Sunday, October 18, 2015

Hampir Jadi ‘Manusia Kamar’


Aku namai dia Landas. Usianya lebih muda dariku dan aku selalu menyukai dia. Matanya manis dan cerdas. Menyimpan rekaman luka-luka di masa terdahulu, dekat dengan ketakutan yang suka ujug-ujug datang, tapi jauh dari rapuh. Ah, itu semua cuma rekaanku saja. Perkiraan ngawur buat alasan bahwa aku tidak bakal melepasnya. Kami harus memiliki ikatan, harus jadi teman baik!
Selanjutnya, kami hanya mengetahui bahwa kami berdua cocok buat saling mengobrol. Aku menangkap bahwa Landas mampu memimpin orang lain, bekerja dan memengaruhi. Hanya sebatas itu. Sampai status-status facebooknya bikin aku merinding. Dia matang-matang memaki kaum borjuis. Oh, aku merinding bukan karena itu kali pertama aku baca status macam itu. Tapi aku merinding karena aku bisa merasakan bahwa apa yang dia tulis punya latar belakang yang mestinya unik, bukan cuma keren-kerenan sok jual teori berat. Tentu soal luka. Luka yang harus aku paksa hentikan.
“Aku habis baca kitab Karl Marx.” Jawab landas cekak waktu aku tanya latar belakang status-status ‘ekstrim’ yang dia tulis.
“Ah, bukan cuma perkara itu, kan?” Aku mendesak Landas dengan tatapanku yang hangat. Ini tatapan andalan yang aku yakin bakal menyentuh hatinya. Soal dia, aku harus tahu, tapi bukan buat sekadar tahu lantas bangga dengan apa yang aku ketahui.
Landas diam. Dia menarik napas dan mengalihkan pandangannya dari wajahku. Yes! Hatinya tersentuh. Tentu saja, itu memang keahlianku.
Mata Landas kembali menatap wajahku, kali ini bola matanya makin berair. Lidahnya mulai bergerak, berceloteh soal luka-luka dan bagaimana dia bisa mendadak tersesap dalam kitab Karl Marx. Bola matanya terus digenangi air, tapi air-air yang mestinya buru-buru tumpah menuju pipinya itu, seperti terganjal di cekungan kantung matanya yang bengkak.
Cerita-cerita panjang dari Landas, akhirnya bisa aku rangkum dalam dua kalimat.
1.      Ibunya kerja di luar negeri.
2.      Bapaknya kawin lagi.
Landas marah dengan keadaan dimana kebutuhan perut sebegitu melilitnya, hingga ibunya mesti pergi jauh. Sosok lelaki baik juga tidak ada dalam bayangannya, dia tidak punya pakem bagaimana seorang lelaki bisa dianggap baik. Dia punya bibit dan bakat jadi seorang pembenci. Bakal jadi kolaborasi yang manis bila berpadu dengan kebisaannya memimpin, bekerja dan memengaruhi. Ruam miliknya bisa sengaja dia tebar…
Aku mestinya waktu itu menangis. Tapi Landas tidak boleh tahu. Melalui dia, aku mesti melatih diri berpura-pura jadi yang paling kuat. Latihan yang aku yakin bakal menjadikan aku sungguh-sungguh kuat.
“Baca cerpen Seno Gumirah Aji, judulnya Manusia Kamar. Cerpen itu aku baca kali pertama di kelas empat.” Ucapku seperti memberi pungkasan yang tidak memuaskan bagi cerita panjang Landas.
Kening Landas mengerut. Ya, dia kelihatan tidak puas betul dengan pungkasan dariku atas cerita panjangnya. Bagimana sebuah cerita yang begitu panjang hanya dibalas dengan sebuah pekerjaan rumah tambahan? Mencari cerpennya SGA, Manusia Kamar.
“Akan aku cari.” Balas Landas. Meski sebal, nada bicaranya kelihatan cukup meyakinkan bahwa dia memang bakal menyelesaikan pekerjaan rumah dariku itu.
***
“Aku sudah membaca cerpen itu, terimakasih. Aku seperti ditampari. Bukan cerpen itu yang menampari aku. Tapi kamu.” Landas berucap sambil menarik kursi buat tempatnya duduk.
Aku terkekeh pendek sambil berkata,”Sama-sama…” tangan aku ulur padanya. Landas memandangi tanganku, tidak juga menyambutnya. Dia seperti mencari titik berat maksut uluran tanganku. Waktu normal menunjukkan putaran pikirannya buat memaknai uluran tanganku hanya beberapa belas detik. Tapi, buatku itu kelewat lama. Aku menarik tangannya. Dia kaget dan lagi-lagi seperti sedang mencari titik berat, makna dibalik tanganku yang menarik paksa tangannya.
“Kamu tidak bakal lepas. Kita adalah teman!” tegasku sepihak dalam batin.
Tentang Manusia Kamar? Secara singkat, cerpen itu bercerita soal seorang tokoh yang memiliki pikiran kelewat super, cerdas, liar dan mendalam soal teori isme-isme hingga hidup. Tokoh tersebut terus mengembara dalam pemaknaan yang dia ramu sendiri hingga pelan-pelan menarik diri dari lingkungan sosial. Sebelum dia benar-benar lenyap, hanya tulisan-tulisannya yang terjejak melalui media massa.
Hubunganku dengan Landas makin kuat, setelahnya. Aku terus menyukainya. Matanya yang manis dan cerdas itu tidak pernah berubah. Bagaimana dia lari dari luka-lukanya dengan cara bergiat di berbagai tempat berbeda juga memikat aku.
Kami dengan ringan bisa saling bercerita,”Oh, aku juga pernah berniat bunuh diri di usia sembilan tahun.”
Aku berusaha memudahkan sedikit hidupnya, dengan apa yang aku punya. Kupingku untuk menampung ceritanya, makananku meski tidak banyak buat mengganjal perutnya. Luka tidak boleh menjadikan dia pembenci. Luka merupakan tempaan yang begitu membanggakan. Bukan ruam yang mesti dibagi lagi pada yang lain. Luka akan berhenti pada aku juga pada Landas.
Ini seperti dulu, mbak Zizi dan mendiang bu Nurul  yang memudahkan sedikit hidupku dengan meminjamkan mata hangat dan kupingnya buat aku. Pertemuanku dengan mereka berdua yang bikin aku yakin bahwa luka itu cukup berhenti pada diriku. Mereka membabat bibit pembenci yang ada pada aku.
“Siapa kamu? Kamu cuma tokoh fiksi, aku yakin.” Ucap Landas satu waktu. Aku lupa sudah yang berapa kali dia berucap seperti itu sejak hubungan kami makin lekat.
Aku menggoyang pelan badanku ke kiri dan ke kanan. Itu membuat motor yang dia kemudikan sedikit oleng ke arah aku menggoyangkan badan.
“Lihat, motor ini aku yang bikin oleng. Aku nyata kan?”
“Aku tidak percaya ada orang seperti kamu. Mungkin aku seperti tokoh yang ada dalam film, bicara di atas motor dengan orang yang sebenarnya hanya ada dalam kepalaku, orang yang aku harap benar-benar ada. Kamu terlalu menyenangkan buat ada.” Balas Landas. Lagi-lagi ucpannya yang satu itu sudah berkali-kali dia ulang sepanjang hubungan kami.
Aku tergelak panjang dan yakin Landas bakal mengulang dua ucapan pamungkasnya itu lagi, lain waktu.
Kuping dan makananku bakal bikin Landas yakin bahwa ruam-ruam miliknya itu harus berhenti pada dirinya saja…

Nyanyian Jodoh (1) Lelaki yang Seperti Ayah


Seorang lelaki yang mendudukkan semua orang di boncengan motornya, bukan karena agamanya, bukan karena paras yang dia punya, bukan karena kecerdasannya, bukan karena hartanya. Bukan karena ada karena. Karena yang ada adalah setipisnya tendensi, rasa bahagia.
Adakah?
Ada.
Ah, apa benar?
Tentu saja.
Siapakah dia?
Ayahku.
Tidak bakal ada, lelaki yang serupa ayahmu lagi.
Memang tidak bakal ada yang serupa dengan ayahku. Namun yang lebih baik darinya pasti ada.
Kamu kelewat idealis! Pemimpi! Pemilih! Ngawur!
Babah, urusanku. Aku mangan ndak njaluk awakmu kok![1]



[1] Biarin, itu urusanku. Aku makan juga tidak minta pada kamu kok!

Friday, October 16, 2015

Sanguin Versus Melankolis: Kencan dan Siomay


Sanguin berjalan berjingkat-jingkat dan makin dekat dengan posisi Melankolis berdiri. Berkali-kali dia meneriakkan suku kata depan nama Melankolis,”Mel! Mel!”
Dua tangan melankolis menutup kupingnya. Dia senang atas kedatangan Sanguin, tapi dia benar-benar tidak ingin Sanguin mengetahui perasaannya yang jujur. Melankolis takut benar jika Sanguin mengejek kejujurannya.
Sampai di depan Melankolis dengan terengah-engah, Sanguin tetap melanjutkan ucapannya,”Hei… Hei… bagaimana kalau kita membeli siomay lalu kita ngobrol bersama? Semacam kencan gitu. Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?” mesti napasnya terengah-engah, kalimat Sanguin sama sekali tidak terpenggal bahkan malah beruntun seolah tanpa tanda baca koma apalagi titik.
Kening Melankolis mengerut. Dia gembira benar dengan ajak Sanguin. Dia ingin mengobrol dengan Sanguin berlama-lama. Tapi tunggu! Bagaimana jika Sanguin mengejek rasa jujurnya itu jika dia tahu? Begitu pikir Melankolis. Melankolis menyusun kalimat yang sebisa mungkin menyembunyikan rasa jujurnya pada Sanguin.

“Hmm… Maaf, aku belum bisa. Mungkin lain waktu saja, ya? Aku masih ada acara lain.” Ucap Melankolis.
Bibir Sanguin manyun. Mukanya kelihatan tidak berusaha menutupi rasa kecewanya. Tapi, bagi Sanguin, ajakannya itu bisa dia ulang lain waktu. Bila yang terjadi penolakan sekali lagi, dia akan tetap mengulangnya. Hei?! Apa Sanguin tidak punya rasa malu dan sakit hati? Tentu saja rasa semacam itu ada. Namun, rasa penasaran buat mencari celah hati Melankolis terlalu menyenangkan dan mengalahkan rasa malu juga sakit hatinya.
“Oke, baiklah. Bukan masalah.” Sanguin pergi menjauh.
Muka Melankolis makin kelihatan cemas. Dia sungguh ingin menerima ajakan Sanguin. Sayang dia memutuskan buat berkata hal yang sebaliknya. Dalam batin dia merutuk,”Hei! Apa kamu tidak ingin mengajak aku sekali lagi? Ayo, berusaha dong!”
Sanguin makin menjauh dari posisi Melankolis berdiri. Rutukannya tentu tidak didengar oleh Sanguin.
“Hei! Ayo lah! Coba ajak aku sekali lagi, aku pasti tidak bakal menolak ajakan kamu kok! Ayo… kembali kesini, Sanguin!” Teriak Melankolis dalam hati.
Sayangnya, Sanguin tidak dianugrahi kemampuan membaca batin orang lain. Langkah kakiknya tidak juga berhenti.

Wednesday, September 30, 2015

Skripsi dan Lokalisasi



“Kamu serius ingin ambil judul ini?” Bu Mami, dosen pembimbing skripsinya Seno itu berucap dengan keraguan yang mantap.
Seno mengangguk. Di antara sembilan mahasiswa, dia satu-satunya mahasiswa lelaki yang dibimbing oleh bu Mami, yang katanya master pendidikan keluarga dan parenting. Ini sudah kali kedua, Seno ngeyel mengajukan judul yang begitu diragukan oleh bu Mami, soal WTS (Wanita Tuna Susila).
“Bahasan ini sudah ketinggalan, Seno. Apa yang mau kamu tindak lanjuti? Bahasan serupa dan ide brilian banyak yang hanya numpang lewat dalam kasus WTS. Ini perkara mental, bukan wacana pelatihan, bukan juga wacana penelitian yang macam-macam.” Lanjut bu Mami.
Argumen Seno berikutnya berusaha menghantam keraguan bu Mami. Teman-teman Seno yang lain, hanya menyimak dan kesulitan menangkap argumen-argumen yang diungkapkan oleh Seno, apalagi menuliskannya kembali, bahasanya berat ala Senonisasi. Setelah semua argumen dari Seno tamat diutarakan, mata teduh bu Mami malah seolah mengatakan,”Oh, kalau memang itu maumu, baiklah.”
***
Seno pergi ke sebuah lokalisasi yang terkenal sebagai bahan gojlokan jorok di kotanya, Gang Maria namanya. Maria sesungguhnya adalah nama orang bule pendiri lokalisasi itu berpuluh tahun lalu. Sebuah nama yang sekarang jadi bahan gojlokan karena dianggap identik dengan sebuah gang yang penuh dengan perempuan berbayar yang mengangkang.
Tidak jarang, orang-orang menyebut Gang Maria dengan lambang sensor di sosial media. Layaknya berkata jan*cok, Gang Maria juga diketik dengan cara; Gang Mari*a.
Remaja-remaja banyak yang saling gojlok antar sebayanya soal Gang Maria. Semisal teman mereka seorang lelaki yang kelewat lama berstatus jomblo, maka mereka bakal mengetik gojlokan di sosial media,”Halah! Ente cari aja cewek-cewek di Gang Mari*a. Bayar langsung bawa. Daripada jomblo seumur hidup.”
            Jadilah Seno memesan satu bilik kamar dan satu orang perempuan. Usianya empat tahun diatas Seno. Dia masuk dalam bilik kamar dengan perasaan berdebar gila-gilaan. Bukan karena ini kali pertama dia bakal melepas keperjakaan, tapi karena ini kali pertamanya berada dalam satu bilik dengan seorang perempuan yang belum pernah dia rayu sebelumnya.
Senyum lembut perempuan yang Seno pesan menyambutnya ketika dia membuka pintu bilik. Dengan tangannya yang gemetaran, Seno kembali menutup pintu bilik.
Perempuan itu duduk di pinggiran kasur. Dia mengamati potongan tubuh Seno. Kemudian, dia berkata,”Sampeyan wartawan atau mahasiswa yang mau penelitian, Mas?”
Seno tergagap. Tangannya makin gemetaran.
Perempuan itu terkekeh sinis sebelum melanjutkan ucapannya,”Sudah ratusan wartawan dan mahasiswa yang merekam cerita saya di sini, Mas. Hanya merekam, kemudian menuliskannya kembali. Saya merasa tidak tertolong. Saya seperti dibayar buat mengocehkan cerita soal hal-hal yang mengundang tangis, kemudian mereka meninggalkan saya tanpa menyentuh kulit saya sedikit saja. Jijik barangkali.”
Empati Seno seperti dirogoh. Perempuan itu terus berceloteh tanpa bergerak dari pinggiran kasur, pun seno dari depan pintu.  Asal perempuan itu dari keluarga miskin, perawannya direnggut sang paman dan keberadaannya sebagai WTS akibat dari jebakan seorang teman. Seno makin gemetaran. Di akhir kisah yang dituturkan perempuan itu, Seno mulai berani bertanya, apakah cerita yang sama juga perempuan itu sajikan buat wartawan dan mahasiswa peneliti lain yang ingin mendengar kisahnya?
Perempuan itu lagi-lagi terkekeh. Dia berkata,”Sama? Tentu saja sama.”
Seno kembali bertanya, jika sama, kenapa perempuan itu tetap menceritakan kisahnya pada dia?
“Kamu berbeda, Mas. Sejak saya tahu bahwa kamu memesan saya beserta bilik ini, saya tahu kamu orang yang berbeda. Kamu akan membawa sinar yang berbeda. Kamu orang yang memiliki empati yang juga beda kadar kedalamannya.”
Ketika ditanya Seno darimana perempuan itu tahu, perempuan itu menunduk sambil berkata.”Saya tahu begitu aja. Saya biasa diperlakukan buruk sehingga peka ketika merasakan keberadaan orang baik.”
Tulang Seno terasa mumur. Ada rasa bangga menyemat di dadanya karena telah dipercaya perempuan yang hendak dia jadikan bahan skripsi. Dia merasa berhasil melakukan pendekatan hingga dipercaya. Sejak hari itu, empati Seno resmi dirogoh. Perempuan itu menuntunnya ke kasur sambil mulai menciumi Seno.
***
Dengan bangga yang meluap, Seno menceritakan pengalamannya pada adik tingkatnya di kampus. Adik-adik merasa kagum. Terlebih ketika Seno mengatakan bahwa untuk membuat seorang WTS percaya dan mau bercerita, diperlukan pendekatan yang tidak sembarang orang bisa.
Seno dielukan oleh banyak adik-adik. Dia tidak peduli dengan bu Mami yang belum juga setuju dengan judul skripsinya. Teman-teman Seno yang lain mulai mengetik skripsi masing-masing. Seno lebih asyik mengunjungi perempuan di lokalisasi itu, secara tidak tertulis dia adalah pelanggan perempuan itu. Alasannya? Cuma demi penelitian, dia tidak bakal larut, dia sudah janji pada diri sendiri.
“Kak, saya ingin mengikuti jejak kakak. Saya ingin meneliti soal WTS. Kakak telah menginspirasi semua untuk melakukan pembaharuan dalam dunia skripsi. Sesuatu yang mencerahnya dan berbeda.” Ucap salah seorang adik tingkat Seno yang namanya Arthur.
Ucapan Arthur disambut Seno dengan anggukan dan perasaan bangga yang makin terkembang lebar.
***
“Kamu berbeda, Mas. Sejak awal saya tahu bahwa kamu memesan saya beserta bilik ini, saya tahu kamu orang yang berbeda. Kamu akan membawa sinar yang berbeda. Kamu orang yang memiliki empati yang juga beda kadar kedalamannya.” Ucap perempuan pesanan Arthur itu di akhir percakapan.
“Kamu berusaha memikat lelaki selalu dengan cara yang begini? Murahan…” Arthur terkekeh mengingat semua cerita yang disuguhkan perempuan itu sama persis dengan apa yang Seno ceritakan.
Mata perempuan itu kelihatan terluka. Dia pandang Arthur yang berdiri di depan pintu. Pandangannya kelewat lekat sampai membuat tulang Arthur seperti mumur.
Perempuan itu kembali berucap,”Saya diperintahkan berlaku demikian oleh atasan saya, Mas. Jika tidak, saya bakal dapat siksaan hebat. Semua hanya untuk memertahakan pelanggan. Soal yang ini, saya hanya ceritakan pada kamu. Saya percaya pada kamu, Mas.”
Arthur jatuh terduduk. Dia gemetaran. Empatinya benar-benar dirogoh oleh ucapan terakhir perempuan itu. Arthur percaya, dia berhasil melakukan pendekatan pada perempuan itu hingga dia mendapat informasi yang tidak didapat Seno. Rasa bangganya terkembang. Dia diam saja ketika perempuan itu mulai menciumi dan menuntunnya ke atas kasur.
***
Arthur tergelak bangga menceritakan pengalamannya bersama WTS yang dia sewa. Dia bercerita pada adik-adik tingkatnya di kampus, pun pada Seno. Binar kagum mereka mulai berbalik dari Seno menuju Arthur. Seno merasa cemburu. Bukan soal WTS yang mereka sewa itu. Tapi soal kehebatannya yang mulai dibuat mumur oleh Arthur.
Teman-teman Arthur mulai menulis skripsi masing-masing. Dosen pembimbingnya belum juga setuju dengan judul yang dia ajukan.
Diam-diam Seno menyiapkan sebuah belati di balik kemejanya. Dia atur pertemuan dengan Arthur di dalam kampus. Sebelum adik-adik tingkat memenuhi pelataran kampus yang dijanjikan sebagai tempat diskusi oleh Seno dan Arthur, belati sudah diayun Seno menuju leher Arthur. Napas Arthur berhenti.
Diskusi hari itu dibatalkan.
WTS yang disewa oleh Seno dan Arthur tidak bakal ingat, bahwa satu pelanggannya sudah berkurang.
***
“Kak, saya ingin mengikuti jejak kakak. Saya ingin meneliti soal WTS. Kakak telah menginspirasi semua untuk melakukan pembaharuan dalam dunia skripsi. Sesuatu yang mencerahnya dan berbeda. Setelah Kak Arthur tidak ada, hanya kakak jujukan saya untuk berbagi terkait semua ini.” Ucap salah seorang adik tingkat Seno yang namanya Bobby.

WTS yang disewa oleh Seno dan Arthur tidak bakal ingat, bahwa setelah ini satu pelanggan akan bertambah dalam biliknya…

Monday, September 28, 2015

Negeri Empati

(Baca Juga; Negeri Piagam)
Sheila, teman yang aku kenal dari akun Instagram itu, hari ini berkunjung ke negeriku, Negeri Empati. Mata Sheila berbinar heran ketika melihat aku dan seluruh orang di negeriku yang memiliki jumlah kakak dan adik yang sama, lima belas.
Hari pertama kami isi buat pergi ke toko buku. Letaknya ada dalam sebuah mall. Kami mesti menyeberang dua jalan besar buat sampai di sana. Sheila ingin tahu, buku-buku apa yang laris di negeriku.
Lewat lima belas detik setelah kami menginjakkan kaki di trotoar jalan besar yang kedua, dua buah motor kelihatan tergeletak bersama pengemudinya di tengah jalan. Aku menangis, berlari dan bergabung dengan banyak orang lainnya mengerubungi dua pengemudi motor yang ternyata tewas. Sheila heran melihatku yang lama-lama turut histeris seperti banyak orang lainnya.
Suasana makin riuh hingga aku dan lututku yang lemas terdorong ke banyak arah. Sheila menarik aku kembali ke pinggir trotoar. Dia berucap,”Ada apa denganmu dan orang-orang di negerimu? Kesedihan mereka seolah setara dengan keluarga yang ditinggal mati. Luar biasa, aku kagum dengan orang-orang di negerimu.”
Aku menggeleng, menolak ucapan Sheila seluruhnya. Aku terus diam, hingga sebuah telepon yang mengabarkan salah seorang saudariku telah meninggal sampai di kupingku.
“Apa kamu sekarang mulai paham?” tanyaku pada Sheila. Sheila menggeleng hingga orang-orang yang tadinya berkumpul di sekitaran dua orang yang tewas tadi mulai sibuk dengan ponsel masing-masing, menerima telepon dan kemudian makin hiteris. Mereka mendapat berita yang sama seperti aku.
“Untuk itu, negeriku dinamakan Negeri Empati.” Lanjutku. Sheila lagi-lagi menggeleng, dia belum juga mengerti.
Kami pun balik berlari pulang. Kami tinggal melewati satu jalan besar lagi buat sampai di rumah. Sheila dan aku begitu terburu waktu hingga kami berdua terserempet sebuah mobil. Badan kami rubuh di tanah. Si empunya mobil menghambur kearah kami sambil histeris. Makin banyak orang mengerumuni kami. Mereka juga histeris. Mata Sheila berbinar heran melihat orang-orang di sekelilingnya. Mereka berebut membalut kaki kami yang tergores.
“Aku kagum dengan orang-orang di negerimu. Mereka begitu peduli pada sesamanya.” Ucap Sheila setelah kakinya yang tergores sudah dibalut. Aku membalas ucapannya dengan senyum sinis.
Beberapa orang mulai kelihatan sibuk membalut luka seseorang yang ada di sebelahnya. Sheila bertanya kenapa mendadak mereka terluka, sedangkan tidak ada benda tajam atau apapun yang melukai mereka.
“Mereka membalut luka keluarganya. Keluarga mereka mengalami hal yang sama dengan kita. Oleh sebab itu, negeriku diberi nama negeri Empati. Apa kamu masih belum juga paham?”
Sheila mendelik. Dia menggigit bibir bawahnya yang gemetaran. Agaknya dia mulai memahami, sebab semua orang di negeriku yang seolah begitu berempati pada luka orang yang lainnya.
***
Aku berkunjung ke negerinya Sheila hari ini. Dia teman yang aku kenal dari akun Instagram. Lima menit setelah aku duduk di meja ruang tamunya, aku membaca sebuah koran berisi berita pengeroyokan. Pengeroyokan dilakukan terhadap seorang koordinator warga desa yang menuntut hak atas tanahnya. Aku menangis, kemudian histeris. Bayangan salah seorang keluargaku yang tewas dengan cara serupa, terus berkelebat.
Sheila yang sedang membawa baki minuman memergoki histerisnya diriku.
“Ini tidak terjadi di negerimu. Tidak akan terjadi hal serupa pada keluargamu.” Ucap Sheila sambil meletakkan baki minuman di hadapanku.
Ucapannya meredam sedikit histerisnya aku. Kemudian aku bertanya,”Bagaimana kelanjutan kasus pengeroyokan itu?” bagaimanapun Sheila berusaha meredam histeris yang menyerang aku, tetap saja perasaan terbiasa merasakan penderitaan orang lain, kadung terpatri pada diriku.
“Melawan penguasa dan uang? Ah, yang penting hidupmu sendiri kenyang dan aman. Jangan neko-neko dengan resiko melawan. Toh, yang tewas bukan keluargamu, bukan?”
Aku mendelik dan melongo.
“Semoga negerimu tertimpa azab serupa seperti negeriku. Azab dari Tuhan di mana semua keluarga bakal merasakan sakit dan luka yang sama.” Balasku.
Sheila tersenyum sinis. Binar matanya mengisyaratkan bahwa aku doa-doa burukku, mesti buru-buru minggat dari negerinya.

Wednesday, September 23, 2015

Gila!!!



Satu sore. Aku masuk di pelataran sebuah rumah ibadah. Mereka yang bergiat dalam rumah ibadah tersebut, menamai dirinya jamaah Cinta Tuhan Selamanya.
Baru sebelah kaki yang aku injakkan di pelataran. Para jamaah yang sedang mendengungkan puji-pujian buat Tuhan, mendadak hampir seluruhnya menoleh ke arahku. Tuhan mereka, aku yakin sama dengan Tuhan yang biasa aku yakini. Aku tidak terlalu asing dengan puji-pujian yang mereka dengungkan.
Salah seorang dari mereka mendadak berdiri. Jubah longgarnya menyapu lantai dan kain panjang menutup kepala hingga dadanya. Dia menjerit,”Demi Tuhan! Dia sudah gila! Dia sudah gila.”
Banyak suara saling tumpang tindih mengamini kegilaanku setelahnya. Hanya ‘gila’. Tidak ada yang menjelaskan di mana letak kegilaanku. Dua diantara pemilik suara itu mendadak punya inisiatif mendekatiku. Dua lenganku dijepit. Badanku setengah ditarik biar menjauhi pelataran. Suara-suara yang mengamini kegilaanku pelan-pelan berganti lagi dengan puji-pujian pada Tuhan.
Jepitan di kedua lenganku mengendur. Aku mengerjapkan mata dua kali, kemudian mendadak ingat mengapa aku berjalan mendekati pelataran rumah ibadah tadi. “Krukkk… krukkk…” suara asing seperti menggaruk lambungku. Aku keroncongan dan lapar. Perginya aku ke rumah ibadah ini disebabkan mendiang emak yang begitu yakin, jika mereka yang ada di dalam sana, bakal mengabulkan kenyang bagi orang-orang yang seperti aku.
“Tuhan memerintahkan mereka mengabulkan kenyang bagi orang seperti kita. Maka mereka bakal mengabulkan kenyang bagi orang seperti kita.” Ucapan emak berdengung cepat di kupingku.
“Jangan kembali lagi ke tempat kami!” bentak seseorang yang tadinya menjepit lengan kiriku. Setelah melepaskan jepitan di kedua lenganku, kedua orang itu kembali masuk dalam rumah ibadah. Puji-pujian pada Tuhan kembali mereka dengungkan. Tuhan yang sungguh, aku masih percaya, memang sama dengan yang aku yakini saban hari.
“Aku lapar!” jeritku.
“Demi Tuhan! Orang ini sudah gila! Perbaiki dirimu, saudaraku!” Jerit salah seorang dari mereka di tengah puji-pujian yang terus berdengung.
“Aku lapar!”
“Demi Tuhan! Perbaiki dirimu! Perbaiki dirimu!” orang tersebut berlari menghampiri aku. Kakinya menyaruk belasan sandal yang ada di pelataran. Tangan kirinya menyambar sebuah sandal berbahan kayu. Dilemparnya sandal itu hingga keningku memar.
Sebelum dia bersiap melempar sandal sejenis buat kedua kalinya, aku buru-buru berlari menjauh sambil menangis.
“Perbaiki dirimu!” orang yang melempari aku dengan sandal itu masih sempat berteriak. Aku menoleh sebentar sambil melambatkan lariku. Telunjuk orang itu menuding ke arah kain penutup kepalanya yang menjulur sepanjang kepala dan dadanya, juga jubah yang menyapu tanah. Dia seolah membandingkan antara ketelanjanganku dengan bagusnya cara dia berbaju. Aku kembali berlari dengan tetap membawa lapar.

Ucapan emak lagi-lagi berdengung cepat,”Tuhan memerintahkan mereka memahami bahwa kenyang mesti dikabulkan terlebih dahulu ketimbang cara berbaju. Maka mereka akan mengabulkan kenyang bagi orang seperti kita…”

Saturday, September 12, 2015

Kangen Jannah


Jannah, teman saya itu, dia mulai sekelas dengan saya ketika kelas empat. Asalnya dari Lombok dan selama sekelas dengan saya, dia tinggal di sebuah panti asuhan. Sama seperti saya, Jannah pendiam akut. Kamu tidak bakal menemukan kami berlama-lama mengobrol dengan teman sekelas yang lainnya. Nilai pelajarannya juga tidak terlalu menonjol, pun saya.
Saya lupa bagaimana awalnya, Jannah tiba-tiba duduk sebangku dengan saya hingga kelas enam. Kami bisa saling mengobrol dengan durasi sangat panjang dan bertukar tawa. Barangkali semua terjadi karena kami sama-sama bukan orang yang terlalu penting di kelas. Bukan favorit teman-teman yang populer ketika memilih kelompok kerja; kami dianggap lamban, bukan juga unggulan para guru karena nilai ulangan yang mengangumkan; bagi para guru, barangkali nilai tinggi dianggap sebagai keberhasilannya mengajar, meski pada kenyataannya banyak teman-teman saya waktu itu mendapat nilai tinggi karena memiliki dasar kecerdasan yang baik, dengan atau tanpa guru.
Beberapa guru masih memerhatikan keberadaan kami, almarhumah bu Nurul salah satunya. Satu waktu, beliau bilang pada mama bahwa saya duduk bersama Jannah, seorang siswi yang sama pendiam akutnya dengan saya. Bu Nurul tidak paham bagaimana saya berkomunikasi ataukah saya dan Jannah pernah berkomunikasi. Beliau cuma melihat bahwa saya duduk sebangku dengan Jannah dan selalu rukun.
Awal semester di kelas enam. Jannah tidak pernah kembali lagi ke bangku kami. Saya sedih. Teman-teman berceloteh, saling sahut bahwa Jannah kabarnya kembali ke Lombok, ada juga yang mengatakan bahwa keluarganya terlalu rumit dan bermasalah sehingga Jannah tidak lagi bisa tinggal di panti, celoteh lain mengatakan bahwa Jannah hidup bersama ibunya entah di bagian bumi sebelah mana. Kabar-kabar ini seperti menyumpal pertanyaan saya soal kemana Jannah, namun hanya sementara.
Saya rindu Jannah dan persahabatannya yang tanpa tendensi. Rindu saya juga untuk cubitan Jannah di pipi saya setiap hari. Dia sangat suka pipi saya yang gembung,”Pipimu lucu.” Ucapnya tiap mencubiti pipi saya.
Kami sama-sama bukan orang yang terlalu berguna saat itu. Pertemanan kami diawali karena mau saling mendengarkan dan bercerita. Jannah menghormati saya bukan karena tulisan saya dalam ujian Psikologi Sosial di puji pak Guntur, dosen sekaligus penyunting yang sudah pensiun beberapa tahun lalu itu. Dia juga mau mendengarkan saya, bukan karena Karya Tulis Ilmiah (KTI) saya sama sekali tidak mendapat revisi hingga disambut tepuk tangan heboh dari seluruh kelas. Pengertian Jannah terhadap saya, juga bukan karena kebisaan saya membuat sebuah pertunjukan atau karena tulisan saya yang dimuat di media massa. Jannah berteman dengan saya sebelum saya diketahui memiliki guna, pun saya pada Jannah.
Mimpi saya, satu waktu saya punya akses untuk menyentuh semua yang memiliki otoritas. Saya sendiri tidak minat memiliki otoritas itu sendiri di hari depan, kapasitas saya tidak tepat. Dengan begitu, menemukan Jannah tidak bakal jadi susah.
Saat ini, Poppy yang kehilangan Jannah bukan satu hal yang menarik bagi mereka yang punya otoritas. Tidak punya nilai jual di layar kaca, barangkali. Kadar kemenarikannya jauh dan jauh lebih kecil ketimbang Julia Perez (JuPe) yang menangisi bapaknya yang pengguna narkoba itu atau Andrea Hirata dengan ungkapan cintanya pada bu Mus atau Raffi Ahmad yang meratapi papanya yang tidak bisa menggendong Rhafatar.
Saya kangen Jannah dan kami pasti bakal terus saling ingat.

Wednesday, August 19, 2015

Kepada Pacarmu (2)

Kepada Pacarmu,
Dari Salah Seorang Maria
Baca juga, Kepada pacarmu (1)

-Romawi Satu-

Tanggal 15 Juli, aku bikin surat buat pacarmu. Cerdasnya, aku ndak tahu siapa pacarmu itu. Padahal, aku berharap dan ngeyel doa pada Tuhan biar surat itu sampai pada pacarmu.
Ah, kamu bisa tebak isi surat itu apa. Aku menunjukkan sesal yang penuh atas rasaku padamu. Kubuat kalimat-kalimatku seolah peduli dengan rasa sakit pacarmu itu, jika saja dia tahu mata hangatmu begitu aku nikmati.
Aku berengsek. Pun kamu.

Ilustrasi Maria, oleh Windha Dewi Wara

-Romawi Dua-

Kamu sudah ngerti. Di bilik kamar dengan warna kelambu yang berbeda. Lelaki lain sedang menikmati hangatnya mata pacarmu. Dia lelaki yang kesekian. Lelaki itu tahu.
Pacarmu sudah ngerti. Di bilik kamar dengan kelambu yang berbeda. Perempuan lain sedang menikmati hangatnya matamu. Aku perempuan lain itu. Perempuan yang kesekian. Aku tahu....
Aku berengsek. Pun kamu dan perempuan itu.


Tuesday, August 11, 2015

Mamalogue

Mamalogue
Ingatanku belum remang-remang, soal cerpen SGA yang berjudul Travelogue itu. Diceritakan seseorang yang mengobrol dengan perjalanannya sendiri dalam Travelogue. Kemudian, aku menamai obrolanku dengan mama sebagai Mamalogue. Halal saja, kan? Ini semua trik pasar saja kok. Biar orang-orang tertarik mendengar aku bertutur. Kamu pasti sudah tahu kalau sekarang ini, musimnya pengguna fesbuk berbagi berita di kronologi masing-masing hanya berdasar hotnya sebuat judul berita, misal; Menteri X Luncurkan Minyak Babi Cap Onta[1]. Berita-berita tersebut juga disertai kutipan tambahan dari pembagi berita seperti,”Masyaalloh! Minyak babi halal!” atau “Puji Tuhan! Sebuah inovasi jempolan!”
Mamalogue antara aku dengan mama sering berakhir dengan mama yang menjerit, mengumpat sambil pipinya mendadak basah. Itu tanda bahwa mama sedang tersinggung berat atas ocehanku sepanjang percakapan dengannya. Ocehan yang sering menyoal mamaku yang ingin aku jadi guru, seorang PNS yang terjamin makan tiap bulan, dia tidak ingin aku mencuri atau mati karena serangan lapar. Sedang aku ingin mendongeng bersama anak-anak di sebuah kali sambil bertani. Sekolah yang menjadikanku guru dan PNS itu tidak bakal mau membagi bangkunya buat anak-anak yang mendengar dongengku di kali.
Ocehan macam ini yang bikin mama selama 48 jam, tidak bakal mau melihat mukaku. Ajaibnya, setelah lewat jam tersebut, soto hangat pasti terhidang di meja. Aku mulai menyendokinya dan mama tersenyum lagi, sambil memandang mukaku.
Tapi, hari itu sungguh beda. Kamu pasti sudah bisa menebak kemana alur ceritaku.
Aku dan mama duduk semeja sambil menyendoki soto di mangkuk kami masing-masing. Soto itu terhidang tepat setelah 48 jam mama tidak mau melihat mukaku.
“Ma, mungkin besok aku bakal memiliki tiga orang anak,” Ucapku tiba-tiba.
Mama mencureng. Tidak menanggapi.
“Anak keduaku bernama Yellow. Seorang anak perempuan yang tidak berbakat di bidang akademis seperti kakak dan adiknya, Cyan dan Magenta,”
Mama mengaduki soto di mangkuknya. Lagi-lagi tidak menanggapi.
“Dia akan masuk home schooling, ikut kurikulum luar negeri biar tidak perlu ikut UN. UN itu menyeragamkan kemampuan anak. Padahal, tiap anak nyatanya tidak memiliki kemampuan yang seragam,”
Bibir mama hampir terbuka, namun kembali terkatup.
“Waktu-waktu luangnya akan di isi untuk bermain teater bersama mas Bedjo, yang anggota Teater Komunitas itu. Dia akan belajar berkata jancok lebih dini dalam dialog-dialog teaternya dari mas Bedjo. [2]Nanti dia juga bakal belajar mencium bibir kucing, menguliti kemudian mencongkel matanya dari mas Udin a.k.a Dean Al-Fataa.[3] Selanjutnya, Yellowku juga bakal belajar masuk surga lewat jalur nonformal dari M. Asrofi Al-Kindi, anak Geografi yang anggota UKM Penulis dan setia mengetik puisi-puisinya menggunakan bolpoin dan kertas itu.”[4]
Taplak di meja makan mulai diremas oleh mama. Mama menjerit, mengumpat sambil pipinya mendadak basah. Telunjuknya menunjuk mukaku. Ini belum pernah dia lakukan sepanjang Mamalogue yang pernah terjadi.
Mama menarik lenganku. Aku diseret, kemudian lemparnya ke teras rumah. Ransel merah jambu milikku juga dia lempar tepat di mukaku. Mama terus menuding sampai pinggulnya hilang dari balik kusen pintu.
Aku merogoh benda-benda yang ada dalam ransel. Baju dan semua bukuku yang soal isme-isme itu ada di sana, kecuali dompetku. Bagaimana aku bisa hidup di jalanan tanpa dompet itu? Kartu ATM dan semua uangku ada disana! Semua isinya berasal dari gaji mama. Aku ingat tiga tawaran untuk menjadi guru dan PNS yang semuanya aku ludahi tiga minggu lalu. Alasanku? Aku merasa lebih terhormat mendongeng bersama anak-anak di sebuah kali sambil bertani.
Pipiku mulai basah. Bagaimana aku bisa hidup? Ini semua karena obrolan menyoal masa depan putriku, Yellow. Aku masih merasa berhak buat mengarahkan masa depannya Yellow. Dia putriku.
Langkah kaki mama tiba-tiba kedengaran kembali mendekati pintu. Tangan kirinya menjinjing dompet beludru warna biru. Di mukaku, dia melemparkannya. Itu memang dompetku. Setelahnya, mama masuk kembali ke dalam rumah sambil membanting pintu.
Ah, mama pasti tidak tega jika aku mesti hidup di jalanan tanpa isi dompet, pikirku.
Aku membuka resleting dompet beludru itu. Kudapati tidak ada uang selembar pun di sana, pun kartu ATM. Cuma ada selembar KTP dengan foto dan statusku yang bertulis; lajang. Dadaku mendadak seperti dicubit belasan tangan mama. Aku ingat bahwa aku belum pernah menikah dan Yellow belum pernah ada…
Kantung mataku makin terasa pekat, bengkak dan berair. Bayangan kusen pintu kelihatan bergoyang, makin hitam dan hilang berbarengan dengan air mataku yang merembes. Dua tinju mengenai tulang pipi bagian atasku. Semuanya bikin jelas, bahwa aku menangis bukan karena sedih mesti berpisah dengan mama. Mataku mengerjap dengan posisi punggung terlentang. Banyak kaki berebut menginjak tubuhku.
“Iya! Memang dia! Dia yang nyolong nasi bungkus di warung saya selama ini!” Jerit suara asing.


[1] Di catut dari biodata Edi Akhiles, CEO Divapress.
[2] Launching Omah Komunitas, 2015. Mas Bedjo pegiat Teater Komunitas menampilkan sebuah teater yang disajikan murid-murid SMPnya. Jancok adalah kata yang sering diucap dalam dialog teater tersebut.
[3] Launching Omah Komunitas, 2015. Mas Udin membacakan cerpennya yang seperti biasa punya narasi kelam.
[4] Launching  Omah Komunitas, 2015. Pergiat Pelangi Sastra Malang, Muhammad Asyrofi Al-Kindy membacakan puisinya, MasukSurga Jalur Nonformal.

Thursday, July 23, 2015

Tiga Jalur Soal Rasa


Siang ini, saya mendapat pesan singkat dari seorang teman.

            Popy, bagaimana kau menahan diri untuk tidak SMS pada orang yang kau suka?

Tulisnya.

Awalnya, saya hampir merasa tega membiarkan si pengirim pesan ini untuk mengatasi semuanya sendiri. Dia orang yang tidak jarang mengejek cara saya berlogika soal rasa. Eh, sekarang malah sok tanya tips soal rasa. Hisssh! Ngejek ini orang…

Pada akhirnya, saya tidak tega juga dengan teman ini. Dengan niat mau pamer kecerdasan dan pengetahuan soal rasa, beneran! Saya ogah bantu tukang ejek satu ini. Akhirnya, saya merumuskan beberapa definisi selama sepuluh menit, yang barangkali bisa membantu dia terkait memahami rasa.
1.Logis
Logis adalah ketika kita menganggap seseorang yang mebuat kita memiliki rasa, bukanlah sosok yang terbaik. Hal ini bakal tercermin dari sikap kita yang santai ketika berjalan meraih hatinya. Kita juga tidak bakal kecewa berlebihan ketika gagal mendapatkan hati orang tersebut. Lagi-lagi karena kita sedari awal sudah menekankan dalam logika bahwa orang tersebut bukanlah yang terbaik, masih banyak orang yang jauh lebih baik dari dia.
2.Gengsi
Gengsi adalah ketika kita membuat berbagai macam cara agar orang yang membuat kita memiliki rasa, menghampiri kita terlebih dahulu. Seolah, dia merasa sangat butuh dan terkiwir-kiwir pada kita. Tidak jarang, kita yang mengambil jalan gengsi ini, malah merendahkan orang yang sebenarnya kita suka ketika mereka dengan nyata mau menghampiri kita terlebih dahulu. Jalan ini, sebenarnya merupakan cara untuk menutupi ketidakmampuan berjuang dan ketakutan atas penolakan.
3.Difensif
Difensif adalah ketika kita menganalisa mati-matian segala hal terkait orang yang membuat kita memiliki rasa. Analisa ini, cenderung bersifat hal negative yang entah nyata atau kita buat sendiri. Hasil analisa bakal mengerem rasa yang kita miliki pada dia. Sebenarnya, pilihan jalan ini hanyalah untuk mengerem rasa yang kita miliki supaya tidak terlalu dalam. Rasa yang terlalu dianggap bakal menyakitkan sehinggaada orang-orang yang memilih jalan ini.

Penggunaan tiga jalur soal rasa ini, tidak sepenuhnya tepat dalam semua kasus menyoal rasa. Logis bisa berguna agar seseorang yang masih berusia muda mudah untuk move up. Difensif bisa di pergunakan untuk melindungi diri ketika seseorang terjebak rasa dengan orang yang nyatanya tidak terlalu baik. Lalu gengsi? Dapat di pergunakan untuk menahan diri sebelum benar-benar mengenali karakter si dia, tentunya tidak perlu sampai tahap mengina loh ya…

With Muach,
Madame Emak.