Monday, September 26, 2016

Eric Clapton yang Tidak ‘Berpahala’ dalam Ketika Mas Gagah Pergi, Helvy Tiana Rosa

Sumber: sastrahelvy.com

Akrab dengan nama HelvyTiana Rosa? Betul, penulis perempuan satu ini, merupakan salah satu penggagas Forum Linkar Pena (FLP). Cerpennya, Jaring-Jaring Merah juga sempat menjadi salah satu cerpen terbaik Majalah Sastra Horizon dalam satu dekade (1990-2000).
Selain cerpen Jaring-Jaring Merah, karya Helvy lainnya Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) sudah edar filmnya di awal tahun 2016. KMGP sendiri, kali pertama dimuat di majalah Annida pada 1993. Helvy sendiri menuliskannya pada 1992 di usianya yang ke 22 tahun sebagai tugas mata kuliah penulisan kreatif.
Menilik dari judul yang tertera di atas, sudah jelas jika tulisan ini bukan hendak membahas KMGP sebagai sebuah cerpen. Toh, bisa dipastikan sudah begitu banyak tulisan menyola KMGP sebagai sebuah cerpen atau juga sebuah buku, mengingat KMGP dibukukan pada 1997 oleh Pustaka Annida.
Barangkali, penyebutan beberapa grup musik atau musisi dalam KMGP belum banyak dibahas. Helvy menyebut beberapa musisi dan grup musik bahkan setelah cerpen tersebut dirombak menjadi sebuah novellet pada 2011.
“Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lahya dengan senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!” begitu kata mas Gagah.
KMGP, 1993
Sumber: dunia-cerpen.blogspot.com
Meski di era sembilan puluhan saya baru saja lahir, saya cukup akrab ketika mendengar lagu-lagu dari Scorpion atau juga Eric Clipton. Kemudian, coba kita bandingkan dengan KMGP yang telah dirombak menjadi sebuah novellet.
“Wah, ini nggak seperti itu, Gita! Dengerin Lady Gaga dan teman-temannya itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan senandung nasyid islami. Gita mau denger? Ambil aja dari laptop. Mas punya banyak kok!” begitu kata mas Gagah.
Novellet KMGP, 2011
Sumber: sastrahelvy.com
Bagaimana? Sudah terlihat bedanya bukan? Betul, pada 1993 Helvi menyebut Scorpion dan Eric Clapton yang memang populer pada masa tersebut. Sedang, pada 2011 Helvy menggantinya dengan Lady Gaga.
Meski Lady Gaga populer di masa remaja saya, terus terang saya bukan pendengar ulung lagu-lagu Lady Gaga. Bisa jadi, Helvy mengganti Scorpion dan Eric Clapton dengan Lady Gaga, karena menyesuaikan jaman. Bisa juga, santernya lagu-lagu Lady Gaga yang dianggap menyebar paham illuminati, menarik minat Helvy untuk meletakkan Lady Gaga sebagai pengganti. Entah… saya cuma sedang menduga-duga.
Makin menarik, ketika Helvy menghubungkan para musisi yang disebutnya dalam percakapan antara Gagah dan adiknya Gita, dengan seberapa manfaat dan pahala. Nama Eric Clapton yang dicatut pada KMGP paling menarik perhatian saya. Selanjutnya, mari kita tilik lagu Eric Clapton berjudul Tears In Heaven yang rilis kali pertama pada 1991.
Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven
Tears In Heaven, Eric Clipton, 1991
Sumber: kapanlagi.com
Dari lirik tersebut, dapat dipahami bahwa si tokoh ‘aku’ memertanyakan pertemuannya dengan seseorang. Pertemuan tersebut jelas dilakukan di surga yang ada di luar alam kehidupan manusia, jika lagi-lagi ditilik dari lirik lagu tersebut. Si tokoh ‘aku’ meragukan apakah dalam pertemuan tersebut, dirinya dan seseorang tersebut akankah masih saling mengenal?
Entah lagu Eric Clapton mana yang dipertanyakan Helvy soal manfaat dan pahalanya. Meski saya berharap bukan Tears In Heaven, namun masih sangat menarik jika kita membahas makna di balik lagu tersebut.
Pemaknaan saya dalam Tears In Heaven agaknya selaras dengan bahasan lagu tersebut, dalam salah satu episode Breakout Net TV yang dipandu oleh Boy William. Di sana, diceritakan bahwa Tears In Heaven sesungguhnya menceritakan Eric Clapton yang memaknai kematian ayahnya. Jadi, seseorang yang dibahas dalam lagu tersebut bisa dimaknai sebagai anak dan ayah yang dipertanyakan akankah sama, ketika terpisah oleh kematian dan bertemu lagi di alam lain.
Dalam islam sendiri, seseorang memang akan terlepas dari dunia ketika kematian menjemput. Seseorang tersebut akan sibuk dengan timbangan baik dan buruknya sendiri di alam akhirat. Hanya amal dan doa yang menyambung dengan seseorang tersebut dari alam dunia. Tidak ada reuni keluarga di sana, sekali lagi… hanya ada timbangan baik buruk yang menyibukkan seseorang buat memikirkan dirinya sendiri. Saya tidak main dalil, tentu soal dalil lebih jago kamu.
Tears In Heaven jelas menggambarkan pertanyaan akankah dua orang yang saling mengenal di dunia, masih saling mengenal ketika berada di alam lain?
Lepas dari seberapa manfaat dan pahala, seperti dialog antara Gagah dan Gita. Bukankah Tears In Heaven sesungguhnya sangat religius? Lagu tersebut ternyata membahas soal kematian. Haruskah sesuatu yang religius melulu dibalut nada-nada nyanyian nasyid atau segala yang berbasa arab? Oh, itu hanya salah satu cara. Hal ini, layaknya lagu-lagu Letto yang bergenre pop namun justru membahas cinta yang memang dari yang maha cinta, atau juga Ordinary Miracle milik Sarah McLachlan yang membahas rutinitas alam dengan kesyukuran.
Saya masih berharap, semoga penyebutan Eric Clapton dalam KMGP bukan terkait lagu Tears In Heaven, namun menyangkut lagu-lagunya yang lain yang entah berjudul apa. Atau, jikapun terkait, semoga penyebutan itu termasuk bagian dari proses spiritual Helvy yang kala menulis cerpen tersebut sebaya dengan usia saya saat ini. Kita semua sedang terus berproses, bukan?


3 comments:

Anonymous said...

Bagus banget Sis tulisannya. Oh ya.. btw Tears In Heaven-nya Eric Clapton itu bercerita tentang rasa sedih doi karena anaknya yang berumur 4 tahun meninggal, jatuh dari apartemen teman istrinya..

Btw, Ordinary Miracle juga syahdu banget tuh! :D
Aku pertama denger lagunya pas jadi soundtrack film judulnya "Charlotte's Web".

Btw, sori yak pake anonim. Blogku pake wordpress dan entah mengapa gabisa di submit di sini nih. Hehe.

Keep writing ya! :D

Poppy Trisnayanti Puspitasari said...

Salam, makasih sudah mampir. Moga Anonim baca komentar saya ini. Soalnya, saya pengin dibagi tahu alamat blognya Anonim. Pengin kunjungan balik begitu...

Wah, saya juga kali pertama tahu itu lagu, dari Charrolette's Web, pakai mewek pula hehe... Hati ini memang macam jaring laba-laba yang langsung bubar pas digosok sama sapu.

Tears In Heaven ini kalau saya agak sok tahu, tauhidnya kena banget sebenarnya memang. Makanya, pas di cerpen itu dibilang kurang paedah lagunya Eric Clapton (entah yang mana), saya jadi agak nganu dan malah ingat ini lagu.

Makasih semangatnya! Jangan lupa, kalau Anonim mampir sini lagi, bagi alamat blognya ya...

Anonymous said...

Halo mbak.. aku balik lagi nih. Hehe, abis buka2 history browsing dan inget dulu pernah buka alamat blog ini, karena search info tentang waham, dan keluarlah tulisan mbak yang tentang nona waham itu. Trus lanjut baca2 tulisan lain dan ternyata bagus2 semua, terutama tulisan tentang Eric Clapton ini, dan dulu aku ninggalin komen di sini.. btw, ada lagu Eric Clapton yang super romantis menurutku...wkwk yang Wonderful Tonight :)

Blogku isinya belum ada apa-apanya sih, dibanding blog mbak..
Ini alamatnya:
haidarafanin.wordpress.com

Btw, senang bisa berkunjung di blog ini :)