dari keluarga tanpa standar pertemanan tertentu, menganggap Laura dan golongan anak populer memiliki niat pertemanan serupa dirinya. Di mana berteman ya berteman saja, selagi sama-sama asyik, artinya teman seterusnya. Desi sampai pada titik tidak merasa, anak-anak panti mulai berbisik dirinya berubah dari yang mau berteman dengan kalangan bawah menjadi hanya berteman dengan kalamgan atas, pula saya membatin hal serupa.

Tanpa Desi sadari, dia ditarik secara permanen bersama Laura dan golongan anak populer dengan manipulasi yang sedemikian rupa. Desi mengalami perlakuan yang berbanding terbalik dengan saya. Seperti saya ceritakan pula dalam Desi Nilamsari Si 8 Tahun: Saat Ditanya Soal Maling dan Warga yang Main Hakim Sendiri saya sempat didekati Laura di kelas tiga karena akademis yang sangat baik. Sebaliknya Desi yang waktu itu anak baru dan belum begitu bisa berbaur. Akademisnya juga biasa saja, hingga Laura tidak pernah menyambutnya hangat kala itu. Keadaan ekonomi Desi yang dari kalangan menengah, pula belum nampak. Baru ketika mulai naik kelas empat, Laura mendekati Desi berbarengan dengan akademis saya yang menurun. Kala itu, Desi mulai bisa berbaur, akademisnya meningkat drastis dan keadaan ekonominya terkuak.

Tapi selain saya, Desi dan semua anak yang telah diceritakan di atas, masih ada Rina dan Anya yang menjadi korban standar-standar bikinan orang dewasa. Rina adalah anak non panti dan berasal dari keluarga menengah bawah. Akademisnya pula tidak menonjol. Meski demikian, Rina berhasil masuk Laura dan jajaran anak populer dengan cara menjadi penindas dan gaya ‘seolah kalangan atas’ yang disesuaikannya. Anya misalnya, ketika menjadi anak baru di kelas dua, pernah tiba-tiba ditindas sampai menangis oleh Rina. Ia pula yang tanpa sebab jelas, mencubit Anya yang duduk sendirian di pojok kelas. Rina semacam menjadi senjata untuk jajaran anak populer ini. Bagi anak-anak yang dirasa tidak pantas masuk dalam kasta mereka, Rina yang turun tangan ‘membasmi'. Juga lewat Rina, mereka mendapat hiburan-hiburan penindasan tanpa perlu turun tangan langsung.

Ibu Anya sendiri menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ketika putrinya itu kelas tiga. Di dalam PT pemasok tenaga kerja itu pula, ibunya mendapat perlakuan tidak adil (baca juga: Sri Eka Fidianingsih dan Caranya Balas Dendam Pada Si Culas). Hingga Anya ingin sekali masuk dalam jajaran anak-anak populer dan mendapat pengakuan, ia tidak ingin ditindas lagi. Namun yang bisa ia lakukan hanya mengekor saya yang meski bukan golongan menengah dan akademis tidak menonjol, setidaknya termasuk non panti. Anak non panti seperti saya memang tidak pernah ditindas secara langsung. Tunggu dulu, saya ingat ibunya Anya pernah masuk dalam sekolah untuk menemui putrinya dan bisik-bisik ibu Anya disebut orang gila dihembus beberapa teman sekelas. Yang jelas, penghembusnya adalah anak-anak perempuan dari kelas kami sendiri, kasta atas tentu saja hehe…

Segala yang terjadi di angkatan kami waktu itu, saya garis bawahi sebagai yang namanya perbedaan kelas. Ternyata, saya mengenal perbedaan kelas justru semenjak SD dan bukan dari buku-buku. Perbedaan yang nyata terjadi ini, bisa dibilang salah satunya berasal dari manipulasi Laura terhadap teman-teman sekelas yang menciptakan kasta-kasta. Laura tentu bukannya sengaja membuat kasta-kasta yang demikian. Doktrin ibunya soal memilih teman, secara otomatis menyertai pembentukan kasta. Bahwa di angkatan kami, ada yang namanya Laura; ia memiliki standar fisik sekian, etika kepada guru yang sekian, nilai akademis yang sekian, hingga dengan semua itu dia diakui keberadaanya.

Kasta-kasta ini tentu saja sebuah penyakit. Bagaimana bisa anak usia delapan tahun sebegitunya memilih teman? Dengan tendensi yang mustahil didapat sejak lahir pula. Tentu mama Laura yang menanamkan hal demikian terhadap putrinya, memiliki motif. Semestinya memang ada hal yang melukai mama Laura di masa lampau, sehingga ia jadi menularkan upaya bertahan hidup dengan kasta-kasta begitu kepada putrinya. Semua hal memiliki motif, tidak ada yang namanya terjadi dengan tiba-tiba.

Jadi intinya, jika tidak bisa memenuhi standar ekonomi Laura, penuhi standar akademis serupa saya ketika kelas satu hingga tiga. Jika tidak bisa memenuhi standar akademis, setidaknya jadi Yuni yang ekonominya menengah. Ia tersisih namun tidak ditindas. Dan jika tidak bisa memenuhi standar akademis juga ekonomi, jadilah penindas atau gaya yang setara anak-anak populer seperti Rina...

Atau jadi saya yang menyingkir, membuat keberadaan diri bahkan tidak kentara?

Atau jadi Nadiya (baca juga: Nadiya Khalilah Si Pupuk Bawang) yang berbaur dengan semua tanpa masuk satu golongan tertentu?

Atau jadi Sri si anak panti yang ditekan dan disisihkan, namun memilih melawan semua yang berlaku begitu kepadanya?

Ya, menjadi saya tidak mudah. Setiap orang butuh diakui keberadaannya sedang saya memilih menyingkir dan tidak peduli. Tidak semua orang akan tahan dengan kondisi dianggap menghilang. Keberadaanmu saja orang lain lupa, jangan mimpi mau didengarkan pendapatnya. Jadinya sih, saya hanya kumpul mereka yang senasib dan bertahan. Tentu mengenai keadaan mereka yang tersisih ini, saya tidak bisa bersuara juga. Lha, soal keberadaan saja saya dilupakan.

Tapi sebenarnya, lebih sulit lagi menjadi Nadiya dan Sri. Nadiya berasal dari kalangan menengah dan akademis bagus. Ia anak yatim. Godaan untuk bergabung dengan kasta anak-anak populer tentu kuat. Laura bahkan pernah getol mengajaknya bermain ke rumah, lantas mengajarinya motor seperti seorang sahabat sejati. Namun Nadiya justru tetap di posisi tengah dan seolah menjadi jembatan. Sikapnya sama pada tiap kasta di kelas. Posisi tengah ini justru tidak begitu diingat semua orang sebagai satu hal istimewa. Padahal, orang dewasa saja belum tentu mampu berteman baik dengan jujur pada semua golongan dan lagi tanpa kawanan.

Lain lagi dengan Sri. Tanpa jaminan ada orang tua kandung yang pasti membelanya ketika ada masalah, juga teman sesama panti yang juga ada si culas Anya, justru membuatnya berani melawan segala penindasan. Sri yang kata orang; anak panti, kotor, nakal, tidak pintar dan tidak berpunya, namun hingga lulus semua orang justru mengenangnya. Mereka mengingat nama Sri yang berani marah dan berkelahi demi membela haknya. Pikir saya, anak perempuan yang dulu sering dirisak karena gigi tonggosnya ini, adalah tokoh utama ideal dalam sebuah film. Sri adalah simbol dan praktik harapan dalam perang kelas.

Pada tulisan saya yang lain. Akan saya ceritakan bagaimana saya, Anya dan Sri ternyata satu sekolah di SMK. Juga bagaimana perkembangan cara bersikap kami dibanding semasa SD.


“Life is not fair, so get used to you.”

Patrick Star

Catatan: 
Tulisan ini ada setelah privilese menjadi trending di Twitter karena Maudy Ayunda dan sebelum privilese menjadi trending di Twitter karena Putri Tanjung.

Tapi mohon maap ea, akutuch tida ikutan marah-marah sama mbak Maudy Ayunda dan mbak Putri Tanjung akibat privilese mereka. Karena akutuch tida ingin anak dan cucuku kelak kena azab, dihujat warga Twitter karena privilese gen cerdas yang akutuch turunkan, juga privilese susah jerawatan meski nggak rutin cuci muka.
Wahai, sobat-sobat segawonku. Privilese tuch bukan hanya bab ekonomi. Kapasitas otak sampai bentuk moncong kau tuch juga bisa jadi privilese untuk anak dan keturunanmu kelak. Tak usah merasa paling blangsak dan paling berjuang deh kita tuch. Huehue.
Terpujilah ibuku yang pintar, ayahku yang cerdas dan mendiang mbah kakungku yang jenius. Privilese kapasitas otak dari beliau sekalian, lumayan buat modal hidup.

Thursday, December 26, 2019

Kereta (5)

Jika disuruh memilih, menanggapi orang asing mengobrol dalam kereta atau membaca buku tentang alam semesta.

Ia memilih yang pertama.

Monday, December 16, 2019

Tentang Skripsi, Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah yang Meneliti Media

Sumber: Dokumentasi pribadi

PLS maupun bukan, untukmu yang mau mbaca lengkap dan belajar bareng, sila komen dengan email. Gretong tjuy.

Penelitian di media massa tentu bukan hal baru bagi anak komunikasi, tapi tidak begitu bagi anak PLS. Iya, saya ternyata anak PLS a.k.a Pendidikan Luar Sekolah, setelah bukan empat atau lima kali dikira anak sastra atau psikologi. Penelitian ini jauh dari sempurna, tentu saja. Tapi dari sini, kita jadi tahu PLS ruang lingkupnya bukan hanya pelatihan, PKBM, manajemen PAUD dan blusukan ke desa-desa.

Media massa, adalah bentuk pendidikan informal yang lebih jauh dikupas menggunakan pisau teori public pedagogy atau pendidikan melalui ruang publik di sini.

Pada mulanya, saya mengenal teori ini dari mas Tara yang waktu itu S2 PLS dan mengajar di kelas ketika saya semester 1. Beliau mengajar bersama pak Zulkarnain. Selanjutnya, saya dan dua teman perempuan pernah membahas mengenai alun-alun Batu sebagai bentuk public pedagogy di mata kuliah pak Hardika yang waktu itu mengajar bersama bu Niswah S2 PLS. Ketika teman-teman yang lain membahas PKBM dan lainnya sebagai bentuk PLS, kami tidak.
Sumber: Dokumentasi pribadi

Rasa penasaran terhadap pendidikan publik yang sampai lulus tidak ada mata kuliahnya ini, berlanjut hingga skripsi. Apalagi semasa kuliah, saya bertemu komunitas belajar di Malang yang juga bentuk pendidikan publik, di mana siapa saja bebas datang dan bahkan tidak sadar tengah belajar. Meski kesenangan saya di komunitas waktu itu, menimbulkan pertanyaan,"Poppy ragu sama PLS ya? Kok di komunitas sastra? Kok dulu nggak masuk sastra saja? Dulu masuk sastra gagal dan nyasar di PLS ya?" Fyi, PLS itu pilihan pertama saya waktu kuliah. Dan belajar sesuatu yang tidak ada di mata kuliah bukan berarti kamu aneh atau sesat pikir.

Juga gaess, blog pun sebenarnya adalah bentuk pendidikan publik. Jadi blog dengan alamat yang sekarang dan dibangun dari 2013 ini, sebenarnya sekalian saya praktik PLS. Menyajikan bacaan alternatif yang gaya penyajiannya tidak bisa masuk media tertentu. Mulai dari cerita bagaimana membedakan penerbit indie kredibel dan ala-ala sampai hampir dikibuli oknum MLM.

Terakhir, teman-teman yang membaca kiriman ini dan barangkali ingin penelitian dengan teori sejenis, mari 💪

Catatan: Terimakasih untuk skripsi Adin Ariyanti Dewi yang berjudul Studi Tokoh Sanapiah Faisal Saleh. Skripsi ini banyak membantu saya.

Juga terimakasih untuk teman-teman yang datang sempro dan aktif berpendapat: Wiwin, Rian, Angel, Okta, Aziz, Hari, Akbar, Anny dan lainnya.

Tulisan ini dikopi dari kiriman instagram, Oktober 2019.

Monday, December 9, 2019

Perangko

Sumber: Gugel
Kamu menanyakan kabarku lewat sebuah kertas yang warnanya kuning. Pertanyaan itu semestinya bisa ditanyakan langsung padaku jika saja sembilan hari lalu kita jadi bertemu. Lantas kamu melipat surat itu ke dalam amplop dengan warna serupa, menempelinya dengan perangko dan lima menit kemudian, benda persegi itu telah sampai di jendela kamarku. Ia terus mengetuk sampai jendela aku buka dan kupersilahkan dirinya masuk.

Buru-buru aku menulis balasan di atas kertas warna putih. Lantas kertas itu aku masukkan dalam amplop dengan warna serupa meski sayangnya, bagaimana pun aku uring-uringan mencari perangko dalam kamar, benda persegi tipis yang super kecil itu tidak juga ketemu. Bagaimana aku bisa mengirimkan surat itu padamu jika tanpa perangko?

Dua hari kemudian, sebuah amplop berwarna kuning datang lagi. Isinya sama, sebuah kertas warna senada dengan pertanyaan yang serupa pula, bagaimana kabarmu? Aku buru-buru membalasnya dengan kertas dan amplop warna putih. Namun perangko tidak juga aku temukan dan surat itu gagal dikirimkan sekali lagi.

Pada hari-hari berikutnya, surat-surat darimu tetap juga datang, dengan warna amplop dan kertas yang selalu serupa. Warna kuning yang sama. Ubun-ubunku meremang dan menghangat kemudian.

Haleluya...

Haleluya...

Suara itu menggema dalam seisi kamar, hingga merambat lewat darah dan nadiku.

Sunday, December 1, 2019

Bermain-main Empati dalam Lakon ‘Siap, Kapitan!’, Oleh Teater Dayani Sasana Aksara

Suasana pementasan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Pertunjukan inti dimulai pukul 20.00, setelah pembukaan yang entah isinya apa, setengah jam sebelum. Berkat lokasi Ezo Co-Working Space yang ternyata ada di atas kafe beda nama, sukses saya melewatkan pembukaan yang setengah jam itu. Bahkan dua kali saya melintasi kafe begitu saja, tanpa tahu lokasi yang dituju ternyata ada di atas bangunan yang sama.

Ketika saya masuk, ruangan sudah dipenuhi penonton yang duduk lesehan. Mesti berjingkat-jingkat dalam mencari tempat duduk supaya tidak menginjak kaki atau tangan penonton lain. Lampu ruangan sudah dalam kondisi mati dan hanya ada lampu redup menerangi panggung.

Dimulai dengan masuknya laki-laki berkaus singlet putih dengan handuk melingkar di leher, pertunjukan berjalan. Si lelaki yang agaknya berprofesi sebagai kuli dan hendak bekerja, malah menemukan lelaki tua yang kemudian disebut Kapitan tengah melamun. Lamunan itu menyeret si kuli turut bergabung hingga lalai bekerja, juga ketika teman-temannya yang lain datang. Semuanya turut larut dalam lamunan si kakek yang agaknya memang seru sekali.

Dan inilah asyiknya menonton teater, pemaknaan saya bisa jadi berbeda dengan puluhan orang yang berdesakan dalam ruangan tanpa AC malam itu. Para lelaki yang berkaus singlet dan jumlahnya lebih dari sepuluh itu, saya maknai serupa warganet. Karena ketika sang Kapitan mulai menceritakan kisahnya, para lelaki yang tanpa hubungan pertemanan apalagi kekerabatan itu berkomentar semau mereka. Demikian membikin saya ingat bagaimana kisah-kisah yang berasal dari orang biasa dan bukannya tokoh publik, viral di media sosial.

Sang Kapitan, lelaki tua, kakek itu, seolah adalah representasi dari non tokoh publik yang kisahnya viral di media sosial. Semua terlihat dari para lelaki kuli yang bertanya siapa sesungguhnya si kakek, sosok yang menarik buat diketahui kisahnya meski ternyata, mereka sendiri tidak punya informasi barang satu pun tentang lelaki yang berjalan dengan dibantu tongkat dan bungkuk itu.

Meski ya, pertunjukan ini diwarnai dialog-dialog seksis seputar tubuh perempuan, utamanya ketika tokoh istri kesekian si Kapitan dan menantu perempuannya muncul. Guyonan dalam dialog itu seputar candaan status istri yang kesekian dan juga janda. Beberapa dialog demikian sebenarnya saya catat banyak, namun ada baiknya kamu tonton sendiri dan nilai jika kelak lakon ini dipentaskan kembali dengan naskah sama persis.

Beberapa dialog yang saya catat itu antara lain, ketika istri kesekian sang Kapitan muncul dan mengajaknya pulang, para kuli saling bersahut,”Wuh, istri kesekian, aku iyo gelem! Aku ae sing melok moleh, Mbak!” juga disertai gerak memeragakan tubuh perempuan. Entah bagaimana, status lucu dan layak ditertawakan hanya diperoleh tokoh perempuan dan bukannya sang Kapitan juga.

Kemudian saat istri Jali, anak ketiga dari si Kapitan muncul dan menuntut cerai. Para kuli kembali menggoda dan melakukan gerakan yang berseloroh tentang tubuh perempuan, apalagi ketika istri Jali itu ternyata seorang janda.


Suasana pertunjukan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Sikap para kuli, sebenarnya menggambarkan bagaimana warganet menanggapi masalah di luar mereka. Persoalan tubuh perempuan pun demikian. Misal di facebook, sempat viral curahan hati istri aparat negara yang suaminya selingkuh. Si istri punya paras standar industri; berat badan ideal, kulit putih dan mata belok. Bahasan warganet pun tidak bisa lepas dari sosok istri yang cantik dan kenapa masih bisa diselingkuhi. Juga pernah pula, kasus plagiasi remaja asal Banyuwangi merebak. Remaja ini memiliki paras tidak standar industri hingga warganet mengaitkan kesalahannya dengan bentuk tubuh yang dirisak habis. Ini belum lagi ketika, salah seorang politisi muda dari partai pendatang baru diketahui menjanda sebelum berusia dua puluh tiga.

Bagaimana dampak dari candaan soal tubuh dan status perempuan yang dilegalisasi, sekalipun dalam panggung pertunjukan? Pelecehan dan kekerasan jawabannya (piramida kekerasan dapat dibaca di sini). Demikian membuat saya membayangkan, ada satu saja dari para kuli itu yang menjadi penyeimbang dari celetukan teman-temannya yang lain soal tubuh dan status perempuan. Satu tokoh ini bisa menjadi antitesis dengan dialog yang membuat netral celetukan teman-temannya. Hal demikian bisa menjadi gambaran ragam warna pemikiran warganet ketika melihat sebuah masalah terangkat di sosial media. Serupa seperti sang Kapitan yang beberapa kali rubuh dan nyaris pingsan, ketika cerita buruk keluarganya direka ulang hingga memuncak. Para kuli pula yang cemas dan membopong sang Kapitan. Demikian menggambarkan, bahwa para kuli sebagai warganet tidak hanya datang dengan tertawaan dan sorakan, namun juga empati.


Poster pertunjukan. Sumber: Arian Wahyu

Selain persoalan-persoalan di atas, Siap, Kapitan! yang dilakonkan Teater Dayani Sasana Aksara ini menggambarkan post power syndrom dengan cukup apik. Kemarahan sang Kapitan hingga betapa ngototnya ia menyangkal kesepian, menguatkan post power syndrom yang diidapnya. Sempat berkali rubuh, kakek tua itu sempat pula menghardik dan menolak pertolongan para kuli. Alasanya? Dirinya adalah sang Kapitan yang orang-orang bahkan tidak berani memanggil nama aslinya. Kesenjangan antara kejayaan masa lalu dan keadaan hari ini yang jauh dari itu semua, adalah kata kunci dari post power syndrom.

Ada rasa sepi, ikatan keluarga yang retas juga bayangan kejayaan masa lalu yang disambut kian lemahnya keadaan diri. Meski ngotot menceritakan kehebatannya di masa lampau dan tidak ada dialog yang dengan jelas menyatakan dirinya post power syndrom, berbagai kejadian termasuk narasi kejayaan yang dibangunnya membuat sang Kapitan dengan apik tampak murung sekaligus angkuh. Melalui kemarahan Kapitan pula, penonton diam-diam diberikan edukasi bagaimana post power syndrom terjadi dan bagaimana ketika orang terdekat nyatanya tidak bisa diandalkan.

Uniknya, lakon berjalan bukan dengan melulu berbagai tokoh berbeda dihadapkan dengan Kapitan. Para kuli selain berperan menyoraki, juga punya peran melakukan reka adegan hidup lelaki tua itu. Mereka yang kesemuanya lelaki, berperan pula menjadi laki-laki dan perempuan dalam hidup si Kapitan. Kemudian reka adegan mana saja yang diperankan para kuli itu? Bisa kamu tonton ketika kelak Siap, Kapitan! kembali dipentaskan. Salah satunya tentu saja reka adegan Nuke, anak kedua Kapitan yang juga bermasalah. Nuke yang seorang perempuan, diperankan apik oleh salah seorang kuli. Ia tiba-tiba dilemparkan sebuah baju dari arah penonton dan berubah menjadi anak kedua Kapitan, lantas melakoni reka adegan penghianatan terhadap sang ayah. Lagi-lagi, reka adegan para kuli tersebut seperti menggambarkan para warganet yang berkomentar dan seolah serba tahu kisah yang terjadi sebelumnya, dari kejadian yang tengah merebak di hadapan.

Wah, apa benar Siap, Kapitan! seserius ulasan dalam paragraf-paragraf di atas? Tidak juga. Banyak pula humor selain yang seksis-seksis tadi diselipkan. Ya, kira-kira format humornya itu 3:1. Jadi tiga hal serius dilempar, baru satu humornya meluncur. Salah satunya, ketika reka adegan penghianatan Jali si anak nomor tiga. Hal serius disajikan semenjak sang istri menghadap bapaknya dan mohon ijin bercerai. Komedi mulai disisipkan ketika ia menjual empang bapaknya. Adegan antara Jali dan pembeli dibuat seolah sedang tawar menawar pakaian online di internet. Istilah COD justru memantik penonton tertawa, mengingat yang dijual adalah empang. Mustahil empang dibungkus sedemikian rupa lantas diberikan langsung pada pembeli serupa baju atau ponsel, bukan?

Justru komedi yang diletakkan secukupnya sepanjang lakon, menjadikan emosi penonton naik dan turun. Para penonton bisa serius pada saatnya dan tertawa tanpa kehabisan napas. Ya, karena komedi yang diletakkan dengan porsi berlebihan, malah membuat saat-saat tertawa jadi tidak begitu punya harga. 

Memiliki muara cerita yang cukup mengejutkan, Kapitan pada akhirnya menjawab kemurungan hidupnya sendiri dengan sebuah keputusan besar. Akhir cerita dibuat terbuka dan tetap, dengan dialog seksis yang konsisten para kuli lontarkan terhadap tokoh perempuan. Es teh anget, rondo teles, ujar mereka sebelum kembali ke belakang panggung.

Terakhir, lakon teater yang disutradarai Yuniar Resti ini, diam-diam membikin saya bertanya bagaimana kelak kita menjalani masa tua. Akankah penuh kemurungan atas kejayaan masa lalu serupa sang Kapitan?


Susunan pemain dan kru. Sumber: Instagram Teater Dayani Sasana Aksara

Judul pertunjukan: Siap, Kapitan!
Lokasi: Ezo Co-Working Space (Everytime Coffe atas)
Sutradara: Yuniar Resti
Hari/Tanggal: Jumat, 29 November 2019
Waktu: 19.30-20.30
Pimpinan produksi: Veronika Wijaya, Ghia Varianta
Asisten Sutradara: Yessy Maretta, Vanya Paramitha
Pemain: Vincentius Pandu, Hafid Fadhil, Lely Kurnia, Arie Permana, Pramadhika Ramadhani, Muhammad Rizki, Khafillah Akbar, Rendi Arya, Rian Saputra, Dendy Satria, Arif Lukman, Maula Naufal, Anggi Oktaviane, Novalino Agfa, Roy Andrian
Musik: Keith Cahya, Nicholas Bayu, Sinung Edi
Tiket: Arletta Rina Adhista

Bekerja sama dengan, Teater Krida

Catatan: Terimakasih kepada bung Arian Wahyu a.k.a Simbal, seorang sarjana matematika yang aslinya saya juga kurang begitu percaya ia sarjana matematika. Lelaki yang cukup rutin bermain Twitter inilah, yang mengajak saya bergabung dalam pagelaran.

Catatan lain mengenai Siap, Kapitan! dapat pula dibaca di Pementasan Seni; Dayani Sasana Aksara "Siap, Kapitan" Oleh Yuniar Resti yang merupakan tulisan Neni Eka Meidiningsih dan Dayani Sasana Aksara at Ezo yang merupakan tulisan dari Lilis Nur Hidayati.


Nggaya duwe undangan barang. Sumber: Arian Wahyu

Wednesday, November 20, 2019

Instalasi Seni

Sumber: Dokumenasi Pribadi Novart 2019

Saya melayang-layang tepat di belakang lehermu. Sedang di depan sana, terhampar instalasi seni dengan enam belas bahan pameran. Lampu-lampu ditempel sembarang arah, hingga boneka-boneka ditusuki tidak tahu apa maknanya. Seperti saya, kamu menyukai hal yang beginian, juga kupang, sop kaki dan budaya jawa.


Harusnya, kita bisa ke instalasi itu berdua, jika saja saya tidak benci sekali dengan masa depanmu. Kelak, kamu membasmi para pemerkosa dengan pengaruh dan duwit melimpah. Kelak, kamu menjagali mereka yang berlaku curang. Tidak ada ruang bagi saya. Tidak akan ada...

Saya tidak pernah mencintaimu.

Setengah mati, malah ingin membunuhmu...

Friday, November 8, 2019

المانع

Sumber: Gugel


Bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca? Apa mereka tidak memberitahukanmu apa hakikatnya takdir?

Cobalah baca sekali lagi. Maka barangkali sekali saja seumur hidup, kamu akan tahu bahwa lawanmu itu takdir dan bukannya aku. Lawanmu itu Tuhan, yang memberi ijin untuk kamu melaraiku. Sekaligus Dia pula, yang memberiku ijin untuk terus hidup di tengah segala lara itu.